Bukan Berarti Tak Satu Pun Dari Mereka Tak Kusukai (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 11 December 2016

Ini kali terakhir kami bersenang-senang. Sebagai sahabat baik, segala hal yang terjadi hanyalah seperti sebuah rencana. Kami begitu percaya bahwa kebaikan tak selalu dapat diartikan sebagai suka. Apalagi cinta. Biar kuceritakan alasannya!

Yang pertama mungkin yang paling mengesankan, waktu kenalan gara-gara hampir saja ketinggalan kereta api. Ceritanya, PKPT usai dan sesuai rencana hari ini aku akan pulang. Lekas-lekas kuambil ransel pink dan mengemasi barang-barang seperlunya. Karena di luar terang, suasana hati pun ikutan cerah! Aku dikenal orang-orang sebagai anak yang gak suka ribet. Benar juga memang. Tapi pandangan itu mendesak berubah setelah aku mendengar dua sepeda motor berhenti di halaman rumah.

“Nduk, keluar. Ada yang mencari ini lo, anak MIPA juga katanya,” teriak pakdhe memberitahu. Anak fakultas! Siapa ya? Masa Tritan, atau Fajar? Mungkin juga Diky paling-paling mau mengambil catatan kos putra yang ketinggalan kemarin? Sambil merapikan kedua ujung celana Levis yang sedikit tertarik ke atas sewaktu jongkok mengambil sepatu hitam di bawah kolong tempat tidur tadi, aku pergi menuju ruang tamu sembari sesekali mengusap-usap rambut. Nampak tiga orang lelaki dengan ukuran tubuh yang sepadan serentak menyorotiku bersamaan dengan aku memandang heran ke arah mereka.

“Laurene Pamungkas?” ujar salah seorang dari paling ujung kanan. Kami duduk berhadapan dan kecewanya, yang dari pertama terus kulihat ternyata justru tak memulai pembicaraan.
“Iya saya? Maaf, kalian siapa?” jawabku sekaligus bertanya.
“Saya Radit, kedua teman saya ini hanya mengantar. Sebenarnya saya hanya mau mengembalikan CD pink ini. Kebetulan Anda menulisnya dengan spidol besar jadi tak akan tertukar dengan punya saya,” jelasnya sambil menyodorkan kepingan CD yang tentu saja sangat kukenal itu. Baru saja mau berterimakasih..
“Kalau begitu, kami bertiga pamit… Laurene?”
“Iren saja,” sahutku datar sambil menyalami Radit. Kedua lelaki yang lain, namanya tak kuketahui. Sebagai tuan rumah yang sopan aku pun mengantar ketiganya ke depan pintu. Mataku belum juga bisa lepas dari seseorang yang telah kupandangi semenjak beberapa menit yang lalu. Tentu saja yang lainnya juga tak kuabaikan. “Mau ke mana lagi nih rencananya?” tanyaku basa-basi.
“Kami berdua hanya mengantar Radit sampai stasiun lalu kembali ke Lowokwaru,” jawab lelaki itu. Aku tersentak. Mataku membelalak kaget.
“Eh, sudah ya Ren, aku takut ketinggalan kereta, sudah mau setengah sebelas juga nih,” Radit memperingatkan. Entah mengapa tiba-tiba kata-kata Radit mengingatkanku pada jadwal keretaku pula.
“Memang tujuanmu ke mana?”
“Kediri.”
“APA?!”
“Loh memang kenapa? Bareng, mau bareng kah?”
“Serius setengah sebelas? Kediri kan nglewati Tulungagung, iya gak sih?” Tanyaku panik. Radit dan kedua temannya tersenyum geli melihatku kacau. Tanpa berpikir panjang langsung kubawa seluruh abrakan. Karena belum sepenuhnya bersiap-siap diri, kotak rias dan seluruh baju yang kucantelkan di belakang pintu kamar pun kubawa begitu saja.
“Pakdhe! Budhe! Mbak Mir, berangkat!”
Begitulah akhirnya. Aku ribet. Sekaligus awal di mana kenal Radit, tokoh figuran yang biasa-biasa saja.
Yang kedua kalinya adalah yang membuatku dekat dengan dia.

Musim perkuliahan akhirnya tiba. Bahagianya bisa nambah satu teman lagi. Karena ternyata Radit satu program studi dan offering denganku. Dia adalah teman yang menyenangkan. Dan menjadikan alasan pula mengapa aku tak menolak untuk dijadikan sekretaris kelas adalah karena Radit orangnya formal, cerdas dan cekatan. Kriteria-kriteria partner baik yang cukup memenuhi, bukan? Keloyalan kami berdua sebagai pengurus kelas pun akhirnya diuji. Suatu hari kami terpaksa berurusan dengan uang dan uang. Teman-teman sekelas banyak yang menunggak membayar buku BIK. Membuat Radit dan aku rajin main kejar-kejaran. Hari selanjutnya adalah hari terakhir penyetoran seluruh jenis buku pegangan. Karena sumpek, Radit mengajakku ngantin. Alasan paling cerdiknya adalah, ngantinlah sebelum pingsan!?
“Kok bisa gitu sih?”
“Ya, memang realitanya demikian. Mana ada orang yang betah lapar?” Radit melengos sambil menyendoki bihun di antara kuah bakso. Sepertinya dia hanya mempermainkan makanannya karena tak benar-benar mendekatkan sesendok penuh ke mulutnya.
“Lain kali gak usah gini juga kali Rad! Kalau pergi ngantin aku sudah biasa sendirian. Kalau ke perpus, nah baru tuh, bisa nyerah kalau gak bawa temen,” dalihku sambil menyeruput kuah mie ayam ke dalam mulutku yang sudah penuh dengan adonan mi ayam itu.
“Oh, jadi aku gak boleh nemenin, kok aku lebih sering lihat kamu ngantin sama gangsta-gangstamu yang keren-keren itu ya?”
“Bukannya beda-bedain temen Rad, kan kamu tahu sendiri aku kayak gimana sama anak-anak cowok. Kamu juga temenku kok. Aku kasihan aja, kelihatan banget lo kalau kamu maksain mesen makanan, kebuang deh nanti si bakso?” timpalku panjang lebar sambil sesekali melihat muka Radit yang tiba-tiba berubah seperti orang yang resah setelah mendengar suatu hal.

Mata kuliah usai, Radit mengantarku pulang. Sebenarnya hari ini aku dan ketiga gangstaku; Diky, Thohar dan Paulus sudah janjian pulang bareng dilanjutkan pergi hang-out sebentar karena memang setiap Kamis mata kuliah kami tak begitu padat. Paling lambat pukul 12.00 WIB seluruh mata kuliah sudah kelar. Tapi karena capek dan malas jalan akhirnya teman baikku itu menawariku tumpangan. Kami jadi sering berangkat kuliah bareng. Meskipun rumah pakdhe dengan gedung universitas hanya ditempuh selama sepuluh menit berjalan, aku tak pernah ngeles untuk menolak tawaran nebeng dari Radit.
“Kok gak milih nempatin kos saja Ren? Lumayan latihan mandiri,” ujar Radit saat hendak naik motor. Aku tak terlalu mendengar apa yang dia katakan. Bukannya cuek, tapi sabuk helm ini sulit banget dipasang! Uh!
“Kenapa kenapa? So..sori. eh!”
“Apanya yang sulit sih? Masak tomboy gitu gak mahir beginian, malu sama temen-temen cowok kamu dong?” Radit membantuku membenamkan simpul sabuk helm yang mati-matian kuperjuangkan supaya menyatu itu. Dekat banget! Tapi… aku merasa sangat biasa.
“Ya ampun Rad, kenapa gak dari tadi aja sih,” sahutku nyengir. Melihat Radit tertawa begitu selalu mengingatkanku pada kali pertama kami berkenalan. Aku jadi rindu Yudha.
“Nanti pulang kuliah bikin kue yuk?” ajakku saat kami berkendara.
“Ya, lihat-lihat dulu ya Ren,” tanpa merisaukan apapun kusahut, “oke!”
Percaya atau tidak, sebenarnya kami pernah sangat dekat. Aku jadi hobi masak di kemudian hari. Radit yang menasihatiku untuk mahir masak.
“Apa bintangnya?”
“Bintang?”
“Zodiak Ren.”
“Oh itu, Taurus. Loh? Gimana sih malah nanyain zodiac!” protesku pada Radit sambil enakin ngemut loli pop aku nitip beli padanya. Sore itu kami main berempat ke Taman Balai Kota.
“Berdasarkan situs kepercayaan gue, orang-orang dengan zodiak Taurus itu menyukai sentuhan-sentuhan natural Ren,” cetus Fajar sekonyong-konyong. Fajar yang tak pernah bisa lepas dari gadget dan teman-temannya memang sumber ide terbesar dalam persahabatan kami.
“Ha? Maksudnya gimana tuh?” sahutku kaget karena spontan yang tergambar di benakku adalah pegangan tangan dan ciuman. Samar-samar suara Radit ketawa mencoba masuk ke tengah-tengah percakapan. “Fajar kan udah baik hati banget browsing-in, terimakasih dikit lah,” pekik Radit.
“Rad, apaan sih!” jengkelku.
“Lho kok marahnya ke Radit sih Ren, Dit sabar ya. Nih gak enaknya temenan sama cewek. Emosinya gak ketulungan!” seru Diky puas yang kelihatannya memang telah mempersiapkan gilirannya untuk angkat bicara sedari tadi. Radit merebahkan badan. Bangun dari posisi tidurnya dan menutup buku koki terbarunya. Aku menyadari pergerakan Radit lalu menghadap ke arahnya.
“Nih!” Dia melemparkan buku barunya itu. Aku memainkan alis dan sesekali menjatuhkan pandangan ke dalam lembar-lembar buku. Tak satu pun hal menarik yang mungkin dapat kumengerti sedang kutemukan.
“Lupa ya? Yudha kan temenku. Karena kita teman mungkin ada baiknya berkonsolidasi?” Bisik Radit dengan hati-hati.
“Cie, denger loh, aku denger. Ren kami juga bisa bantu kok lagipula aku dengar anak-anak jurusan Biologi pada jago-jago ujian praktikum. Kan kamunya pintar statistika, kalau jadian kalian berdua bisa jadi investasi berharga buat kita Ren, gimana ha?” teriak Paulus menggegerkan. Kedua lengannya berlayar di bahuku dan Radit. Membuat posisiku sulit untuk mengatakan, idemu bikin aku ngakak Lus!?

Karena sudah sore banget kami pun pulang. Setiap ada Avanza silver parkir di depan rumah, pasti pakdhe gak akan banyak pidato karena sudah hafal betul dengan siapa aku menghabiskan waktu. Kelihatan juga mbak Mira nya yang perhatian. Pasti langsung nyiapin suguhan kesukaan kami. Tapi karena sore ini mereka tak mampir, maka mbak Mira pun tak perlu unjuk hidung.

Malamnya aku paksain belajar buat materi esok hari sampai pilek parah karena kebanyakan minum jus tomat dingin. Biar tahan jaga sampai larut malam. Tahu kenapa? Aku ingin cari tahu tentang Yudha. Caranya? Browsing dong. Rencananya pukul 22.00 WIB aku sudah selesai belajar, lalu tinggal kelarin urusan dengan HP deh! Tapi tak begitu. “Ngantuk!!!” keluhku. Rencana bisa saja tetep jadi rencana. Sayang, banyak hal yang tidak mendukung. Aku tergelepar di atas kasur putihku. Membiarkan tubuh tengkurapku move on dari buku-buku ilmiah. Pelan-pelan mataku tersiut lelap sampai, “drrrt.. drrrt,” sebuah pesan WhatsApp masuk. Ah Yudha! Hatiku bergejolak riang. Bodohku keluar. Memang sudah sejak kapan sih kami tukeran nomor ponsel? Ngobrol saja belum pernah. Bibirku tertawa-tawa sendiri.
“Dari Radit,
Udah tidur? Pasti belum. Sudah kubilang aku bisa bantu. Tak perlu banyak mengorbankan diri seperti itu. Yudha orangnya mudah didekati kok. Besok pulang kuliah gimana kalau kuajari masak? Tenang, tidak hanya itu, aku akan kasih tahu kebiasaan-kebiasaannya yang menyenangkan juga biar selebihnya kalian saja yang mengetahui”
Malam itu setelah baca pesan dari Yudha, aku langsung memadamkan lampu kamar dan menata posisi untuk tidur. Ada sesuatu yang mengetuk dadaku. Tak yakin itu dada atau kepalaku. Kok dia tahu?

Benar saja, hingga hari-hari berikutnya sampai semester pertama nyaris berakhir, hubunganku dengan Yudha mulai terlihat membuahkan hasil. Berkat Diky, Fajar, Paulus dan Radit, aku dan Yudha pun sudah seperti keluar dari friendzone kami. Tak kusangka ternyata Yudha akan banyak cerita kalau dari pertama dia datang ke rumah pakdhe bersama Radit dan Fedrick (teman yang satunya dulu ternyata Fedrick namanya, teman dekat Radit juga), dia sudah memperhatikanku. Dia cerita juga kalau selalu menunggu saat-saat untuk bisa berkenalan denganku. Sudah dua hari terakhir ini kami berdua hang-out bersama, hanya berdua saja loh! Niatku mau ngucapin terimakasih pada Radit karena dalam siasat percintaan ini bagaimanapun juga dia lah main compilernya. Radit gemar makan cokelat putih. Sebagai rasa terimakasihku ke teman-teman, pertama-tama aku akan mengucapkannya secara spesial pada Radit terlebih dahulu.

Aku berjalan menyusuri lorong perpustakaan. Apa yang salah, hari ini semua orang terlihat sangat segar! Malas ah pakai lift. Biar saja kelamaan, toh setelah ini mungkin waktuku untuk bersama-sama dengan Radit juga akan sedikit berkurang karena lebih banyak keluar bersama Yudha. Akan kunikmati perjalanan ini. Dengan raut seceria mungkin aku pun menemukan Radit dan segera menghampirinya. Kutemukan Radit sedang duduk tenang membujurkan kedua kakinya sambil bergantian menekuk salah satu sisi ke langit-langit. Akhir-akhir ini dia temenan akrab sama perpus. Aku merayap dan menyapanya.
“Eh Rad!” sontakku menepuk lengannya dari samping.
“Hei!” serunya kaget. Namun ekspresi wajahnya cepat berubah seketika, membuatku sedikit merasa aneh sekaligus bersalah.
“Kok, serius banget? Emang Bahasa Inggris kita ujian tulisnya sekompleks itu ya sampai kamu deleng in seseram itu?” Tanyaku keheranan melihat Yudha yang tiba-tiba jadi sangat serius begitu.
“Ren, besok aku ke Jakarta mau tes sekolah kedinasan,” ucapnya tenang.
“Sekolah kedinasan?” sahutku sambil menghela napas kemudian mendekatkan posisi duduk lebih dekat lagi dengan Radit.
“Kamu ada masalah apa Rad sama jurusan kita? Atau sama universitas? Mau pindah kuliahan? Mendadak gitu sih Rad?”
“Maaf ya, tolong kasih tahu temen-temen yang lain juga kalau tidak keberatan. Kayaknya habis ini aku langsung pulang,” Radit menutup buku dan berjalan begitu saja meninggalkan bekas udara hangat yang masih menempel di atas karpet hijau saat aku masih tertinggal diam tertegun mendengar tanggapannya. Dalam hatiku aku menggumam, “padahal.. padahal!”

Selama beberapa minggu kemudian Radit tak bersama kami. Thohar lah yang paling sering mendapatiku melamun di dalam kelas bahkan saat perkuliahan. Namun, aku masih dapat mengatasinya karena selalu teringat pesan-pesan mengasyikkan dari Yudha dan percakapan-percakapan kami saat di kantin, kanopi maupun gazebo fakultas. Tapi mengapa lama-lama tanganku lemas juga tiap pesan-pesannya masuk mengajak untuk ketemuan lagi dan lagi.

“Dari Iren,
Rad, kok gak balik-balik ke Malang? Memang sudah pengumuman?”

Aku menunggu sangat lama. Mengabaikan janjianku ketemuan dengan Yudha. Membatalkan pertemuan dengan kelompok Pancasila. Menangguhkan absensi ujian akhir semester pada Ava. Dan menolak lima panggilan masuk dari mbak Mira untuk cepat pulang. Tanpa kusadari aku telah menyendiri di serambi laboratorium selama empat jam tanpa diringi janji oleh siapapun. “Drrrt… drrrt,” pesan masuk!

“Dari Radit,
Kok belum pulang?”

Segitu saja? Anak ini! Apa sih arti pertemanan baginya. Aku berpikir dan diam, dan kembali berpikir lebih lama lagi. Tersadar akan sesuatu hal makanya aku menengok ke samping kanan dan kiri. Ke belakang! Tidak ada. Sudahlah. “Aku menyerah!”
“Yang pasti bukan di atas ya?”
Suara itu…
“Rad…” aku menemukan Radit berdiri menyandarkan bahunya di balik tiang kelabu serambi ruang praktikum. Aku begitu hafal dengan caranya berdiri dan gaya berjalannya. Dia berjalan mendekat.
“Ayo pulang. Kuantar,” ajaknya sambil mengulurkan tangan kanannya. Aku meringis entah lebih seperti menangis atau tertawa lalu menganggukkan kepala.
“Sudah kuduga, pasti tidak diterima ya, makanya kau kembali! Kubilangi kan mengapa juga ngambil kedinasan? Kan sudah enak di jurusan kita sekarang. Lagian kamu dulu masuknya juga sulit, mandiri?”
“Hmm.” Dia hanya tersenyum sambil menyetir dengan santainya. Ngomong-ngomong ini baru pertama kalinya aku naik mobil milik Radit dan hanya berdua. Biasanya rame-rame.
“Aku gagal.”
“Yang bener? Tapi kamu udah ketinggalan banyak lo. Sepertinya perlu konsultasi ke dosen pembimbing akademik kalau sudah sejauh ini,” terangku memalingkan muka ke jendela mobil. Aku bohong. Kubilang jangan lihat dia, tapi dari kaca jendela dengan jelas dapat kusaksikan wajah jengkel Radit.
“Aku akan mengikuti tes gelombang ke-dua. Kali ini kupastikan lolos.”
“Bagaimana bisa mengerti?”
“Gampang. Tentukan, rencanakan, lakukan…” mobil berdecit. Radit menghelakan napas pendek. Meraih-raih udara yang sedikit pengap di dalam mobil sebelum akhirnya menjangkapkan kalimatnya, “dan kau akan mendapatkannya, mengenalnya, mulai menyukainya…”
“Rad, mbak Mira sudah naik tuh. Makasih ya tebengannya sering-sering saja, hehe,” gawat! Senyumanku kurang natural. Mungkin aku ingin menangis karena hendak kehilangan seorang teman yang baik hati. Terserahlah! Aku menyerobot messenger bagku dan lekas keluar. “Ren,” panggilnya menarik pergelangan kiriku. “Hari ini aku tidak bisa lama-lama di kota ini. Sebenarnya aku hanya mampir di kos untuk mengemasi barang-barang. Kita mungkin bisa bertemu sekali lagi setelah pengumuman tes gelombang ke-dua,” sambungnya penuh harap. Aku terdiam kaku. Wajahku mungkin terlihat pucat di matanya. Bagaimana bisa kujawab ajakan itu jika sudah pasti tahu jawabannya. Perlahan genggamannya terlepas. Sosok mobil dan sopirnya pun lenyap.
Aku ini apa selalu diam, dan setelah diam pasti tak ada pilihan yang mendingan dibandingkan membungkam? Aku ingin bergerak tapi harus kupastikan kekuatan apa yang mampu mendorongku untuk bergerak.

Cerpen Karangan: Nur Ma’izzatul Akmal
Facebook: Nur Maizza

Cerpen Bukan Berarti Tak Satu Pun Dari Mereka Tak Kusukai (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tentangmu

Oleh:
Menyebalkan, Itulah satu kata yang bisa ku ungkapkan untuk menggambarkan apa yang ku rasakan sekarang. Hari ini di sekolah, Cerpen yang ku tulis di note pribadiku, tiba-tiba sudah terpajang

Jangan Pernah Lupakan Aku Lagi

Oleh:
Pagi ini, burung-burung tampak berkicau menyapaku. Sinar matahari yang hangat menyelimuti pagi yang indah ini. Aku mulai membuka mata dari tidur lelapku. Kulihat jam dinding biruku menunjukkan pukul 6

Seberkas Cahaya di Pinggir Sawah

Oleh:
Dentuman musik seakan memecahkan dunia. Dentingan gelas terdengar di mana-mana. Riuh pikuk suara orang terdengar jelas. Di sudut terlihat seorang gadis duduk termenung. Tatapan kosong terpancar dari sorot matanya.

Sebatas Patok Tenda

Oleh:
“Dengarkanlah suara hati ini Suara hati yang ingin kudendangkan Tak mampu untuk kusampaikan Kan kuungkapkan lewat laguku” Lagu itu perlahan mengalun di music player-ku. Aku menghentikan aktivitas minum kopiku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *