Cinta Lembayung Senja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 7 June 2017

Terlihat matahari yang sudah mulai turun, menandakan bahwa waktu malam tiba, tepat di sana, pinggir trotoar aku berdiri. Aku berdiri karena sedang memperhatikan wanita berparas cantik itu, manis jelita. Aku kenal namanya Gendis, perasaan ini selalu membuatku gugup, gugup bagai patung. Tidak berani menghampirinya. Tetapi entah mengapa hatiku menarikku untuk menghampirinya, tidak bisa kukendalikan diriku ini. Langit menjadi lembayung di atas, akhirnya kuberjalan ke sana di seberang trotoar menghampirinya, ku duduk di bangku yang sama, ia pun juga duduk di sebelahku. “sungguh… sungguh!!” kataku dalam hati, badanku gugup seperti patung tak satu kata pun keluar dari mulutku. Kemudian ia mengatakan “ada apa ke sini” katanya, sambil tersenyum, ku lihat senyumnya, sungguh manis.

Kami berbincang biasa di sana, aku pandang daerah sekitar jalan ini sepi sekali hanya orang-orang berjalan lalu lalang, kesana kemari, angin menghembuskan dedaunan ke arah kami. Ranting-ranting berbunyi bagai simfoni, kulihat ia duduk memandang langit, aku ingin bicara padanya kenapa ia selalu berdiri di sana ketika senja tiba, aku masih penasaran tapi aku gugup karena melihat matanya yang indah ketika kami berhadapan, kurasa ia berdiri melihat senja karena banyak burung-burung terbang dengan indah, tapi apa mungkin ia menunggu burung-burung tiap senja tiba? Tidak mungkin, seperti kurang kerjaan, atau menghabiskan waktu dengan duduk menunggu malam tiba, daerah ini memang ketika malam datang lampu-lampu lentera menyala, suara-suara orang yang berdagang di sini.

Beranekaragam warna-warna di jalan, apa lagi ketika malam minggu datang, kerumunan orang datang menghabiskan waktu dengan berbincang pada kerabat atau berjumpa dengan kawan dan berkumpul, bahkan ada pasangan kekasih di sini. Tapi aku tak yakin, coba pikir saja wanita sendiri di sini, untuk apa coba dan apa yang dilakukan di sini? Mendengarkan suara angin saja. Dari pada aku memikirkan hal-hal yang aneh-aneh saja, lebih baik aku bertanya padanya, ketika aku ingin bicara dan saat itu juga anak-anak kecil berlarian di dekat kami, salah satunya terjatuh dan kakinya berdarah dan dengan sekejap ia menolong anak itu dengan tangannya yang lembut penuh dengan rasa kasih sayang itu. Ia membersihkan luka, kulihat ia, hatiku mulai kagum padanya.

Ketika ia selesai menolong anak itu dan kembali duduk di sampingku, dalam hatiku “aku harus bertanya, ini kesempatan yang bagus” kataku, aku bertanya padanya “mengapa kau selalu berdiri tiap senja tiba” kataku, kulihat ia menunduk, tampak malu menjawab pertanyaanku yang aku lontarkan itu. “aku hanya ingin melihatnya” kata gendis, pikiranku sama dengannya, aku berdiri tiap senja karena ingin melihatnya, aku lihat pertama kali ia, rasa cinta tumbuh di hati seiring berjalannya waktu, cinta itu bersemi di hatiku, cinta pertamaku, wanita yang kusuka selama ini.

Angin berhembus, sejuk rasanya, kicauan burung-burung kecil yang bertengger di dahan pohon dengan kaki kecilnya, hembusan angin itu bagai lagu di telingaku, seperti alunan ombak di laut, inilah rasanya ketika cinta pertama datang di hati. Suara-suara itu musik yang indah, seperti semesta sedang mengalunkan musik dengan alaminya, suara ranting juga ikut berbunyi aku menikmati suara itu, ia juga sepertinya menikmatin alunan angin berhembus. Ini kesempatan yang bagus untuk menunjuk padanya. “aku akan melakukannya” kataku sambil gugup, ya karena ini hal pertama bagiku, aku belum pernah melakukannya, karena ia adalah cinta pertama, wanita pertamaku.

Aku keluarkan setangkai bunga mawar berwarna merah, aku yakin ia menyukai mawar merah, warnanya merah merona, tanganku gemetaran memegangnya, karena ini hal pertama dalam hidupku, ku menunduk di hadapannya dengan mengengam bunga mawar itu “apa kau mau jadi kekasihku? Gendis, aku sudah lama menyimpan rasa ini ketika pertama kali kita berjumpa di seberang trotoar, aku selalu memperhatikan dirimu, ini sebabnya aku selalu berdiri tiap senja” kataku kepadanya, ia membalas jawabanku “ini juga sebabnya aku menunggu senja tiba, karena ingin melihatmu, hanya melihatmu, aku mau menjadi kekasihmu” jawab gendis dengan suara lembutnya dan senyumnya yang manis, kulihat sorot matanya yang indah dan mukanya yang memerah karena malu.

Di senja ini cinta bersemi d ihadapan lembayung langit itu, cinta aku terbalaskan saat senja datang, akan kukenang dalam hatiku ini sebagai cinta lembayung senja.

TAMAT

Cerpen Karangan: Vetti Octaviana
Facebook: vetti.octaviana

Cerpen Cinta Lembayung Senja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Burung Pipit dan Seekor Singa (Part 1)

Oleh:
Sangat sulit menjelaskan mengapa aku sangat mencintainya. Kesempurnaan yang begitu nyata dari segi fisiknya. Namun, pengorbanan yang tak begitu tulus membuatku selalu mengalah. Tapi aku yakin suatu saat nanti

Beautiful In White

Oleh:
Pada malam itu aku melihat sesosok perempuan dengan pakaian putih, tapi dia berwajah cantik dan berkelakuan sangat baik. Kriing alarm berbunyi, ternyata perempuan yang aku temui semalam itu hanya

Simpul Kebahagiaan Dalam Hujan

Oleh:
Hujan punya cerita tentang kita. Hujan tau bahkan mengerti bagaimana aku merindukanmu. Malam itu langit mendung. Hujan pun perlahan menampakan jati dirinya melalui rintikan-rintikan indah yang menyentuh tubuhku. “Ayo…”

Karena Hujan (Part 2)

Oleh:
Tak beberapa menit kemudian ada invite di bbmku (ya pasti gue terima.) “Gimana es creamnya enak gak?” tanya ko nico dibbm. “Enak orang jelas kesukaan gue.” jawabku. “Besok pagi

Dibalik Kacamata Andre (Part 1)

Oleh:
“Bukan begitu Shintia?” Pak Iwan yang adalah dosen yang kebetulan mengajar pagi itu mengagetkan Shintia ketika mendengarkan materi kuliah. “I-iya pak.” Shintia menegakkan kepalanya. Sementara hampir seisi kelas menahan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *