Aku Rindu Ingin Ketemu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 28 September 2019

Wajahnya yang dulu sendu ditinggalkan kekasih hati yang menemukan wanita barunya yaitu sahabatnya sendiri. Remuk redam tak berbentuk, hancur benar-benar hancur puing-puing hatinya seperti puzzle yang terberai. Dua tahun setelah semua berlalu aku bertemu kawan lamaku di sebuah kedai kopi tempat dia bekerja, lelaki itu menyiapkan kopi berlukis hati. Latte ya itu menu favoritku dia sudah hapal tanpa ku harus bicara. Dia menemaniku ngobrol lama. Hidup dia di malam hari, sedang siang dia tidur. Kita ngobrol tentang masa lalu ketika dia masih dengan dunia anak punknya dan aku hanya ikut-ikutan nongkrong-nongkrong saja ya dari sana kami kenal sampai sampai pernah pacaran tapi tak berlangsung lama karena aku mendua. Kemudian, di media sosial kita bertemu lalu kita memutuskan untuk kopi darat.

“Cie, sekarang uda jadi barista andal ni, selamat ya” ucapku dengan menyeruput kopi buatannya.
“makasih, ah biasa aja. Cuman kebetulan menang aja”
“Ah merendah aja, bisa gak buatin gambar aku” tantangku pada Radit
“Gampang, beruang kan?” jaeabnya polos
“Ih apaan sih” jawabku manyun
“Becanda”
Kita pun terkekeh sendiri, asik sekali ngobrol dengan dia sampai lupa waktu untungnya ada yang menghendel dia walau sekali-kali dia ninggalin aku untuk menunaikan pekerjaannya.

“Aku pulang ya udah malam banget ternyata” ucapku dengan melihat jam tangan yang menunjukan pukul sebelas malam.
“Yu aku anter”
“Gak usah aku naik angkot aja”
“Ih, bahaya cewek cantik pulang sendiri malam-malem”
“Paan sih”

Udara terasa dingin, di malam temaram di jalan Banteng di tengah malam ini. “Heh, Zakiyya Talita Shaki diem mulu ngantuk ya”
“Enggak, lagi liatin jalanan”
“Jangan liatin jalan, mendingan pandang aku aja”
“Ya karena kamu belakangi aku, males liat punggungmu takut bolong”
“yey emangnya aku sundel apa”
“Haa, Kiya nanti kita ketemu lagi ya”
“Nanti kapan?”
“Besok pagi”
“Ih jangan”
“Kenapa jangan, aku takut rindu kalau gak ketemu”
“Ih si abang, godai. Eneng mulu”
“Hee, nanti aku anterin kamu kerja ya”
“Maksa nih?”
“Iya maksa”
“Jangan mending hibernasi aja”
“Ih kamu, emang aku beruang”
“Hee”

Pagar hitam di daerah Ciroyom itu semakin jelas terlihat. Kos kosan dua tingkat dengan delapan kamar itu sudah tampak jelas di depan mata.
“Makasih ya, ayo jalan uda malam takutnya kenapa-napa di jalan”
“Cie perhatian, kamu masuk dulu nanti aku pulang”
“Ya uda, aku masuk ya”

Langit tak lagi gelap, berganti dengan langit putih. Pagi ini aku bersiap untuk bekerja di salah satu swalayan terkenal, sebagai SPG.

Tok tok tok…
Kubuka dan kulihat Radit berdiri di depan pintu kosan dengan menjinjing kantong keresek hitam.
“Radit”
“Ah kamu, lebay amat”
“Ih, aku kaget kamu ke sini pagi-pagi gini”
“Aku udah bilang takut rindu, mending ketemu”
“Yu masuk, gak sendiri ya? Bawa apa tuh?”
“Sarapan bareng yu”

Nasi kuning itu kini sudah bersarang di perut kami. Dan kami pergi dengan matik putih berjargon semakin di depan itu. Bertengger di halaman swalayan tempatku bekerja.

Semakin lama aku sering maen ke tempat kedai tempat Radit bekerja dengan mencicipi kopi dengan berbagai gambar yang dilukis Radit untukku. Mulai dengan gambar beruang, angsa, hati, dan banyak lainnya. Begitu pun dengan Radit yang sering main ke kosanku main bareng mengelilingi tempat -tempat indah di kota Bandung.

Kali ini Radit membawaku ke Punclut katanya biar bisa liat indahnya kota Bandung dengan pandangan, sepet kalo liat asep kendaraan mulu.

“Kiya, Bandung indah banget ya”
“Banget”
“Kaya kamu”
Aku tersenyum mendengar gombalan Radit, apa bener ya Radit udah maafin aku. Apa bener Radit bukan cuman untuk balas perlakuan aku dulu. Kutepis semuanya, toh nyatanya Radit tak mengungkapkan hatinya atau malah aku yang ngarep dia bilang suka padaku. Tapi aku pun juga takut kalau kita lagi-lagi terpisah. Mungkin sudah selayaknya aku dan dia berteman saja.

“Ya, aku bingung”
“Bingung kenapa?”
“Aku dapet kesempatan buat ngembangin potensi aku jadi barista profesional, tapi aku gak lagi di Bandung”
“Wah kesempatan emas tuh Dit, inget kesempatan ga datang dua kali loh, kemana Dit?
“Bali Ya”
“Wah asik tuh sekalian bisa liat bule-bule”
“Mending liat kamu Ya, takut rindu”

Bibirku merekah tersenyum mendengar Adit bilang itu. Radit melihat ke arahku menatapku menggenggam tanganku “makan yu laper” ajak Radit
“Adit” ucapku dalam hati.

Kami menelusuri jalan di kota Bandung dan berhenti di bahu jalan untuk menikmati bakso kaki lima yang dijajakan mas bakso dengan gerobak bertuliskan Bakso solo asli.
Setelah bakso dan jus jeruk menari di lidah kami dan Radit menghisap rok*k Sampurna mild katanya “wis mangan ora udu enek” sedang ku bermain ponsel melihat BBM yang masuk kulihat Artan mengirimiku pesan yang isinya ngajak jalan. Artan adalah manager tempatku bekerja yang belakangan ini sibuk mendekatiku. Kurasa sah-dah saja karena ku belum berkomitmen dengan siapapun. Kulihat dari ujung mataku Radit melihat ke arah ponselku aku tak membalasnya kucuekan saja.

“Kamu libur kan?, ke kedai yu”
“Libur, ayo”

Radit langsung bekerja kulihat kedai tampak ramai dipenuhi muda mudi yang sedang menikmati malam minggu.
Aku berada di pojok kedai sengaja kupilih tempat ini agar kunikmati suasana malam yang semakin larut diiringi lagu Adelle dengan judul Some one Like You. Radit akhirnya menemuiku dengan secangkir kopi berlukiskan I <3 U. Kupandangi cangkirku "apa iya Radit ah mana mungkin tapi" ucapku dalam hati. "Diliatin mulu, minum dong, gak cinta ya?" Apa, cinta? gak salah dengar kan aku? benar-benar akh mungkin. "Balikan yu" "Tapi, kamu udah maafin aku" --- Senja dengan jingga menghias lagit sore aku tengah memeluk Bimo dengan Ninja merah pulang dari jalan-jalan ketika ku mau masuk gang rumahku kulihat Radit keluar dengan vespanya kami berpapasan segera kulepaskan pelukanku. Kulihat Radit menatapku begitupun aku. Oh Tuhan bagaimana ini aku takut. Radit tak berhenti dia terus melaju. Setelah Bimo pulang ku langsung menelepon Radit. Namun, dia tak mengangkat teleponku puluhan pesanku tak dia balas hingga ku kehilangan kabar saat dia lulus SMA. Dan hubunganku dengan Bimo pun berakhir. Bimo mengkhianatiku dengan sahabat dekatku. Mungkin ini yang dinamakan karma. --- "Sudahlah Ya, jangan membahas itu. Rasaku masih sama seperti dulu! Aku sayang kamu" Aku tersenyum tak percaya setelah empat bulan kita bertemu lagi dia baru bilang. "Eh malah senyum jawab dong" "Ih kamu... Ayu" "Kamu cantik" "Kamu gombal" jawabku Tiga bulan setelah kita berkomitmen kembali, hubungan kita adem ayem aja. Aku tak pernah ingin lagi membelokan hatiku. Radit sudah membuatku sangat nyaman. Seperti malam ini kita sedang nonton di bioskop bertuliskan XXI. Salah satu film terbaru yang sedang diputar. "Endingnya gak asik ya Dit" "Kenapa emang?" "sad ending mereka gak bisa bersama" "ya namanya juga film Ya, maunya happy ending mulu" "Namanya juga film romantis harusnya happy ending, buat ngobatin dunia nyata yang nyesek Dit" "Ih emak-emak" "Ih kakek-kakek" "Pake helmnya Ya, biar gak dingin tu pala" "Sakit Dit, kalo pake helm" "Pake ya" "Iya" Pukul depalan Radit masih di kosanku tiduran sambil nonton tv. Sedangku keluar nyari cemilan sedang ponselku kutinggal di kosan sedang kucharger. Ketika kita sedang menikmati suguhan acara tv dengan cemilan yang kukunyah. "Ya, dari tiga bulan lalu dia perhatian bener ma kamu" "Siapa yang kamu maksud dia?" "Noh buka ponsel kamu, ngajak jalan tuh" Kubuka ponselku kulihat Artan mengirimiku pesan. "Gak tau Dit, udah aku jelasin juga dia tetep gitu" "Dia suka kamu ya?" Aku diam tak menjawab "Diem" "Iya" jawabku singkat "Abis kamu cantik sih" "Kamu percaya aku kan Dit" dengan menatapnya "Sini ponsel kamu" dengan nada seperti biasa, Radit tak menunjukkan kalau dia marah. Aku menyerahkan ponselku. Setengah jam setelah kejadian tadi. Ada yang mengetok pintu kosanku. Kubuka Artan datang dengan martabak di jinjingannya. Aku kaget begitupun dengan Artan bagaimana bisa dia di sini? "Ada apa ya Pak?" "Aku yang nyuruh dia kesini Ya" Aku mengerutkan dahiku, apa yang diinginkan Radit sebenarnya. Sementara Artan hanya diam sebelum akhirnya dia bicara "Sepertinya saya berada di waktu yang kurang tepat, saya permisi Kiya" "Loh kok buru-buru Pak, belum juga kenalan" Radit menghampiri kami. "Ya, kamu gak kenalin aku" Aku yang bingung tersentak ketika Radit berkata tersebut. "Ini Radit, Pak" "Siapa kamu Ya" sambung Radit "Ini Radit, pacar saya" ucapku mengulang. "Baiklah saya mengerti, saya permisi" ucap Artan pergi kembali membawa martabak yang dia bawa. Kututup pintu kosanku, sedikit ada rasa kesal dalam hati melihat tingkah laku Adit. "Senyum" ucapku singkat "Sayang ya, martabaknya dibawa lagi, Ya" "Ih kamu Dit" "Kenapa kamu suka dia?" Radit menatapku kesal "Enggak, hanya saja kamu mempermalukan dia Dit" "Dia, gak ngehargain aku, usaha terus di lapak orang" "Ih adit, aku disamain ma lapak" "Kamu pacar aku, aku gak mau kaya dulu" Aku diam, tak ingin menjawab aku malu, merasa bersalah. Radit memelukku "aku sayang kamu, kamu Julietku, dan Juliet hanya punya satu Romeo" bisik Radit padaku. Hubungan kami semakin membaik, dua tahun kita bersama. Pukul sembilan kunikmati kopi di kedai tempat Radit bekerja dengan pancake yang teras nikmat menari di lidahku. "Enak" Aku mengangguk, "Ya, aku jadi" "Jadi superman?" "Minggu... aku berangkat?" Aku berhenti makan, arah pembicaraan kita semakin serius. "Kamu mau kemana?" "Aku pergi ke Bali" "Kamu yah," ucapku kesal "Ya" "Ya hidup kamu gimana kamu aja" ucapku meninghalkan Radit. Di halaman kedai Radit menarik tanganku. "Ya, dengerin aku dulu" "Ya, udah pergi tinggal pergi, pulang tinggal pulang, terserah kamu!" cerocolku "Ya" "Ya.. Ya... Gak ada nama itu lagi" Aku melepaskan tangan Radit dan berlari masuk angkot. Paginya sesuai dugaanku setelah pulang bekerja dia berdiri di depan pintu kosanku. Dia mengetuk berapa kalipun aku aku diam tak menyahut aku tak mau ketemu aku tak rindu. "Ya, buka dong, aku jelasin dulu. Aku gak bakalan pulang" Kupikir percuma kukunci pun dia keras kepala, dia pasti menepati ucapannya. Kubuka pintu. Dan kembali tidur berselimut menutup semua tubuhku. "Ya, jangan petak umpet di sana, mending di sini di hati aku" ucap Radit berusaha mencairkan suasana. Radit membuka selimutku menatapku, melihat mataku yang sembab karena semalaman menangis. Dia memegang wajahku mengelus pelupuk mataku, "aku mau halalin kamu Ya" aku tersentak mendengar yang dikatakan Radit. "Biar kita sah Ya, hanya dua tahun Ya, tapi aku takut rindu Ya" "Kenapa Bali? Kenapa ngambil keputusan sendiri? Bagaimana kalau di sana kamu kecantol terus gak rindu aku lagi Dit?, dua tahun itu lama Dit" Radit tak menjawab dia malah mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibirku. --- Sebelum Radit berangkat Radit menemui keluargaku untuk melamarku dan dalam dua tahun dia ingin meminangku. Keluarga menyambut baik dan menerimanya. Meski berat aku melepas keberangkatan Radit di bandara. Selama setahun Radit masih seperti biasa menghubungiku, kami masih bertukar kabar. Kesini-sini Radit sepertinya sibuk hinga hanya sesekali saja. Hingga sekarang tiga minggu dia tak pernah mengabariku. Aku selalu berpikiran buruk tentang Radit mungkinkah Radit sudah tak melupakan alasannya dia pergi. Sedang aku yang sudah keluar dari tempatku bekerja sesuai dengan keinginan Radit. Tapi sekarang dia malah hilang kabar. Tok tok tok "Ya, tuh ada tamu" "Siapa Bu?" "Katanya temen SMA kamu" Aku pun beringsut merapikan diri menambah sedikit wewangian dan menyisir rambutku. Aku keluar dan melihat dia lelakiku yang pergi keluar pulau. "Radit" ucapku kaget Radit tesenyum, mendekatiku "Katanya dua tahun?" Ucapku memukul-mukul dada Radit dengan berurai air mata. "aku rindu, ingin ketemu" ucap Radit memelukku. Cerpen Karangan: Tri Ratna Dewi Blog / Facebook: triratnadewi7[-at-]gmail.com

Cerpen Aku Rindu Ingin Ketemu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Harapan Palsu (Part 2)

Oleh:
Pada jam istirahat aku sebenarnya enggan keluar kelas, tapi lulu mengajak ku ke kantin untuk membeli makanan dan kebetulan aku juga lupa membawa bekal ku. Sesampainya disana anak-anak dikantin

Mendung (Part 3)

Oleh:
Lima menit dalam posisi berpelukan akhirnya kulepaskan pelukanku lalu menatap kedua bola matanya yang indah itu. “sayaaang.. kok kamu dulu mau sih menungguku? padahal lumayan lama dan juga aku

Gadis Penghuni Bangku Sebelah

Oleh:
Aku masih tidak mengerti mengapa aku bisa tertarik pada gadis itu. Gadis yang duduk di bangku sebelahku. Ia tidak istimewa, ia tidak memiliki wajah seperti malaikat, ia tidak berpakaian

Romantic Love From SulTeng

Oleh:
Aku sedang berjalan di antara kerumunan siswa-siswa lain yang ingin mengetahui bahwa mereka lulus atau tidak. Tahun ini aku sudah akan lulus dari sekolah menengah pertama. Dan saat ini

Aku dan Sahabatku (Part 1)

Oleh:
Kutatap buket bunga yang tengah kupegang sambil sesekali aku berdiri merenggangkan badanku, kutatap sebuah gedung yang berada di hadapanku tempat di mana proses pelaksanaan wisuda tengah berlangsung. Aku terlambat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *