Ashilla

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 10 July 2014

Dewan guru tak henti-hentinya membicarakan nilai rapor sang MARIO STEVANO. Angka sembilan berjejer mulai dari pelajaran bahasa inggris, biologi, sejarah, kewarganegaraan.
Untuk matematika dan bahasa indonesia serta bahasa prancis bahkan bu ira berani memberinya nilai sempurna: sepuluh. Kepandaian mario atau yang akrab disapa rio itu sudah kondang seantero SMA WEASMEY.
Nilai terendah di rapor rio, yaitu delapan puluh lima, hanya pada mata pelajaran seni. Mungkin ia tak mampu bersaing dengan seorang gadis muda berpenampilan sederhana, tinggi semampai dan berwajah cantik yang duduk di pojok depan sebangku dengan Angel. Nilai sepuluh untuk pelajaran seni selalu disandang gadis itu, namanya ASHILLA.
BAKAT itu sangat misterius! Bakat tidak seperti jerawat yang otomatis timbul, tapi dalam banyak kejadian ia harus ditemukan.

Dan pada siang yang amat panas ini, ketika pelajaran seni musik di salah satu kelas kami menjadi penonton dan pendengar bakat Ashilla. Mulanya bu ira meminta Sivia maju ke depan kelas untuk menyanyikan sebuah lagu, dan seperti biasanya sivia akan menyanyikan lagu thinking of you milik katty perry.
“Comparisons are easily done..”
“…I am thinking of you..”
“…Thinking of you..”
Ia memandang keluar jendela dan pikirannya tertuju pada semangkuk bakso mang akiong. Ia bahkan tidak sedikit pun memandang ke arah kami. Ia pun nampak tak peduli pada lagu yang selalu ia nyanyikan setiap pelajaran seni musik. Ia mengkhianati penonton dan harmoni. Hanya seorang pria yang memperhatikannya bernyanyi. Pria yang duduk bersama rio di pojok sana. Matanya segaris, penampilannya sangat cool, kulitnya putih dengan tubuh yang atletis, namanya alvin. Sementara alvin memperhatikannya bernyanyi, kami malah tak peduli. Rio sibuk dengan rumus-rumus, gabriel tertidur pulas, patton menggambar seorang wanita. Ify asyik mencoreti buku tulisnya, agni sibuk membaca komik, acha dan keke sibuk bergosip. Sementara itu irsyad, aku dan obiet sibuk mendiskusikan rencana menjahili oik dan teman-temannya. Shilla adalah orang yang bersekutu dengan alvin untuk mendengarkan sivia bernyanyi.

“suaranya bagus” gumam shilla. Bu ira menutup mulutnya yang menguap.
Lalu sekarang giliran aku. Setelah seminggu lalu dimarahi bu ira karena menyanyikan lagu rap yang kata-katanya tak jelas. Kini aku membuat satu perubahan dengan lagu baru yang mellow. Ketika aku mulai menyanyi ify mengangkat sebentar wajahnya lalu kembali sibuk dengan buku tulisnya.
“..Kini tiba masanya..”
“…Kau nyalakan lilinnya..”
“…Karena bersamamu membuat..Aku bertahan…”
Bu ira menyelamatkan aku dengan manyuruhku berhenti. Beliau menunjuk patton. Patton menyanyikan lagu pupus milik dewa 19.
“…Aku tak mengerti apa yang ku rasa…”
“…Namun kau masih bisu diam seribu bahasa..”
“…Hingga akhirnya kau pun mau…”
Sebelum ia mengakhiri lagunya, bu ira segera menyuruhnya kembali ke tempat duduk.
“kenapa dengan nyanyian ku, bu?” tanya patton polos. Bu ira hanya tersenyum sambil menggeleng, mengisyaratkan bahwa tidak ada apa-apa.

“masih ada sepuluh menit untuk menunggu bel pulang, masih bisa satu orang lagi yang maju” kata bu ira sambil tersenyum.
“pulang saja lah bu” ucap gabriel. Kami sudah mengantuk, sangat lapar dan lelah. Siang ini sungguh panas tak karuan.
“sekarang giliran kamu” bu ira menunjuk shilla yang. Shilla hanya tersenyum lalu ia melangkah maju ke depan. Ini adalah hal yang ku nanti. Aku menatapnya sambil tersenyum.
“bernyanyilah yang merdu” lirihku.
“kau bicara apa?” tanya gabriel yang saat itu sudah terbangun. Aku hanya menggeleng sambil tersenyum lebar. Aku kembali memandangi shilla yang sedang bersiap untuk bernyanyi.
“cepat nak, bernyanyilah” kata bu ira menatap shilla.

Kami memandangi shilla yang ada di depan, ify mengangkat wajahnya. Suasana jadi hening dan kemudian shilla memulai intro lagunya. Matanya terpejam, jiwanya seakan terbang ke suatu tempat.
“…Especially for you i wanna let you know…”
“..You were in my heart..”
“..Especially for you.. I wanna tell you i was feeling..”
“..No metter how far..”
Kami tersentak dalam merdunya suara shilla. Kami terbawa suasana melankolis karena shilla. Rasa lapar, kantuk dan lelah menjadi tak terasa. Shilla mengakhiri lagunya secara fade out disertai senyuman yang sangat manis.
“..Especially for you..”
Kami memberi applause yang sangat panjang untuknya. Aku sangat senang melihatnya bernyanyi. Oh.. Sungguh pesonanya sangat besar. Jika rio memiliki bakat akademis yang tinggi maka shilla memiliki bakat seni yang juga tinggi. Nampaknya mereka sangat cocok untuk bersanding. Aku sangat memujanya tapi tak mungkin aku dapatkannya. Aku dan dia bagai putri raja dan pengawalnya, yah mungkin saja dia bukan jodoh ku dari tuhan.
Setelah pulang sekolah aku selalu memikirkannya, memikirkan nyanyiannya kemarin.
“aku menyukaimu ashilla” gumamku menatap langit-langit kamar.

Pagi ini aku datang kesiangan. Aku berlari menuju sekolah sebelum gerbangnya ditutup.
“hossh.. Hosh..” aku ngos-ngosan saat berhasil masuk ke sekolah, ternyata di belakangku tampak siluet shilla yang tengah berlari.
“hay, kau terlambat juga?” tanyaku padanya yang sudah ada di sebelahku. Aku dan shilla dihadang oleh bu winda, sang guru BK.
“terlambat sepuluh menit ashilla, riko, cakka, debo, lintar, keke…” ucap bu winda menyebut nama-nama kami yang berangkat telat sepuluh menit.
“shilla, riko, cakka bersihkan taman belakang, keke, lintar, ourel bersihkan ruang guru..” suruhnya panjang lebar. Aku hanya mengikuti dua patner ku menuju halaman belakang.
“shill, kenapa telat?” tanyaku agak canggung.
“aku bangun terlalu siang, ini gara-gara abangku si dayat!” gerutunya.
“sudahlah tak apa” ucapku dengan tenang. Aku tersenyum saat dia menggerutu.

Semenjak masa hukuman itu aku jadi dekat dengannya.
“bernyanyilah shilla” pinta ku lembut.
“buat apa, aku bernyanyi untukmu? Haha aku tak mau” ucapnya degan nada meledek.
“dasar kau, gadis aneh”
“terus apa mau mu, pria sinting?”
“enak sekali bicaramu, shilla!” ucapku sambil mencubit pipi cubby-nya kemudian aku berlari.
“kyaaa… Cakka! Akan ku tangkap kau ya”
“kejarlah sampai kau dapat, wlee” aku dan shilla berlarian dengan tawa yang gembira. Aku sangat senang melihatnya tertawa seperti itu. Ia sangat manis hingga membuatku mabuk.
“yap! Kena kau, cakka! Haha” pekiknya keras. Ia menangkapku dari belakang. Sentuhannya di lenganku membuat ku gugup.
‘aku harus ungkapkan sekarang’ yakinku dalam hati. Langit kelabu mulai menangis. Hujan.
“ayo ke sana kka” ucap shilla. Namun aku malah membalikan badan lalu menariknya agar tak pergi.
“kau gila? Ini hujan kita bisa basah kuyup” marahnya. Namun aku hanya tersenyum.
“tak apa asal basah bersama mu” ucapku gombal. Hujan menetesi wajah ku dan shilla.
“shill..” panggilku.
“apa?” shilla memandangku dalam rinai hujan.
“aku mau jujur disini”
“silahkan saja pria sinting”
“masih sempat kau meledek ku. Aku ini tak sinting kalau kau tak memenuhi pikiranku tau” seketika itu shilla menjadi diam. Apa aku salah bicara? Entahlah.
“m..maksudku tadi, em.. aku menyukaimu ashilla. Aku mencintaimu dari pertama memandangmu saat kita masuk sekolah” ucapku jujur. Shilla menundukkan wajahnya. Hujan masih setia menetesi tubuh kami, membuat kami basah seperti tanah yang diserbu rintikan hujan.
“aku hanya ingin kau tau, aku tak memaksa kau membalas perasaanku” lanjutku agak lesu. Shilla masih tertunduk diam seribu bahasa.
“ayo pulang” ucapku lembut. Aku membalikkan badan. Hatiku agak canggung.
“tunggu” shilla mencekal lenganku. Saat aku menoleh, wajahnya mulai mendongak.
“ak.. aku tak mengerti cakka. Aku sudah lama merahasiakan ini dari siapapun. Aku juga mencintaimu sejak dulu” ucap shilla jujur.
“kau bercanda” aku terkekeh pelan.
“aku benar-benar mencintaimu pria sinting”
“aku cakka, gadis aneh!”
Aku ragu dengan pernyataannya. Tapi saat ku telusuri manik matanya, kebohongan sama sekali tak ada.
“aku bukan gadis aneh, cakka!” ucapnya mencubit lenganku. Hujan ini masih awet membasahi ku dan shilla.
“tapi apa kau serius mencintaiku?” tanyaku sekali lagi pada shilla.
“ya! Aku sangat serius cakka” tegasnya. Aku merengkuhnya dalam pelukan ku. Hujan ini menjadi saksi cinta ku dan shilla. Sungguh tak ku sangka dia juga mencintaiku. Aku melepasnya dari pelukanku, lalu tersenyum memandangnya.
“cakka untuk shilla” ucap ku dengan senyuman lebar. Ku ulurkan jari kelingkingku di hadapannya.
“shilla untuk cakka” jawabnya. Ia menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingkingku. Sungguh bahagianya aku.

The end.

Cerpen Karangan: Mayang Sari Purwaningsih
Facebook: Mayang Sari Purwaningsih

Cerpen Ashilla merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Facebokku Makcomblangku

Oleh:
Siang itu entah mengapa aku merasakan jenuh sekali di kantor. Bosan tiba-tiba Melanda, tepikir dalam benakku untuk membuka akun facebook milikku, akun yang sudah lama tidak pernah aku buka,

The Love Story of My Life

Oleh:
Sembari duduk di pinggir sungai, Aku menghabiskan waktu istirahat sekolah yang sangat membosankan, angin-angin genit mulai menghembus kecil seraya membisikan kepadaku bahwa selama aku masih bernafas, aku akan menunjukkan

The Best Love

Oleh:
Pagi hari aku sudah bangun dan bersiap pergi ke sekolah. “Nes, Ningrum udah nungguin di bawah cepetan turun,” kata ibuku. “Iya, bu bentar lagi aku turun kok,” jawabku seikit

Cita Citaku

Oleh:
Menjadi penulis yang hebat. Itulah cita-cita yang selalu kuharapkan. Aku membayangkan bagaimana serunya berbagi ilmu kepada orang banyak melalui tulisan. Rasanya tak akan mungkin cita-cita itu bisa tercapai jika

Kita dan Hujan

Oleh:
Ku kumpulkan segala rasa pada ujung jemari Tak memberikan celah sedikitpun untuk membuang rasa yang tak pernah ku mengerti Walau dirimu hanya bayang semu dalam setiap mimpiku Hujan yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *