Aku dan Sahabatku (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 20 May 2019

Aku pulang ke rumah dengan disambut oleh budeku yang terlihat sibuk membersihkan halaman rumah, dan ia memekik bahagia ketika melihatku pulang. Aku bertanya sebenarnya ada apa kok bude bisa ada di sini sambil bersih-bersih pula, tetapi ia segera menggiringku masuk kedalam rumah dan membawaku kepada kebingunggan lainnya.

Saudara-saudaraku berkumpul si dalam rumah, ada yang sibuk bersih-bersih dan ada yang tengah membuat kue di dapur, dan semuanya memandangku dengan senyuman di bibir mereka. Setiap aku bertanya mereka selalu menyuruhku bertanya pada ayah, maka aku pun pergi mencari ayah ke seluruh penjuru rumah.

Aku menemukan ayah yang tengah menelepon seseorang di halaman belakang, setelah ia memutuskan panggilannya ia pun menghampiriku lalu memelukku.

“Besok malam ada yang mau datang melamarmu, ayah nggak tahu ternyata hubunganmu sudah jauh dengannya, ayah sangat bahagia” ayah menangis sambil terus memelukku.

Melamarku?

“Tadi pagi dia nelepon ayah, jadi ayah langsung hubungi keluarga kita soalnya ayah nggak tahu apa yang harus disiapin buat tamu nanti” ayah melepaskan pelukannya lalu mengusap air matanya.
“Yang mau datang melamar aku siapa yah?” aku tersenyum, dalam hatiku ada wajah Pak Rangga yang tadi malu-malu saat menemuiku di restoran.
“Loh, bukannya dia sudah ngasih tau kamu?” tanya ayah heran.
“Nggak ada tuh yah?”
“Udah, besok malam aja kamu lihat sendiri siapa yang datang, besok kamu izin dulu kuliahnya, ikut bude kamu pergi beli kebaya”
“Iya ayah”

Kulihat wajah ayah yang begitu berseri-seri, aku pun tak dapat membendung senyumku seharian ini, benarkah besok dia akan datang melamarku? Ingin sekali aku menghubunginya dan menanyakannya langsung, tapi aku terlalu malu, biar esok kutanyakan langsung padanya.

Seharian ini para sepupuku tak henti-hentinya menggodaku, mereka selalu dengan iseng menanyakan siapakah gerangan yang akan melamarku, padahal yang kudengar dari budeku saat kita membeli kebaya tadi, ayah sudah koar-koar soal siapakah yang akan melamarku malam ini kepada seluruh keluarga besar kami, aku hanya bisa tersenyum karena sampai saat ini aku belum mendengar dengan pasti namanya di sebut.

Aku membaringkan tubuhku di atas kasurku yang empuk, aku terus terbayang-bayang acara yang akan berlangsung nanti malam, ketika kubayangkan wajahnya ah, aku menutup wajahku malu.

Aku mengambil ponselku lalu kutatap foto Haris, malam ini setelah lamaran aku akan benar-benar melupakanmu. Jari-jariku mulai mencari kontak Haris, hari ini tepat seminggu setelah hari sibuknya waktu itu, ia harus datang ke acara lamaranku.

“Kamu mau lamaran? Sama siapa? Kok nggak ngabarin dari kemarin-kemarin? Apa hubunganmu sama dia sudah sejauh itu?”
Kata-katanya tenang, namun aku bisa merasakan kalau dia sedikit kesal disana. Mungkin dia tidak suka kalau sahabat yang selama ini dia jaga akan segera menikah dengan seseorang yang sama sekali tak ia kenal.
“Aku juga belum pasti, ayah nggak mau kasih tau aku siapa yang mau datang ngelamar aku nanti malam, dan aku juga baru dapat kabarnya kemarin dan aku seharian ini sibuk di rumah, kamu datang ya, temani aku, sebelum jam delapan pokoknya”
“Nggak apa-apa kalau aku yang temani kamu?”
“Iya, harus kamu”
“Kamu nggak ada bayangan sama sekali siapa yang mau ngelamar kamu?” tanyanya penasaran
“Ada sebenarnya, dia udah tanya sebelumnya sama aku kalau dia mau datang ketemu sama ayah malam ini jam delapan, tapi aku nggak nyangka kalau dia sampai nelepon ayah untuk ngelamar aku, apalagi sampai bawa keluarga segala” jawabku malu-malu
“Aku akan datang, udah dulu ya aku lagi ada kerjaan nih, assalamualaikum” Haris segera menutup teleepon sebelum aku sempat menjawab salamnya.
“Waalaikum salam”
Marah? Jelas sekali dia sedang marah, nada suaranya berubah seketika dari penasaran menjadi ketus dan jutek.
Apa dia cemburu?

Jam 7 malam, aku sudah selesai berdandan di bantu budeku, aku tak henti-hentinya memainkan jari-jari tanganku, aku sangat gugup, satu jam lagi, aku harus sabar.

“Mbak disuruh-siap-siap di depan sama pakde, rombonganya datang lebih awal mbak, mobilnya udah kelihatan dari ujung komplek”
Roni sepupuku masuk ke dalam kamarku memberikan kabar yang tentunya sangat mengagetkanku, membuat budeku segera membantuku berdiri dan menggandengku keluar kamar.

Ayah sudah ada di sana, ia menggenggam tanganku sambil menuntunku untuk duduk di salah satu kursi yang sudah disiapkan, di sebelah kananku ada sebuah kursi kosong yang nantinya akan diisi oleh ‘dia’ yang melamarku malam ini.

Aku sedikit sebal karena Haris yang tidak kunjung datang, padahal ia sudah bilang akan datang, apakah ia begitu marah padaku?

Suara mobil berhenti tepat di halaman rumahku, beberapa anggota keluargaku telah berdiri di depan pintu untuk menyambut tamu istimewa malam ini. Sedangkan aku tidak diperbolehkan ikut menyambut tetapi hanya duduk menunggu dia yang akan datang dan mengisi bangku kosong di sisiku.

Beberapa orang sudah masuk dan duduk di kursi yang telah disediakan, tak lupa tukang foto yang ayahku sewa terus menangkap setiap momen yang sedang terjadi, hingga kulihat salah satu yang masuk adalah tante Yuni, ibunya Haris, apa dia memberi tahu ibunya soal lamaranku? Lalu kenapa pula ia datang bersama rombongan ini?

Hingga, mataku terbelalak saat ayahku memeluk sosok pria yang akan melamarku malam ini,
“Haris, om tahu kalau kelak memang kamu yang bakalan jadi menantu om”
Ayah tersenyum bangga sambil memeluk Haris dan menepuk-nepuk pundaknya, lalu ia mempersilahkan Haris untuk duduk di sebelahku.

Dunia tiba-tiba terasa begitu hening, hingga yang terdengar hanyalah suara detak jantungku yang tak karuan, aku terus menatap kosong pada sosok yang kini berada di sisiku, Haris, ya dia Haris Kurniawan, dia yang akan melamarku malam ini?. lamunanku berhenti saat aku merasa seseorang tengah mengguncang lenganku pelan.

“Nduk, dijawab, jangan diliatin aja Harisnya, ditanya sama Haris itu lo, diterima nggak lamaranya?” ayah menyadarkanku dari lamunanku.
“Eh, iya aku terima” ucapku spontan,
Sontak para tamu dan anggota keluargaku tertawa mendengar jawabanku yang terdengar sangat canggung, membuatku tertunduk malu dibuatnya.

Kini aku dan Haris tengah berada di balkon rumahku, keluargaku dan keluarganya tengah mengobrol di ruang tamu.
“Kenapa aku ris?” tanyaku pelan.
“Kamu ingat nggak cita-citaku dulu? Alasan kenapa aku ingin cepat lulus terus kerja?”
Aku mengangguk.
“Itu tuh kamu, alasanku itu kamu, dulu kamu selalu bilang sama aku kalau tipe kamu itu yang lebih dewasa dari kamu biar bisa mengayomi kamu, bisa biayai hidup kamu dengan baik yang selalu kamu ibaratkan dengan seseorang yang lebih tua dengan pekerjaan tetap, aku tuh ingin membuktikan kalau aku juga bisa, aku bisa kerja dengan gaji yang cukup untuk biayai kamu, aku ingin menjadi dewasa agar bisa mengayomi kamu, kamu, Nadira Larasati lah yang membentuk Haris menjadi pekerja keras seperti sekarang.”

Aku menatapnya tak percaya, tak terlalu berlebihankah aku yang biasa ini untuk menjadi sepenting itu baginya? Aku tak cukup percaya diri untuk menjadi sumber semangatnya selama ini, menjadi seseorang yang dicita-citakannya?

Setitik air mata jatuh dari pelupuk mataku, ia tak mampu membendung luapan syukur yang membuncah di dalam hatiku.

“Kenapa? Apa kamu nggak suka kalau aku yang ngelamar kamu?” Haris memegang pundakku yang bergetar karena tangis.
“Enggak” aku menggeleng
“Aku bahagia ris, demi allah aku ridho kalau itu kamu, sudah terlalu lama aku menyimpan cinta ini hingga kamu yang melamarku sekarang rasanya seperti mimpi” aku menatapnya dengan senyuman bahagia yang dihiasi tangis bahagia pula.
“Kamu cinta sama aku?” Tanya Haris heran.
“Iya” aku tertunduk malu.

“Maaf, seharusnya aku nggak buat kamu sedih, kamu selama ini pasti berfikir kalau aku nggak cinta sama kamu, tapi aku kira kamu nggak cinta sama aku juga, aku selalu takut ditolak setiap mau nyatain perasaanku sama kamu, kupikir dengan melamarmu adalah cara yang tepat untuk menyatakan perasaanku, maaf nggak ngasih kamu kepastian” Haris menatapku tak percaya atas pernyataan cintaku padanya.
“Sekarangkan udah ris” aku menghapus air mataku lalu tersenyum.
“Makasih udah jadiin aku wanita yang beruntung ris, terima kasih sudah menjaga cintaku untukmu dan menjaga cintamu untukku”

Kami tersenyum dengan malu-malu, saling tak percaya atas apa yang baru saja terjadi. Kami saling menjaga perasaan kami sendiri tanpa mengetahui perasaan masing-masing.

“Ngomong-ngomong siapa cowok yang mau datang malam ini? sampai aku minta sama papah buat majuin acara lamaranku dari jam delapan ke jam tujuh?” tanya Haris penasaran.

Seketika aku menegang, apa yang akan terjadi jika Pak Rangga sungguh datang malam ini dan melihat semua ini?

“Mbak, ada laki-laki datang cari mbak, katanya pakde dosenya mbak yang namanya Pak Rangga” dengan polosnya, Roni menyelipkan kepalanya dari pintu masuk balkon untuk memberiku kabar.

Cerpen Karangan: Arini Puspita
Blog / Facebook: Arini Puspita

Cerpen Aku dan Sahabatku (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Pertama

Oleh:
Fattan adalah seorang pemuda dari keluarga sederhana, berparas tampan dan lemah lembut. Dia berhasil memasuki sekolah tingkat atas yang tergolong elite dengan beasiswa. Kini Dia duduk di kelas 2

Perasaan Terpendam

Oleh:
Bel tanda pulang sekolah pun berbunyi, seluruh siswa berhamburan ke luar kelas masing-masing, begitu pun dengan aku, aku segera mengemasi barang-barangku lalu ke luar dari kelas dan menemui temanku

Radar Cinta Prosesus dan Brontosrious (Part 1)

Oleh:
Setiap malam aku selalu berpikir untuk menemukan radar cinta dari prosesus pangeran ganteng dari negri kayangan. agar suatu saat nanti aku bisa mendapakan cinta dari prosesus.. aku menyebutnya prosesus

Cukup Kamu Jujur

Oleh:
Usai bermain fun game di kawasan bermain mall, aku dan fitri melangkah ke luar dari kawasan itu dan menjelajah gerai makanan yang berderet di sepanjang lantai dua. Dengan bergandeng

Shakti dan Shinta

Oleh:
Shinta Dunia ini begitu indah. Begitu juga dengan hidup. Aku selalu mewarnai hidupku dengan senyuman. Aku ini termasuk gadis berkepala batu dalam urusan emosi, karena selama 19 tahun aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *