Cinta 70an

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 10 August 2013

Sebutan anak 70an untuk seseorang di jaman globalisasi ini pasti bisa membuat seseorang depresi. Pikirkan saja, di jaman yang serba modern ini dipanggil sebagai “anak 70an” sama saja kalau dia di panggil sebagai seseorang yang “kuno/ketinggalan jaman.” Tapi, buat ku panggilan itu malah biasa saja. Aku malah menganggap panggilan itu bisa berarti selama ini orang di sekitarku masih memperhatikanku (buktinya masih komen sama penampilanku, hehe).

Oh ya, namaku Mia. Sekarang ini aku kelas XI IPA di sekolah yang termasuk favorit di daerahku. Panggilan anak 70an ini berawal dari hari pertama sehabis liburan kenaikan kelas, saat itu sedang berlangsung pelajaran bahasa indonesia dan kebetulan Pak Yusuf lagi membahas tentang drama. Satu persatu dari dari kelas ku dibaca karakter wajahnya. Ada yang cocok sebagai tante-tante, orang yang gak pernah bisa kaya, bos besar, ustadz, dan banyak lagi. Sampai ke barisanku, saat Pak Yusuf membaca karakter wajahku tiba-tiba temanku langsung berkata, “Mia cocoknya jadi seorang ibu, Pak.” Sontak semua mengiyakan perkataan Nida. “iya ibu yang ada di tahun 70an,” ucap Pak Yusuf. “Nah, Ali itu yang cocok sebagai guru di tahun 70an,” sambung Pak Yusuf. Semua langsung tertawa riuh sembari menyetujui karakter aku dan Ali. Kelas ku sekarang bukan belajar tentang karakter di drama lagi, tapi sudah menjadi acara perjodohan (gubrak). Mungkin karena penampilanku sangat sederhana dibanding teman-temanku yang lain, bahkan untuk pakai bedak pun aku sedikit anti, kalau disuruh pakai bedak, aku pasti memakai yang paling tipis sampai-sampai seperti gak ada pakai bedak.

Sejak itu aku jadi sedikit canggung dekat-dekat dengan Ali, karena teman-temanku langsung mengejek aku dan Ali sebagai pasangan 70an. Panggilan itu terus menggentayangi aku. Tapi semenjak panggilan itu, aku dan Ali menjadi semakin dekat apalagi Ali adalah orang yang aktif dan lucu, terlebih dia perhatian dan sering sekali menolongku. Ada-ada saja lelucon yang dibuatnya di kelas saat pelajaran kosong bersama Nida, Ani dan Amah. Ali paling suka dengan lagu 70an kalau tidak salah yang judulnya ‘payung hitam’ (maaf kalau judulnya salah). Sambil menatap ke arahku yang membuatku jadi salting (salah tingkah maksudnya.. hehe).

“ehmm… Mi, apakah salah kalau aku memberikan sebuah hadiah istimewa kepada seseorang,” tanya Ali. “Kenapa salah? Justru itu akan membuatnya bahagia. Asalkan kamu memberikan hadiah itu bukan karena harganya yang mahal, karena hadiah itu akan istimewa kalau kamu memberikannya karena hatimu.. hehe,” jawabku sembari memberi senyum. “ciyeee… buat siapa tuh?” sambung ku menggoda Ali. “ada deh, mau tau aja,” ucap Ali dan langsung pergi menjauh. “Hei.. cerita dong buat siapa,” ucapku sambil mengejar Ali tapi tak dihiraukannya. Baru kali ini Ali merahasiakan suatu hal dariku dan entah kenapa hal itu membuatku semakin penasaran. Yang jelas aku tau, seorang Ali tak kan pernah mengatakan sebuah hal yang sangat berharga pada orang lain sampai waktu yang tepat. Mungkin saat yang tepat entah kapan itulah aku baru bisa tau apa yang dirahasiakan Ali.

Aku dan Ali sering berbagi dalam berbagai hal terutama cerita-cerita lelucon, ditambah lagi kemeriahan acara curhat atau lelucon itu apabila ada Nida dan teman-teman lainnya. Karena di kelas itu kami saling berbagi cerita, setiap ada sesuatu hal yang terlihat unik selalu saja bisa dijadikan hal lelucon karena kelas kami terkenal sebagai kelas yang banyak tertawa tapi tetap sedikit serius ditambah bumbu tahun 70an semakin riuh tertawa di kelas ini.

Sampai akhir perjalanan kami di SMA. Saat acara perpisahan kelas XII pun berlangsung meriah, banyak penampilan dari kelas X, XI dan XII dari band, dance, grup vokal, eits kelas kami juga gak kalah penampilannya loh, apalagi kalau tidak drama dan bintangnya siapa lagi kalau gak anak 70an yang dibarengi dengan lelucon yang menjurus tentang pendidikan saat ini memakai kebaya (untuk cewek) dan memakai stelan pakaian putih celana hitam (untuk cowok). Ku pandang guru-guruku yang selama ini telah banyak memberikan ilmu dan mendidik kami agar menjadi pribadi yang baik. Tak terasa aku akan berpisah dengan sahabat-sahabatku yang telah bersama dalam canda dan duka. Disela-sela acara perpisahan itu kulihat Ali asyik ngobrol dengan seseorang. Ternyata Ali ngobrol dengan mamaku. “Ngapain dia ngobrol sama mama,” gumamku sambil berjalan menghampiri mama dan Ali. Melihat aku menghampirinya, Ali langsung menjauh sambil memberikan sebuah senyuman kepadaku. “Mama, ngapain?” tanyaku. “Nggak apa-apa, cuman ada kejutan kecil kata Ali saat penutupan acara perpisahan nanti,” jawab mama sambil tersenyum yang menurutku senyuman itu tak biasa.

Cek..cek.. “Assalamualaikum, selamat siang semua,” kata Ali di atas panggung. Semua yang hadirpun langsung memperhatikan kearahnya. “Hari ini adalah hari terakhir kami sebagai siswa kelas XII berada disini. Tapi pada hari ini saya meminta izin dan doa kepada semua yang hadir disini untuk memulai sebuah hal baru yang istimewa sebelum acara perpisahan ini berakhir. Sebelum saya menyampaikan hal istimewa itu saya ingin seseorang yang bernama Mia Anida Putri untuk menemani saya di depan,” kata Ali dan turun dari panggung menghampiri dan menjemputku ke atas panggung. “Ada apa ini?” ucapku bingung, namun Ali hanya diam dan orang-orang yang hadir pun riuh bersorak.
“Hari ini, di depan orang tua saya, guru-guru saya, orang tua siswa yang lain, teman-teman dan semua yang hadir disini terutama orang tua dari Mia, saya memberanikan diri untuk mengungkapkan sebuah hal yang sudah 3 tahun ini saya pendam,” ucap Ali. Semua langsung hening dan akupun terdiam bingung sepertinya mulutku ini terkunci tak bisa berkata apapun. Tiba-tiba Ali mengeluarkan sebuah cincin. “Mia, selama 3 tahun aku terus memendam rasa ini. Setiap kali aku ingin mengungkapkannya, hatiku selalu tak sanggup. Selama 3 tahun aku terus memperhatikan, selalu ingin melihat kau tersenyum. Selama 3 tahun ini aku telusuri semuanya, sampai akhirnya aku menemukan sebuah titik terang dari kedua orang tuamu dan dari sebuah panggilan anak 70an. Dan sekarang di depan kedua orang tuaku dan orang tuamu aku ingin memberi cincin ini sebagai tanda keseriusan hatiku ini padamu. Saat ini aku memang belum memiliki apapun, tapi aku akan berusaha mulai sekarang sampai tahun-tahun kedepan untuk bisa membahagiakanmu dengan usahaku. Aku berada di depan sini bukannya ingin menjadikanmu sebagai pacarku. Aku ingin cintaku ini seperti cinta di jaman 70an yang tak ingin menjadikanmu sebagai pacarku. Tapi.. maukah kau menyempurnakan hidupku ini dan menjadi calon istriku?” ucap Ali. Aku sama sekali tak menyangka hal ini akan terjadi secepat ini. Aku terdiam sejenak dan melihat senyum ibuku seakan menguatkan perasaanku. “Aku…” Semua mata seakan memandangku dan memberi sebuah harapan bahwa jawabanku adalah ‘iya.’ “Aku menerimanya,” jawabku sambil tersipu malu. Semua orang langsung riuh dan tersenyum. Apa ini sebuah mimpi. Mungkin inilah mimpi yang selama ini aku harap terkabul dan ibuku terlihat sangat bahagia.

Cerpen Karangan: Nia Kurnia Latifah
Facebook: Nia Kurnia Latifah
Suka membaca komik dan nonton film, dan sedang belajar menjadi penulis.

Cerpen Cinta 70an merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Untukku (Part 2)

Oleh:
Hari semakin petang. Segera kukembali ke rumah. Pikiranku melayang. Entalah apa yang kupikirkan. Aku butuh waktu sendiri. Kali ini aku tak langsung pulang. Aku menuju sebuah taman yang cukup

18 Days (Part 2)

Oleh:
Masih mencengkeram tanganku dia bertanya, “Dari mana kamu? Kenapa hp-nya nggak aktif?” Cengkeramannya semakin kuat sedikit sakit. “Aku dari taman bacaan, nggak aktif? perasaan aktif kok,” jawabku dengan suara

Rain

Oleh:
Langit semakin temaram, raja siang sudah tak terlihat lagi biasnya. Tertutup tebalnya gumpalan awan abu-abu tua yang entah berapa detik lagi akan menitihkan rintik-rintik air. Beberapa pedagang asongan mulai

Pengorbanan Cinta Sejati

Oleh:
Aku termenung di kamarku. Menangisi keadaanku saat ini. Bagaimana tidak, seorang yang aku cintai pergi meninggalkanku. Aku mengambil sebuah figura dan ku lihat foto di dalamnya. Aku mengingat bagaimana

Kado Terindah

Oleh:
Hari ini, tepat seminggu setelah terakhir Riki memberi kabar kepada Puput. Terakhir ia hanya mengirim pesan “sayang, lagi ngapain?”, hanya itu. Puput benar-benar heran dengan perubahan Riki yang kian

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *