Always Waiting You

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 1 December 2018

Hari ini hujan lagi-lagi mengguyur kotaku. Orang-orang berlalu lalang menatap aneh padaku. Aku, di sini masih setia menunggunya di taman ini. Di sini kali pertama kami bertemu dan di taman ini juga kami berpisah.
Masih berputar di memoriku, saat ia mengucapkan janji-janji manisnya. Ia berjanji, akan kembali padaku dan aku juga berjanji akan setia menungunya di taman ini.

Sudah sejam lamanya, aku menunggu dirinya yang tak kunjung datang. Aku tak peduli sederas apapun hujan yang sekarang menimpaku. Yang kutahu aku harus setia menunggu dan menunggunya. Mungkin sampai lelah ku kan tetap menunggu.

“Sya?” suara yang tak asing lagi bagiku, membuatku kembali lagi ke dunia nyata. Sekilas Aku menoleh padanya, lalu kulanjutkan untuk memandang ke depan.
Sejenak ku menghela nafas untuk menambah ketegaranku saat ini. Mungkin jika ku tak tegar, aku akan menangis bersama hujan sore ini. Tetapi, ku yakin bahwa penantianku ini tidak akan sia-sia.

“Sya? Lo udah berapa lama di sini? Lo gak boleh hujan-hujanan kayak gini, ntar lo sakit…” ucapnya lembut. Aku yakin, aku adalah salah satu gadis yang beruntung di dunia ini. Karena, aku dikelilingi oleh orang-orang yang sangat perhatian padaku. Salah satunya, cowok yang setia hujan-hujanan di sampingku ini, Rio.
“Gue, masih betah nunggu dia di sini Rio…” ucapku pelan. Sejenak, ia menghela nafas berat.
“Gue tau lo suka ama dia…! Cinta ama dia…! Tapi, lo nggak harus nyiksa diri lo sendiri…!” ucapnya menekan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.

Sejenak kutertegun mendengar ucapannya. Aku berusaha, mencerna maksud dari semua ucapannya. Ya…! mungkin aku adalah seorang gadis yang bodoh…! yang berharap ia kembali ke pelukanku…! Tapi sungguh, ku terlanjur mencintainya.
Perlahan, Rio memberikan jaketnya padaku. Ku yakin ia berusaha melindungiku. Perlahan ia menarik tanganku untuk bersegera beranjak dari taman ini. Taman, yang mempunyai sejuta kenangan manisku dengannya.

Matahari tampak malu-malu memancarkan sinarnya. Burung-burung berkicau riang menyambut pagi cerah ini. Tapi lain denganku, aku sekarang sedang terbaring lemah di atas ranjang kesayanganku. Aku tak beranjak sedikitpun dari ranjang, karena kepalaku sedikit pusing saat ini. Mungkin karena kemarin sore aku hujan-hujanan dengan Rio. Sejenak ku memandang keluar jendela. Lalu ku menatap langit biru yang sangat indah, yang bisa membuatku tersenyum walau simpul.

“Krek” seseorang, membuka pintu kamarku yang bercat biru muda ini. Mama, ia membawakanku menu sarapan yang kusukai. Mama tersenyum padaku, lalu menaruh sarapan itu di atas meja di samping ranjangku. Perlahan punggung tangan mama meraba dahiku yang sedikit panas ini.
“Hari ini, kamu istirahat aja dulu sayang, ntar mama anterin surat izin kamu” ucap mama lembut. Aku hanya mengangguk menanggapi ucapan mama.
Perlahan mama keluar dari kamarku. Lalu, menutup pintu kamarku pelan. Aku beringsut dari posisiku, lalu perlahan ku memakan menu sarapan yang dibuat mama dengan setulus hati untukku.

“Drrrt…” Smarth Phoneku, tiba-tiba bergetar dari sakuku. Dengan malas ku mengambilnya. Lalu, satu pesan tampil dalam layar itu.
“Huft…” sejenak ku menghela nafas berat, setelah membalas pesan dari Rio. Aku kembali tertegun memandang wallpaper smarthphoneku. Memoriku pun kembali terulang ke masa-masa indahku bersamanya, Bian.

Hari ini kuputuskan untuk masuk sekolah, sebenarnya tubuhku belum begitu pulih, tapi karena hari ini diadakannya UH Bahasa Jepang, maka dengan terpaksa aku tetap mengikuti pembelajaran pada hari ini.

Bell tanda masuk berbunyi, dengan malas aku duduk pada bangku barisan paling depan.
“Sya, kata anak-anak sih, kita kedatangan murid baru loh”, kata Winda semangat.
“Hem… yaya ” ucapku tak semangat.
“Haduh, Sya… Sya, lo tau nggak? Murid baru itu cowok, ganteng, perfect deh”
“Ya… terserah deh… lo mau ngomong apa.., gue lagi nggak mau diganggu Win…”
Ia hanya diam menanggapi ucapanku. Sejenak, suasana kelas yang seperti pasar pun jadi hening.

“Mohon perhatiannya… ibu akan memperkenalkan murid baru pada kalian”
Aku tak mempedulikan ucapan Buk Rina, guru bahasa Jepangku itu. Aku masih sibuk mencoret-coret kertasku. Entah itu dengan tanda tangan, atau beberapa kalimat ungkapan hatiku.

“Perkenalkan nama saya Bian Michael Tirta Yasa, saya pindahan dari SMA Tunas Bangsa, Bandung”.
DEG! Seketika badanku kaku. Lidahku kelu untuk mengucapkan satu kalimat dari hatiku. Matakupun, hampir mengeluarkan butiran beningnya, saat ku menatap cowok yang saat ini sedang memperkenalkan dirinya.
Dia… Bian orang yang kutunggu-tunggu selama ini.
Oh Tuhan. akhirnya engkau mengabulkan apa yang kupinta slama ini. Mataku tak lepas memandangnya. Dan dia duduk di bangku no 2 dari 1 bangkuku.

“Tunggu, apakah ia tak mengingatku lagi? apakah ia tak mengingat masa-masa indah aku dan dia? Apakah ia tak mengingat janjinya padaku lagi? semudah itukah dia melupakanku” Batinku.
Pertanyaan itu memenuhi otakku. Merusak saraf konsentrasiku pada UH Bahasa Jepang saat ini. Beberapa kali ku meliriknya. Dan ku yakin, ia heran melihat tingkahku saat ini. Perlahan, kuhembuskan nafas, lalu kupusatkan perhatianku pada soal UH Bahasa Jepang, yang dari 10 menit lalu telah berada di mejaku.

Dengan pasti, kulangkahkan kakiku menuju bangku Bian. Sejenak, kuhembuskan nafasku perlahan.
“Nama lo Bian kan?” tanyaku padanya.
“Ya, nama lo siapa?” ucapnya tersenyum padaku.
Tuhan cobaan apa lagi yang Kau berikan padaku?
“Kenalin, nama gue Syasya Aprillia” ucapku memperkenalkan diri, dengan setegar mungkin
“Lo, nggak ingat gue lagi ya?”, ucapku frontal. Sejenak, ia tampak berpikir. Lalu tiba-tiba ia mengerang kesakitan sambil memegang kepalanya.
“Eh, lo kenapa?” ucapku cemas. Tetapi lagi-lagi ia memegang kepalanya, lalu ia pun terduduk di bangkunya. Kuambil air botol mineral milikku, lalu kumeminta Bian untuk meminumnya.
“Sorry ya, kalu gara-gara gue lo kayak gini” ucapku menunduk.
“Nggak, ini nggak salah lo kok… Tadi gue berusaha ngingat siapa lo, tapi tiba-tiba kepala gue sakit”, ucapnya pelan. Sejenak, ku berpikir apakah ia mengalami Amnesia? Atau…
“Lo, pernah kebentur sesuatu nggak?” tanyaku hati-hati padanya.
“Hem…. pernah sekitar dua tahun yang lalu. Waktu itu gue kecelakaan. Kata dokter sih, memori gue hilang.
“Memang kenapa?” tanya Bian.
Oh, begitu? Pantas saja, ia tak pernah kembali ke taman kota lagi.

Tuhan, apakah aku boleh mengembalikan ingatannya tentangku..? Tentang kisah aku dengannya? Walau itu hanya sedikit.
Setelah mendengar penuturan dari Bian, sekarang aku tahu, ia benar-benar tidak melupakanku, tetapi takdir yang membuat dia begini.
Tuhan, terimakasih telah mempertemukan aku dengannya. Walau ia kembali dengan ingatannya yang hilang. Itu tidak masalah bagiku.

Sore ini, aku janjian bertemu dengan Bian. Ku berharap, ia memenuhi janjinya. Sebenarnya, aku ingin mengembalikan memorinya, dengan cara memperlihatkan padanya, barang-barang yang pernah ia berikan padaku.
TAP…! seseorang menepuk pundakku. Sejenak, ku menoleh ke belakang, dan ternyata Bian. Senyumku perlahan terukir manis. Ia mengambil posisi duduk di sampingku.
“Lo mau nunjukin apa ke gue Sya?”

Perlahan aku mengambil kotak berwarna biru muda, dari dalam tasku. Lalu, kuberikan padanya. Ia menatap bingung, lalu aku memberikan isyarat agar ia membuka kotak itu.
Perlahan namun pasti, ia membuka kotak itu. Benda pertama ia ambil adalah kalung liontin yang berukiran namaku dan namanya. Lalu, satu persatu benda dalam kotak itu ia keluarkan.

“Ini semua, apa Sya?” tanya Bian bingung
“Dulu, dua tahun yang lalu gue bertemu seorang cowok di sini. Dia baik banget sama gue. Waktu iti sih, ia bantuin gue nyari gelang gue yang hilang di semak-semak taman ini.
“Lalu, apa hubungannya sama gue?”
“Lo tahu nggak? Cowok itu lo…!”
Ia tersentak mendengar ucapanku. Lalu ia mengisyaratkan agar aku kembali bercerita. “Ya, cowok itu elo, Bian..!”
Dua tahun yang lalu, di tempat ini awal kita bertemu. Di tempat ini juga kita berpisah. Dan saat itu lo janji akan kembali ke kota ini. Dan ketika itu juga, gue janji bakal setia nungguin lo. Nggak peduli hujan, badai yang menimpa gue” ucapku pelan dan pasti.. Dan tampak Bian mengingat-ingat sesuatu. Lalu, ia tersenyum padaku.
Aku hanya menatap aneh karena sikapnya.

“Ya..!” gue tahu semua itu. Walau gue nggak seutuhnya ingat tentang kita, tapi kita bisa ngulang kembali kan…?” ucapnya lembut padaku. Buliran bening, tiba-tiba merembes keluar tanpa kukomando. Tuhan..? Terimakasih atas semuanya Akhir ceritaku begitu manis karena rasa yakinku. Terimakasih Tuhan.

Kini, di tempat ini aku dan dia mengulang kembali masa-masa indah kami. Masa-masa yang pernah tertunda karena takdir. Dan kini jua takdir itu mempertemukan kami.
Memang takdir tidak selamanya manis, dan tidak selamanya pahit. Takdir akan berkehendak sesuai dengan keyakinan kita. Dan jika kamu, menganggap takdir tak adil, itu salah besar…! Sangat besar…!
Aku dan Bian. Kami berdua. Kuharap kami akan bahagia. Kau tahu..? Bahagia akan datang sendirinya tanpa kamu ketahui. Jadi percayalah akan semua kemungkinan.

THE END

Cerpen Karangan: Henny Novia Hendri
Blog / Facebook: Henny Novia Hendri
Penulis berumur 17 tahun ini bernama Henny Novia Hendri. Saat ini dia duduk di tingkat terakhir SMA. Hobinya sangat banyak, yaitu : menulis cerpen, menyanyi, menari, olahraga. Karyanya sering di publikasikan di Media cetak lokal. Dan ia pernah meraih juara ke tiga dalam lomba FLS2N kategori membaca dan menulis cerpen.

Cerpen Always Waiting You merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Catching Lyn (Dwilogi Part 1)

Oleh:
Aku menatap wanita yang saat ini duduk di hadapanku. Aura kecanggungan terasa pekat menyelimuti. Ia masih tampak sama sekaligus berbeda. Wajahnya masih tampak imut bagiku, seakan waktu berhenti disekitarnya.

Mawar Putih

Oleh:
Sebab aku mengerti.. Apa yang dinamakan perasaan itu memang tak dapat dipaksakan Apalagi dibohongi.. Untuk itu aku tak berani berharap lebih jauh lagi Cukup aku biarkan semua ini mengalir

Es Krim (Part 2)

Oleh:
Pagi ini aku dan Winda berangkat ke kampus bersama, pelajaran 3 sks berjalan seperti biasa. “makan yok Tif? Laper banget nih” ajak Winda. “kantin klise aja ya?” tawarku Kami

Kasih di Sepucuk Surat

Oleh:
Detak jam dinding terus berbunyi hingga saat ini. Sonya masih termenung kaku mengingat hal yang baru saja ia lakukan. Gadis itu masih di sana, duduk di kursi ruang tengah

Mia to Seung Jo (Part 3)

Oleh:
“Om-Tante, saya mau minta ijin untuk membawa Mia ke tempat yang lebih tenang. Agar kondisinya lebih stabil.” Ucap Seung Jo pada orangtua Mia. Saat ini ia tengah bertamu di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Always Waiting You”

  1. Dinbel says:

    Switsssss & keren sekali cerita nyaaaaaa. Good job ya untuk pengarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *