Bianglala

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 24 June 2019

Rinai hujan membasahi langit Ibu Kota. Suasana Ibu Kota saat ini sedang ramai dipenuhi hiruk pikuk kendaran, maklum jam pulang kerja. Suasana cafe yang tenang serta langit yang telah menggelap membuat nyaman siapapun yang berada di cafe ini.

Aku duduk di dekat jendela yang menghadap langsung ke jalanan. Duduk seorang diri ditemani secangkir kopi latte yang sudah mulai dingin. Menikmati musik yang mengalun indah yang menjadi backsound cafe ini. Aku memandangi rintik hujan yang jatuh membasahi jendela. Lamunanku membawaku kembali mengingat masa laluku saat masih bersamanya.

Terekam jelas di ingatanku saat pertama kalinya kita bertemu, di cafe ini tepatnya. Saat itu aku sedang sendirian di sini, tiba-tiba seorang pelayan menghampiriku sembari membawa sepotong kue. Awalnya aku ragu untuk menerimanya, namun setelah pelayan itu bilang bahwa kue tersebut dari kamu, aku menerimanya. Aku pun menghampirimu yang kebetulan saat itu sedang sendirian.

“Permisi” sapaku.
“ah iya. Ada apa?” balasmu dengan senyum.
“Apa kamu yang memberiku kue tadi?”
“iya benar itu saya”
“Tapi kalau boleh tau ada apa ya memberi saya kue?”
“Ah.. itu.. karena tadi aku melihatmu sedang bersedih, jadi aku memberimu kue” balasmu kikuk
“Terima kasih kuenya”

Dari percakapan sederhana itulah kita menjadi kenal. Aku jadi mengenal sedikit sifatmu. Dari kesemuanya yang paling menarik perhatianku adalah senyummu. Entahlah tapi senyummu membuatku candu.

Sejak hari itu kita semakin dekat. Terkadang kita menghabiskan waktu luang bersama. Hariku dipenuhi oleh senda guraumu. Tanpa kusadari, aku mulai terbiasa akan hadirmu, juga aku mulai merasa nyaman saat bersamamu.

Pernah suatu waktu kau mengajakku pergi ke pasar malam. Berjalan bersama menyusuri pasar malam yang ramai. Tanpa sadar tangan kita bertautan.
“Naik bianglala yuk” ajakmu bersemangat.
“Ayo” balasku tak kalah semangat.

Setelah membeli tiket, kita pun menaiki bianglala. Bianglala mulai berjalan perlahan. Hening. Belum ada percakapan setelah kita menaiki bianglala. Kita terlalu menikmati keindahan dari atas bianglala itu.

“Bela” katamu membuka percakapan setelah lama hening.
“Hmm” gumamku.
“Kamu malam ini kelihatan cantik banget”
“Berarti selama ini aku jelek dong” candaku
“Bukan begitu maksudku, malam ini kamu kelihatan lebih cantik aja”
“Makasih” kataku tersipu malu.

“Sini deh”
“Mau apa?” tanyaku penasaran.
Tiba-tiba kamu memasangkan seuntai kalung ke leherku. Aku terkejut. Jantungku berdetak tak karuan, rasanya seperti ingin melompat keluar. Aku pun menahan nafasku saat kulihat wajahmu tepat di depanku, terlalu dekat hingga aku bisa melihat wajahmu dengan sangat jelas. Deru nafasmu pun terasa olehku.

“Cantik” gumammu setelah memasangkan kalung.
“Pakai terus ya kalungnya. Kamu cantik kalau pakai kalung itu” lanjutmu.
“Iya, aku akan pakai terus kalung ini”

“Kamu tau, kamu berharga buat aku”
“Maksud kamu?” tanyaku bingung
“Sayang…” katamu menggantung
“Sayang?”
“Iya sayang kamu” katamu tersenyum

Setelah bianglala berhenti, kita keluar. Kita pulang. Selama diperjalanan hanya ada keheningan. Kita sibuk dengan pikiran kita sendiri. Hingga sampai rumahku. Kau langsung pulang tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Keesokan harinya kau tak bisa dihubungi. Awalnya kupikir kau sedang sibuk. Namun, itu berulang setiap hari. Aku khawatir. Aku mencarimu kemana-mana, namun nihil, kau tak bisa kutemukan. Bagai hilang ditelan bumi, kau menghilang tanpa meninggalkan jejak satupun. Aku menyerah mencarimu.

Kau datang dengan kehangatan
Memberiku rasa nyaman
Dengan lihainya kau bawa aku ke dalam pesonamu
Senyummu begitu candu bagiku
Hingga aku lupa bahwa ini semua hanya semu
Kau tinggalkan aku begitu saja
Tanpa ada merasa bersalah
Membuatku mati rasa
Rasa ini
Biarkan terekam oleh waktu
Terhapus oleh kenangan
Dan menghilang dalam kehampaan

Setelah beberapa bulan lalu aku kehilanganmu, aku mencoba merelakanmu. Melupakan semua kenangan yang telah terekam di memoriku. Kenangan kita.

Saat ini aku masih melamun, memandangi rintik hujan yang mulai mereda. Aku masih memikirkannya. Dimanakah dia sekarang? batinku. Kalau boleh jujur aku masih menyayanginya, masih mengharapkannya kembali. Apakah aku egois jika aku ingin memilikinya?

Aku menyayangimu
Segampang aku melihatmu tersenyum
Aku tidak bisa melupakanmu
Sama halnya saat aku melihat senyummu
Sayang..
Aku bahkan sekarang sudah kehilanganmu
Padahal hati ini saja belum pernah memilikimu
Adilkah ini bagiku?

Saat ini aku masih memikirkanmu hingga aku merasa seseorang menghampiri mejaku. Aku menoleh, dan betapa terkejutnya aku melihat siapa yang datang. Seseorang yang pernah membuatku tersesat dalam kebingungan hati. Kau. Kau datang dengan senyum khasmu.

“Bela? Kamu Bela kan?” tanyamu memastikan.
“Farhan?” kataku kikuk
“Ah ternyata benar kamu Bela. Apa kabar?”
“Kenapa kamu datang? Kapan kamu kembali?” tanyaku menghiraukan pertanyaanmu tadi.
“Ah.. itu… mmm.. aku pengen ketemu sama kamu”
“Hah! Berani banget kamu balik lagi ke sini”
“Maaf” ujarmu menunduk
“Kamu tau, yang kamu lakuin ke aku itu jahat!”
Aku kehilangan kesabaran, tangisku pecah. Aku tak peduli dengan tatapan orang-orang terhadapku.
“Maaf waktu itu aku ninggalin kamu. Maaf ya? Kamu mau kan nerima aku lagi?”
“Setelah kamu pergi, tiba-tiba kamu kembali dan minta aku buat terima kamu lagi? Kamu punya hati nggak sih? Maaf tapi hatiku udah tertutup buat kamu. Permisi”
Aku pergi begitu saja meninggalkan cafe. Hatiku sudah tidak kuat melihatnya lagi. Sudah cukup sakit.

Jika kau datang hanya memberi luka, untuk apa kau datang? Setelah kau pergi, mengapa kau kembali lagi? Kau hanya membuat luka ini semakin dalam. Kau hanya membuat luka ini semakin lama mengering.

Cerpen Karangan: Fariza Aryani
Blog / Facebook: Fariza Aryani
Seorang penulis newbi yang ingin mencurahkan semua pemikiran, rasa ke dalam sebuah kata.

Cerpen Bianglala merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Itu Beda

Oleh:
Tik … Yang lelaki bernama Beda. Memang dia beda dengan lelaki manapun. Wajahnya tidak bulat juga tidak oval. Bentuk rahangnya tergambar jelas. Membuatnya terlihat jantan namun tidak menyeramkan karena

Harapan

Oleh:
Aku terbangun. Dari tidurku. Aku merasa di sebuah tempat yang sangat asing. Di padang rumput yang sangat luas dan cuacanya sangat cerah. “adit.. Kesini dong..” terdengar suara perempuan memanggilku.

Senja Terakhir

Oleh:
Di sini. Di tempat ini kisah pedih itu berakhir. Tak banyak yang berubah. Masih sama seperti empat tahun lalu. Saat dia memutuskan hubungan di antara kami. Ya, hari itu

Melody Terakhir Buat Awan

Oleh:
“Ga semestinya, Bel.. gue suka sama cowok kaya dia.” Ucapku di sepanjang perjalanan pulang sekolah. “Lu ngomong apa sih? Jangan gitu! Semua orang berhak naruh rasa buat seseorang..” jawab

We Are Artis Bangkrut (Part 1)

Oleh:
Pernahkah kamu punya sahabat? Aku pernah. Namanya Han Go An. Dia seorang laki-laki labil. Kalau bicara seperti perempuan. Dia suka memakai pakaian berwarna cerah yang sangat mencolok. Dia suka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *