Andrea dan Andromeda (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 7 August 2016

Beberapa orang butuh waktu lama untuk menyadari sesuatu
Beberapa yang lain butuh waktu lebih lama untuk mengakuinya

Banyak orang yang terlambat menyadari sesuatu sehingga menyesalinya di kemudian hari. Tapi mereka bukanlah orang-orang yang paling menyedihkan. Beberapa orang justru memerlukan waktu lebih lama untuk mengakui sesuatu, bahkan meski mereka telah menyadarinya. Merekalah yang lebih menyedihkan. Sementara waktu tidak menunggu dan tidak pula kembali, mereka masih saja berdebat dengan diri mereka sendiri untuk mengakui kebenaran yang telah mereka ketahui.

Bintang Andromeda membenci sekaligus mengasihani dirinya sendiri karena dia adalah salah satu dari manusia-manusia menyedihkan itu. Telah sejak lama dia menyadari bahwa perasaannya telah berubah, dan dia dengan jelas mengetahui bahwa perubahan perasaannya bukan sekedar karena kecocokan sifat karena sifat mereka jelas bertolak belakang. Bagi Andromeda yang cerdas, mengetahui dan memahami sesuatu bukanlah hal yang sulit. Begitu pula untuk memahami perasaannya sendiri, tidaklah sulit. Yang sangat sulit baginya adalah untuk mengakui kenyataan baru tersebut.

Bertahun-tahun Andromeda berdebat dengan dirinya sendiri, apakah sebaiknya dia mengaku kepada Andrea Lintang bahwa dia mencintai gadis itu atau tidak. Dan perdebatan itu belum juga berujung hingga kini. Setiap kali berdebat dengan Andrea tentang deviasi proses atau keterlambatan perilisan produk obat mereka, di dalam hati Andromeda sendiri juga sedang terjadi perdebatan yang lain. Di satu sisi dia menggerutui kekeras-kepalaan Andrea, dan di sisi lain dia mengutuki dirinya sendiri karena selalu terpesona pada kekeras-kepalaan yang sama.

Andromeda pertama kali bertemu Andrea lima tahun yang lalu saat ia pindah kerja ke perusahaan itu, salah satu perusahaan farmasi multinasional terkenal di Jakarta, sebagai Plant Manager. Bahkan meski saat itu Andrea hanya seorang Quality Supervisor, yang notabene bukan bawahan langsungnya, Andro langsung mengetahui dia akan sering bertengkar dengan gadis itu. Saat tiga tahun yang lalu Andrea dipromosikan oleh Plant Director menjadi Quality Manager, menggantikan Quality Manager yang pindah ke perusahaan lain, dan menjadi bawahan langsung Andro, ia membuktikan dugaannya dengan makin jelas.

Benarlah adanya pepatah yang mengatakan bahwa kita tidak bisa menilai sebuah buku hanya dari sampulnya. Orang juga tidak bisa begitu saja menilai orang lain dari penampilan luarnya. Meski telah mengenal Andrea sejak dua tahun sebelumnya, tapi ketika Andrea menjadi bawahannya langsung, Andormeda tetap bisa merasa terkaget-kaget. Selama ini dia lebih banyak berinteraksi langsung dengan Andrea diluar pekerjaan kantor karena untuk urusan Quality Andro lebih sering berinteraksi dengan sang Quality Manager, atasan Andrea saat itu. Dia tidak pernah mengira bahwa Andrea yang suara tawanya mampu membuat semua orang yang sedang makan siang di kantin menoleh serempak, ternyata suara marahnya juga sama menggelegarnya. Andrea yang lembut sikapnya terhadap anak-anak, ternyata keras hatinya jika sedang berdebat tentang Quality Compliance.

“Kenapa sampai sekarang Metrin batch 30 belum dirilis juga? Akhir bulan ini sudah harus dikirim ke Vietnam kan? Dan akhir bulan ini tinggal bersisa 3 jam lagi!” kata Andro suatu malam kepada Andrea. Pukul sembilan malam saat itu.
Dengan wajah datar dan mata yang tetap fokus kepada laptopnya, Andrea menjawab: “Deviasi, Pak. Kesalahan pemakaian packing material. Semua harus di re-dress. Packaging Departement tidak menyanggupi untuk menyelesaikannya sebelum jam 11 malam.”
“Itu kan cuma packing material, Ndre. Tidak bisakah kita rilis saja supaya target kita bulan ini tercapai.”
“Target siapa, Pak? Target Bapak adalah untuk memenuhi order bulan ini. Target saya adalah untuk memastikan produk yang saya kirim sesuai dengan kualitas yang ditetapkan.”
“Kualitas apa, Andrea?! Ini hanya soal folding box dan leaflet. Nggak ada pasien yang peduli soal itu. Di sini FB dan leaflet dibuang di tong sampah. Dan menurut Regulatory Affairs, hanya ada minor changes pada FB dan leaflet baru itu.”
“Itu di Indonesia, Pak. Dan kalau-kalau Regulatory Affairs lupa memberitahu Bapak, mungkin Bapak perlu tahu bahwa FB dan leaflet baru itu sudah harus digunakan sejak bulan depan. Dan bulan depan tinggal 3 jam lagi. Kenekatan pengiriman hanya menyebabkan Return Product yang Bapak sendiri tahu akan lebih merugikan dibanding ketidak-terpenuhinya target bulan ini,” jawab Andrea, kali itu akhirnya mengangkat kepala dari laptopnya. Selagi melepas kacamatanya, gadis itu memandang Andromeda dan melanjutkan: “Dan barangkali Bapak lupa, ini sudah ketiga kalinya saya meminta Bapak berhenti mendesak saya merilis produk saat deadline. Kenapa Bapak nggak meneror Planning Manager untuk menyusun jadwal produksi yang lebih masuk akal ketimbang memaksa saya merilis produk yang bahkan belum setengahnya selesai dikemas?”

Kali lain Andromeda bahkan pernah menemui Andrea pukul tujuh pagi, tepat tiga detik setelah Andrea memasuki ruang kerjanya, bahkan sebelum gadis itu sempat meletakkan tas kerjanya di meja.
“Baca email dari Palvanan Pilai, Andrea! Thailand komplain karena ditemukan kemasan yang penyok lagi. Ini sudah komplain ketiga kalinya dalam dua bulan ini. Apa kamu sudah berlakukan SOP 100%-inspection? Apa sudah minta TSD perbaiki folding machine kita?”
Andrea meletakkan tasnya di meja, lalu menghadapi Andromeda dengan wajah marahnya. Hanya Andrea yang berani menantang Andromeda seperti itu.
“Alih-alih menyalahkan kru sendiri, Pak, kenapa Bapak nggak memperhatikan bahwa dari 20 negara yang kita suplay, hanya Thailand yang selalu komplain, bahkan untuk masalah sesepele folding box ini pun. Kalau-kalau Bapak tidak sempat memantau keadaan aktual di pabrik, saya konfirmasikan bahwa tidak ada masalah pada folding machine kita, dan 100%-inspection sudah diberlakukan. Kenapa Bapak nggak cek forwarding kita? Adakah yang salah dengan SOP pengiriman mereka sehingga selalu ada produk yang defek? Atau memang Mr. Palvanan yang berlebihan? Foto yang dikirimkannya bukan foto folding box penyok, Pak. Saya bahkan nggak bisa menganggap itu defek.”
“Tapi customer adalah raja, Andrea. Dan permintaan mereka, setinggi apapun standarnya, harus kita penuhi.”
“Memperlakukan customer sebagai raja bukan berarti memperlakukan keluarga sendiri sebagai babu yang bisa disalah-salahi terus kan, Pak?”
Andromeda akhirnya harus mengakui bahwa dia tidak akan pernah menang berdebat dengan Andrea. Gadis itu memiliki pendirian yang kuat sekaligus pilihan kata-kata yang sarkastik. Bukan kombinasi yang bisa membuat pria jatuh cinta. Maka ketika pertama kali Andromeda mulai menyadari perasaannya, dia berusaha mati-matian menyangkalnya.
Tidak butuh waktu lama bagi Andromeda untuk menyadari bahwa dia telah jatuh hati pada Andrea. Tapi butuh lebih banyak waktu baginya untuk berani mengakuinya mengingat fakta bahwa dia adalah atasan Andrea di kantor dan dirinya adalah seorang duda dengan seorang putri berusia remaja sementara Andrea belum pernah menikah.

Perasaan itu seperti energi, kekal.
Tidak pernah mati, ia hanya berubah bentuk.

Andrea mengira ia tidak akan bisa jatuh cinta lagi. Atau lebih tepatnya ia memutuskan untuk tidak jatuh cinta lagi. Dia rasanya telah memiliki “tabungan sakit hati” yang lebih dari cukup untuk seumur hidupnya. Tidak perlu jatuh cinta lagi jika hanya untuk merasa sakit hati lagi, pikirnya. Tapi seperti selalu, memangnya hidup selalu seperti yang kita pikirkan atau rencanakan? Seringkali hidup berputar ke arah yang tidak kita kehendaki. Justru di saat Andrea telah menetapkan hati untuk tidak jatuh cinta lagi, Andari hadir dalam kehidupannya.
Gadis kecil itu berusia delapan tahun ketika mereka pertama kali bertemu di suatu acara Family Gathering. Andari adalah putri tunggal sang Plant Manager. Saat Andrea berkenalan dengan Andari, dia belum jadi bawahan langsung Andromeda.
Tidak perlu waktu lama bagi Andrea dan Andari untuk saling menyadari bahwa mereka saling jatuh cinta. Andari menemukan sosok Ibu yang tidak pernah dikenalnya pada diri Andrea. Dan Andrea menemukan sebentuk cinta baru yang dipikirnya tidak akan menyakitinya. Andari tidak mungkin menyakiti perasaannya seperti yang dilakukan “pria itu” kepadanya.
Rasa memang tidak bisa mati. Ia hanya berubah bentuk … misalnya menjadi kasih sayang yang dalam.

Bahkan setelah Andrea menjadi anak buah Andromeda dan frekuensi pertengkaran mereka menjadi makin sering, Andrea tetap menyayangi Andari. Diluar hubungannya dengan Andromeda yang sering memanas, Andrea tetap mau menemani Andari membeli perlengkapan sekolah baru ketika Andari lulus SD dan menjadi murid baru SMP. Juga mendengarkan curhatan Andari tentang cowok pertama yang ditaksirnya, berjam-jam di telepon. Andari bahkan pernah menelpon Andrea pagi-pagi buta dan memintanya datang ke rumahnya.
“Tante Rea!”
Saat itu Andrea mendengar suara isak tangis melatar belakangi suara Andari yang nyaris seperti tikus mencicit.
“Ari! Kenapa? Kok pagi-pagi telepon Tante? Kamu nangis ya?” Andrea berusaha mengumpulkan nyawanya yang berceceran secepat mungkin ketika mengucek-ucek matanya yang masih sepat karena baru saja bangun tidur dengan kaget.
“Tante, aku berdarah,” suara isak tangis Andari terdengar makin keras.
“Lho? Ari, kamu ngapain? Kok bisa berdarah?!”
Alih-alih menjawab pertanyaan Andrea, Andari malah menyuruh Andrea datang ke rumahnya. “Jangan bilang Papa ya Tante. Ari takut,” lanjutnya sebelum dengan serta-merta gadis kecil itu memutus pembicaraan per teleponnya.
Saking paniknya menerima telepon misterius di pagi buta itu, Andrea tidak sempat berpikir lama. Ia segera melajukan mobilnya ke rumah Andari. Andromeda yang membukakan pintu terkaget-kaget menerima tamu sepagi itu saat akhir pekan, apalagi karena tamunya adalah anak buahnya sendiri.
“Deviasi segawat apa yang bikin kamu datang pagi-pagi buta begini, Ndre? Kenapa nggak telepon saya aja?” sambut Andromeda, siap memarahi anak buahnya.
“Saya datang bukan karena deviasi, pak. Tapi karena Andari. Dimana dia?”
Andromeda tampak syok mendengar sesuatu terjadi pada putri tunggalnya. Dengan cepat dan singkat Andrea menceritakan telpon-pagi-butanya dan meminta bertemu dengan Andari. Tanpa pikir panjang, karena ikutan panik, Andromeda segera mengantarkan Andrea ke kamar Andari. Begitu Andari membuka pintu kamarnya, Andromeda segera memberondongnya dengan pertanyaan kekhawatiran. Tanpa menjawab satu pun pertanyaan ayahnya, Andari menarik Andrea masuk dan menutup pintu kamarnya.
Andrea keluar dari kamar Andari setengah jam kemudian sambil tersenyum menenangkan, “Ini menstruasi pertamanya. No wonder dia panik, Pak. Santai aja.”

Hubungannya yang terlalu dekat dengan putri bosnya sendiri terkadang juga membuat Andrea kikuk. Apalagi kalau mendengar gosip-gosip yang beredar di kantornya. Sudah banyak orang yang berusaha menjodohkannya dengan si bos. Bahkan Andari sendiri pernah berkata padanya: “Kalau Ari punya Mama kayak Tante, pasti Ari nggak kesepian. Papa pulang malam terus sih, Ari jadi nggak ada temen di rumah.”
Sambil mencoba meredakan gejolak hatinya sendiri, Andrea berkata kepada gadis kecil itu: “Tante Rea pulang kerjanya lebih malam daripada Papa lho, Ri.”
“Kalo gitu, nanti aku suruh Papa ijinin Tante pulang cepet buat nemenin Ari.”
“Ya nggak bisa gitu dong, Sayang.” Andrea terkekeh sambil mengacak rambut Andari pelan. Memangnya bos besarnya itu bisa mengijinkannya pulang sebelum merilis obat dan menyelesaikan report-nya? Dunia rasanya akan segera kiamat jika hal tersebut bisa benar-benar terjadi.
Meski Andrea sangat menyayangi Andari, tapi dia tidak pernah berani memikirkan dirinya menjadi Ibu bagi gadis itu. Meski istrinya sudah meninggal 13 tahun lalu ketika melahirkan Andari, Andromeda belum pernah menikah lagi. Itu adalah bukti yang sangat kuat bahwa sampai saat ini Andromeda masih mencintai almarhumah istrinya.
Andrea juga pernah secara tidak sengaja mendengar Andromeda berkata kepada putrinya: “Nggak ada pengganti Mama, Ari. Mamanya Ari tetap Mama Andini.”
Pernyataan tersebut dengan lugas menjelaskan bahwa tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan Andini di hati Andromeda. Cinta Andromeda akan selalu hanya untuk Andini. Tidak ada tempat lagi di hati Andromeda. Tidak ada.
Ironisnya, meski Andrea sudah memutuskan untuk tidak pernah jatuh cinta lagi demi agar tidak bisa tersakiti lagi, dia ternyata masih bisa merasa sakit ketika mengetahui fakta itu. Akhirnya Andrea menyimpulkan bahwa jatuh cinta bukan satu-satunya penyebab rasa sakit. Masa lalu bisa sama menyakitkannya.

Kita tidak bisa memiliki segalanya.
Dan terkadang kita tidak bisa mendapatkan yang satu tanpa melepas yang lain.

Apakah Andromeda masih mencintai Andini? Tidak perlu dipertanyakan. Bahkan setelah bertahun-tahun kepergiannya, Andromeda tidak pernah tertarik menikah lagi karena tidak ada perempuan lain yang bisa membuatnya jatuh cinta seperti Andini telah mengubah hidupnya. Melihat Andari tumbuh menjadi semakin mirip dengan Andini dari hari ke hari makin memperkuat alasannya untuk tidak menikah lagi. Cukuplah Andari baginya, ada cinta dan wajah ibunya disana, Andromeda tidak memerlukan perempuan lain lagi di rumahnya. Dengan sekuat tenaga dia berusaha menjadi ayah dan ibu yang baik bagi Andari.
Tapi posisi ibu adakalanya memang tidak akan pernah bisa digantikan oleh seorang lelaki. Dan Andrea telah membuktikan bahwa ada hal-hal yang hanya bisa dimengerti oleh sesama wanita. Ada hal-hal yang hanya bisa diceritakan Andari kepada Andrea, dan tidak kepada ayahnya sendiri.

Andromeda sudah merasa tertarik kepada Andrea sejak mereka pertama kali bertemu. Sifatnya yang periang dan sarkastik adalah kombinasi yang membuat Andromeda penasaran. Tapi setelah ia melihat putri tunggalnya segera akrab dengan Andrea bahkan sejak pertemuan pertama mereka saat Family Gathering, rasa penasaran Andromeda perlahan berubah. Andrea memang telah mengisi kekosongan posisi ibu di hati Andari, tapi terlebih lagi, gadis itu juga ternyata telah berhasil mengisi kekosongan di hati Andromeda yang ditinggalkan Andini sejak kepergiannya. Tidak pernah ada yang bisa mengisi ruang kosong itu selain Andini … sampai kini Andrea muncul di kehidupannya.

Tapi setiap kali melihat Andari sedang bermain bersama Andrea, perasaan Andromeda tercabik-cabik. Andari adalah duplikat ibunya, dengan tingkat kemiripan nyaris sempurna. Melihat Andari dan Andrea bermain bersama seperti melihat masa lalu dan masa depannya di saat bersamaan. Mencintai Andrea rasanya seperti mengkhianati cintanya kepada almarhumah istrinya. Dan dia tidak tahu apakah ia berhak mencintai Andrea selagi ia masih terus mengenang Andini.
Apakah seorang laki-laki bisa mencintai dua orang wanita di saat bersamaan? Bukankah itu brengsek namanya? Apakah dengan mencintai Andrea berarti dia tidak boleh mengingat Andini lagi?

Statusnya sebagai duda dengan satu anak adalah salah satu hal yang membuatnya tidak berani mengakui perasaannya pada Andrea. Bahwa Andrea adalah anak buahnya sendiri, yang justru paling sering berdebat dengannya, adalah fakta meresahkan lainnya yang muncul akibat Andromeda terlalu mempedulikan gosip dan apa-kata-orang. Tetapi satu hal yang paling menghalanginya adalah masa lalu Andrea.
Pernah suatu kali dia mencandai Andrea di acara pernikahan teman sekantor mereka dan menanyakan “Kapan Andrea nyusul?”
Kala itu Andrea hanya tersenyum dan berkata ringan: “Males, Pak.”
“Lho, kok?”
Andromeda tidak pernah bertemu seseorang yang menjawab “malas menikah” seperti yang baru saja didengarnya dari mulut gadis itu.
Andrea hanya nyengir dan berlalu, malas menjelaskan lebih jauh.
Dari Quality Managernyalah (atasan Andrea saat itu) Andromeda mengetahui alasan jawaban Andrea tersebut.

Cerpen Karangan: Nia Putri
Blog: niechan-no-sensei.blogspot.nl
Pelajar. Pecinta aksara. Pecandu kata.

Cerpen Andrea dan Andromeda (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Teman Yang Kucinta

Oleh:
Bagaimana caranya, jika aku mengalah, tapi sebenarnya ku masih cinta. Bagaimana caranya, ku ingin pergi, tapi sebenarnya ku tak bisa meninggalkanmu. Berdiri pun takkan mampu, melawan rasa yang kaku.

Remember Rain

Oleh:
Senja kali ini memerangkapkanku dalam kerinduan yang semakin lama hadirnya semakin pekat terasa. Lengkap dengan nyanyian mistis tetes hujan yang menurunkan beribu cerita di setiap tetesnya. Tidak, rasanya hanya

Jackpot

Oleh:
Tak terasa sudah 3 tahun setelah kepergiannya. Sudah 3 tahun pula aku menyimpan kesedihan ini. Sebuah kesedihan yang mempengaruhi hidupku. Kalau kata pepatah, sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Ya,

Malaikat Penjaga

Oleh:
Riska… dimana kakak kamu! suruh dia kembaliin hp aku!” Dina sewot “Aku gak tau, dia gak ada di rumah” “Ah alesan aja kamu, mana bisa tadi pagi dia ngehubungin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *