Cincin Putih

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 14 May 2018

Senja mulai datang, bersama rintikan hujan yang sepertinya sudah paham betul tentang hati ini yang sedih.
Dengan ditemani iringan lagu sendu, seakan-akan membuatku mengingat kenangan tempo lalu.
Semenjak aku putus dengan Arifin, belum ada yang mampu membuatku jatuh cinta lagi.

Keesokan harinya, aku bangun dari bunga tidurku.
Aku langsung bergegas membersihkan diri dan mulai sarapan. Walau terkadang aku malas untuk sarapan tapi aku selalu ingat ceramah dari ayahku, “kalau kamu gak mau sarapan, gak ada uang jajan”

Setelah pulang sekolah aku mampir dulu ke rumah teman lamaku.
“Da, sepi amat rumah kamu”, tanyaku.
“Iya nih, gimana kalau kita nyuruh Anam dan Alvia ke sini”, jawabnya.
“Ide bagus itu”.

Aku langsung deg-degan mendengar Fida menyebut nama Anam.
Aku kenal Anam dari kelas 2 smp. Semenjak saat itu Fida dan Alvia selalu saja mencari cara agar Anam dekat denganku. Namun aku selalu malu jika dekat dengan dia dan bahkan kita tak ada yang mengucapkan sepatah kata apapun. Kita sama pura-pura sibuk dengan hp masing-masing.

Semenjak pertemuan hari ini, Anam makin sering menghubungi aku.
Dalam hatiku terasa senang, namun terkadang ingatanku tentang mantanku selalu terbayang. Aku pacaran dengan Arifin selama 1 tahun 3 bulan. Itu adalah waktu terlamaku menjalin cinta dengan seseorang, dan waktu terlamaku juga tak bisa move on.
Dia mutusin aku tanpa sebab yang jelas. Hanya kata “maaf aku tak bisa membahagiakanmu lagi” sebagai perpisahan kami.
Anam selalu saja mengungkapkan perasaanya kepadaku, tapi aku selalu menolak dengan alasan aku belum mau pacaran lagi. Namun dia terus berusaha sampai pada waktu itu kelas 3 sma, entah perasaan apa yang membuatku menerimanya. Dia mengajakku untuk bertemu dan dia berlutut di depanku.
“Ita, aku telah mengenalmu sejak kelas 2 smp. Dari pertama aku mengenalmu, kamu adalah cewek yang membuatku bahagia dan nyaman. Sampai detik ini pun perasaanku tak berubah, aku masih cinta dan sayang sama kamu. Beri aku kesempatan untuk lebih dekat denganmu dan mebahagiakanmu. Will you be my girlfrend?”
Jantungku langsung berdegup kencang dan secara spontan aku menjawab, “Yes, I’ll be”
Seketika itu Anam memelukku.

Tiba saatnya aku harus pisah jarak dengan dia. Saat kita sama-sama lulus sma, dia dan keluargnya memutuskan untuk menetap di Jambi.
Hatiku rasanya sedih.
Sebelum dia pergi, dia mengajakku bertemu.

Saat bertemu, air mataku jatuh.
“Kamu jangan nangis gitu dong Ta, kamu tak pantas untuk menangis. Senyum dong”, hiburnya.
“Gimana aku gak nangis, kamu akan ninggalin aku sendiri di Semarang. Ini bukan beda kota tapi ini beda pulau”, jawabku sambil mengusap air mataku.
“Iya aku tahu, tapi kamu harus tenang, kelak aku akan pulang menemuimu”
“Tapi kapan?”

Anam terdiam dan berlutut di depanku sambil membawa sebuah cincin dari dalam sakunya.
“Ta, meskipun aku tak dapat memberimu cincin emas, tapi terimalah cincin putih ini. Cintaku ini akan selalu tulus dan suci seperti warna putih ini. Peganglah janjiku ini, meskipun kita akan jauh tapi yakinlah bahwa kita akan tetap setia. Alasan utama bukan masalah jarak dan waktu yang memisahkan tapi hati kita yang harus bisa menjaga agar perasaan ini tak pernah berubah”
Aku langsung tersenyum mendengar ucapannya tadi.
“Aku akan menjaga perasaan ini sampai suatu saat kau akan kembali padaku”.
Dia langsung memasangkan cincin putih itu di jari manisku.

Semenjak dia pergi, kita sama-sama sibuk dengan pekerjaan kita masing-masing, namun setiap malam dia selalu menelponku dan setiap bulan tanggal 11, dia selalu mengucapkan anniversary padaku.

The End

Cerpen Karangan: Rosita Setiyani
Facebook: Yani Chagia

Cerpen Cincin Putih merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gengsi

Oleh:
“Tiap hari aku membayangkan kamu, Nadin Dinda Syafitri. Senyuman bibir merah itu, tatap manja itu, desah nafas saat kamu kedinginan, wajah memelasmu menahan ngantuk, hangat genggaman tanganmu, semuanya. Semakin

Roman Raisa, Bukan Roman Picisan

Oleh:
2018… Awal musim semi di London, suhu udara di sini masih berkisar 8-12 derajat celcius, sisa-sisa musim dingin masih terasa. Namun suhu sekian ini tak mampu lagi membuatku menggigil.

Cinta 70an

Oleh:
Sebutan anak 70an untuk seseorang di jaman globalisasi ini pasti bisa membuat seseorang depresi. Pikirkan saja, di jaman yang serba modern ini dipanggil sebagai “anak 70an” sama saja kalau

Selamat Tinggal January

Oleh:
“Lo tahun baru mau kemana, Vir?” Tanya Rena padaku. “Entahlah. Mungkin Papaku ngajakin ke tempat bersalju untuk menghabiskan bulan pertama di tahun baru disana.” Jawabku singkat. Sesungguhnya aku malas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *