Cinta Itu Beda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 12 September 2017

Tik …
Yang lelaki bernama Beda. Memang dia beda dengan lelaki manapun. Wajahnya tidak bulat juga tidak oval. Bentuk rahangnya tergambar jelas. Membuatnya terlihat jantan namun tidak menyeramkan karena ketampanannya menutupi segala hal buruk yang ada padanya. Dia bersandar, namun bahunya terlihat kaku dan sorot matanya memperlihatkan sedikit kegelisahan.

Tik …
Di sebelahnya terlihat Ninta juga sedang bersandar namun dia terlihat lebih acuh. Tangan mereka bersentuhan namun tak saling berpengangan. Hanya ujung jarinya saja yang bersentuhan.

Tik …
Beberapa waktu berlalu begitu saja tanpa suara. Entah karena capai selesai olahraga atau memang mereka sedang marahan. Benar-benar sepi dan hampir tak ada kata di antara keduanya.

Tik…

“Nin …”
“Be …”
Hampir bersamaan mereka memanggil.

“Berapa lama sebenarnya waktu yang dibutuhkan bagi sebuah hubungan? Apakah harus lama biar bermakna? Apakah harus singkat biar tidak terperangkap pada kejenuhan?” Beda mengucapkan kalimat itu begitu saja tanpa menoleh sedikit pun ke arah Ninta.
“Sudah aku katakan sejak lama. Aku tidak menunggu apa-apa. Mau lama atau sebentar itu tidak masalah toh kita sudah menjalaninya selama 4 tahun. Empat tahun itu bisa dikatakan sebentar namun juga bisa dikatakan lama. Tergantung dari segi apa dan sisi mana kita melihat. Aku hanya ingin kamu seperti yang lain, seperti cowok lain yang begitu mudah menggandeng tangan pasangannya. Aku cuma pengan kamu romantis. Coba kamu hitung, dalam waktu setahun terakhir berapa kali kamu mengatakan cinta sama aku? Sekalipun tidak Be. Aku hanya ingin kita seperti pasangan lain. Itu saja.” Kalimat-kalimat itu mengalir dari mulut Ninta seperti tanpa jeda. Ninta tak menghiraukan apakah Beda mendengar, mampu mencerna dengan baik setiap kata yang diucapkan atau tidak. Seperti muntahan yang dia tahan selama berjam-jam keluar begitu saja.
Selesai mengucapkan itu Ninta berlalu. Berlari kecil meninggalkan Beda yang hanya tertunduk.
“Nin, apa kita tidak bisa bicara sebentar? Sebentar saja.” Teriak Beda namun sia-sia karena Ninta memang benar-benar berlalu begitu saja.

Tik…
Belum begitu siang. Sepasang burung pipit bermain di atas rumput hijau, terbang rendah mengitari lapangan. Kembali turun, saling mematuk dan berkejaran. Sedangkan aku hanya sendiri dan iri melihat kemesraan mereka. Ada alasan kenapa aku tetap tinggal. Tentunya bukan karena aku ingin melihat kemesraan burung itu. Tidak mungkin aku berlari dan mengejar Ninta. Dia gadis tegas dan mandiri. Kalau aku berlari dan memaksanya menjawab pertanyaanku bisa-bisa aku akan kehilangan dia dalam hidupku. Dia gadis dewasa yang tidak bisa dipaksa. Memang dia terlihat sedikit angkuh, namun hal itu yang membuatnya terlihat beda dengan wanita manapun dan membuat banyak pria jatuh hati.

Tik tik …
“Katanya jam 12 mau ke rumah Dita. Jadi nggak?” Tiba-tiba Ninta sudah berdiri di samping Beda. Mengucapkan kalimat itu seperti tidak punya dosa dan seperti baru saja tidak terjadi apa-apa. Beda menyambutnya dengan senyum juga seperti tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Siang-siang sepasang remaja berjalan bergandengan tangan. Tidak jelas siapa yang menggandeng dan siapa yang digandeng. Semua terjadi begitu saja.

Tik …
Tepat jam 12 Beda sudah berdiri di depan rumah Ninta dengan kaos kumal dan celana belelnya. Begitu juga Ninta. Setelah pintu dibuka, terlihat gadis cantik dengan bungkus yang tak kalah kumal dengan pasangannya. Ya, mereka memang pasangan serasi. Sederhana dan apa adanya. Namun semua itu tidak membuat mereka terlihat buruk.

Tik tik tik tik tik tik …
Matahari terlihat malu-malu berjalan pelan ke arah barat. Hampir tiga jam mereka ngobrol di rumah Dita. Mereka bertiga memang sahabatan.

“Ke pantai yuk Dit biar cepet sembuh” ajak Ninta.
“Gila aja. Bukan sembuh malah tambah parah demamnya.” jawab Dita.
“Ya sudah, mungkin ini memang jatah waktunya kita buat berduaan Nin.” sahut Beda tegas namun terlihat malu-malu.
“Udah-udah sana cepetan pergi. Keburu sore. Aku mau tidur, pusing liat ulah kalian” usir Dita.

Tik …
Pendar-pendar jingga mulai terlihat di langit barat, tanda senja hampir tiba. Sampai kami di sebuah pantai. Letaknya di sebelah selatan kota Yogyakarta. Susana pantai tidak begitu sepi namun nyaman dan kami begitu menikmati deburan ombak dan hembusan angin yang tidak begitu keras. Tangan Beda meraih tangan Ninta. Mengaitkan setiap sela jarinya, mengenggam, dan mereka bergandengan. Kali ini bukan lagi masalah siapa yang menggandeng dan digandeng karena jelas-jelas Bedalah yang mendahului.

“Apakah kamu mencintaiku karena aku cantik?” tiba-tiba saja Ninta melontarkan satu kalimat yang hampir membuat Beda tersedak.
“Tidak” dengan cepat Beda menjawab.
“Lalu?’
“Aku mencintaimu karena ketidaktahuan. Jikalau aku mencintaimu karena kecantikanmu, aku akan kawini semua wanita di dunia. Bukanlah setiap wanita terlahir cantik?”
Dengan mata penuh tanya Ninta menatap Beda. Namun yang ditatapnya tak menghiraukannya. Beda terus berjalan tanpa melepaskan gandengannya dan matanya menatap nanar ke depan.
“Kalau perlu aku akan perk*sa anjing phomerian tetangga sebelah. Tidakkah anjing itu cantik Ninta?”
Ninta melongo mendengar jawaban Beda. Jawaban yang aneh dan tak pernah terpikirkan oleh Ninta.

“Sayang, aku bicara sama kamu. Kenapa kamu diam saja?”
“Sayang?” Ninta berdesis lirih
“Bukankah anjing itu cantik Ninta?” Beda mengulangi pertanyaanya.
“Yang benar saja!” seru gadis di sebelah Beda.
“Ya, benar. Ninta, bagiku ketidaktahuan adalah kegairahan. Ketidaktahuan membuatku bergairah. Kegairahanku untuk mencari kepastian seperti leluhur kita Adam dan Hawa. Ketidaktahuan adalah sumber kehidupan manusia yang membuat mereka bergerak serta bertindak. Tidakkah cinta merupakan pertanyaan juga Ninta?”
“Beda …”
“Aku belum selesai Ninta. Bukankah ini yang kamu harapkan? Kamu suruh aku untuk menjadi seorang yang bukan pendiam dan romantis. Jangan salahkan diriku karena tidak romantis. Romantisme bagiku seperti perangkap, tidak pernah hakiki. Cinta tidak membutuhkan romantisme tetapi romantisme sedikit banyak membutuhkan cinta. Romantisme adalah raga dan tak harus kuperbuat. Tidakkah demikian Ninta?”

“Raga tentu saja hanyalah sekumpulan daging yang tersusun dari ribuan syaraf dan ditopang tulang. Kesemuanya bermuara pada otak. Jadi dimanakah cinta? Aku dengar sudah beribu cara digunakan untuk sekedar mengetahui di mana letak cinta. Setahuku tak seorang pun tahu persis di mana letak cinta berada. Setiap orang mempunyai tempatnya sendiri kukira. Seseorang bilang cinta ada di hati. Tapi kamu tahu hatiku mungkin saja sudah rusak akibat ciu. Jadi kupikir cintaku tidak mungkin terletak di sana atau mungkin masih tersisa. Aku tidak tahu.”

“Seseorang lain bilang cinta itu ada di mata. Mungkin pendapat itu benar juga. Bukankah apa yang kita lihat dapat merubah perasaan kita? Tentu saja kita lebih memilih melihat hal yang menyenangkan bukan? Kenyataan adalah hal yang kita saksikan lewat indera penglihatan kita. Kita harus percaya itu. Apapun itu.”

“Semua berawal dan berpusat dari otak. Seorang lain mengatakan itu. Otak mungkin adalah organ paling berguna yang diciptakan Tuhan. Orang tidak mampu berbuat apapun tanpa otak. Begitu pula dengan binatang. Otaklah yang mengirim rangsangan dan perintah melalui jutaan syaraf untuk membuat manusia berbeda. Setiap manusia seperti yang kutahu masing-masing berbeda dalam bertindak. Bahkan antara aku dan kamu. Kita sering berbeda dalam bertindak. Apakah cinta berada di otak? Apakah cinta adalah semacam rangsangan dari otak?”

“Cintailah aku Ninta. Cintaku jauh dalam jiwa sangat dalam, sendiri dan menunggu. Diam di sebuah dasar, remuk harapan bepilar mimpi. Kau benar Ninta, cintaku adalah kerapuhan diriku sendiri. Karena itu aku membutuhkan cintamu. Bukan matahari yang aku butuhkan saat ini untuk menerangi hidupku, semuanya jelas, terang tapi terkadang bimbang. Tetapi kebimbangan adalah manusiawi. Kebimbangan adalah milik manusia. Begitu pula dengan keteguhan. Bantulah aku. Suatu saat di antara waktu adalah kita dan ketika senja adalah obor hidup kita menjelang malam serta pada saat sepi waktu. Yang kuinginkan adalah celoteh kita tentang segala masa. Bersama kita berlari, menari, dan jangan pernah pergi.”

“Bila waktu adalah bilangan maka tak terhitung berapa banyak yang kita kumpulkan. Kita bersama bertekun dan berdamai dalam bilangan waktu. Tapi aku tidak pernah berpikir tentang waktu. Entah mengapa aku menyerah pada waktu. Waktulah pemenangnya Ninta. Hariku adalah terang dan gelap. Bila hari terang tiba baiklah kita semai tunas milik kita, biarkan mentari merah menjadi saksi persemaian kita. Gadisku, ayolah! Bersama kita taburi tunas kita dengan pedih dan tawa. Biarlah mereka bersemi. Yang kulihat adalah harapan. Ketika hari pun menjadi gelap, baiknya kita tinggalkan ladang semaian kita dan biarkan alam menjagai tunas kita.”

“Kemarilah Ninta, berhentilah sebentar duduklah di sampingku!” dengan tangan tetap bergandengan Beda menarik pelan lengan Ninta dan kini di tepi pantai yang indah mereka duduk berdua di hamparan pasir basah.

“Kita rasai manis udara ini. Dan pada suatu waktu kita harus berbicara pada yang maha menguasai. Deraskan doa terima kasih kita Ninta. Berdoalah mintalah pada Dia semoga berkenan memberi kita kuasa hidup atas daging, tulang dan organ di dalamnya. Ninta, tetaplah bersamaku. Yang ada padaku hanyalah kebodohan manusia, kepintaranku pun sebatas manusia. Cinta yang ada padaku pun hanyalah cinta manusia biasa. Menikahlah denganku gadis!”
Tak ada satu patah kata pun yang terlontar dari mulut gadis di sebelah Beda karena memang Beda tidak mengharapkan jawaban berupa kata.

Cerpen Karangan: Riska WIkant
Blog: riskawikant.wordpress.com

Cerpen Cinta Itu Beda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Lewat Kamera

Oleh:
Pagi yang cerah untuk mengawali hari ini dengan bersekolah sebagai siswi SMA Nusa kelas 10 C. Ditemani oleh teriknya mentari, sejuknya angin di pagi hari, dan secangkir kopi hangat

Escape

Oleh:
Aku tak tau berapa lama bisa bertahan dalam keadaan ambigu ini. Setiap keputusan menimbulkan luka, setiap tatapan menyiratkan rasa bersalah. Sudah hampir sepuluh bulan, tatapku pada kalender di atas

Kau Lupa?

Oleh:
“Tunggu!” Aku menahan tangannya. Ia berbalik. Tanpa jawab. Dengan jelas raut wajahnya dapat kubaca, apa lagi? “Tak bisakah kau sedikit memutar waktu kebelakang?” “Tidak, aku terlalu sibuk untuk mengerjakan

Sebelum Kau Pulang

Oleh:
Kau bilang duniaku ada di sana. Di sampingmu. Lalu biarkanlah aku menetap, di tepi. Pusing aku, semakin hari semakin bising. sama seperti hari-hari yang makin padat, kau tenggelam dalam

Love Is Not Just A Feeling

Oleh:
“hal pertama yang aku lakukan saat memasuki tempat baru adalah menikmati indahnya langit dari atap dan langit dari kampus ini benar-benar indah dengan angin yang sangat lembut”. Ucap seorang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *