Cinta Bisu Untuk Si Tampan (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sejati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 August 2019

Nisa segera mengembalikan beberapa buku yang dibacanya ke rak perpus. Kemudian, Nisa melangkah keluar dari perpus. Ternyata Arul sudah menantinya di sana. Nisa segera melangkah menuju Arul. Kini, Nisa berada di hadapan Arul.
“Yuk!” kata Arul kemudian berjalan. Nisa mengikuti di belakang Arul dengan mimik wajah penasarannya.
Nisa harap-harap cemas sebenarnya. Ia masih takut dengan si Arul. Namun, jika Nisa perhatikan lagi, Arul sudah tidak seperti dulu lagi. Nisa pikir sekarang Arul terlihat lebih dewasa dan berwibawa. Sikap kasarnya juga sudah tidak terlihat sama sekali. Jadi, itulah yang membuat Nisa mau menerima ajakan Arul.

Di lantai 4 bangunan sekolah yang tak terpakai, Nisa dan Arul berdiri seraya memandang ke bawah. Arul belum mau membuka mulutnya. Ia sesekali memandangi Nisa. Curi-curi pandang.
“Nama kamu Nisa, kan?” Arul mulai berbicara. Sementara itu, Nisa mengangguk pelan.
“Jadi, kenapa kamu nggak mau ngomong? Apa kamu masih marah sama aku?” tanya Arul. Dengan sigap Nisa menggelengkan kepalanya.
“Lagi-lagi cuma mengangguk dan menggeleng. Padahal aku berharap kalau kita bisa berkomunikasi secara normal. Dengan begitu, aku bisa mendengar cerita kamu. Dan pendapat kamu tentang aku,” jelas Arul berwajah datar. “Sebelumnya kamu pernah nggak ke lantai 4 ini? Aku sering ke sini kalau aku sedang bosan. Memandang dari atas sini, aku bisa melihat banyak hal,” lanjut Arul. Kini, pandangan Nisa dan Arul tertuju ke langit cerah berawan.
“Dulu, aku pernah melihat kamu dari atas sini. Kamu tersenyum. Entah saat itu kamu bahagia karena apa. Tapi, saat itu aku senang melihat senyum kamu. Sudah lama sebenarnya aku mau berkenalan sama kamu, terus ngajak kamu ke tempat ini,” ungkap Arul.

Nisa sedikit terkejut mengetahui kebenaran itu dari Arul. Namun, apa yang harus dilakukan oleh Nisa? Ia bingung. Ia sama sekali tak dapat membalas perkataan Arul. Nisa ingin membuka mulut saat itu. Ia bersiap-siap. Dihela napasnya pelan. Namun, Arul mendahului Nisa. “Nis! Makasi sudah mau nemani aku. Kalau kita bisa ngomong secara normal. Mungkin, aku akan banyak bercerita tentang kehidupanku ke kamu. Kehidupan aku yang tak memiliki rasa. Kebosanan aku dan segala keluh kesahku. Tapi, mungkin cukup sampai di sini. Aku juga paham. Kamu pasti masih marah sama aku.”
Bukan. Aku nggak marah sama kamu! Aku sama sekali nggak marah. Tapi…
Nisa membatin dalam hati. Ia benar-benar tak tahu harus berbuat apa.
“Nis! Aku balik dulu, ya!” Arul segera berjalan menuruni tangga dan lenyap dari pandangan Nisa.
Nisa tertunduk sedih. Mungkin juga perasaan kesal kini hadir membalut jiwanya.

“Nisa!”
Nisa segera menundukkan kepala, dilihatnya sosok tampan itu lagi. Arul sudah ada di lantai 1. Ia tersenyum ke arah Nisa sambil melambaikan tangannya. Dengan perlahan, Nisa pun mengangkat tangannya, kemudian dilambaikannya, membalas lambaian tangan si lelaki tampan, Arul.

“Eh, kamu tahu nggak?”
“Kenapa kenapa?”
“Si Arul, berandalan sekolah kita. Katanya kemarin ada yang lihat dia sama si bisu.”
“Hah?! Serius?!”
“Iya. Kok mau-maunya si Arul yang ganteng itu deket sama si bisu.”
Beberapa siswi bergosip ria di pagi hari. Gosip tentang Arul yang dekat dengan Nisa tersebar begitu cepat. Gosip itu pun sudah sampai ke telinga Nisa. Namun, Nisa tak peduli akan gosip buruk yang beredar tentangnya. Sementara itu, gosip tersebut belum sampai ke telinga Arul.

Sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan pintu gerbang sekolah. Seorang lelaki tampan turun dari mobil hitam elegan itu. Ia adalah Arul. Sedan hitam elegan itu pun segera melaju sesaat setelah Arul turun dan memberikan isyarat. Arul mulai melangkah masuk ke dalam sekolah. Ketika baru saja melewati kantin sekolah, tiba-tiba, “Arul!” seru segerombolan siswa. Mereka adalah teman-teman yang selalu bersama Arul. Arul menolehkan pandangannya mencari sumber suara. Kemudian, menghampiri teman-temannya.
“Pagi, Bos,” ucap Ivan pada Arul.
“Pagi, Bro. Ada apa? Masuk kelas, yuk!” ajak Arul kemudian.
“Tunggu bentar, Bro! Kamu sudah tahu nggak ada gosip menyebar tentang kamu?” seru Fadhlin.
“Gosip? Gosip apaan?” tanya Arul penasaran.
“Gosip kalau kamu deket sama si Nisa. Cewek yang pernah kita gangguin itu, lho,” balas Fadhlin.
“Oh yang itu. Itu bukan gosip lagi, sih. Itu memang fakta,” jawab Arul tenang.
“Jad-jadi bener?!” tanya lagi Ivan kaget.
“Iya. Memang kenapa, sih?” tanya Arul heran.
“Kamu belum tahu kalau… si Nisa itu… bisu, Rul?” tanya Ivan lirih, tampak ragu-ragu.
“Apa?! Bi-bisu kamu bilang?! Eh, jangan becanda kamu, Van!” nada suara Arul tiba-tiba meninggi. Sontak Arul meremas kerah seragam Ivan.
“Sori sori, Rul. Aku nggak bermaksud…”
“Sori. Aku kebawa suasana,” Arul segera melepas genggaman tangannya dari kerah seragam Ivan. “Aku masuk dulu,” lanjut Arul. Ia segera melangkah pergi dari hadapan kawan-kawannya.
“Lagi-lagi kamu bikin mood Arul berantakan, Van,” ucap Fadhlin.
“Ya, sori. Aku nggak bermaksud begitu. Aku, kan, cuma…”
“Ya udah. Kita jangan ikut campur lagi urusan Arul. Mungkin dia sudah mulai mengenal cinta sedikit demi sedikit karena cewek itu. Kalau memang kaya’ gitu, kita harus bersyukur, Van,” jelas Fadhlin tersenyum tipis.

Saat melangkah menuju kelasnya, Arul memang merasakan sesuatu yang aneh. Ya. Setiap siswa yang melihatnya selalu berbisik-bisik tidak jelas. Itu sudah pasti karena gosip yang beredar. Namun, peduli amat tentang mereka. Begitulah Arul. Justru Arul berpikir bahwa dirinya memang bodoh karena tidak menyadari bahwa Nisa ternyata bisu. Di dalam hati, ia terus menyalahkan dirinya sendiri.
Begitu bodohnya aku. Kenapa aku tidak menyadari hal kaya’ gitu. Seharusnya aku sadar saat dia tidak pernah mau menjawab pertanyaanku. Sial!
Arul terus membatin menyalahkan dirinya sendiri. Ia mempercepat langkah kakinya, ingin menemui Nisa ke kelasnya.

Sesampainya di kelas Nisa, ternyata Arul tak menemukan sosok indah itu.
“Ada yang tahu Nisa ke mana?” tanya Arul pada teman-teman sekelas Nisa.
“Nisa? Tadi Nisa sempat masuk kelas. Tapi, setelah itu nggak tahu dia ke mana.”
Mendengar pernyataan itu, Arul pun segera berlari mencari sosok indah itu. Entah ke mana. Namun, ia mencari Nisa ke setiap tempat di sekolah. Beberapa saat mencari, Arul tak juga menemukan Nisa.
Ke mana dia?

Berlari. Arul berlari menuju sebuah tempat yang terpikirkan di benaknya. Satu-satunya tempat yang sering Arul kunjungi untuk menghilangkan kebosanannya. Tempat tersebut ada di lantai 4 bangunan sekolah yang sudah tak terpakai. Dengan terburu-buru Arul menaiki tangga menuju lantai 4.
“Nisa!” panggil Arul. Napasnya tak teratur. Terengah-engah. Nisa, gadis itu kemudian menolehkan pandangannya. Ia pun melempar sebuah senyuman pada Arul. Tentunya, sebuah senyuman yang selalu ingin dilihat oleh Arul.
“Kamu di sini ternyata?” Arul mencoba lebih dekat. Nisa pun menganggukkan kepalanya.
“Maaf! Aku nggak menyadari…”
“Enggoak,” akhirnya Nisa menunjukkan suara miliknya. Walau yang keluar hanya satu kata, namun Nisa telah menunjukkan seberapa pantas Arul mendengar suaranya. Nisa pun sudah beruhasa keras mengeluarkan suara itu.
“Nggak. Kamu nggak perlu maksain diri kamu ngomong sama aku. Aku benar-benar…”
Tiba-tiba Arul menghentikan perkataannya. Dilihatnya Nisa sedang menulis sesuatu. Kemudian, ditunjukkannya pada Arul coretan tersebut.
“Kamu nggak salah. Maaf, aku yang terlalu takut untuk memberitahu kamu tentang kekuranganku. Maaf, suaraku memang jelek. Aku sudah kaya’ gini sejak kecil”, seperti itulah apa yang tertulis pada kertas yang ditunjukkan Nisa pada Arul.
Begitu memilukan ketika mengingat awal pertemuannya dengan Nisa. Arul terus menerus tenggelam ke dalam kesedihan. Bukan sedih sebenarnya. Ia hanya tenggelam oleh suasana hatinya. Semakin pikirannya menerawang kejadin masa lalu awal pertemuannya dengan Nisa, Arul semakin dipilukan olehnya.

Nisa membalikkan buku yang dipegangnya, kemudian mulai menulis lagi. Ditunjukkannya lagi pada Arul coretan itu.
“Nama kamu Arul, kan? Aku bahagia kamu nggak menjauhiku. Kamu orang pertama yang mencoba dekat, tapi nggak pergi setelah mengetahui kekuranganku. Padahal sebenarnya dulu aku takut sama kamu. Si berandalan sekolah yang terkenal karena kenakalannya. Tapi, sekarang aku sudah nggak takut lagi. Dan aku bahagia. Terimakasih, Rul”.

Setitik air mata jatuh membasahi lantai. Arul. Si berandalan sekolah itu meneteskan air mata mengingat kekonyolannya waktu itu. Namun, tidak terpungkiri lagi bahwa saat ini ia bahagia karena senyum itu dapat dilihatnya lagi. Seakan senyum si gadis bisu menjadi pengiring tangis Arul, si berandalan sekolah.

Ketika kamu tidak memedulikan kekurangan pasanganmu. Maka, kamu akan sampai pada puncak kesetiaan. Segala uji dan coba, akan terlewati disaat kamu dan pasanganmu menjalani suatu ikatan itu dengan tulus dan penuh keyakinan. Jadi, adakah dari kita yang pernah sampai pada puncak kesetiaan cinta?

CINTA BISU UNTUK SI TAMPAN.
By: Imron Rosyadi

Cerpen Karangan: Imron Rosyadi
Blog: imrontraveling.blogspot.com

Cerpen Cinta Bisu Untuk Si Tampan (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hantu Kamar Mandi

Oleh:
“Hayo.. Kalau bak duduk! Jangan berdiri! Setelah selesai disiram yang bersih!” suara serak kakek tua itu kembali terdengar dengan begitu jelas di telinga Romi dan Didu. Sudah tiga kali

Teman Pertama

Oleh:
Sebelum aku memulai cerita ini, pertama-tama, aku harap kalian tidak mengharapkan apa pun dari cerita yang akan ku sampaikan ini, terlebih lagi dari diriku. Bisa dibilang ini bukanlah sesuatu

Inikah Cinta

Oleh:
Namaku Gristina Aprilia Galuh Panuntun. Umurku kini 15 tahun, lebih tepatnya seragam putih abu-abu ada padaku sekarang. Ya, sudah menuju sikap labil memang. Tapi Cinta? Ah, Aku sangat tidak

Risalah Hati (Part 2)

Oleh:
“Kita begitu berbeda dalam semua hal, kecuali dalam cinta…” Begitu yang ia ucapkan saat aku sedang mengerjakan PR yang Pak Thamrin berikan siang tadi. Ia datang dan mendekatiku

Aku Memang Tak Sempurna

Oleh:
Banyak orang menganggap diriku sebelah mata. Seakan mereka tak pernah mempedulikan betapa sakitnya hatiku. Hinaan. Cacian. Ejekkan pedas. Itulah yang mereka lakukan kepadaku. Apa salahku?, batinku menjerit keras. Nayanty

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Cinta Bisu Untuk Si Tampan (Part 2)”

  1. moderator says:

    klimaks di ending ceritanya so sweet banget ya Ron ^_^

    ~ Mod N

  2. dinbel says:

    kerens sosuwits & sukses buat aku terharu. good job deh untuk pengarangggggg.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *