A Beautifull Reason

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 12 February 2016

Aku memandangi kertas di hadapanku dengan ekspresi datar. Sebuah kertas bertuliskan ‘Aku masih mencintaimu’ yang ditulis dengan tinta bercorak keemasan dan hiasan bunga cantik di tepiannya. Itu kertas ketiga yang ku dapatkan di lokerku. Setelah dua hari berlalu, ku pikir gadis itu akan menyerah, tapi aku salah. Rupanya ia masih gigih memintaku kembali padanya, kembali pada kenangan menyakitkan saat aku berjuang keras hanya untuk membuatnya tetap berada di sisiku.

“Wah, sepertinya Nadia masih sangat mengharapkanmu,” ucap Andi pelan saat tanpa sengaja melihat kertas itu. “Ck, sayang sekali gadis sesempurna dia kalau kau sia-siakan.” Ya, sahabatku yang satu ini memang terkadang suka melontarkan kalimat yang membuatku ingin membungkam mulutnya dan melemparnya ke tempat sampah. Setahuku, ia selalu berada di pihak Nadia. “Aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama,” ujarku lirih. Melangkah menuju koridor yang lengang karena baru pukul 06.30 pagi.

Langkahku berhenti di ruang musik, aku memutuskan untuk latihan sebentar sebelum jam pelajaran dimulai. Andi mengekorku di belakang, masih dengan ekspresi sebal yang sama sejak aku mengatakan bahwa aku menolak keinginan Nadia. Sembari memetik senar gitar, pikiranku melayang pada beberapa tahun silam. Pertama kalinya aku jatuh cinta pada seorang gadis cantik yang duduk di bawah pohon plum.

Nadia, adik kelasku yang cerdas, cantik, terpandang serta populer. Ia primadona sekolah, gadis yang benar-benar dipuja bahkan oleh mayoritas lelaki. Dan aku, Andra, menjadi satu-satunya yang berhasil menaklukkan hatinya. Siapa yang tak iri padaku, pemuda biasa yang dapat berkah memiliki bidadari pujaan SMA Andani. Aku adalah seorang yang sangat pencemburu. Semua orang yang berusaha mendekatinya akan ku beri pelajaran. Ia milikku seorang. Satu-satunya yang akan ku cintai selamanya. Atau mungkin saat itu saja. Petikanku terhenti bersamaan dengan air mata yang merembes jatuh. Setetes. Hanya setetes tapi cukup membuat Andi kelabakan.

“Ada apa Dra?”
“Hn, tidak apa-apa,” aku tersenyum kecut. Sekilas, aku terbayang wajah orang lain.

Ya, di tengah gelutan kenangan manis dengan Nadia, aku teringat seseorang. Cukup sedetik wajahnya terbayang, aku merasa seluruh duniaku runtuh. Wajah Alya, wajah gadis yang baru sebulan ku temui tapi mampu menggetarkan seluruh duniaku. Dunia yang ku kira hanya ada untuk Nadia seorang. Andi merapat ke sisiku, ia tampak curiga, “Apakah ini tentang Alya?” Melihatku diam seribu bahasa, Andi hanya mengela napas dan menepuk pundakku pelan.

“Sejujurnya, Dra. Apa yang kau lihat dari Alya hingga sosok Nadia yang begitu menawan bisa tersingkir dari otakmu?” Ini pertama kalinya Andi bertanya serius tentang Alya, karena sejauh ini ia hanya membahas Nadia, Nadia, dan Nadia. “Aku jatuh cinta padanya,”
“Apa alasanmu? Kau juga mencintai Nadia. Sangat. Mencintai. Nadia.” Andi menekan kata-katanya lebih kuat, “dan gadis bernama Alya itu, tidak sebanding dengan Nadia.”
“Ya, aku tahu,” gumamku cepat. Mataku menerawang, menatap jendela yang terbuka dan semilir angin pagi menyapa, “aku punya alasanku sendiri,”

Sebagian lelaki akan jatuh cinta pada kecantikan yang memikat mata, kepribadian yang memikat hati, dan tutur kata yang memikat jiwa. Semuanya seperti itu. Semakin kita mengetahui kelebihan seseorang, semakin kita terpesona olehnya. Maka kita akan semakin mencintainya. Tapi aku berbeda. Aku mengenal Alya, dengan semua kelebihannya. Ia gadis pemalu yang cerdas, cemerlang, serta lemah lembut dalam bersikap. Mungkin, itulah yang membuat aku membuka hati padanya, tapi… Semua berbeda saat aku mengenal kekurangannya.

Alya itu rapuh. Sedikit saja tekanan maka ia akan hancur berkeping-keping. Hal ini membuatnya mudah stres dan frustrasi yang berimbas pada kacaunya pekerjaan yang dilakukan. Ia ceroboh, seringkali salah mengambil keputusan dan tergesa-gesa sampai kerepotan sendiri. Ia juga pelupa, apa pun yang ia pegang, hanya dalam beberapa detik bisa menghilang tanpa sedikit pun meninggalkan jejak. Dan yang paling fatal, Alya tidak bisa memasak ataupun melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya. Sejujurnya, ia tak bisa diharapkan untuk urusan rumah.

Setiap minggu, aku selalu menyempatkan diri mampir di kontrakannya yang lumayan jauh dari keramaian. Membantunya membuang sampah, mengurus rumah bahkan mencuci piring yang menggunung. Sedangkan ia akan setia duduk di pojokan rumah saat aku mulai mengomel tentang betapa pentingnya mengurus diri sendiri. Alya selalu begitu, ku rasa ia menikmati saat-saat aku memarahinya. Meskipun kadang ku dapati ia menangis sendirian.

“Hari ini aku belajar memasak,” Alya bersorak gembira ketika aku datang bertamu. Tangannya memegang pisau yang hampir karatan sementara tangan yang satunya tampak tergores, “ayo coba masakanku. Kalau tidak enak tolong bilang yaaa?” Alya, dengan ekpresi malunya. Membawakanku semangkuk sayur, yang entah itu sayur apa karena bentuknya acak dan warnanya aneh. Sedikit merinding, aku mencicipi. “Ah..” aku menutup mulut, menelan paksa sayur yang minta dikeluarkan. Ku pikir lambungku sedang mengantisipasi serangan makanan yang cukup berbahaya hingga memproduksi begitu banyak asam. Nyaris muntah. Tapi ku tatap Alya, ia begitu bersemangat dan berbinar. Rasanya tidak sopan jika aku menyakiti hatinya sekarang.

“Keasinan?” Alya menggumam pelan melihat ekspresiku. Raut wajahnya muram.
“Maaf. Padahal aku belajar memasak untuk menyambut kedatangan Andra.”
“Tidak apa-apa,” aku menegaskan cepat. “Kalau terus belajar pasti berhasil.” Sedikit suntikan semangat, dan aku akan terpesona pada senyuman tulusnya yang penuh pengharapan. Selalu begitu. Apa pun yang ia lakukan, aku kan membantunya, apa pun kecerobohan yang ia perbuat, dengan senang hati akan ku perbaiki. Kami berdua bagai puzzle yang saling melengkapi. Aku, dengan semua kelebihanku. Bersama Alya, dan semua kekurangan yang dimilikinya. Aku merasa sempurna.

Hingga suatu minggu pagi, Andi memaksaku menemaninya menemui kerabatnya di luar kota. Untuk sehari saja, aku merasa begitu sepi tanpa sosok Alya. “Andra.” Ku dengar suara lembut nan ceria menyapa. Saat aku menoleh, ku dapati sepasang mata cokelat madu dengan bingkai wajah cantik dan menawan. Nadia. Gadis itu berdiri tepat di belakangku, memakai dress biru yang indah. Tampak mempesona. “Ehem,” Andi pura-pura kesakitan perut dan permisi ke toilet. Sekali pun aku sadar bahwa itu hanya alasan palsu untuk meninggalkan kami berdua di tengah keramaian kota. Aku membisu sementara Nadia menyembunyikan wajah yang bersemu merah.

“Aku tahu ini tidak sopan. Tapi, bagaimana kabarmu?”
“Baik.”
“Eh.. aku..”
“Apa yang ingin kau katakan, ucapkan saja.” Ujarku lugas.

Ku beranikan diri menatap matanya, sesuatu yang dulu sekali sangat sulit ku lakukan. Mata yang dulu memerangkapku begitu dalam.
“Aku sudah tahu hubunganmu dengan gadis itu.”
Mataku melebar. “Lalu?”
“Katakan padaku, Dra. Apa aku tak cukup baik untukmu?” Pertanyaan itu terbayang di wajahnya, berbingkai mata yang berkaca-kaca, “atau kau mau bilang bahwa aku terlalu baik untukmu?” cecarnya cepat, membungkamku beberapa saat.
“Maaf, Nadia.”
“Kenapa Dra?” Suaranya bergetar.

Pelan, ku pegang kedua bahunya. Menatap matanya yang berkilauan memuntahkan air mata. Aku sakit melihatnya seperti ini. “Aku mencintaimu…”
Bola mata cokelat madu itu melebar, tapi kata-kata terakhirku memecahkan bias harapan di cemerlang kilau itu. “.. Tapi aku lebih mencintai Alya. Dia segalanya bagiku.”
Tanpa berkata apa pun Nadia menepis tanganku. Kepalanya menunduk dalam.

“Alya adalah bagian dari hidupku. Aku adalah mata yang selalu menuntunnya. Aku adalah tangan yang terus memeganginya. Aku adalah kaki yang akan membimbingnya. Aku adalah segalanya, seperti ia yang menjadi segalanya bagiku.” Aku menghela napas dan mundur selangkah. “Alya membuatku mengerti arti dibutuhkan, ketidaksempurnaannya membuatku menyadari bahwa kita hidup dengan kadar masing-masing. Apa yang kita miliki, itulah yang kita bagi. Yang tidak kita miliki, biarlah jadi alasan untuk saling memberi…” Ku tepuk kepala gadis itu pelan. Isyarat perpisahan. “Kau akan baik-baik saja tanpaku…”

Siang itu aku pergi tanpa pamit, meninggalkan Nadia, meninggalkan kenangan yang telah lama kami jalin, meninggalkan semuanya. Untuk menghampiri cinta yang sempurna dari gadis yang tak sempurna. Aku sampai di kontrakan Alya saat senja mulai turun. Udara berhembus dingin dan mendung berbondong-bondong berarak di langit. Suasananya sepi, ku pikir Alya pasti sedang tidur karena kamarnya tampak bercahaya redup. Pintu luar tidak dikunci, mungkin ia sengaja membiarkannya begitu karena tahu aku akan datang.

Dapurnya seperti biasa, sangat berantakan. Aku mulai membereskan semua kekacauan itu saat ku lihat banyak irisan sayur yang masih segar di baskom besar. Ada bekas tetesan darah yang mulai membeku. Dan di meja makan, ada aneka makanan terhampar dan mulai dingin. Sama sekali belum tersentuh. Gadis itu, aku yakin, sudah memasaknya seharian ini karena mengira aku akan datang. Dan bodohnya, aku malah lupa mengabarinya dan pergi bersama sahabatku hanya untuk bertemu mantan pacar yang kesepian. Dalam sekejap aku merasa begitu berdosa, membiarkannya melakukan semua ini sendirian.

“Andra… Sudah datang…” sosok mungil itu ke luar dari kamar dengan baju kusut dan jari penuh plester luka. Matanya sendu, tampak sangat lelah.
“Maaf…” ku rengkuh ia dengan lembut, meluapkan rasa bersalah dan penyesalanku atas apa yang ku perbuat hari ini. “Maafkan aku…”
“Tidak apa-apa. Aku tahu Andra pasti datang.” Tangan mungilnya menepuk punggungku. Hangat.
“Aku mencintaimu Alya, aku sangat mencintaimu…” kata-kata itu terucap bak mantera. Aku mengulanginya, terus mengulanginya hingga tak sanggup membendung air mata. Sampai serak, sampai dayaku habis hanya untuk memastikan ia tetap di sini bersamaku. Mendengarku.

Alya, aku ingin mencintaimu. Aku akan melengkapi apa yang tak kau miliki. Karena itu, tetaplah di sini, bersamaku.

Cerpen Karangan: Hotaru
Blog: rypermana.blogspot.com
Facebook: Ndry Permana

Cerpen A Beautifull Reason merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rain

Oleh:
Seorang gadis tengah duduk sembari memegang selembar kertas yang hanya berisi 4 kata yaitu I LOVE YOU, KARIN. Itu surat cinta yang pertama kali ia terima, entah kenapa surat

Bumerang Emas Penghias Hatiku

Oleh:
Ketika Aku tahu bahwa Dia menghubungiku, entah mengapa Aku merasa batin ini melompat kegirangan. Ya, walaupun hanya melalui seluler yang kini menjadi salah satu teman terbaikku. “Selamat malam, Mita.

Perasaan Yang Sama

Oleh:
Awan pekat di langit diprediksikan akan turun hujan. Tapi tidak mengurangi semangat para siswa untuk berangkat ke sekolah. Termasuk Vitto, sohibku dari SMP. Yah, walaupun aku ngakuin dia sebagai

Separuh Coklat Hati

Oleh:
Aku terlelap dalam mimpi indah ku yang mampu membawa ku dalam ketenangan. Entah sampai kapan laki-laki separuh baya ini masih menemani di sampingku. Setelah aku sadar kehadiran laki-laki ini

Her Glamour Heels

Oleh:
Apa yang akan kalian pikirkan bila mendengar kata heels dan berlian?. Pasti di khayalan kalian akan tergambar sebuah sepatu hak tinggi mewah dengan harga selangit. Itu pasti, tetapi bagiku,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *