Cinta Bisu Untuk Si Tampan (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sejati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 August 2019

Cinta. Berbicara tentang cinta tak ada habisnya. Setiap orang memiliki arti yang berbeda-beda mengenai cinta. Ada yang bilang cinta adalah anugerah. Ada yang bilang cinta adalah malapetaka. Namun, adakah satu dari kita pernah mencapai puncak kesetiaan cinta? Cerita berikut adalah sebuah fakta puncak kesetiaan itu sendiri.

Nisa namanya. Cantik. Kulitnya putih langsat. Ketika berada di kegelapan malam, ia bersinar layaknya berlian. Ketika ia tersirami cahaya, silau terpancarkan. Setiap siswa di SMA Negeri 3, pasti jatuh hati padanya saat pertama kali melihatnya. Namun, setelah mengetahui kebenarannya, satu per satu dari sekian siswa yang jatuh hati itu mundur. Kenapa? Memang tak ada yang sempurna di dunia ini. Nisa. Ia bisu.
Karena kekurangannya itulah, kini ia mendapat julukan aneh dari teman-temannya. Ia dipanggil si bisu. Terkadang, ia mendapat hinaan yang teramat parah dari beberapa siswi yang memang tidak senang dengan keberedaan Nisa. Kadang juga ada yang sampai keterlaluan menjahilinya. Dan juga para siswa ada yang menjadikannya sebagai bahan tertawaan mereka.

Pada suatu ketika, Nisa berjalan menuju ruang perpustakaan. Jam pelajaran sedang kosong, para guru sedang rapat dan tak bisa mengajar. Oleh karena itu, Nisa memutuskan untuk belajar ke ruang perpus.
“Cantik! Mau ke mana?” goda beberapa siswa yang memang belum mengetahui penyakit gadis bernama Nisa. Nisa hanya terdiam dan terus melangkah. Gerombolan siswa itu pun segera mengikuti Nisa. Tak mau menyerah.
“Kok diam aja, Cantik? Boleh kutemani?” godanya lagi. Salah satu dari mereka bahkan ada yang sampai berani mencolek Nisa. Nisa pun mempercepat langkah kakinya. Namun, para siswa bandel itu tak menyerah.
“Sombong banget, sih! Kita kan cuma mau kenalan,” katanya lagi tampak sewot.
Nisa semakin mempercepat langkah kakinya. Ruang perpus sudah deket. Batin Nisa. Akhirnya, hanya beberapa langkah lagi Nisa sampai di ruang perpus. Namun, sebelum mencapai pintu perpus, salah satu dari gerombolan siswa bandel itu meghentikan Nisa. Digapainya tangan Nisa. Tak dibiarkannya Nisa melangkah lebih jauh. Nisa segera berbalik arah sambil berusaha melepaskan lengannya.
“Eh! Sombong banget, sih, kamu!” kata lelaki itu dengan nada yang tinggi. Nisa tertunduk menatap lantai. Lengannya masih terbelenggu.
Kemudian, dilepasnya lengan Nisa oleh lelaki berandal itu sambil berkata, “Sori!”
Nisa masih terdiam menatap lantai. Sedikit demi sedikit pandangannya mulai naik, sampai dilihatnya sosok lelaki tadi. Tampan. Mungkin satu kata itu yang ada di benak Nisa. Namun, kenapa lelaki setampan dia malah tidak punya sopan santun. Dan memperlakukan perempuan semau-maunya.
Nisa pun mengangguk di hadapan lelaki tampan itu, kemudian masuk ke ruang perpus. Sementara lelaki berandalan itu, ia terdiam sejenak.
“Yuk, balik! Semuanya ngebosenin. Nggak seru!” perintah lelaki itu pada teman-temannya.

Arul namanya. Sosok lelaki tampan. Arul merupakan siswa berandal di sekolah. Ia selalu bolos pelajaran. Setiap gadis di sekolah itu pernah memiliki perasaan terhadap Arul. Itu karena ketampanan Arul yang memang sudah mencapai tingkat internasional. Walau sifatnya yang sangat malas, ada beberapa gadis di kelasnya yang mau saja diperintah oleh Arul. Contohnya, saat ada tugas, Arul selalu memerintah beberapa gadis di kelasnya untuk mengerjakan tugas miliknya. Dan gadis-gadis itu pun ada yang saling berebut. Namun, begitulah Arul, ia tak pernah benar-benar jatuh cinta pada seorang gadis. Menurut pandangannya, semua perempuan di belahan dunia mana pun adalah sama. Perempuan selalu ingin memiliki kelebihan lelaki. Mereka tak pernah mencintai begitu tulus. Dan karena itu, berpacaran hanya akan menjadi ajang pamer bagi setiap perempuan.

“Rul! Aku balik, ya. Ada urusan sebentar,” kata Fadhlin pamit pada Arul.
“Wih, sudah mau balik aja. Baru aja nyampe,” balas Arul.
“Iya. Soalnya mendadak ada urusan, nih.”
“Urusan apa, sih?”
“Urusan. Si Silvi, mau ngajakin keluar jam segini.”
“Oh, gitu. Ya udah kalau emang gitu. Hati-hati, ya.”

Walau Arul memang banyak memiliki teman, dan orangtuanya juga adalah orang kaya, namun semua itu tak menutup kemungkinan bahwa Arul adalah lelaki kesepian. Kekayaan materinya justru hanyalah malapetaka baginya. Pernah dia berpikir, jika ia tak berasal dari keluarga kaya, apakah teman-temannya masih ingin mengikutinya?

Malam itu, Arul sedang suntuk. Ia bosan berdiam diri di rumah besar itu dengan hanya seorang pembantu yang selalu setia menyiapkan kebutuhan Arul. Ia pun keluar rumah guna mencari udara segar. Arul berjalan, melangkah pelan menuju sebuah taman di komplek perumahannya. Pikirannya mulai menerawang wajah gadis bernama Nisa. Padahal kalau dia senyum aja, pasti bakal kelihatan cantik. Batin Arul.

Kedua mata Arul tiba-tiba tersorot ke sebuah kursi panjang di seberang taman. Di kegelapan itu, terpaku sesosok gadis seorang diri. Oh, gadis itu ternyata sedang melamun menatap sang langit yang indah dengan sang rembulan yang bersinar terang. Arul menunduk menatap rerumputan di taman. Kedua matanya sibuk mencari sesuatu. Sebuah batu kecil. Kini sebuah batu apung kecil berada di tangan Arul. Dilemparnya ke sosok gadis itu. Gadis itu sontak terkejut setelah batu yang dilemparkan Arul mengenai kepalanya. Dan kini, kedua mata gadis itu sibuk mencari-cari asal batu itu.

Arul melangkah menuju gadis bernama Nisa itu. Pelan. Begitu pelan. Hampir tak ada suara pada langkah kakinya. Begitu sampai, segera Arul duduk di samping Nisa. Nisa pun merasa ada keberadaan seseorang di dekatanya. Nisa menolehkan pandangannya. Dan yang ditemuinya adalah Arul. Nisa terkejut. Ia menatap heran pada Arul sebelum ia bergeser memberi ruang untuk Arul.

Suasana tertelan keheningan. Detak jantung Nisa semakin cepat. Ia takut. Dipejamkannya kedua matanya sambil terus memohon agar tidak terjadi sesuatu padanya. Bagaimana tidak takut? Arul. Ia adalah sosok berandal di sekolah yang sering menggoda Nisa ketika bertemu. Bukankah suatu kebetulan bahwa dia bisa bertemu malam ini dengan lelaki berandal itu.
“Jangan takut! Nggak bakal kuapa-apain, kok,” kata Arul memecah suasana mencekam itu. Nisa tak percaya. Nisa tetap menjaga jarak. Ia waspada dengan segala sesuatu yang akan terjadi pada dirinya.
“Udah kubilang, kan. Nggak bakal kuapa-apain. Jangan takut gitulah. Aku sudah kaya’ penjahat kel*min aja di mata kamu,” Arul tertawa kecil. “Maaf, ya. Aku minta maaf karena selalu ganggu kamu di sekolah. Aku nggak bermaksud jahat sebenarnya,” lanjut Arul.

Nisa tampak heran. Namun, ia sedikit lega mengetahui sifat lembut Arul. Seperti biasa, Nisa tak menjawab. Sampai saat ini, Arul belum tahu bahwa Nisa ternyata tidak dapat berbicara.
“Nggak di sekolah. Nggak di sini. Kamu tetap aja nggak mau ngomong sama aku, ya. Apa sebegitu bencinya kamu sama aku?” tanya lagi Arul tanpa memandang ke arah Nisa. Nisa terpancing. Ia ingin sekali membantah kalau sebenarnya ia tidak pernah membenci Arul. Hanya saja, selama ini Nisa takut padanya karena reputasinya di sekolah sebagai berandalan.

Arul mendongakkan kepala, menatap bintang-bintang di langit.
“Hmmm. Ya sudah kalau gitu. Mulai sekarang, aku nggak akan ganggu kamu lagi. Di sekolah atau pun di mana aja. Sebelumnya aku minta maaf, ya. Namaku Arul,” Arul bangkit dari duduknya. “Sampai jumpa, ya,” lanjut Arul seraya menatap Nisa yang hanya terdiam saja.
Arul melangkahkan kaki pelan, namun perlahan hilang di kejauhan ketika Nisa tak henti-hentinya menatap Arul. Kini, sosok lelaki tampan itu sudah sepenuhnya menghilang dari pandangan Nisa. Nisa menghela napas panjang. Kemudian, ia segera terbangun dan melangkah untuk pulang.
Sebenarnya Nisa tidak malu untuk berbicara menggunakan bahasa tubuh kepada Arul. Dia hanya tidak ingin Arul mengejeknya setelah mengetahui yang sebenarnya.

Malam semakin larut. Kedua mata Nisa masih bertahan dalam rasa kantuk. Ia terduduk di sebuah sofa pada ruang tamu. Nisa tersenyum ketika pikirannya menerawang peristiwa beberapa jam yang lalu. Senyum itu, senyum yang selalu diharapkan Arul untuk terus terpancarkan.

Saat jam istirahat di kantin sekolah. Arul bersama teman-temannya sedang berkumpul. Biasanya, Arul selalu meminta uang pada teman-temannya. Malak istilahnya. Namun, entah mengapa Arul akhir-akhir ini sering sekali melamun. Kadang ia senyam-senyum sendiri tanpa sebab. Teman-teman Arul pun merasa kalau ada yang tidak beres dengan Arul yang biasanya selalu jadi yang terdepan memalak anak-anak di kantin sekolahnya.

“Rul. Kamu kenapa, sih? Akhir-akhir ini kamu sering ngelamun nggak jelas. Ada apaan, sih?” tanya Fadhlin. Arul tersadar dari lamunannya.
“Nggak kenapa-kenapa, Bro. Lagi bosen aja akhir-akhir ini. Nggak ada yang baru. Selalu kaya’ gini setiap harinya,” keluh Arul seraya menghela napas panjang, menunjukkan kebosanannya pada yang lain.
“Gawat! Kaya’nya kamu butuh sesuatu yang baru, Rul!” seru Ivan.
“Apaan emang?” tanya Arul penasaran.
“Kamu perlu jatuh cinta sama seseorang, Rul. Mungkin aja itu bisa buat kamu nggak bosen. Kaya’ aku nih. Di setiap harinya, walau pun hari-hari yang kujalani selalu monoton, tapi Ratih selalu ada buat aku, Rul. Dan aku… langsung bersemangat dibuatnya,” jelas Ivan tampak seru.
“Gitu, ya,” jawab Arul singkat seraya bangkit, kemudian berlalu pergi meninggalkan teman-temannya.
“Yah! Marah tuh si Arul,” kata Fadhlin lirih. “Gara-gara kamu nih Van,” lanjut Fadhlin.
“Kok aku? Aku kan cuma mengutarakan pendapatku,” bantah Ivan.

Nisa, si gadis bisu itu tampak sedang fokus belajar di ruang perpustakaan sekolah. Nisa memang sangat jarang ke kantin, seolah ia menjauh untuk bergaul dengan teman-teman sekelasnya. Nisa memang selalu sendiri. Karena penyakitnya itu, ia jadi kurang dalam komunikasi. Terkadang, guru-guru dan teman-temannya tak mengerti dengan apa yang dimaksud Nisa saat berbicara dengan bahasa tubuhnya. Oleh karenanya, ia jadi terasingkan oleh siswa-siswa lainnya.

Ketika sedang fokus-fokusnya, tiba-tiba Nisa mendengar sesuatu di balik jendela perpustakaan.
“Husss! Husss!!!”
Nisa semakin penasaran dengan suara yang didengarnya. Nisa terbangun, kemudian melangkah menuju jendela perpustakaan. Kepalanya menyembul, melirik ke kiri dan kanan.
“Ini aku!”
Nisa terkejut. Ternyata si lelaki tampan, Arul.
“Kamu lagi sibuk, ya?” tanya Arul. Nisa menggelengkan kepalanya.
“Kalau gitu. Boleh ikut aku sebentar?” pinta Arul tulus. “Kalau nggak mau nggak apa-apa, sih,” lanjut Arul tampak tak percaya diri.
Nisa terdiam sejenak. Berpikir. Dianggukkan kepalanya tanda setuju menerima ajakan si lelaki tampan.
“Kalau gitu, aku tunggu di pintu perpus, ya!” kata Arul kemudian segera melangkah menuju pintu perpustakaan.

Cerpen Karangan: Imron Rosyadi
Blog: imrontraveling.blogspot.com

Cerpen Cinta Bisu Untuk Si Tampan (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Just Trust Me

Oleh:
Hai, nama gue Adrenalin Push Gerald. Kalian bisa panggil gue Rald. Tau gak kenapa gue disebut ‘Crazy Boy’ di sekolah ini? Ya karena gue orangnya petakilan. Hahahahahaha. “Adrenalin Push

Cinlok SMP

Oleh:
Nama gue Aska. Gue sekolah di SMA swasta di Jogja. Gue cakep, pinter, cool, dan gue juga jago main futsal. Kata nenek gue sih gitu. Gue mau ngomongin tentang

Keinginanku Bersilat

Oleh:
“Ma apakah aku bisa bersilat”, “mungkin suatu saat kau akan bisa bersilat, kau hanya perlu berusaha, berusaha dan berusaha. Kau hanya perlu berjuang dengan keras anakku Rangga. Kau kan

Won’t Stop

Oleh:
Aku meremas kesal buku tulisku. Tak kupedulikan isi dan sampulnya yang lecek. Seluruh tubuhku terus terpaku pada sebuah artikel yang dipajang di mading. Kertas artikel yang menjadi headline itu

Story From Gading

Oleh:
“Kau mau tahu bagaimana liburanku selama seminggu ini?” Tanya Gading. “Tergantung ceritanya menarik atau tidak.” Jawabku. “Aku yakin, kau pasti akan terbawa dengan apa yang ku ceritakan ini.” katanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *