Aku dan Sahabatku (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 20 May 2019

Kutatap buket bunga yang tengah kupegang sambil sesekali aku berdiri merenggangkan badanku, kutatap sebuah gedung yang berada di hadapanku tempat di mana proses pelaksanaan wisuda tengah berlangsung. Aku terlambat datang, aku tidak enak masuk karena sudah terlambat. Seharusnya tadi aku tidak memaksa naik kendaraan pribadi kalau tahu hari ini akan macet parah karena ada pelebaran jalan, aku seharusnya berada di sana, di sampingnya.

Setelah satu jam menunggu akhirnya acarapun selesai, sekumpulan orang keluar dari dalam gedung. Aku mulai celingak-celinguk mencari orang yang mengundangku datang hari ini, Haris Kurniawan namanya. Kulihat dia dan kedua orangtuanya keluar dari dalam gedung sambil sesekali bersalam-salaman dengan teman-teman Haris yang juga diwisuda hari ini. Kulihat Haris tengah melihat kesana kemari seperti mencari seseorang, apakah dia mencariku?.

Aku melambai-lambaikan tanganku kepadanya hingga kulihat dia berlari mengampiriku sambil tangan kanannya memegangi topi wisudanya agar tak terbang ditiup angin.

“Kenapa gak masuk ke gedung?” tanyanya kepadaku.
“Aku telat banget tadi, aku nggak enak masuk jadi aku nunggu di sini aja” jawabku sambil menyodorkan buket bunga yang sedari tadi kupegang.
“Nggak apa-apa..” ucapnya sambil membelai pucuk kepalaku.
“Kita foto dulu ya” ia meminta tolong kepada ayahnya yang telah datang menghampiri kita untuk mengambil gambar.

Sebelum pulang, kedua orangtua Haris mengajakku untuk makan di salah satu restoran di sekitar gedung, terlihat tak cuma kami saja yang setelah pulang dari perayaan wisuda yang menyempatkan untuk makan di sini, ada beberapa keluarga mahasiswa yang juga berkumpul di restoran ini.

Setelah makan, kami mengobrol tentang prestasi Haris selama kuliah jurusan manajemen. IPK nya selalu memuaskan dan ia lulus hanya dengan 3 tahun kuliah. Beda jauh denganku yang sekarang masih kuliah. Meskipun kami seumuran tapi dari SMA Haris mengambil kelas akselerasi yang memungkinkannya untuk lulus lebih cepat.

“Aku punya cita-cita yang hanya bisa aku raih kalau aku cepat punya pekerjaan, aku takut cita-cita yang ingin kulindungi nantinya akan hilang kalau aku tak cepat menangkapnya”
Itu adalah alasan yang selalu dia katakan padaku saat aku bertanya kenapa harus masuk kelas akselerasi?

“Nanti juga kamu liat sendiri kalau aku udah dapet kerja dan gaji tetap”
Kalau itu jawaban kalau aku tanya apa sih cita-citanya?

Aku yakin cita-citanya itu amatlah penting baginya, karena perjuangannya begitu sulit. Disaat teman sebayanya masih asik bermain tapi ia begitu serius belajar, seakan hal yang ia sebut sebagai cita-citanya akan pergi jika ia tak segera meraihnya.

Padahal tak sulit baginya untuk mendapat pekerjaan karena ia adalah penerus perusahaan milik keluarganya yang berarti ketika lulus kuliah dia tak perlu repot-repot mencai kerja kemana-mana, dia hanya tinggal masuk ke perusahaan milik keluarganya itu.

Haris Kurniawan, ia adalah teman masa kecilku dan hingga saat ini kita masihlah teman dekat. Rumah kami terletak di kompleks yang sama dan kedua orangtua kami saling mengenal sehingga memungkinkan kami untuk selalu bertemu setiap hari ditambah pertemuan kami di sekolah dari TK sampai SMA bahkan di bangku perkuliahan meskipun tak satu jurusan tapi kami berkuliah di universitas yang sama.

Dia adalah lelaki yang penuh perhatian, baik, rajin beribadah dan mudah bergaul. Semua orang di sekolah mengetahui siapa itu Haris, meakipun ia selalu sibuk untuk belajar tetapi ia tak mau dipandang sebagai kutu buku yang kuper. Dia selalu mencoba untuk mengakrabkan diri dengan teman temannya dan juga para Guru.

Aku sendiri sampai minder dibuatnya. Bagaimana tidak seorang siswa populer yang banyak dikagumi baik oleh para sisiwa maupun para Guru malah bersahabat denganku. Aku adalah murid yang biasa tapi aku menjadi terkenal ke penjuru sekolah, bukan karena aku populer karena pintar atau cantik tetapi karena aku adalah teman dekatnya Haris.

Bagaimana aku bisa tidak dikenal jika Haris selalu menempeliku kemana-mana, setiap jam istirahat dia selalu menjemputku di kelas lalu membawaku bersamanya ke kantin. Dia selalu membangga-banggakanku yang tak pernah dapat rangking sepuluh besar di kelas ini sebagai sahabatnya.

Padahal akulah yang seharusnya membangga-banggakannyakan?. Di sekolah aku tak pernah dikenali dengan namaku sendiri, tapi dikenali sebagai “teman dekatnya Haris”.

“Kemarin aku ketemu sama kakak kelas yang pake tas warna merah, keren banget tasnya ya ampun!”
“Siapa? Kelas berapa?”
“Itu loh.. temen deketnya kak Haris”
Tidak cuma dikenal sebagai teman Haris di kalangan siswa, tapi juga di kalangan para Guru.

“Eh kamu tolong ibu panggilin salah satu siswa di kelas sebelas IPA 3 itu loh siapa ya namanya ibu lupa?”
“Siapa ya bu?”
“Itu lo teman dekatnya Haris kamu tau kan?”
“Oh iya iya bu, permisi saya panggilkan”

Kami adalah sahabat sejati. Itu adalah fakta di antara kami yang sudah diketahui oleh banyak orang. Aku tahu semua tentangnya sebanyak dia tahu semua tentangku. Yang tidak dia ketahui adalah perasaanku padanya. Ya dia adalah cinta pertamaku, orang yang selalu di sampingku saat aku harus kehilangan ibu di usiaku yang teramat muda. Dia ada di sana menghiburku, membuat senyumku yang awalnya sirna kembali mengembang di atas bibirku.

Tapi aku tak pernah mengungkapkan perasaanku padanya, tak pernah. Biarkanlah cinta yang kutanam di dalam hatiku berkembang sendiri tanpa diketahui si pemilik bibit cinta itu. Biarkan aku sendiri yang menyiramnya, merawatnya, biarkan aku menjaganya tanpa diketahui oleh seluruh orang di dunia. Aku tidak apa-apa selama yang kucintai bahagia.

Setelah pertemuan seusai acara wisudanya itu aku menjadi jarang betemu dengan Haris. Tetapi ia selalu menghubungiku bahkan kadang ia menghubungiku via video call, sekedar menanyakan kabar dan kuliahku serta tak lupa menceramahiku soal cinta.

“Pokoknya gak boleh pacaran, pacaran nanti aja abis nikah, kalo kamu masih nekat pacaran aku mau ngundurin diri jadi sahabatmu”
Sekilas kenangan saat kita masih sekolah dulu mengusik diriku. Saat seorang kakak kelas menyatakan cintanya padaku dan aku bertanya pada Haris soal ini, aku ingin membuatnya cemburu. Tapi ia selalu mengingatkanku tentang hukum pacaran, dalam agamaku itu haram.

Tahu kah kau Haris? Bagaimana aku bisa melupakanmu jika mengenal lelaki lain saja kau tak memperbolehkanku? Kau mengurungku di dalam kungkunganmu sementara kau bisa dekat dengan wanita-wanita lain?

Saat itu aku sering berkunjung ke salah satu kelasnya di saat ia masih kuliah dulu, ada seorang wanita yang selalu bersamanya. Aku tak menyadarinya hingga entah kunjunganku yang keberapa aku masih melihat wanita itu bersamanya.
Mesra? Kadang mereka mesra seperti sepasang kekasih, saat kutanyakan soal wanita itu dia hanya berkata kalau dia adalah salah satu teman kelompoknya di kelas itu.

Aku tahu wanita itu menyimpan perasaan pada Haris, semua orang dapat melihanya dari sorot matanya dan juga gesturnya saat ia dekat dengan Haris. Aku marah, aku cemburu karena Haris terlihat tak keberatan, seperti ia tak mencoba untuk menghindari perhatian dari wanita itu. Aku sadar, wanita itu memang cantik, dan aku? ah sudahlah.

Maka sekarang, saat Haris telah sedikit jauh dariku, aku akan mencoba untuk melupakannya. Aku tak menampik keinginanku untuk segera menikah dan menimang anak, sebagai anak tunggal dari seorang ayah yang kini tak lagi sesehat dulu, aku ingin segera menunaikan keinginan ayahku untuk mendapatkan menantu dan menimang cucu.

Ayah selalu mengingatkanku kalau sudah ada yang cocok agar segera datang untuk melamar, tak apa meskipun aku masih kuliah, toh usia bukanlah penentu untuk menikah, berapapun usianya asalkan tidak dibawah umur dan telah mampu maka tak ada salahnya kan?

Tak terasa sudah setahun sejak wisudanya Haris, aku pun mulai menata kembali perasaanku kepadanya, meyakinkan diriku sendiri bahwa aku telah melupakan perasaan cintaku untuknya. Lagi pula sekarang aku sudah kenal dengan banyak pria yang sepertinya punya perasaan padaku, dan ada satu yang akhir-akhir ini begitu menggangguku.
Pak Rangga, salah satu dosen yang kini tengah dekat dengaku, usianya hanya terpaut 5 tahun lebih tua dariku. Ia selalu membantuku ketika aku tengah kesulitan dalam mengerjakan beberapa tugas laporan.

Dari perhatian yang ia berikan aku tahu kalau dia seperti tengah membiarkan aku mengetahui perasaannya tanpa ia harus menyatakannya.

Ia sendiri pernah menanyakan kepadaku soal rencana menikah, dengan malu-malu aku menjawabnya,
“Ayah memang udah dari dulu minta menantu pak, soalnya papah sering sakit-sakitan dan udah kepengen nimang cucu”
“Terus kamu kok belum mau nikah?”
“Siapa sih yang nggak mau nikah pak, kalau ada yang ngelamar ke orangtua saya sekarang juga pasti saya terima”
“Kalau orangnya gak cocok sama kamu?”
“Insyaallah cocok, asal saya gak dijadiin madu atau dilamar om-om bujang lapuk”
Tawa lepas yang mengakhiri perbincangan kami saat itu menyiratkan banyak arti, dari senyuman yang ia kulum sesaat setelah tawa kami berhenti, aku tahu dia adalah orangnya. Orang yang akan melepaskanku dari belenggu hatiku yang selama ini hanya memenjarakan satu nama, Haris Kurniawan.

Perbincangan sore itu berakhir dengan Pak Rangga yang mengantarkanku pulang ke rumah. Tak lupa aku menyuruhnya untuk mampir dulu dan mengenalkannya kepada ayah sebagai dosenku. Kubuatkan mereka minuman karena kulihat dari perbincangan mereka sepertinya akan makan waktu lama.

Aku tersenyum saat melihat Pak Rangga telah akrab dengan ayahku, aku bisa mendengar perbincangan mereka dari dalam kamar soal kecintaan mereka pada club bola Real Madrid. Sama dengan para gadis yang membicarakan tentang artis idolanya, mereka tampak akrab seperti itu, hatiku berdesir ketika kubayangkan Pak Rangga akan benar-benar melamarku.

Sebelum maghrib, Pak Rangga berpamitan pulang padaku dan ayah, ayah tersenyum padaku, seperti mengisyaratkan kata

papa suka

Aku pun hanya bisa tersenyum sambil menunduk malu. Malam itu Haris kembali menghubungiku, ia bercerita kalau ia telah membeli sebuah apartemen yang terletak di sebelah kantornya, apartemennya memang tak mewah, tapi sangat layak untuk ditinggali berdua.

Berdua?

Rasanya luka hatiku kembali terbuka, apakah kau telah memiliki wanita lain? Perasaan yang selama ini kukubur dalam-dalam kembali mencuat keluar.

Kurasa aku telah berbohong ketika aku berkata bahwa aku sudah tak mencintainya lagi. Bahkan aku menyukai Pak Rangga pun karena ia mirip dengannya, tingkah lakunya selalu menginggatkanku pada Haris. Kupikir dia berbeda, dia akan menjadi Rangga Zulkifli yang akan kucintai, tetapi sekarang aku baru sadar kalau dia hanya akan menjadi sosok lain dari Haris Kurniawan yang dapat kumiliki.

Sebelum Haris mematikan teleponnya, ia berkata bahwa ia sangat merindukanku, dan ia tak dapat menghubungiku selama seminggu kedepanya, ia akan disibukkan dengan suatu pekerjaan. Kami memang jarang bertemu sekarang, terakhir kali kami bertemu adalah dua bulan yang lalu saat ia mengajakku bertemu lalu kami makan berdua di restoran. Tak ada pembicaraan yang berarti saat itu, kami hanya membicarakan kenangan-kenangan kami dulu semasa kecil, sesekali kami saling bertukar canda, dan candanya selalu sukses menerbitkan tawaku.

Jujur, hanya Harislah yang dapat membuatku tertawa lepas dengan bahagianya, dia begitu tulus sangat tulus hingga aku ingin memilikinya dan menyimpanya untuk diriku sendiri, menjauhkannya dari kejamnya dunia.

Hari ini Pak Rangga kembali mengajakku makan, kali ini kami tak terlalu banyak berbincang-bincang. Aku merasa sedih karena Pak Rangga yang seperti tak menganggapku dan cenderung menghindari kontak mata denganku,

ada apa?

Setelah kami selesai makan Pak Rangga lantas menatapku malu-malu dan berkata,
“Lusa, sekitar jam delapan malam bapak mau berkunjung ke rumah kamu, kira-kira ayah kamu sibuk nggak?”
Aku menggelengkan kepalaku dan berkata bahwa ayah gak sibuk dan bisa ditemui lusa, setelah itu ia pun berpamitan pergi.

Sekilas ada semburat kemerahan di pipinya, apakah sedari tadi ia malu mau mengatakan itu? Tanpa kusadari aku mengulas senyum, aku tak ingin terlalu berharap, tetapi apalagi yang akan dilakukan seorang pria yang tengah dekat denganmu ketika dia hendak bertemu dengan orangtuamu?

Ya mereka bisa membicarakan apa saja, tapi ini berbeda, ada perasaan lain yang begitu kuat saat ia menanyakan keberadaan orangtuamu di rumah, mimik wajahnya yang ia buat saat ia menanyakannya.
Ah, pikiranku sudah terbang begitu jauh.

Cerpen Karangan: Arini Puspita
Blog / Facebook: Arini Puspita

Cerpen Aku dan Sahabatku (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia Kembali

Oleh:
Ini tahun dimana aktifitas Nuna bekerja, setelah 3 bulan lalu Nuna dinyatakan lulus oleh perguruan tinggi dimana dia belajar selama ini. Telah 5 penawaran lowongan kerja datang kepadanya, tapi

Pejamkan Cinta Sejenak

Oleh:
Malam sendu ditemani hujan rintik, seakan ikut bersedih melihat tiara yang kali itu sedang memandangi sebuah potret. “aku tahu kamu selalu menyayangiku, bahkan ketika aku belum juga bisa mencintaimu”

Penantian di Bagian Halte

Oleh:
Subuh ini aku mulai menulis kembali. Berani menyita semua waktu tidurku untuk menceritakan kembali tentangmu disana. Aku, saat ini merasakan bahwa kehadiranmu sungguh ada dan duduk di sampingku. Memberikan

Jatuh Cinta Sendirian

Oleh:
Bahagia itu sederhana, saat kita bisa melepas rasa sakit dan menderita. Bahagia itu sederhana, saat kita mampu menerbangkan segala kesedihan. Merubahnya menjadi senyum dan tawa. Dan kebahagiaan itu sederhana,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *