Bukan Juliet

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sejati
Lolos moderasi pada: 24 November 2016

Untuk kesekian kalinya perselisihan sengit antara sepasang kekasih yang berbeda sekolah. Arga di SMA Khatulistiwa yang merupakan sekolah menengah atas keempat baginya sedang Naya masih di SMA Mentari yang merupakan sekolah menengah atas Arga yang pertama. Arga sudah tiga kali pindah sekolah karena permasalahan hampir serupa. Bolos, perkelahian, serta turut dalam geng remaja bernama Violent yang sangat Naya dan Amira -Ibu Arga- benci. Arga tahu dia banyak membuat was-was kedua wanita yang dia sayang itu tapi dia tetap tak mengubah pendiriannya.
Terakhir mereka bertengkar tentang seorang perempuan yang merupakan pertama kali dalam sejarah. Naya dan Arga sering mempermasalahkan hal sepele seperti peringkat di sekolah atau tentang geng tapi jarang membahas ‘orang ketiga’.

Naya mempertahankan langkah ringkihnya diiringi deru angin melewati lehernya. Terbesit Arga yang akan berceloteh kesal karena membiarkan tubuhnya yang hanya dibalut seragam sekolah dicabik angin malam. Tidak. Arga bahkan tidak menahannya setelah perdebatan super mereka di depan kedai es krim kemarin. Dia lebih memilih mengantar gadis dengan rambut coklat gelap itu dengan motornya. Naya menggertakkan giginya kesal.

Seharian dia mencari tempat untuk bernaung agar pria yang setengah mati mencarinya itu tidak menemukannya. Naya baru dikabari ibunya kalau Arga mendatangi rumahnya tadi siang. Arga tidak akan berhenti mencari sebelum mendapatkan Naya. Naya hanya ingin satu tempat yang Arga tidak berpikir akan mengunjunginya tapi dia tidak bisa berpikir. Arga pasti berhasil menemukannya hanya menunggu waktu.

Drrrttt drrrttt
Akhirnya Naya mengalah dan menerima panggilan Arga yang kesekian.
“Halo..”
“Kau dimana?” Suara Arga parau yang bisa dibayangkan ekspresi paniknya. “Naya, jawab aku! Katakan kau dimana!” Teriak Arga. Naya masih melihat sekeliling. Lampu sorot kuning, trotoar sepi, toko yang sudah tutup. Dia tidak tahu ada dimana.
“Aku tidak tahu ini dimana.” Jawab Naya yang memang benar tapi membuat Arga makin geram.
“Bagaimana bisa.. Tenangkan pikiranmu dan ingat-ingat oke?” Arga masih menunggu kekasihnya mengingat. Naya pandai dalam akademik tapi kemampuannya mengingat jalan dan arah mata angin sangat buruk. “Bagaimana?”
“Aku berjalan lurus dari sekolah. Kemungkinan ini sudah di luar Jakarta. Tangerang mungkin.” Arga memejamkan matanya sejenak. Mendengar penuturan Naya yang membuat iba sekaligus kesal. Sejauh itu dia pergi?
“Nyalakan GPS, aku akan melacakmu.” Kenapa tidak dari tadi? Karena Arga pikir dia masih bisa mengandalkan sedikit ingatan Naya. Ternyata nol besar.
“Tidak bisa. Bateraiku tidak cukup untuk menyalakan paket data.”
“Powerbank?” Arga mengingatkan siapa tahu Naya membawa tapi lupa. Biasanya begitu.
“Rusak. Aku melemparnya ke arahmu saat kita bertengkar di taman sekolahku, kau lupa?” Jelas Arga ingat betapa mengamuknya Naya saat ketahuan ikut tawuran padahal dia sudah berjanji di kelas 3 akan fokus pada sekolah.
“Naik taksi saja.” Saran Arga.
Naya menoleh ke sepanjang jalan aspal di depannya. Hanya segelintir kendaraan yang lewat. “Disini sepi. Aku tidak bisa menemukan taksi atau bus. Bahkan tidak ada halte disini.”
“Baiklah. Kirim lewat pesan ciri-ciri tempatmu sekarang, aku akan mencarimu. Jangan bergerak seinchi pun.” Klik. Arga memutus panggilannya. Rasanya Naya mulai cemas saat tak mendengar suara Arga yang mengomel lagi.

Naya mulai mengetik hingga dia merasa ada dua pria paruh baya berjalan ke arahnya. Berpakaian serba hitam dan bertampang bengis. Naya mempercepat gerak jari lentiknya lalu berjalan cepat berbalik arah. Mengingkari janjinya pada Arga untuk tidak bergerak sedikitpun.
Kedua pria tadi mengikuti Naya. Menyadari itu Naya mempercepat langkahnya hingga berlari. Mereka juga berlari. Naya menatap ponselnya dan mengklik ‘kirim’.
“Arga, aku mohon cepat. Aku takut.” Gumamnya lirih.

Karena merasa hampir tertangkap Naya memutuskan mengambil jalan seberang. Lampu sen kuning terang menyorotnya, suara klakson yang memekakan telinga dan rasa sakit yang besar menghantam tubuhnya.

Arga seperti orang tak waras memasuki daerah rumah sakit. Matanya menangkap Tuan dan Nyonya Graha di depan pintu rawat di ujung lorong. Tepat di depannya. Wanita yang seusia dengan ibunya sedang menunduk kaku dengan air mata yang terus menetesi rok hitam selututnya. Apa keadaan gadis di dalam sana sangat parah?
Ibu Naya yang pertama masuk ke ruangan dengan banyak selang dan perban menempel di sembarang tubuh Naya. Arga mengekor di belakangnya. Tubuhnya hampir ambruk karena energinya seolah terkuras. Kenapa wajah Naya yang biasanya menyebalkan bisa semenyedihkan ini? Dia hampir tak kuat menahan harga diri sebagai pria tidak cengeng.

Ini hari ketiga gadis yang dengan tersenyum saja bisa membuat kemarahannya luluh masih terbaring koma. Benturan di kepalanya dikatakan dokter yang paling parah. Arga mengangkat tangannya mengusap tangan pasi Naya. Dia sudah meneguhkan keputusan tidak akan melepaskan tangan itu jika Naya bersedia sadar. Walau dia bimbang haruskah meninggalkan geng disaat dia baru dipilih menjadi ketua Violent. Tepat di hari kecelakaan Naya.

Arga menatap tumpukan buku yang ia yakini dikeluarkan dari tas sekolah Naya. Gadis yang prestasinya selalu mengekor di bawahnya sejak menengah pertama tapi tidak lagi. Naya jauh lebih banyak meningkat ketimbang dirinya. Dia mengambil salah satu buku paling tebal. Mungkin 500 halaman. Arga hampir terisak baru membaca covernya. Itu buku untuk persiapan masuk perguruan tinggi. Naya memilih fakultas kedokteran seperti mimpinya sejak kecil. Arga ingat gadis yang terpejam di hadapannya itu sering merengek padanya belakangan agar Arga kembali menjadi siswa teladan.

“Kau tidak takut aku tertarik pada calon dokter yang lebih tampan dan lebih kaya darimu?” Arga tetap fokus dengan PSP di tangannya tanpa menghiraukan bualan Naya. Naya mengerucutkan bibirnya. “Kita putus saja kalau kau tidak mau kuliah bersamaku.” Seperti biasa Naya mengancam hal yang jelas tidak akan dia lakukan.
“Aku sudah kehilangan banyak materi pelajaran. Kau mau aku jadi gila karena belajar seperti robot?”
“Ayolah. Dulu kau selalu lebih baik dariku. Otak encermu dipanaskan sedikit pasti bisa bekerja lagi.” Naya memasang tatapan memohonnya. Menarik-narik lengan Arga yang terbalut kemeja putih SMA Flamboyan.

Arga membuka halaman pertama buku bersampul biru tua itu. Ada nama pemiliknya dan namanya sendiri disana seolah Arga ikut memiliki buku itu. Naya suka menulis namanya dan Arga di buku apapun bahkan di kertas ulangan. Dia menutupnya kembali dan meletakkan di tempat semula.

Kalimat terakhir Bintang -sahabat Naya- sebelum menyelesaikan masa jengukannya masih terngiang di kepala Arga. Naya akan kehilangan banyak waktu belajar jika tidak segera sadar. Rasa bersalah kembali menggenangi dirinya.
Arga mengganti bunga tulip merah di dalam vas dengan yang baru. Tak pernah ia lupa betapa gadis dengan kemeja rumah sakit berwarna biru muda kebesaran itu menggilai bunga yang menggambarkan ketulusan dan kesetiaan. Dia duduk di kursi sebelah Naya. Kembali memandang buku tebal yang sama sekali tak tersentuh siapapun. Sudah dua minggu tapi Naya masih betah membuat orang-orang di sekelilingnya susah bernafas.
“Naya, aku janji akan menjadi Arga-mu kembali jika kau mau membuka matamu.” Arga menunduk seolah memohon di atas tangan Naya yang ditusuk jarum infus.

2 bulan kemudian
Arga masuk ke ruang dimana Naya dirawat. Dia mencium tangan Ibu Naya lalu meletakkan tasnya. Kebiasaan yang tak pernah berubah semenjak Naya hanya berbaring di atas kasur rumah sakit. Rumah sakit seperti rumah kedua Arga dan kamar ini adalah kamar keduanya.
Setelah Arga mengecup puncak kepala Naya dan mengganti tulip, Ibu Naya pergi. Mereka bergantian menjaga Naya setiap hari.

Arga memulai aktivitas barunya. Menggantikan Naya membaca buku-buku yang sudah lama hanya menjadi pajangan. Jangankan belajar, di sekolah saja Arga jarang memperhatikan dan sering membolos. Sekarang dia melakukan ini bukan untuk dirinya sendiri. Naya bisa membaca rangkumannya setelah siuman nanti. Harap Arga.

3 bulan kemudian
Arga membaca cukup keras di samping ranjang Naya. Berharap meski tidak membuka matanya tapi gadis ini bisa mendengarnya. Arga menatap Naya yang tetap terpejam. Dia menutup bukunya dan beralih memperhatikan Naya. Tangannya mengusap rambut Naya yang setiap hari dia rapikan. Meski wajahnya pucat tapi tetap manis di matanya. Arga merasakan nyeri di hatinya setiap menyaksikan pemandangan yang lima bulan lebih dia tonton.

“Naya, kau tidak mau bangun?” Arga selalu mengajaknya bicara walau tahu tidak akan ada jawaban. “Kau tidak lelah terus tidur? Aku saja berbaring seharian membuat tubuhku pegal.” Arga mulai menitikkan air matanya. Pertama kali dia menangis sejak Naya koma. Dia berusaha tetap memasang topeng tegarnya namun dia tidak mampu lagi. “Aku hampir gila membaca buku ini, tidak mau membantuku?”
Beberapa detik Arga menanti suara terdengar atau setidaknya bibir Naya bisa sedikit bergerak tapi lagi-lagi Arga harus menelan pil pahit.

Dia hendak beranjak untuk mengambil tisu tapi dia mendengar lenguhan lirih seorang gadis. Naya. Jelas itu suaranya mengingat tidak ada orang lain di ruangan serba putih itu. Arga kembali duduk dan melihat mata Naya mengeriyip, tangannya bergerak pelan.
“Arga?” Arga tersenyum lebar. Mungkin senyuman terindahnya. Kata pertama yang Naya ucapkan, nama pertama yang dia panggil adalah miliknya.
“Akhirnya.. Terimakasih Tuhan.” Arga segera menekan tombol di dekat dashboard ranjang untuk memanggil dokter.

Naya mengaduk bubur dan supnya asal. Ibunya baru saja kembali ke kantor. Katanya Arga akan segera tiba tapi sampai buburnya hampir dingin pria itu tak juga muncul. Naya baru akan menekan tombol merah di dekatnya namun ia urungkan melihat seorang pria memakai setelan seragam putih abu-abu membuka pintu dengan senyum renyah. Naya berusaha mempertahankan ekspresi kesalnya. Seperti biasa.

“Maaf aku terlambat.” Arga mengecup dahi Naya. Kebiasaan yang entah sejak kapan Arga lakukan tapi Naya menyukainya.
“Aku hampir melewatkan makan siang jika kau tidak datang.” Arga berbalik sambil tersenyum lalu melanjutkan mengganti bunga tulip oranye dengan warna putih. Dia suka membeli bunga berbeda warna setiap tiga hari sekali.
“Aku ini seorang pelajar bukan pelayanmu.” Arga tak henti mengumbar senyum seraya duduk di depan Naya lalu meraih sendok dari tangannya. Menyodorkan satu sendokan bubur ke mulut Naya tapi gadis itu hanya menatapnya heran. “Buka mulutmu. Kau tidak akan kenyang hanya dengan melihatku.” Naya menurut.
“Apa yang kau lakukan saat aku koma?” Naya tak melepas tatapannya dari mata pria yang hampir enam bulan tidak dia lihat.
“Membacakan buku itu untukmu.” Arga menunjuk dengan dagunya. Naya mengikuti arah pandangannya lalu tertawa.
“Kau pasti kesal tapi.. terimakasih.” Naya mengelus tangan Arga. Lalu menunduk. Dia tersipu sendiri dengan tingkahnya.
“Tidak. Aku yang berterimakasih.” Naya mendongak. “Terimakasih sudah kembali. Aku sangat bosan tidak punya teman untuk diajak bertengkar. Bahkan rasanya aku tidak ingin bicara dengan siapapun jika itu bukan kau.” Naya tersenyum sendu. Matanya berair. “Sekarang aku akan menepati janjiku.” Lanjut Arga.
“Janji?” Arga hanya tersenyum sambil mengeluarkan buku tebal bersampul coklat dari tasnya.
“Kita belajar bersama untuk tes masuk universitas.”
“Kau bercanda? Mana ada dokter yang merangkap menjadi anggota geng murahan.” Kalimat pedas Naya kembali. Merusak suasana harmonis mereka.
“Aku sudah keluar.” Naya membelalak. Jelas sulit dipercaya mengingat dulu Naya sempat mengancam untuk berpisah tapi Arga tetap kukuh bergabung di Violent.
“Benarkah?” Hanya dijawab deheman oleh Arga. Jika seperti ini, Naya yakin Arga tidak berbohong. “Apa lagi yang kulewatkan?” Tanya Naya antusias. Rasanya Arganya perlahan kembali.
“Kau melewatkan belajarmu hampir setengah tahun. Jadi bisa dipastikan kau tertinggal jauh olehku.” Ejek Arga.
“Tidak masalah. Aku bisa mencontek darimu saat tes.” Jawab Naya enteng sambil melanjutkan makan sendiri. Arga mendorong dahinya dengan jari telunjuk.
“Bermimpilah, Nona.”
“Baiklah, mulai hari ini aku akan mengejarmu. Aku tidak mungkin kalah dari murid drop out sepertimu.” Tawa mengejeknya yang menyebalkan tapi tetap menarik di mata Arga.

Arga menaruh telapak tangannya di kepala Naya. Gadis itu merasa tenang walau sedikit keberatan. “Aku senang kau masih hidup. Aku mungkin akan ikut mati jika kau pergi.”
“Kau bukan Juliet, Arga.” Naya menatap sekilas wajah Arga yang serius lalu kembali fokus pada makanannya.
“Kalau aku mati duluan apa yang akan kau lakukan?” Arga penasaran.
“Aku akan bunuh diri dengan pedang.” Jawab Naya asal.
“Terdengar seperti romeo dan juliet.” Arga mengernyit.
“Hmm.. Tadi kan kubilang kau bukan Juliet. Kau Romeo. Kau bunuh diri meminum racun hanya karena kau pikir aku sungguhan mati. Padahal tidak. Jadi jangan pernah terburu-buru menganggapku meninggalkanmu.. atau kisah kita akan berakhir seperti mereka.”

TAMAT

Cerpen Karangan: Ennofira
Blog: https://ceritanologi.wordpress.com

Cerpen Bukan Juliet merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Love Song In The Rain (Part 1)

Oleh:
Hujan selalu mengingatkanku padamu. Katamu, hujan adalah malaikat yang turun dari langit. Jadi, hujan adalah anugrah bagi setiap makhluk hidup yang tinggal di permukaan bumi ini. Hujan itu indah.

Duhhh… My Boss!

Oleh:
Aku memandang mukanya sekilas. Sedikitpun nggak ada kesan ramah, beda jauh dengan pak Geri, mantan bosku yang baru resign. Memang sih pak Geri agak pelit, tapi mendingan daripada harus

Laki Laki Masa Lalu

Oleh:
“Menurutmu, seperti apa cinta itu?” “Menurutku, cinta itu seperti awan itu. Putih, indah dan sangat tenang. Kalau menurutku cinta itu seperti awan, bagaimana menurutmu? apa kau berfikir cinta itu

Pelangi di Mata Senja

Oleh:
‘Senja itu apa sih kak?’ ‘Senja itu lembayung.. langit indah dikala sore, tatanan surya kala memasuki belahan lain bumi. Senja itu indah.. seperti dirimu…’ “Senja.. Seenjaaa!!” aku tersentak kaget

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *