A Place To Make An Happiness

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 13 January 2017

Leh. Ladakh. India.

Dirga menerawang seberapa jauh dia dengan Nessa. Setelah dua tahun mencari perempuan itu akhirnya ada satu tempat yang diyakini bahwa di sana Nessa bersembunyi. Bibirnya tanpa sadar melengkung sedikit membuat senyum. Ada kembang api di hatinya.

“Jangan terlalu berharap, Ga. Ini cuma kabar burung,” ujar Yunan sambil menyeruput ocha hangatnya.
“Baru kali ini aku mendapat kabar dimana Nessa. Bagaimana kalau dia ada di sana?”
“Bagaimana kalau tidak ada?” Yunan berbalik bertanya dengan gesit.
Dirga tersenyum “Berarti kau harus disalahkan karena sudah membuang waktu dan uangku … juga jet lag yang nanti aku alami.”

Yunan menghembuskan napas sambil membalas senyuman Dirga dengan senyum kecut. Tiba-tiba dia merasa menyesal memberitahukan kabar burung tentang Nessa. Dia bersalah karena dengan semangat mengajak Dirga bertemu tanpa memikirkan betapa gilanya laki-laki satu ini.

Ditatapnya Dirga yang mulai mencari reservasi pesawat untuk ke India. Bahkan Ladakh bukanlah tempat yang bisa dikunjungi di sepanjang tahun. Dia hanya bisa menghela napas dan berdoa agar Dirga bisa sadar dan melupakan Nessa demi melanjutkan hidup.

Dirga yang tampan, mempesona, wangi dan pintar langsung berubah ketika Nessa hilang. Tak mau lagi kuliah, kulitnya hitam lantaran pergi ke banyak tempat, rambut panjang melebihi bahu dan wajah ditumbuhi janggut juga kumis yang dicukur empat bulan sekali, itu pun kalau ingat.

Perempuan itu menghilang begitu saja seminggu setelah hubungannya dengan Dirga diketahui. Ombak amukkan bergulir menghantam mereka. Dirga kuat dan masih tersenyum saat melihat Nessa yang selalu menangis lantaran tak tahan. Ketika dia menghilang Dirga bagaikan kehilangan jalur revolusi, kakinya seperti hilang sebelah. Dia menjalani hidup dengan terpincang-pincang.

Yunan mati-matian menahan agar tak pergi namun Dirga terus bersikeras. Akhirnya Dirga diizinkan oleh ‘istri’-nya dengan dua syarat: ini adalah perjalanan terakhirnya dan dia akan kembali menjadi Dirga yang dulu.

Mereka berpelukkan dan saling menepuk punggung di bandara.

Dirga langsung mengambil penerbangan menuju Ladakh setelah dua hari berada di New Delhi. Rasa penasaran dan rindu yang menggila membuat dia begitu terburu-buru.

Pukul delapan pagi kakinya benar-benar menyentuh tanah Leh. Beberapa tentara berdiri tegap mengawasi bandara, beberapa melarang para pendatang untuk berfoto walau ada juga yang bebal minta ditendang. Dirga berjalan cepat, angin dingin bertiup perlahan, padahal ini musim panas. Langit biru jernih menyambut langkahnya.

Tak ada sinyal handphone. Dirga tersenyum lebar, hidupnya tenang dan bahagia tanpa gangguan deringan barang yang tak dia perlukan namun karena paksaan semua umat manusia yang dia kenal akhirnya disimpannya juga. Leh yang sepi dan damai begitu berbeda dengan keramaian di New Delhi menemaninya di dalam mobil mini van yang membawa dia menuju pusat kota.

Penginapan di Old Town yang pertama kali didapatnya terasa begitu menenangkan. Jendela kamarnya mengahap ke taman dan memperlihatkan puncak pegunungan di kejauhan. Dirga membanting tubuhnya ke kasur, dia begitu lelah.

Pandangannya berpendar, napasnya tersengal, kepalanya begitu berat digerakkan. Dengan susah payah dia memakai sweater dan kaus kaki guna menahan dingin. Diminumnya paracetamol lalu dibaringkannya lagi tubuhnya. Dia tidak akan bisa lagi bangkit.

Matanya perlahan menutup. Alam bawah sadarnya mengambil alih. Dirga mendengkur pelan, dadanya bergerak lambat untuk mengumpulkan oksigen yang sedang susah dia ambil.

Pukul dua siang dia terbangun, sesak masih menyiksanya. Dirga tak tahan lagi, tadi saat dia berada di perjalanan menuju ke penginapan dilihatnya tempat yang menjual oxygen bar. Dengan terhuyung dia berjalan keluar dari penginapan. Sakit kepalanya datang lagi ketika dia di tepian jalan, dia makin susah bernapas. Dirga limbung begitu saja, tangan kanannya menekan dadanya dengan kuat lantaran oksigen tak cukup masuk ke tubuhnya. Beberapa orang berteriak histeris dan berbicara dengan bahasa Ladakhi yang tidak dia mengerti, lalu semuanya meredup dan gelap.

Bau obat. Dirga langsung tahu dia ada di klinik. Selang oksigen menancap ke lubang hidungnya, ternyata dia tidak meninggal di negeri orang.

“Seharusnya kau beristirahat dulu, jangan sok kuat. Sekarang kau ada di dataran tinggi, tubuhmu juga butuh penyesuaian.”

Dirga membeku. Suara itu, dia begitu familiar dengan suara bernada rendah yang begitu lembut namun sekarang sedang ketus.

“Mungkin kau harus ada di sini selama tiga hari kedepan. Jangan melawan! Biasanya untuk penderita AMS* yang parah bisa sampai tiga minggu berada di klinik.”

Dirga menoleh ke samping, hatinya seperti ingin meledak. Dengan cepat dia bangkit dan memandang sosok itu dengan tatapan tak percaya. Nessa sedang berdiri di sampingnya dan dengan santainya dia mengurus cairan infus.

“Ya, ampun! Hati-hati! Kalau infus ini copot darahmu bisa muncrat kemana-mana.”

Dirga tersenyum, dengan perlahan tangannya menggapai jari-jari manusia yang dia cari selama ini. Sosok itu membeku, matanya tak lepas dari infus.

“Tidakkah kau rindu dengan kakakmu ini, Nessa?”

Nessa duduk di ranjang panjang tempat Dirga dirawat sambil menggenggam secangkir teh jahe. Dirga begitu berubah, wajahnya acak-acakkan, rambutnya pun juga sama. Namun dia tetaplah Dirga yang sama, Dirga yang dia rindukan setiap malam dan yang dia tangisi setiap sepi menyergapnya.

“Bagaimana dengan ibu dan ayah?” ujar Nessa setelah sekian lama mereka saling diam.
Dirga tersenyum “Masih sama seperti dulu.”
“Kak Yunan?”
“Dia sudah naik pangkat jadi istri. Omelannya benar-benar penuh talenta,” ujar Dirga yang disusul tawa keduanya
Nessa menatap Dirga “Kakak sendiri?”

Dirga terdiam. Matanya menatap lekat-lekat wajah Nessa, didekatkannya wajahnya dan dikecupnya bibir Nessa. Sedetik kemudian ciuman itu terpisah, Dirga tersenyum kecil “banyak yang bilang aku mulai gila.”
“Kalau dilihat bagaimana penampilan Kakak sekarang rasanya itu benar.”
“Ini sedang tren di Indonesia! Banyak perempuan yang suka dengan laki-laki yang hobi ke tempat jauh hingga kulit mereka hitam.”
“Jadi Kakak sekarang menjadi petualang hanya karena sedang tren?” ujar Nessa sambil tertawa geli.
“Bukan. Ada seorang wanita gila yang memberi kabar ke ayah kalau dia akan menjadi relawan di suatu tempat. Karena aku tidak tahu dimana akhirnya aku mengunjungi tempat-tempat yang kira-kira ada dia disana.”

Nessa mendesah pelan, dadanya tiba-tiba menyesak “apa Kakak tidak ingat bagaimana marahnya mereka waktu itu? Aku benar-benar merasa bersalah. Aku hanya ingin lari, Kak. Seharusnya Kakak jangan pernah mencariku. Aku membuat banyak kekacauan.”
Dirga menghela napas “apa kau tidak merasa bersalah kepadaku? Kau juga membuat hidupku kacau dua tahun ini.”

Nessa hanya diam, sebuah isakan lolos dari mulutnya.

“Kau pergi terlalu jauh, Nessa. Apa kau tidak merindukan aku?”
“Kita tidak boleh saling merindukan, Kak. Kita berdua adik kak –
“Kalau kita hanya memikirkan diri kita sendiri saat ini, apa yang paling kau inginkan sekarang, Nessa?”

Nessa menunduk, air mata menetes deras seiring isakannya yang semakin jelas “aku … ingin … kakak.”

Dengan sigap Dirga merengkuh tubuh Nessa. Tubuh Nessa berguncang hebat dan pelukkan itu semakin erat. Hati Dirga menghangat, bagaimana pun dia tahu bahwa hati Nessa masih miliknya.

“Jika kau ingin lari lagi, ajak aku, Nessa. Namun kalau kau ingin mendengar saranku, Leh merupakan tempat yang bagus untuk membuat kebahagiaan.”

END

*AMS = Acute Mountain Sickness. Serangan yang menimpa orang yang berpergian dari tempat rendah ke tempat yang tinggi, apalagi dengan pesawat terbang. Gejala ringannya berupa mual, pusing, hilang nafsu makan, lemas dan sulit bernafas. AMS yang parah bahkan bisa menyebabkan kematian. Sangat disarankan untuk mereka yang berpergian jika sampai di tempat tujuan agar beristirahat selama sehari atau dua hari untuk penyesuaian tubuh pada ketinggian.

Cerpen Karangan: Nebula Salnia
Blog: http://nebulasalnia.wordpress.com
Kalian bisa baca ceritaku yang lainnya di blogku http://nebulasalnia.wordpress.com

Cerpen A Place To Make An Happiness merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Someone Say Love Me

Oleh:
We were crying together It was a long time ago Before you walk out the door And leave me this way Just hear what i say (Westlife – You

Sebastian (Sebatas Teman Tanpa Kepastian)

Oleh:
Gadis cantik itu terduduk di sebuah bangku putih menjulang panjang. Angin semilir berhembus hingga membuat helaian demi helaian rambut indahnya seolah menari terbawanya. Sekilas gadis itu tersenyum menatap layar

Steps to Get Your Heart (Part 2)

Oleh:
“Nah, semuanya sudah lengkap kan? Oke kalau begitu kita bisa memulai kerja kelompoknya!” Ucap Soni. Sekarang mereka sedang mengerjakan tugas kelompok di rumah Haris. “Terus kepercayaan masyarakat macam apa

Status Adik Kakak (Part 1)

Oleh:
“Ku coba untuk melawan hati. Tapi hampa terasa, disini tanpamu. Bagiku semua sangat berarti lagi. Ku ingin kau disini tepiskan sepiku bersamamu. Hingga akhir waktu” ucapku saat menyanyikan sedikit

Samudra Cinta

Oleh:
Deburan ombak tepi pantai malam itu, seperti sedang memberiku isyarat bahwa aku hanya terlihat layaknya sebongkah karang yang kesepian di tengah samudra nan deras, entah mencoba menahan derasnya terjangan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “A Place To Make An Happiness”

  1. andini says:

    Manis.. dan sederhana.
    Bahasa yang lugas dan ceritanya disampaikan dengan apik.. saya menikmatinya seolah semesta ikut mengamini hubungan Nessa dan Dirga .. apalagi pengambilan setting yang tak biasa. Sebuah daerah di india

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *