Cinta Dalam Secangkir Matcha

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 23 October 2017

Birmingham, 25 Februari 2017
13.00 GMT
Aku memandang angin kencang yang berhembus di luar dari dari jendela kamarku. Hari ini cuaca di seluruh Inggris Raya sedang tidak bersahabat karena serbuan Badai Doris. Secangkir matcha latte hangat menjadi temanku siang ini. Aku selalu menyukai matcha latte, meskipun sulit untuk memperolehnya di sini.

Inggris memang terkenal dengan tradisi minum teh. Aku harus mengakui teh di sini memang enak dan layak untuk dinikmati. Sesekali aku melakukan tradisi Afternoon Tea, bersama dengan teman-teman sekelasku. Afternoon Tea adalah saat di mana kami mengobrol santai bersama secangkir teh, yang dicampur sedikit susu, dan camilan-camilan dalam nampan tingkat tiga atau three tier.

Meskipun aku menikmati teh ala Inggris, tetap saja aku lebih menikmati waktu bersama secangkir matcha latte. Kalau ada tiga hal yang menjadi favoritku, aku akan memilih hujan, matcha latte dan musik pop-opera. Seperti saat ini. Aku memandang hujan deras bercampur angin, ditemani secangkir matcha latte dari bubuk yang aku seduh sendiri, dan lantunan Everytime I Look at You dari Il Divo.

Kombinasi yang membangkitkan memori. Memori tentang cinta dalam secangkir matcha, bersama dia yang berada di Jakarta. Duta Matcha Latte. Begitulah Rangga memanggilku. Bagaimana tidak, jika setiap kali kami pergi ke kafe, aku selalu tak lupa memesan matcha latte. Dan aku selalu cemberut ketika dia memilih kafe yang tidak menawarkan menu matcha latte. Rangga hanya tertawa. Aku tahu terkadang dia melakukannya dengan sengaja, untuk menggodaku.

Enam bulan sudah aku menempuh pendidikan di Inggris. Meninggalkan keluarga dan teman-temanku di Jakarta. Meninggalkan Rangga. Hubungan kami memang sudah berakhir, tapi tidak dengan perasaanku terhadap dia. Kami memutuskan untuk berpisah baik-baik. Keputusanku untuk melanjutkan pendidikan di sini menjadi alasan utama kami untuk berpisah. Aku tidak ingin Rangga menungguku, aku ingin dia menemukan orang lain untuk bahagia. Apalagi orangtua Rangga sudah memintanya untuk segera menikah. Sesuatu yang tidak bisa aku penuhi.

Tapi bukan berarti aku bisa dengan mudah melupakan dia dari hatiku. Aku telah mencoba kencan dengan beberapa pria selama tinggal di sini. Dan sampai saat ini, belum ada satu pria pun yang bisa menggantikan posisi Rangga di hatiku. Sesekali, aku diam-diam suka tersenyum saat mengingat semua hal bodoh yang dilakukan oleh Rangga. Seperti ketika dia tidak sadar memakai celana jeans untuk presentasi di depan calon clients. Atau ketika dia menjadi penunjuk arah saat kami liburan di Bali, yang berakhir dengan kesasar sampai akhirnya aku yang menemukan jalan untuk pulang ke rumah sepupu Rangga.

Well, Rangga memang dikaruniai ingatan jangka pendek untuk beberapa hal. Untunglah dia tidak pernah lupa tanggal ulang tahunku. Tanggal yang selalu dia ingat, bersama dengan tanggal ulang tahun orangtua dan adiknya. Ini membuatku merasa spesial. Lagipula, aku memiliki daya ingat yang sangat kuat. Aku dengan senang hati mengingatkan Rangga tentang hal-hal penting yang kadang dia lupakan. Setiap pagi aku selalu menelepon Rangga, memastikan dia ingat dengan semua agendanya, memastikan tidak ada barang yang tertinggal untuk dibawa ke kantor.

Rangga juga yang membantuku untuk dapat kuliah di sini. Dia dengan sabar menemaniku belajar untuk Tes IELTS dan juga mengoreksi motivation letter-ku. Dia mendukungku untuk meraih mimpiku akan pendidikan yang lebih tinggi. Pada saat itu, kami masih berpikir kalau ini tidak akan mengganggu hubungan kami di masa depan. Sampai saat orangtua Rangga meminta Rangga untuk menikah secepatnya. Awalnya Rangga bersikeras menungguku menyelesaikan kuliah. Aku terharu dengan sikap Rangga. Tapi aku tidak boleh egois. Jika dia berhasil menemukan wanita lain, aku ingin dia bahagia.

Dan di sinilah aku sekarang. Meskipun sudah enam bulan berlalu, Rangga masih ada di dalam hatiku. Setiap hari aku berharap nama dia muncul di layar telepon genggamku. Seperti yang terjadi setahun lalu. Penantianku tentu saja sia-sia. Permintaanku kepada Rangga agar dia tidak menghubungiku ditanggapi dengan serius olehnya. Mungkin dia sudah menghapus nomorku, nomor yang masih tetap aku pertahankan di sini, dengan harapan Rangga akan meneleponku.

Aku menghela nafas saat mendengar telepon genggamku berdering. Berpikir kalau ini pasti Michelle yang ingin mengajakku ke perpustakaan bersama seperti biasa, aku sempat tertegun melihat nama yang tertera di layar. Rangga.

Jakarta, 25 Februari 2017
20.00 WIB
Aku menyukai Jakarta dikala akhir pekan. Tidak ada kemacetan panjang seperti hari-hari biasa. Aku bahkan bersumpah udara Jakarta jauh lebih bersih di hari Sabtu seperti ini. Membuatku begitu menikmati berjalan dari Bundaran HI menuju ke kawasan Sudirman. Malam ini cuaca Jakarta sedang cerah, setelah sempat diterjang banjir. Sayang, tidak demikian dengan suasana hatiku.

Aku merindukan Kirana, gadis yang saat ini berada sepuluh ribu mil dari tempatku untuk menempuh pendidikan di Birmingham, Inggris. Aku sudah berusaha keras untuk tidak menghubungi dia lagi. Aku tidak ingin mengganggu pendidikan dia di sana. Meskipun berat bagiku untuk menghilangkan senyum tulus Kirana dari pikiranku. Sejak dia pergi, aku berusaha mengurus diriku sendiri. Aku mencatat setiap hal penting ke dalam agendaku, karena tidak ada lagi Kirana yang mengingatkanku setiap pagi. Ya, aku memang sangat pelupa. Tapi rupanya sulit bagiku melupakan Kirana.

“Selamat malam, mau pesan apa, Kak?” pelayan di sebuah kedai kopi di kawasan Sudirman menyambutku dengan ramah. Aku membaca menu yang mereka tawarkan. Mataku langsung tertuju pada satu menu. Matcha latte. Minuman kesukaan Kirana. “Spaghetti carbonara, dan… matcha latte…”, jawabku sambil mengembalikan buku menu.

Bukannya aku tidak mencoba. Aku sudah berkali-kali dikenalkan dengan banyak wanita. Sejujurnya mereka semua secara fisik lebih cantik dari Kirana. Dan lebih modis tentunya. Sangat berbeda dengan Kirana yang selalu nyaman hanya dengan jumper, celana jeans, dan sneakers. Anehnya aku tidak pernah berkeberatan dengan itu. Aku menyayangi dia apa adanya. Kepribadian Kirana telah membuatku jatuh cinta. Dan aku tahu dia juga merasakan hal yang sama. Tidak seperti gadis lain yang tertarik dengan profilku sebagai pengacara sukses di usia muda.

Orangtuaku menjadi alasan utamaku untuk berjuang mencari pengganti Kirana. Mereka menginginkan aku segera menikah, mengingat usia mereka yang semakin menua. Aku menyayangi orangtuaku, karena itulah aku selalu berusaha mengenal setiap gadis yang mereka kenalkan. Tapi terkadang kita tidak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta. Meskipun mereka semua cantik, baik, dan berasal dari keluarga terpandang, aku tetap tidak bisa menghapus Kirana dari hati dan pikiranku. Ekspresi Kirana setiap kali matcha latte pesanannya datang telah terpatri kuat di dalam memoriku.

Malam ini entah kenapa aku ingin “menyiksa” diriku dengan kenangan akan Kirana. Aku memesan matcha latte kesukaan gadis itu. Aku ingin mengingat Kirana dengan baik. Bagiku, dia lebih dari sekedar kekasih. Kirana adalah gadis yang membuatku keluar dari zona nyaman. Tidak ada lagi Rangga, si anak orang kaya yang egois. Dia berhasil membuatku menjadi Rangga, seorang pengacara muda yang mau membela rakyat kecil tanpa dibayar.

Aku menghirup aroma matcha latte yang telah dihidangkan di depanku. Aroma yang semakin membuatku tenggelam ke dalam kenangan bersama Kirana. Sayup-sayup aku mendengar suara gerimis yang mulai turun di luar, seolah berlomba dengan musik pop opera yang sedang diputar di kedai kopi ini. Semua ini semakin membuatku teringat pada Kirana. Dia menyukai matcha latte, hujan dan musik pop opera. Aku sedih mengingat setiap momen yang kami lewati berdua.

Kemudian semua terjadi begitu saja. Aku tidak bisa menjelaskan apa yang mendorongku untuk mencari nama Kirana di telepon genggamku. Aku masih memiliki nomer Indonesia dia. Aku berharap nomor ini masih bisa dihubungi. Diawali dengan menghela nafas panjang, aku mencoba menghubungi Kirana. Ternyata tersambung.

“Halo…” aku mendengar suara Kirana di seberang sana. Suaranya masih tetap jernih, meskipun dia ada di sisi lain bumi ini.
“Hai… Kirana…”

Kupandangi secangkir matcha latte di hadapanku dan tersenyum.

Cerpen Karangan: Cesty
Blog: cestynurtribuana.blogspot.com

Cerpen Cinta Dalam Secangkir Matcha merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lengkapi Diriku

Oleh:
CINTA tak berwujud… Namun membuahkan banyak drama.. Tersenyum, gelisah, sendu, berbunga bahkan air mata.. Semua erat dengan istilah cinta… Bola mata sayu sedikit demi sedikit terbuka. Sejenak kuhela nafas..

Kau Cantik Hari Ini (Part 1)

Oleh:
“Mas, ada sedikit masalah dengan kereta yang akan ke Jakarta, mungkin perjalanan akan ditunda satu jam, mas sudah sampai di stasiun?, atau jika tidak mas bisa pulang dulu, nanti

Gara Gara Batik

Oleh:
10 Juli 2013 Hari dimana aku mengenalnya. Aku heran dengan semua ini. Aku hanya mengagumi kostum yang dia pakai dan warna yang ku sukai. (sensor akun). Tiba-tiba nama itu

Karena Hujan

Oleh:
Hujan turun lagi membasahi langit langit rumahku. Kali ini hujanya deras. Jalanan terlihat sepi. Hanya percikan percikan air yang kini dapat kulihat. Awalnya hujan sangat menyebalkan bagiku. Tidak bisa

Jatuh Hati

Oleh:
Aku rebeca, siswi menengah atas yang telah mematikan saklar cintaku.Tapi apalah daya, jika aku malah jatuh hati pada muridku sendiri. ‘ada ruang hatiku yang kau temukan Sempat aku lupakan,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *