Berkat Kamu Si Hujan Di Toko Usang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 30 October 2017

Hari itu, aku berteduh di depan toko kecil di pinggir jalan raya yang tampak warna cat maroonnya sudah pudar dan usang. Hujan deras yang disertai kilat pada jam 15.22 membuatku terjingkat berkali-kali, menggigil kedinginan, dan membuatku untuk mengeluarkan hembus nafasku dari mulutku. Kuteduhkan motor matic-ku dan kedua tanganku saling bergesek agar menghasilkan sentuhan panas setidaknya ada kehangatan kecil yang bisa kudapat darinya.
Berkali-kali kulihat layar ponselku apakah ada sinyal yang memadai di daerah toko ini dan hasilnya tak ada sebatang gambar sinyal tertera di ponselku.

Suara deras hujan yang semakin keras serta petir yang sepertinya kurang bersahabat dengan bumi membuatku takut dan akhirnya aku berjongkok untuk melindungi diriku dari kejadian yang tidak diinginkan disamping itu kudapati seorang laki-laki sedang batuk-batuk yang berada 1 meter dari tempatku berdiri. Dari dandanannya, dia memakai jaket denim gelap serta jeans hitam model pensil lalu memakai sneakers dengan padu padan hitam putih dan dia memakai tas backpaker. Mungkin dia lebih tua dariku, karena terlihat di wajahnya bermunculan kerutan-kerutan kecil di bagian samping matanya sewaktu dia batuk. Sepertinya dia lelah batinku.

Dia menoleh ke arahku dan aku mengalihkan pandanganku darinya. Suara gesekan sepatu tiba-tiba menghampiri di samping tubuhku. Dan benar, laki-laki itu mendatangiku. Aku mendongak ke atas dan laki-laki itu berbicara kepadaku. “Jangan jongkok di situ, ada…” aku langsung berdiri dan berteriak karena aku pikir di belakangku ada hewan semacam kecoa atau sejenisnya. Ternyata aku salah. Aku menoleh ke belakang toko yang tadi kusandari dan ada seorang kakek tua yang akan membuka tokonya. Dia tersenyum kepadaku dan wajahnya mengisyaratkan bahwa ada mobil yang mau keluar. Aku hanya meringis dan meminta maaf kepadanya karena aku tak tahu.

Tiba-tiba, pergelangan tanganku ditarik oleh laki-laki yang berdiri 1 meter dari tempatku. Aku hanya diam menuruti langkah kakinya. Dia membawaku ke tempat yang bisa dibuat berteduh. Karena selain toko tadi, tak tampak bangunan yang mempunyai payon yang panjang. Dan dia berhenti di rumah yang kecil tak terawat tetapi setidaknya ada payon yang bisa buat kami berteduh. Payonnya berukuran kecil dan membuat tubuh kami berdua agak berdekatan. “Cuma bangunan ini yang ada tempat buat berteduh.” ujarnya sambil membenarkan tatanan rambutnya yang terkena air hujan. Aku hanya melempar senyum tipisku. Dan kulihat dia membenarkan rambutnya dengan pomadenya yang berbau semerbak melon segar, sepertinya aku pernah melihat ekspresi wajah ini.

Dia melihatku dengan tertegun dan dia terus memandangiku dari bawah ke atas. Dan tiba-tiba dia batuk bertubi-tubi seperti orang lagi keselek disaat minum. “Coba kamu senyum lagi!”. Aku bingung dan terpaksa melakukan perintahnya. Aku tersenyum dan batuknya tak muncul lagi. Dan dia kembali ke sikap awalnya tadi sebelum dia terkejut melihatku tersenyum. Ada apa sama senyumku? Emangnya senyumku mengerikan? Batinku yang terus kebingungan melihat gerak-gerik laki-laki ini yang mencurigakan. “Hmm, kamu gak inget aku dek?” celetuk laki-laki itu di tengah keheningan jalan raya yang terlihat sepi dari kendaraan. “Iya, aku inget.” Jawabku dengan terpaksa karena sudah dari tadi aku merasa sepertinya pernah kenal laki-laki ini.
“Udah lama kita gak ketemu. Hampir 1 tahun.”
“Iya kak.”
Aku hanya memberikannya senyum dan senyum. Kami berdua pun terdiam dan tak tahu harus membicarakan apa karena sebelumnya kami tak pernah ada ikatan yang dekat.

Mungkin begini pendeskripsiannya. Seorang sahabat bukan, Seorang pacar bukan, Seorang teman bukan, Seorang kenalan bukan. Aku tak tahu hubungan sosial apa yang kami lakukan. Selama ini, dia hanya menjadi pengamat, pengajar, dan pemberi tugas selama aku magang di tempat kerjaku yang dulu. Kami hanya berbicara sebatas tugas dan dia tidak pernah berbicara lebih dari 5 kalimat kepadaku. Hanya bicara tugas dan hal yang penting saja. Dia seperti menganggapku orang lain yang tak penting bagi kehidupannya. Dia juga tak pernah menanyai namaku, dari mana asalku, dari mana sekolahku, dan lain-lain. Setelah aku pergi ya sudah selesai. Tak ada apa-apa yang terjadi, tak ada ucapan selamat tinggal atau apalah. Selama ini aku terus berpikir bahwa hubungan sosial ini benar-benar ambigu dan aku membencinya. Bisa kusimpulkan bahwa dia orang yang dingin, cuek dan egois dan anehnya perilaku itu hanya berlaku kepadaku. Ia tak pernah memberikan sikap dingin, cuek, dan egois terhadap sesama partner kerjanya. Ya dia sangat friendly jika bersama temannya. Mungkin itulah sebabnya.

Jam 16.13, kuputuskan untuk pergi dan memakai jas hujanku karena sepertinya hujannya tidak terlalu deras seperti tadi hanya rintik-rintik tapi banyak. “Ya udah kak. Aku cabut dulu ya.” DI saat aku akan melangkah menghindari jebakan tanah yang banyak airnya. Pergelangan tanganku dipegang oleh laki-laki itu. “Tunggu, tunggu sebentar…” nada suaranya merendah dan hal itu membuatku terpaksa kukurungkan niatku untuk pergi. “Ada apa kak?” tanyaku sedikit khawatir. “Aku minta waktu kamu. Bisa agak lama di sini sambil nunggu hujannya gak ada lagi?”. Aku menghela nafasku dan mengiyakan permintaannya.

Dia memintaku duduk di sampingnya di kayu di depan rumah kecil itu. Lalu, dia membuka ponselnya dan menunjukkan kepadaku sebuah foto. Aku terkejut dan bingung mengapa ada wajahku di sini tertawa bersama teman-temanku berjalan berlima waktu aku pulang magang dulu. “I..ini kan.. hari terakhir aku mau pergi. Kok?” cara berbicaraku terbata-bata karena itu membuatku bingung. “Aku menyesal banget karena aku gak ngucapin apa-apa disaat kamu mau pergi. Aku pikir akan ada waktu lagi untuk ketemu sama kamu lagi. Tapi ternyata enggak ada sama sekali. Aku menyesal karena gak tanya namamu, gak tahu sekolahmu, gak tahu alamat rumahmu, dan sebagainya. Aku pikir lagi kamu bakal memperkenalkan diri ke aku. Tapi ternyata juga enggak kamu lakuin. Alhasil, aku foto kamu pas kamu mau pergi” Aku yang mendengarnya hanya bisa berkata dalam hati apa ini mimpi Ini pasti mimpi tapi mengapa kali ini terasa begitu nyata dan begitu lama. Aku harus bangun. What?! Aku sudah bangun. Aku gak percaya kalau ini benar-benar nyata.

“Aku selalu lewat mondar-mandir di belakang kamu duduk di lobby itu. Tapi kamu sepertinya enggak sadar sama kehadiranku. Aku selalu ngelihatin kamu di kantin sewaktu kamu pulang. Aku selalu nungguin di parkiran pagi-pagi hanya untuk nglihat kamu dan pengen nyapa ke kamu. Tapi kamu selalu cuek sama sekitarmu termasuk aku. Aku selalu ngikutin langkah kamu sewaktu pulang dari tempat kerja untuk mastiin kamu baik-baik aja. Aku… aku.. ingin tahu nama kamu, alamat rumahmu, alamat sosmedmu, dari mana sekolahmu tapi itu semua membuatku malu untuk bertanya sama kamu. Aku malu sekali.”

Aku melihat wajahnya yang sedikit kemerah-merahan karena wajahnya terbilang putih dan tampak jelas sekali rona merahnya. Aku tertegun akan pengakuannya dan terdiam bingung tak tahu harus berkata apa. “Kenapa kakak berkata seperti itu?”.
“Pertama kali kamu masuk ke bagian tempat kerjaku penyimpanan data-data klien. Kamu selalu bertanya dan bertanya perihal ini perihal itu. Itulah yang membuatku berpikir tentang kamu dan berkata seperti ini. Kamu terlihat cerdas, percaya diri, dan bijak. Dari kejadian itulah, aku… suka sama kamu.”

Ini pasti mimpi. Ini pasti mimpi. Ini pasti mimpi. Ini pasti mimpi. Ini pasti mimpi. Berkali-kali kukedipkan kedua mataku dan kucubit pipiku yang tembem ini. “Kamu enggak mimpi.” Dia menertawai sikapku dan mencubit pipiku yang sedang dilanda kebingungan yang bertubi-tubi datang menjerembab diriku ini. Dia ingin mengawali awal yang baru bersamaku dan ingin menjalin hubungan lebih dekat denganku. Aku mencoba untuk mengiyakan akan tetapi ia sudah menganggap bahwa jawabanku telah menerimanya. Aku berusaha untuk tidak menampakkan wajahku darinya. Pandanganku kualihkan melihat sekelompok kendaraan yang berlalu lalang di sebelah kiriku. Aku pikir dia hanya diam di sampingku dan tidak berkata apa-apa lagi. Ternyata tanpa kusadari, dia sedang membenarkan tali sepatuku yang sudah mau lepas dari sepatu, ditambah lagi tak teratur dan tak tertata rapi. Lalu aku langsung berniat ingin membenarkannya sendiri tapi itu semua ditolak mentah-mentah oleh dia. “Udah. Masa aku gak boleh mbenerin sepatu pacarku?” Ahhh! Aku sudah tak bisa menahan maluku. Aku benar-benar bingung dan kikuk sekali karena pertama kalinya aku diperlakukan seperti ini oleh seorang laki-laki.

Setelah dia selesai dengan tali sepatuku. Dia berjongkok di depanku dan wajahnya bersandar di lututku.
“Ini aku milikmu, Tian.”
“Dan aku milikmu juga, Tina.”

Cerpen Karangan: Vita Fristina
Facebook: Vita Fristina
Penulis yang masih merindukan orang antah berantah

Cerpen Berkat Kamu Si Hujan Di Toko Usang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dalam Ingatanku

Oleh:
Ku masuki kelas yang berbau cat ketika ku hirup udara dalam kelas ini. Ku putar mataku dan memperhatikan tembok kelas yang dipenuhi dengan karya tulis dan curahan hati anak-anak

Cinta Yang Tertunda (Part 4)

Oleh:
Andara… kenapa kamu tiba-tiba ada di sini… “Kenapa kamu tiba-tiba ada di sini? Ada apa, kamu baik-baik aja?” tanyaku heran sudah jam segini Andara datang ke rumahku. “Maaf mengganggumu,

Ternyata Dia

Oleh:
Aku berdiri mematung sambil membelalakkan kedua mataku setelah melihat seseorang yang membukakan pintu untukku duduk di kursi roda. Apa aku salah rumah dan salah orang? Mungkin aku sepertinya memang

Bunga Semanis Coklat

Oleh:
Awan berkabut menyelimuti langit waktu itu. Pagi serasa seperti sore. Tanah basah akibat guyuran hujan menjadi jejak kaki bagi setapak kaki. Embun berderet bagai semut berjalan dan menetesi bunga-bunga

Ketika Semua Berlalu

Oleh:
Pagi yang cerah. Sinar mentari yang berkilauan, hangat. Seperti biasa setiap akan berangkat sekolah, aku selalu memanggil adik sepupuku, Sita, yang rumahnya hanya bersebelahan denganku. Kami selalu berangkat bersama.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *