Bukan Untuk Satu Alasan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 13 February 2018

Cerita yang belum berujung kebahagiaan, tak akan terlupakan sepanjang jalan khayalan masih dibangun. Penyelesaian masalah ray mulai terlihat hasil yang telah dicapai selama ini, terbentuknya sikap ray yang tidak seperti dulu inilah membuat seina terpuruk ketakutan dalam pikiran dan emosi yang terbentuk karena melihat sikap ray yang berubah semenjak kedatangannya dari kota lain.

“mungkin kamu merasa berbeda dari diri kamu sendiri” ucap seina dengan menahan air matanya turun dan memperlihatkan wajah yang tegar.
Dengan mengalihkan pandangan ke wajah seina, ray pun menjawab dengan tatapan kosong. “emang kamu kira apa yang sudah terjadi selama ini?”.
“aku sudah tak melihat sisi ray yang aku kenal” ucap seina.

Tanpa berkata apa apa ray pun meninggalkan seina seorang diri di bangku taman.
Suara langkah sepatu ray yang beradu dengan kerasnya bebatuan jalan di taman semakin terdengar jelas di telinga seina, hampa dan kesedihan yang dia rasakan semakin mengosongkan pikiran jernihnya tentang cara berpikir untuk menerima kenyataan bahwa ray yang dia kenal dulu telah menghilang jauh di kota terakhir yang ray kunjungi.

Sunyi sepinya sore itu menambah suasana sedih hati seina, riuh suara pepohonan yang tergoyangkan karena angin yang semakin lama semakin membuatnya tak sadarkan diri dengan apa yang telah dia lakukan dengan semua itu.

Suara riuh pepohonan pun berhenti dengan dimulainya rintik air hujan yang turun sedikit demi sedikit air itu pun membasahi tubuh seina yang belum bergerak semenjak ray pergi 30 menit yang lalu.

“berakhirkah semua yang telah kupercayakan bahwa setianya aku menunggu membuat aku gila seperti ini” ucap seina dalam hati, disambut dengan tetesan air mata yang turun menemani sang hujan.
“menunggu yang tak pernah aku akhiri untuk menjemput kebahagiaan bersama ray, apakah sia sia semata. Kesetiaan yang aku tunjukan dengan menunggunya di setiap tetesan embun sampai langit berwarna kuning kemerahan.” ucap seina dengan sedih.
“siang telah kujadikan malam dan begitu juga sebaliknya, yang telah kusimpan baik baik sebuah kesetiaan ternyata berujung sakit”. Kata seina.

Tiba tiba air hujan tidak menyentuh tubuh seina, seakan ada yang membuat dia teduh. Dan ternyata ray kembali dengan sebuah payung berwarna hijau muda, kemudian memayungi tubuh seina agar tidak basah oleh hujan.
Kemudian seina pun menoleh ke arah wajah ray untuk memastikan bahwa dia baik baik saja.
Ekspresi wajah ray yang terlihat lelah membuat seina berpikir untuk menanyakan hal tentang sesuatu yang seina sudah tahu jawabannya, hanya untuk memastikan bahwa jawabannya keluar langsung dari ray.

Kemudian ray pun berkata, “Ayo pulang sei, aku takut kamu sakit karena tadi kehujanan”.
Seina pun berdiri dari posisi duduk di bangku taman tanpa berkata sepatah kata pun, hanya anggukan kepalanya yang menandakan bahwa seina setuju untuk pulang. Dia pun berjalan lenbih dulu di depan ray, tetapi masih di satu payung yang sama menuju rumah seina yang jarak rumahnya tidak jauh dari taman kota.

“kamu pake jaket ya, biar kamu gak kedinginan karena ujan”, bisik ray sambil memakaikan jaketnya yang berwarna ijo lumut.
Dengan cuaca yang saat itu dingin karena hujan yang tak kunjung berhenti, entah kenapa pipi seina memerah karena senang dan cuaca di sekitar mereka berdua tiba tiba jadi hangat. Hanya karena bisikan dari ray tadi. Sepanjang jalan mayor abdurachman, mereka berdua tidak berbicara satu sama lain.

Akhirnya mereka berdua sampai di rumah seina dan tak lama kemudian ray pamit untuk pulang. “Thanks buat hari ini ya sei”, ucap ray yang langsung pergi meninggalkan seina. Dan seina pun berdiri membelakangi tubuh rey, setelah ray berjalan cukup jauh seina menoleh ke arah ray sambil memegang erat jaket ray yang sedari tadi dipakai agar tubuhnya tetap hangat.
Air mata yang jatuh tanpa sengaja dengan melihat langkah ray yang seakan akan pergi menjauhi seina, menandakan bahwa seina tidak mau kehilangan ray.

Kemudian seina pun masuk ke rumah dan bergegas untuk mandi supaya badannya tidak sakit.
Tak mau kehilangan sosok yang selalu dia tunggu sepanjang musim kemarau dan hujan, menunggu yang sangat bisa memecahkan kesetiaan membuat seina menjadi orang yang tangguh dalam menjalani hubungan dengan ray.

Tetesan air hujan yang masih mengalir dan ditemani secangkir cokelat panas, kemudian seina menarik nafas dalam dalam dan menghebuskannya lagi. Pertanda bahwa dia sekarang sedang merasakan kesepian yang mendalam dan kesedihan yang meninggalkan pikiran berlebihannya tentang ray.

“hujan yang seakan mewakili air mata ini untuk membasahi pipi, seakan telah mengerti bahwa keadaanku tak secerah langit di siang tadi sebelum bumi menjadi basah karena air hujan”, kata seina.
Sambil memejamkan mata dan menghirup aroma cokelat yang membuat pikiran dan tubuh seina menjadi hangat lalu meminumnya sedikit demi sedikit.

Tiba tiba handphone seina berbunyi dan terlihat nama ray yang sedang memanggil, kemudian seina menjawab telepon dari ray.
“selamat malam seinaku…” kata rey lewat telepon.
“Aku yang dilanda sepi dengan kabarmu dulu dua bulan sekali dan kamu datang dengan perjumpaan sunyi seperti tadi siang” jawab seina dengan membendung air matanya supaya tidak mengalir di pipi.
“selamat malam juga”, jawab seina.

“penjelasan yang tidak mungkin aku ceritakan, dengan alasan aku ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja saat aku di luar sana” jawab ray.
“tak cukup puluhan dan bahkan ribuan menit, dengan alasan bahwa aku baik dan harus menunggu kabar satu bulan dua kali”, kata seina.
Kemudian sambungan telepon pun terputus.
“kenapa malah putus teleponnya, aku kan masih ingin mendengar suara ray”, kata seina dalam hati.

Langit yang gelap dengan ditemani suara air hujan dan suasana malam, seakan mengerti bahwa sesuatu telah terjadi dengan ray. Seina yang seakan tidak bisa menebak dengan sikap ray yang berubah semenjak kepulangannya dari kota lain.
Hanya kepastian yang menjawab apa yang telah seina pertanyakan dalam hatinya. Dan waktu yang dapat menjawab pertanyaan seina.
Menunggu sesuatu yang telah berada di genggaman seina untuk kembali dalam ingatan seina, untuk menambah apa yang telah dia lakukan selama menunggu dan menjawab kegelisahan seina.

“kepercayaan yang aku gengggam ini tak ingin berujung menjadi berlebihan dalam menanggapi hal negatif dalam pikirku ini”, ucap seina dengan sadar bahwa semua itu hanya ada dalam pikiran seina semata, padahal hanya satu hal yang tidak perlu dipikirkan. Karena sebuah kepercayaan adalah untuk mengingatkan apakah kita akan setia dengan orang yang kita tunggu atau kita yang menunggu itu.

Cerpen Karangan: Astha Pawana
Facebook: astha Pawana

Cerpen Bukan Untuk Satu Alasan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Cinta Sizia

Oleh:
Semua berawal dari cinta. Sejak Sizia menyukai kakak kelasnya, ia jadi melupakan semuanya. Melupakan pelajaran kelas, melupakan hobinya, cita-cita tertingginya, pokoknya semua Sizia lupakan saat kehadiran kakak kelas itu.

Melody Terakhir Buat Awan

Oleh:
“Ga semestinya, Bel.. gue suka sama cowok kaya dia.” Ucapku di sepanjang perjalanan pulang sekolah. “Lu ngomong apa sih? Jangan gitu! Semua orang berhak naruh rasa buat seseorang..” jawab

Teman Terdekat Menjadi Cinta

Oleh:
“Besok jalan gak?” suara Yuda mengagetkan tiba-tiba “besok… hmm nggak dulu deh aku lagi capek, maaf ya Yud” suara ku memelas. “ohh ya udah gak papa, kamu istirahat aja”

Burung Pipit dan Seekor Singa (Part 2)

Oleh:
Aku duduk terdiam menatap danau yang indah sambil tidur di pundak Rafa. Aku merasa sulit untuk meninggalkannya, umpatku dalam hati. Dia mengusap rambutku dengan lembut, lalu mencium keningku. Seorang

Kau Cantik Hari Ini (Part 2)

Oleh:
Beberapa minggu setelah ayahnya sembuh, sebuah permintaan berat diberikan oleh ayah Burhan kepadanya, yaitu menikahi Maria, menurut ayahnya Maria akan menjadi seorang istri yang sempurna, terlebih karena saat ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *