Berawal dari KTP

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 7 April 2019

Siang itu cuaca cukup panas, aku melangkahkan kakiku menuju supermarket yang tidak jauh dari rumahku. Dengan ditemani suara klakson mobil maupun montor aku berjalan pelan-pelan sambil melihat-lihat sekitar.

Tak lama kemudian sampailah aku di supermarket, segera aku memilih-milih barang-barang yang dipesan oleh mamaku dari sabun mandi sampai susu. Tiba-tiba “brukkkkk” sontak aku menoleh ke belakang, ternyata ada seorang pegawai yang menjatuhkan baran-barang yang dibawanya. “Bagaimana sih ra, makanya kalau bawa itu dikit-dikit” ucap seseorang pegawai lain yang kebetulan ada di tempat kejadian. Kuhiraukan kejadian tersebut dan segera menuju tempat kasir.

“Apakah benar ini rumahnya Aini Nur Latifah” ada seorang pemuda yang berpakaian cukup rapi menanyakan namaku dan sepertinya membawa sesuatu yang disembunyikan di telapak tanganya, “iya benar, dan saya sendiri Aini Nur Latifah” jawabku sedikit bingung, “oh ya mbak, ini tadi saya temukan KTP jatuh di depan supermarket dan saya lihat namanya Aini Nur Latifah dan kebetulan alamatnya gak jauh dari tempat jatuhnya” ucap pemuda tersebut sambil menunjukkan sebuah KTP kepadaku. “Coba saya lihat dulu” aku memperhatikan KTP tersebut, dan ternyata benar disitu tertulis nama lengkapku dan foto manisku. “Oh iya mas benar ini KTP milikku”. “Syukur, mungkin embak tadi gak tahu kalau jatuh di depan supermarket”. “Iya mungkin mas, silahkan masuk istirahat-istirahat sebentar”, “waduh gak usah ini udah malam, lain kali aja mbak nanti saya akan mampir kesini”. Akhirmya pemuda tersebut pulang

Pagi ini karena gak ada aktifitas aku pergi ke perpustakaan daerah. Setelah sampai di sana banyak para pembaca, ada yang sekedar baca koran, ada yang ngerjain tugas dan lain-lain. Setelah beberapa menit aku mencari novel yang pas buat aku baca. Aku duduk di kursi yang sudah disediakan, tiba-tiba “heyyyyyy” sontak aku menoleh ke arah suara tersebut. “Looooo Nadia” ucapku dengan wajah terkejut, “kamu udah pulan dari Singapur, ya ampun apa kabar?”, “baik fa, kamu sendiri bagaimana?”, “ya gini-gini aja Nad”. Nadia adalah teman lamaku, aku pertama kenal dia waktu dia jadi murid baru di SDku dulu, dan dia memutuskan untuk kuliah di Singapura ikut dengan kakaknya.

“Setelah 4 tahun gak ketemu, kamu tambah cantik aja, dah punya pasangan pa belum fa” canda Nadia. Setelah kita ketemu tadi nadia mengajaku ke kafe terdekat. “Wawan yang naksir kamu waktu SMA dulu bagaimana fa, masih naksir kamu?”, “ihhh gak tau, ditelan bumi mungkin tu anak” jawabku sambil menghirup kopi yang masih panas. “Oh ya kamu kerja dimana fa” Tanya Nadia kembali, “aku kerja di SD kita dulu Nad” jawabku sambil menunjukkan senyum manis, “cieeeee jadi bu guru nihhh” ledek Nadia. “Kamu sendiri bagaimana Nad”, “aku sebenarnya kerja di Singapura fa, tapi ini aku liburan di Indonesia, untuk refresing dan kangen dengan temanku yang satu ini” jelas Nadia sambil mencubit pipi tembemku.

Setelah sekian lama berbincang dengan Nadia, dia pamit pulang karena ada saudaranya datang kerumah. “Yahhhhh aku harus pulang dulu fa, ohhhh ya aku di Indo dua minggu jadi kita masih banyak waktu untuk berbincang-bincang, besok aku ke rumahmu, bye fa” ucap Nadia dilanjutin dengan lambaian tangan.
“Fa, maaf aku gak bisa ke rumahmu, ini sepupuku gak mau diajak kerumahmu, kamu ke sini dong ke kafe intan, aku kenalin dengan sepupuku yang dari Malang itu lo fa” pesan Nadia, “Ok Nad, aku kesitu” tanpa kupikir panjang aku mengiyakan ajakan Nadia.

“Haiiiiiii” kulambaikan tanganku ke Nadia yang sedang duduk dengan seorang pemuda yang mungkin itu sepupunya, Nadia pun membalasnya disertai dengan senyum manis ciri khasnya. “Silahkan duduk fa, kamu mau minum apa?” “biasa jus avokad”, “ohhhh iya fa, kenalin ini sepupuku dari Malang namanya Satria”. “Kamu” ucap pemuda tersebut yang kayaknya aku pernah ketemu denganya. “Aini Nur Latifah kan,” aku hanya mengangguk pelan. “Jadi kamu teman Nadia sepupuku yang cantik ini, ohhh iya namaku Satria” ucapnya untuk sekian lagi sambil mengulurkan tanganya. “Jadi kalian udah kenal ya” sambung Nadia. Satria menceritakan awal-awal aku dan Satria ketemu.

Sampai tak terasa jam menunjukkan pukul 10 malam. “Ya ampun udah jam 10, aku harus pulang nih mama di rumah gak ada temannya, papa keluar kota” jelasku sambil melirik jam yang ada di hpku. “Ya udah bareng sama kita fa?” ajak Nadia, “iya fa” sambung Satria. “Gak usah aku pakai montor sendiri kok” jawabku, “ini udah malam lo fa, nanti ada tante-tante kunti bagaimana?” canda Satria, “gue tabrak aja tu tante-tante” jawabku.

Sabtu pagi Nadia harus balik ke Singapura, aku mengantarkanya ke bandara. “Kamu kapan balik lagi ke Indo Nad” ucapku dengan muka sedih, “yang pastinya aku akan segera kembali ke Indo fa, nanti kalau kontrakku habis, pasti aku akan pulang” jawab Nadia sambil memegang kedua tanganku, “ya sudah Nad, kamu hati-hati ya di sana dan jangan lupakan aku” ucapku sambil meneteskan air mata, “ya gak mungkin lah fa, kalau temanmu ini melupakanmu” jawab Nadia sambil memelukku erat. Lima belas menit kemudian pesawat yang ditumpangi Nadiapun udah mengudara.

Seminggu setelah kepergian Nadia. Aku yang tidak sengaja bertemu dengan Satria di kantorku. “Heyyyy Satria kan” ucapku ketika dia sedang duduk di kursi depan kantor, “kamu kenapa ke sini?” ucapku lagi, “Heyyyy Ifa, iya tadi baru nganterin berkas-berkas” jawabnya. “Bukanya kamu tinggal di Malang Sat?” tanyaku kembali,” Oh iya kebetulan aku diterima kerja di Bandung fa, dan selama aku kerja di sini aku juga tinggal di sini, nemenin tante Lina, kan sejak kepergian Nadia ke Singapura tante sendirian” jelasnya. Kita berbincang bincang banyak sampai-sampai kelupaan kalau aku masih ada kerjaan banyak. “Aku tinggal dulu ya Sat, sampai jumpa kembali” ucapku.

Selesai merapikan semua pekerjaanku, segera aku turun dan pulang. “Kling” kudengar ada satu pesan dari hp, “Fa, aku mau lewat ke kantormu, keluar yuk” ternya itu pesan dari Satria. “Satria ngajak aku jalan, gak salah nih” ucapku sendirian, “iya, kebetulan aku udah keluar kantor” jawabku.

Tak lama kemudian sampailah Satria dengan mengendarai mobil warna merah. “Ayooo fa masuk” ucap Satria di dalam mobil, “wahhhhh mobilnya baru nih” candaku, “hahahahahahahahaha, ini kan mobil kantor fa” jawabnya, “aku kira kamu gak bakal mau aku ajak keluar” ucap Satria kembali, “aku sih mau-mau aja selagi gak repot” jawabku.

Hari ini Satria mengajakku makan di kafe langganan aku dan Nadia, dia suka dengan pelayanan di kafe tersebut. Sambil menikmati makanan kami berbincang-bincang. “Oh ya fa, kamu udah lama kerja di kantor kamu sekarang” tanya Satria sambil mengunyah nasi gorengnya, “udah 1 tahunan ya kayaknya” jawabku. Setelah kami berbincang-bincang banyak. Satria mengantarku pulang.

Setelah kejadian tersebut Satria sering ngajakku keluar. Dia juga sering ke rumah, bawain mama makanan. Dia orangnya juga asik. Sampai suatu hari dia ditugaskan untuk mengurus pekerjaan di Kalimantan. Dimana dia ditugaskan di suatu pedalaman, dimana susah mencari sinyal.

Seminggu telah berlalu, sejak Satria tak menghubungiku kenapa aku sangat merindukan dia. Sekali-kali ku meraih hpku melihat-lihat jika ada chat dari Satria, tetapi sampai saat ini belum juga ada kabar dari Satria. Aku mulai resah dan gak tahu kenapa aku sangat sangat merindukanya.

Satu bulan berlalu, hari ini tanggal 14 Januari dimana hari-hari yang aku tunggu, hari ulang tahunku. Mama dan Papa membawakan aku sebuah kue yang diatasnya tertera angka 24. Setelah aku meniup lilin dan memotong kue, kami makan bersama-sama.” Udah mau 24 lo fa, kok belum ada calon sih” canda papaku, “belum ada yang pas pa” jawabku sinis. “Yang sering kesini bawain mama makanan itu, kok gak pernah kesini lagi” sambung mama, “Satria maksudnya” jawabku, “lagi pergi jauh” ucapku lagi.

Setelah makan aku mengambil hpku, aku berharap Satria menghubungiku semenjak satu bulan dia tak pernah menghubungiku lagi. Tetapi tak kulihat ada pesan satupun. Tiba-tiba “Kling kling kling” ada telepon masuk, aku segera mengambil hpku dan aku harap itu Satria, tapi lagi-lagi aku kecewa itu bukan Satria, temanku Nadia, “halooo sayangku selamat ulang tahun ya, semoga tambah cantik, sukses, dan yang tak kalah penting semoga segera menemukan jodoh?” ucapnya kepadaku. “Iya makasih Nad, kalau jodoh masih lama Nad” jawabku. Setelah 25 menit kami berbincang-bincang lewat telefon, Nadia mengakhirinya karena dia harus menyelesaikan pekerjaanya yang belum selesai.

Hari demi hari aku selalu menunggu Satria menghubungiku, tapi sampai saat ini dia tak kunjung menghubungiku lagi. Sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk pergi ke rumah Tante Lia yang tak lain adalah mamanya Nadia. “Jadi semenjak Satria pergi tante sendirian dong di rumah” tanyaku, “iya fa, tapi besok senin dia dah pulang fa” jawab tante Lia. Dengan pergi ke rumah tante Lia setidaknya saya sudah tahu bagaimana keadaan Satria saat ini, dan yang paling saya tunggu-tunggu tak lain adalah hari senin, pulangnya Satria.

Hari ini, aku bekerja seperti biasana. Tapi hariku tak seperti biasanya, hari ini serasa ada semangat baru untuk bekerja yaaaa karena Satria akan pulang. Harapanku nanti dia akan mengajaku keluar. Tapi untuk kesekian kalinya aku kecewa.

Seminggu sejak pulangnya ke Bandung aku tak melihat dia menghubungiku. Aku delete semua kontaknya. Aku mencoba untuk melupakan dia. Tapi hati ini tak bisa. Ketika itu aku memberanikan diri untuk pergi ke rumah tante Lia, tapi aku tak masuk rumahnya aku hanya megamati dari luar rumah. Tapi apa yang aku dapat, aku kecewa lagi. Tak kutemui dia di rumahmya. Mungkin dia melupakanku.

Tiga minggu sejak kepulanganya ke Bandung. Tak kusangka-sangka Satria datang ke rumahku. “Ohhhh jadi kamu masih ingat dengan aku Sat” ucapku sedikit sinis, tapi dalam hati aku sangat senang dia datang ke rumahku dan aku lihat dia tambah tampan, tapi sedikit kecoklatan kulitnya, dan aku merasakan hal yang berbeda dari awal kita ketemu dulu, dan ini adalah peretemuanku untuk pertama kalinya sejak tiga bulan dia pergi. “Ya enggak lah kalau aku lupa, malah aku sempat berfikir kamu yang lupa, kenapa semua kontakku kamu DC sih?” jelasnya.

Dia menjelaskan kenapa selama tiga minggu ini tak menemuiku atau menghubungiku. Saat sampai di rumah dia tak sadar kalau hpnya ketinggalan di bandara saat dia menunaikan solat magrib. Dia berusaha untuk mencari kembali hpnya tapi hasilnya nihil.
Satu hari sejak kepulanganya dia ditugaskan untuk menyeselesaikan suatu pekerjaan di Jakarta selama dua minggu. Semenjak di Jakarta Satria mencoba menghubungiku lewat facebook, instragam tapi semua udah aku blok.

Sejak kejadian itu, aku dan Satria menjalankan hari-hari kami seperti dahulu, dia sering ke rumahku, ngantar maupun jemput aku bekerja. Dan akhirnya Satria mengungkapkan cintanya padaku. “Sat, biasanya kan kalau kita makan di lantai satu, kenapa kita makan di lantai tiga, dan sepi lo gak da orang dan kenapa nih ada lilin segala” ucapku pada Satria sambil melihat lihat lilin yang ditata rapi di samping duduk Satria. Malam itu tak seperti biasanya Satria mengajak ku dinner, di kafe tempat kita makan, tapi dengan suasana yang sangat berbeda.

“Kamu duduk aja dulu” ucap Satria. “Kamu tahu kenapa aku ngajak kamu kesini” tanya Satria, aku hanya mengeleng. Perlahan-lahan dia mencoba memegang kedua tanganku, dan saat itu juga hatiku berdetak tak karuan. “Aku mencintaimu fa, will you marry me” ucapnya menyodorkan sebuah bunga kepada, “kalau kamu tak menerimaku, kamu boleh buang ini bunga tapi kalau kamu menerimaku tolong ambil ini bunga, dan aku tak akan mengulang untuk memintamu kembali”. “Iya Sat aku mau” jawabku sambil menerima bunga. Dan “dor dor dor dor” aku lihat kembang api yang sangat indah.

Tanggal 24 Juni aku dan Satria resmi menikah. Kami berbulan madu di Singapura dan untuk menemui Nadia juga. “Ya ampun aku gak percaya lo kalian bisa menikah” ucap Nadia ketika dia tau kalau kami dah menikah. “Dan yang paling nyebelin ya . kalian gak ngundang aku”, “kita Cuma akad nikah aja kok Nad, soal resepsi pernikahan bisa ditunda dulu” sambung Satria.

END

Cerpen Karangan: Ulfa Setyaningsih
saya baru belajar menulis dan saya akan terus belajar

Cerpen Berawal dari KTP merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kedai Coklat

Oleh:
Seperti biasa setiap pagi Lyssa mengantar coklat pesanan pelanggan menggunakan sepedanya. Dengan semangat Lyssa mengayuh sepedanya tak peduli terik matahari menyorot wajahnya. Sesekali ia mengelap dahinya yang bercucuran keringat,

Cemburu

Oleh:
Aku sulit mengerti kenapa dia selalu menjadi daya tarik bagi setiap wanita yang ada di dekatnya. Aku tidak habis pikir, atau entah aku cemburu… — Setiap hari ada saja

Tetes Cinta Punpun

Oleh:
Bandung, November 2017 “Gawat. Sudah pukul tujuh. Tapi aku masih terjebak macet di perempatan lampu merah dekat sekolah. Sudah tidak ada waktu lagi.” Ucapku panik dalam hati. Berkali-kali aku

Setia (Part 1)

Oleh:
Deras hujan yang turun Mengingatkanku pada dirimu Aku masih disini untuk setia Selang waktu berganti Aku tak tahu engkau dimana Tapi aku mencoba untuk setia Sesaat malam datang Menjemput

Aku Ingin Menikah

Oleh:
Present.. Entah kapan aku akan merasakannya.. * Apakah karena takdir? Atau hanya suratan nasib hidupku? Berulang kali kutanam benih asmara, namun tak kunjung berbuah. Selama ini aku hanya menjadi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *