Cinta Tak Pernah Salah (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 24 November 2016

Senyum manisnya, suaranya dan gerak tubuhnya begitu menarik di mataku, entahlah ada apa denganku tapi melihat pria itu datang setiap pagi dan sore membuatku selalu betah memandanginya. Seperti sore ini pria itu juga datang ke cafe tempatku bekerja bersama gadis kecil yang memanggilnya ayah dan seorang wanita dewasa yang kuyakini sebagai istrinya. Mungkin aku sudah gila yah itulah yang kupikirkan tentang diriku sendiri bagaimana mungkin aku terpesona pada pria yang sudah berkeluarga ah bukan hanya terpesona saja, aku rasa sepertinya aku sudah jatuh cinta padanya.

“Berhentilah memandangi pelangganku seperti itu” bisik seseorang di telingaku.
Aku berbalik mendapati orang yang berbisik adalah Andra kakak laki-lakiku sekaligus pemilik cafe ini. Aku manyun ke arahnya dan kembali memperhatikan pria itu.
“Lama-lama kepala pria itu bisa bolong karena selalu kamu tatap dengan mata lasermu itu Manda” bisik kak Siska.
Aku berbalik menatap kak Siska kakak iparku yang menatap ke arah pria itu juga. Yah kak Siska adalah istri kak Andra dan mereka berdua memutuskan mendirikan cafe ini setelah mereka menikah dengan menguras tabungan mereka sebagai pegawai bank bertahun-tahun. Aku melirik malas ke arah suami istri ini yang melarangku menatap pria itu tapi sekarang justru merekalah yang menatap pria itu. Aku menepuk pundak kedua orang itu agar kembali bekerja dan ampuh kedua orang itu langsung kembali ke posisi masing-masing, kak Andra kembali ke dapur sedangkan kak Siska kembali ke meja kasir.

Mouse cafe yah disinilah aku bekerja sebagai pelayan tapi sebenarnya aku lulusan secertary tapi karena aku tak kunjung dapat pekerjaan meskipun sudah hampir 2 tahun lulus jadi mau tak mau aku harus jadi pelayan di sini demi memenuhi uang saku yang kak Andra stop sejak aku lulus kuliah. Aku sudah tak memiliki orangtua sejak 10 tahun lalu hingga kak Andra lah yang membesarkanku, beruntung jarak usia kami sangat jauh jadi meskipun kami kehilangan orangtua kak Andra sudah sanggup membiayai hidup kami berdua hingga 2 tahun lalu setelah aku lulus kuliah barulah kak Andra menikahi kak Siska dan kami tinggal bersama di rumah peninggalan orangtuaku. Kak Andra dia segalanya bagiku orangtua, kakak dan teman yang baik beruntung dia mendapatkan wanita yang baik sebagai istrinya yang mau menerima dia sepaket denganku.

“Tante aku mau ke kamar kecil” suara kecil memanggilku menyadarkanku dari lamunan panjangku.
Aku melihat ke arah suara itu dan mendapati gadis kecil anak dari pria yang kupandangi ada di hadapanku. Aku berjongkok menyamakan tinggiku dengannya.
“Ada apa sayang?” tanyaku ramah.
“Aku ingin ke kamar kecil tapi orangtuaku belum selesai makan, kata ayah mengganggu orang yang sedang makan itu tidak sopan jadi maukah tante saja yang mengantarku?”
Aku tersenyum mendengar ucapannya, yah untuk anak sekecil dia anak ini pintar sekali ditambah lagi wajahnya yang cantik dan lucu seperti boneka membuat orang tak kuasa untuk menolaknya. Aku menggandeng anak itu ke WC restouran dan membantunya untuk buang air kecil setelah selesai aku membantunya cuci tangan.

“Anak manis siapa namamu?” tanyaku padanya.
“Namaku Syua usiaku 5 tahun” jawabnya riang.
Aku mengangguk menanggapi ucapannya yang begitu lucu. Aku membawa Syua ke luar dari WC yang ternyata sudah ditunggu orangtuanya.
“Oh Syu kenapa pergi tak bilang-bilang, ayah jadi khawatir” ucap pria itu mengambil Syua ke pangkuannya dan semua gerak-gerik itu tak luput dari pandanganku.
“Maaf nona putriku merepotkanmu” ucapnya padaku.
Mendengarnya berbicara padaku membuat kerja jantungku lebih cepat oh aku juga merasa pipiku menghangat ini gila bahkan mendengar dia bicara padakupun sudah membuat tubuhku bereaksi ekstrim seperti ini dan lebih gilanya lagi istri pria itu sedang menatap ke arah kami sekarang. Aku berusaha menormalkan perasaanku dan tersenyum padanya.
“Tidak apa-apa tuan itu sudah tugas kami” ucapku sambil menunduk menyrmbunyikan pipiku yang pasti sudah merah sekarang.

Mereka bertiga pamit meninggalkanku, mereka berjalan saling bergandengan tangan seperti layaknya keluarga bahagia. Ah… seandainya akulah yang ada di posisi wanita itu khayalku. Pluk… sebuah pukulan mendarat di kepala membuyarkan lamunan indahku.
“Yah aku tahu kau frustasi karena belum juga dapet kerjaan tapi gak usah sampe jadi patung penyambut di WC gitu” ucapnya tengil.
Aku mendelik ke arahnya, dia adalah Dimas temanku sejak kecil, keluarganya sudaah seperti keluarga juga bagiku. Tapi meskipun kami teman sejak kecil kami lebih sering bertengkar daripada akurnya karena Dimas itu orangnya super tengil dan hobi banget ganggu orang. Anehnya pertengkaran kecil di antara kami itulah yang membuat kami jadi sangat dekat.
“Udah daripada jadi patung disini mending siapin lamaran kerja gih gue punya lowongan kerja bagus nih”
“Serius loe, awas yah bohong lagi kayak waktu itu” ucapku sewot.
“Hahahaha… serius lah ini benar-benar lowongan jadi sekretaris di kantor bukan sekretaris pribadi di rumah kayak waktu itu.”
Aku mendengus ke arahnya, masih ingat beberapa bulan lalu Dimas menawarkan pekerjaan padaku sebagai seorang sekertaris tanpa curiga aku mengikuti wawancara eh nyatanya mereka mencari asisten pribadi alias pembokat kontan aja aku ngamuk padanya gila aja ngapain sekolah tinggi-tinggi kalau berakhir jadi pembokat juga. Sejak saat itu aku menolak Dimas carikan pekerjaan lagi.
“Amanda sekarang gue serius di perusahaan lagi cari sekretaris buat direktur baru pendaftarannya mulai besok. Kali ini gue gak bakal salah lagi soalnya ini perusahaan tempat gue kerja” ucapnya meyakinkan.
Aku tersenyum dan berkedip-kedip genit padanya.
“yah hentikan itu menjijikan” ucapnya sambil ngeloyor kepalaku.
“Dimas ganteng bantuin aku siapkan surat-surat lamarannya yah… yah…” ucapku sok imut.
Dimas memutar bola matanya jengah dengan tingkahku, yah beginilah aku bila minta tolong padanya harus bersikap sok imut hingga membuatnya pingin muntah saking sebelnya barulah dia mau bantu kalau aku bersikap biasa dia akan bilang punya otak gak kalau punya kerjain sendiri. Tapi kalau bersikap imut dia akan langsung memintaku berhenti bersikap aneh karena dia bilang sikap imutku membuatnya merinding dan sebagai imbalan aku berhenti bersikap imut dia akan menuruti perintahku aneh bukan? yah itulah dia Dimas dengan segala keanehannya yang sayangnya terlahir lebih pintar daripada aku.

Paginya setelah bekerja lembur dengan Dimas akhirnya lamaran kerjaku dan segala persyaratannya sudah siap kirim tapi aku ragu mengirimkannya. Bukannya apa-apa jika aku diterima kerja itu berarti aku tak dapat memandangi pria itu lagi dong, ah tapi jika aku tak melamar kerja sampai kapan aku akan jadi pelayan cafe.
“Woy ngapain dipandangin terus tuh amplop bukannya buru-buru dikirim.” tegur Kak Andra
“Kakak emang gak sedih kalau aku pergi kerja” rengekku.
“yah yang ada aku bersyukur kamu keterima kerja apalagi kalau dapet gaji gede itu artinya gak sia-sia aku ngeluarin duit buat nguliahin kamu. Lagian kayak bakal diterima aja”
Aku cemberut mendengar ucapannya tapi dia cuek saja dan malah nyuruh aku buat siap-siap dan dandan yang cantik buat lamar pekerjaan. Meskipun ragu akhirnya aku putuskan untuk mengirim surat lamaran kerjaku, Kak Andra benar dia sudah menyekolahkanku hingga sarjana masa aku tidak memanfaatkannya hanya karena seorang pria yang bahkan tak kukenal namanya.

Tiba saat waktunya wawancara, saat masuk ruangan mataku langsung melotot melihat pria yang selama ini aku pandangi ternyata duduk menjadi salah seorang yang akan mewawancaraiku. Aku terus memandangnya tapi dia asyik membolak-balikan kertas di hadapannya, sepertinya kertas itu lebih menarik daripada aku yang duduk tak jauh dari hadapannya.
“Perkenalkan dirimu” suruh seorang wanita yang duduk di hadapanku.
Aku menarik nafas menetralkan perasaanku dan menyiapkan mentalku.
“Nama saya Kanya Amanda usia saya 24 tahun” ucapku memperkenalkan diri.
Aku berusaha konsentrasi dengan wawancaraku meskipun sesekali aku melihat ke arah pria itu yang ternyata dia juga sedang memperhatikanku atau mungkin sedang menilaiku. Aku menjawab setiap wawancara dengan sebaik mungkin, pria itu ternyata ada di sini jadi aku juga berambisi untuk bisa diterima bekerja disini. Ah mungkin aku sudah benar-benar gila aku tahu pria itu sudah menjadi milik orang lain tapi aku masih saja berharap lebih dekat dengannya.

Aku menarik nafas berat setelah selesai wawancara, huh ini sudah ke 5 kalinya di tahun ini dan hasilnya selalu nihil jadi aku tak berharap banyak pada wawancara kali ini juga. Aku berjalan lunglai tiba-tiba seseorang menepuk pundakku, aku berbalik dan mendapati pria itu tersenyum padaku.
“Hallo Kanya, kamu pelayan di mouse cafe yang waktu itu membantu putriku kan?” tanyanya dengan senyuman yang tak pudar dari wajahnya.
Aku terdiam canggung di hadapannya, oh my god aku merasa benar-benar pusing karena pesona yang terpancar dari pria itu apalagi dengan posisi kami yang sangat dekat. Pria itu menatap bingung ke arahku yang mungkin terlihat seperti orang bodoh yang hanya cengo menatapnya.
“Kanya…” tanyanya
“oh iya saya, panggil saja Amanda saya tidak biasa dipanggil Kanya” ucapku malu-malu
“Oh yah Amanda perkenalkan saya Zhoumi ayahnya Syua” ucapnya ramah masih dengan senyumannya.
Deg… ‘Ayahnya Syua’ kata itu benar-benar menamparku mengingatkanku jika pria yang mempesonaku adalah milik wanita lain. Zhoumi yah pria itu pria pujaanku sekarang berjalan berdampingan denganku dia berbicara hal-hal kecil tapi pembicaraan yang hanya sekedar basa-basi itu sanggup membuat hatiku berbunga hingga akhirnya bunga itu harus layu seketika ketika Zhoumi mengangkat teleponnya dan menyapa sayang pada si penelepon. Aku tersenyum kecut melihatnya berjalan menjauh tanpa pamitan apalagi berbalik hanya untuk melihatku. Oh ayolah siapa aku kenapa dia harus melakukan itu pada wanita asing tak penting sepertiku.

Aku berjalan lunglai hingga cafe dan langsung memeluk kak Andra yang menyambutku.
“Oh ayolah adik kecilku ini bukan kali pertama kau gagal jadi jangan sedih aku akan tetap memperkerjakan kau disini dengan gaji seperti biasa” ucapnya bercanda.
Aku melepaskan pelukannya, dan memasang wajah cemberutku. Aku merasa tenang setelah kembali ke sisinya sebenarnya bukan hal itu yang kukhawatirkan tapi hatiku lah yang kukhawatirkan karena aku takut hatiku semakin berjalan ke tempat yang salah, aku takut pada cinta yang berlabuh pada orang yang salah ini.
“Oh ayolah jangan cemberut, mari kita makan malam untuk memperbaiki mood burukmu, bukankah makanan enak selalu ampuh memperbaiki mood?” tawarnya
Aku mengangguk dan mengikutinya untuk pergi makan, yah inilah yang paling aku syukuri di dunia ini aku memiliki tempat pulang yang tak akan pernah menolakku kapanpun aku datang.

Keesokan harinya telepon berdering dan mengabarkan aku diterima kerja. Aku bersorak gembira dan meloncat-loncat mengabarkan kabar baik pada kakak dan kakak iparku yang menyambut kabar itu tak kalah bahagia. Hari pertama kerja Dimas secara spesial mengantarku sebenarnya bukan mengantar sih karena dia juga bekerja di tempat yang sama denganku. Aku dibawa ke ruangan tempatku bekerja ke lorong paling ujung disinilah mejaku berada di samping pintu bertuliskan direktur pemasaran. Bu Linda memperkenalkanku ke semua staf yang akan bekerja denganku hingga akhirnya aku diperkenalkan pada direktur pemasaran yang tak lain dan tak bukan adalah Zhoumi. Aku sempat kaget ternyata Zhoumilah bos oh my god takdir apa ini apakah ini petanda kami akan berjodoh? ah aku langsung menggelengkan kepala mengusir pikiran gilaku yang benar-benar sudah melanggar batas.
“Apa kabar Amanda? Mulai hari ini kamu adalah sekertaris saya dan saya bosnya. Saya akan menjelaskan semua yang harus anda lakukan ketika bekerja pada saya jadi datanglah ke ruangan saya” ucap Zhoumi sambil berlalu masuk ke ruangannya.
Aku mengangguk menanggapinya, aku berpamitan kepada rekanku yang lain dan menuruti perintah Zhoumi untuk masuk ke ruangannya. Oh god keajaiban apa ini bisa seruangan dengan orang yang aku cintai berdua saja racau otakku. Aku mengetuk pintu dan masuk setelah Zhoumi mempersilakan aku masuk.

“Saya akan langsung saja, saya ingin anda bekerja profesional, tangkas dan berintegritas, saya juga tidak ingin ada campur aduk perasaan dalam pekerjaan. Saya ingin anda siap kapanpun ketika dibutuhkan dan oh yah tambahan saya ingin anda menyediakan setangkai bunga mawar merah setiap pagi di ruangan saya dengan segelas coffee espresso, istri saya sangat suka bunga mawar jadi pastikan bunga itu akan tetap segar hingga sore hari” perintahnya.
Aku mengangguk menyanggupi perintahnya meskipun hatiku rasanya sakit mendengar kenyataan jika dia begitu mencintai istrinya.
“Oh yah saya makan siang jam 12:00-14:00 dan makan malam jam 17:00 jadi pastikan saya tidak ada jadwal di jam-jam itu karena itu waktu saya untuk keluarga saya dan juga saya tidak suka pertemuan malam hari dengan client” jelas Zhoumi
Aku hanya mengangguk patuh padanya tanpa berkomentar, mendengar ucapannya sekali dengar saja aku tahu kehidupan keluarganya pastilah bahagia. Ah dia pastilah seorang ayah dan suami yang baik, selain itu dia seorang pria yang berpenghasilan tinggi. Uh dia benar-benar lelaki yang baik sebagai kepala rumah tangga. Seandainya yah seandainya dia bukan milik orang alangkah bahagianya jika akulah pasangan hidupnya. Aku menggelengkan kepala mengusir pemikiran gila yang memenuhi kepalaku dan menunduk tak berani menatapnya, aku terlalu takut jika aku memandangnya keinginanku untuk memilikinya semakin kuat.
“Apa ada pertanyaan?” tanya Zhoumi.
Aku menggeleng dan langsung permisi kembali ke mejaku, aku duduk dan berbalik ke sebelah kanan dari sini aku bisa melihatnya dengan jelas karena hanya sebuah kaca besar yang menghalangi kami.

Hari pertama bekerja sulit sekali menampik godaan untuk memandanginya dan menatap segala gerak-geriknya yang entah mengapa masih sangat memesona di mataku. Berada dekat dengannya seperti ini membuat hatiku berbunga sekaligus nyeri, berada sedekat ini aku bisa lebih mengenalnya sekaligus membuka mataku bahwa dia sudah memiliki keluarga yang bahagia, melihat istri dan anaknya datang ke kantor, melihat kebersamaan mereka begitu menusuk hatiku mungkinkah ini cara tuhan menunjukan jika hatiku berlabuh di tempat yang salah.

Pekerjaan ini menuntutku untuk selalu dekat dengannya apalagi jika kami kerja di lapangan terkadang seharian penuh kami bersama bahkan aku ikut makan siang berama keluarganya memandangi kebahagiaan mereka. Istri dan anaknya orang yang sangat baik dan itu membuatku merasa bersalah karena aku mencintai milik mereka. Tak jarang dia mengantarkan aku pulang atau mengajakku berangkat bersama jika kebetulan kami bertemu di cafe. Dia selalu datang dengan senyumnya yang memesona membuat hatiku yang kusuruh untuk melupakannya berkhianat padaku. Kami hanya berdua saja di mobil dan itu membuat jantungku tak berhenti berpacu cepat sedangkan dia hanya memasang senyum manisnya. Oh god kenapa dia terus-terusan tersenyum sih apa dia ingin memesonaku atau memang itu sudah menjadi ciri khasnya.

“Bunga yang selalu anda siapkan di ruanganku dimana anda membelinya? Saya rasa istri saya sangat menyukainya bisakah anda mengantar saya ke tempat itu saya ingin membelinya untuk hari spesial kami” tanyanya suatu hari ketika dia mengantarku pulang.
Deg… rasanya aku dibawa kembali ke kenyataan jika pria di sampingku ini memang milik perempuan lain.
“Toko bunganya ada di belakang gedung kantor kita” jawabku dengan senyum kaku.
“Oh kamu membelinya disana, lain kali mari temui istriku bersama-sama dia pasti senang melihatmu” ucapnya masih dengan penuh senyuman.
Aku terdiam mendengar ucapannya, aku sering bertemu dengan istrinya tapi kenapa dia sekarang mengajakku bertemu bersama-sama dengannya? Apakah dia sudah menyadari jika aku mencintainya dan mengatakan itu seperti peringatan jika dia sudah memiliki istri. Aku sibuk dengan lamunanku sendiri hingga mobilnya sudah sampai di depan cafe mouse.
“Sudah sampai, sampai jumpa besok” ucapnya.
Aku mengangguk dan berpamitan padanya, dari dalam cafe aku bisa melihat kak Andra sedang menatap ke arahku sambil memasang plang tutup di pintu cafe Aku masuk dan langsung menyapa kak Andra, tapi kak Andra malah menatapku penuh selidik.
“Kenapa jam segini baru pulang?” tanyanya menyelidik.
“Tadi meeting dulu dengan client selesainya pas jam pulang kerja jadi jalanan macet parah”
“Tadi yang mengantarmu siapa? bosmu?”
Aku mengangguk membenarkan dan menarik kursi untuk duduk. Kak Andra langsung menarik nafas berat.
“Manda kakak tahu bosmu adalah orang yang selalu kamu pandangi selama ini, kita juga sama-sama tahu dia sudah berkeluarga jadi kakak mohon kamu jangan coba-coba bermain api dengannya seberapa besarpun rasa cintamu padanya dia tetap milik wanita lain dan pada akhirnya kamulah yang akan terluka.”
“Amanda kamu perempuan dan istrinya pun begitu jadi jika kamu merasa sakit hati dia pun sama. Amanda kakak tidak akan menyuruhmu berhenti dari pekerjaanmu tapi kakak minta kamu hentikan cintamu pada pria itu, kita sama-sama tahu jika rasa itu salah. Jika kamu tak sanggup menghentikannya karena kalian sering bertemu maka berhenti menemuinya. Amanda kakak gak mau kamu semakin sakit nantinya jadi lebih baik kamu cari pria lain yang lebih baik dan layak kamu cintai”
Kak Andra meninggalkan aku setelah dia ceramah panjang lebar padaku, apa yang dikatakannya memang benar cintaku ini salah tapi jika hati telah memilih rasanya sulit untuk berpaling. Aku merenung memikirkan semuanya aku tak mungkin berhenti bekerja karena aku membutuhkan pekerjaan ini, satu-satunya yang harus aku lakukan adalah menata hatiku yah aku harus menata hatiku mencari hal lain sebagai poros hidupku agar aku melupakannya.

Pagi hari aku sudah bertekad untuk menata hatiku, aku berangkat sangat pagi sebelum Zhoumi datang ke cafe agar kami tak berangkat bersama. Selama di kantor aku bersikap seprofesional mungkin dengan tak membicarakan hal lain selain pekerjaan meskipun dia memancing untuk bicara hal sepele aku berusaha menghiraukannya bahkan meskipun sulit aku juga berusaha untuk tidak menatapnya. Waktu makan siang putrinya mengajakku makan siang bersama tapi aku menolaknya secara halus, yah memang Syua lumayan dekat denganku karena terkadang ibunya tidak datang ke kantor jadi kami sering makan bersama bertiga. Ada rasa senang sekaligus bersalah menemani mereka berdua makan, senang karena khayalanku terwujud bersalah karena tempat yang kutempati pada kenyataannya milik orang lain.

Setelah menolak ajakan Syua aku mengajak Dimas makan bersama yah meskipun kami kerja di kantor yang sama kami jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Setelah beberapa bulan bekerja barulah sekarang kami sempat makan bersama.
“Huh tumben sekali loe ngajak gue makan bareng, hah pasti ada maunya yah?” cibir Dimas
Aku hanya tersenyum manis menanggapinya.
“Jangan senyum itu menyeramkan” cibirnya lagi.
Aku menatapnya serius dan menggenggam tangannya sampai dia keselek ketupat yang sedang dia makan saking kagetnya.
“Dimas aku minta bantuanmu, carikan aku pria menarik yang akan membuatku jatuh cinta” pintaku serius.
Dimas langsung tertawa mendengar ucapanku, aku sampai harus berulang kali menyumpal mulutnya agar diam karena tawa hebohnya memancing orang-orang melihat ke arah kami.
“Gila loe lucu banget…” ucapnya masih tertawa.
“Gue serius mas, gue mau ngelupain seseorang jadi gue mau ada orang lain yang sukses ngalihin dunia gue” curhatku.
“Siapa emang yang mau loe lupain? pria berpayung tanpa identitas yang loe cari-cari udah nyerah nyarinya?” tanyanya ikut serius.
Aku menghela nafas berat, pria berpayung yah pria yang memayungiku tatkala hujan di waktu aku remaja dialah pria yang sukses menggetarkan hatiku untuk pertama kalinya, meskipun aku tak mengenalnya wajah itu dan senyum itu terpatri jelas di hatiku sampai aku menemukan wajah itu kembali dan senyum yang sama di diri Zhoumi. Yah itulah yang membuatku jatuh cinta pada Zhoumi karena dia mirip sekali dengan pria itu meskipun aku tak tahu Zhoumi dan pria itu orang yang sama atau bukan.
“Man, loe kenapa kok jadi ngelamun?” tanya Dimas.
“Nggak apa-apa, jadi bisa gak loe cariin yang gue minta”
“Ehm… sebenernya di dunia ini gak ada yang lebih menarik dari gue jadi agak sulit” ucapnya kepedeean.
“Tapi loe bukan tipe gue… udah basi sih loe” ucapku enteng.
Dimas gak terima dengan ucapanku jadinya kami malah cekcok meskipun akhirnya kita ketawa bersama yah bercengkrama dengan Dimas setidaknya sanggup melunturkan sedikit kegalauan di hatiku.

Pulang kerja aku juga pulang bersama Dimas dan jalan-jalan dulu ke tempat-tempat kita sering nongkrong dulu sampai akhirnya aku melihat halte tempat aku bertemu pria itu dulu pria yang telah membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama meskipun sekarang ini aku tak yakin pria itu nyata atau tidak.

Cerpen Karangan: Nina
Facebook: Min Hyu Na

Cerpen Cinta Tak Pernah Salah (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kekasih Adikku (Part 1)

Oleh:
Dulu kukira cinta itu indah. Memberi mimpi yang penuh tawa. Tanpa mengenal kesedihan. Tapi kini kurasakan bagaimana cinta itu mampu membuat mimpi yang indah tergores luka yang amat perih.

Takdir Indah

Oleh:
Tiga tahun berlalu semakin cepat, saat getaran aneh itu merambat dalam lingkup hati dan jiwaku. Aku bersyukur senantiasa karena tabrakan pagi indah itu, aku menemukan semangat baru yang membakar

Life Like Coffee

Oleh:
Tak ada yang spesial dari cafe berkonsep vintage di ujung jalan yang sibuk itu. Hanya sebuah bangunan kecil yang dindingnya dibiarkan tidak dicat dan tak pernah sepi pengunjung. Lalu

Puja Mandala

Oleh:
Bulan Juli, menjadi bulan yang mendebarkan bagi Andi. Bukan mengenai suatu hal darurat yang akan menimpanya. Tetapi, Bulan Juli adalah bulan ulang tahun Alfani, kekasihnya yang telah 5 bulan

Perasaan Kita (Part 2)

Oleh:
Saat capucino pesananku telah datang… “minumlah alvin..” “iya..” “bagaimana rasanya?” “harum..” Aku sangat senang sekali mendengar jawaban itu.. 17 tahun lamanya aku tak pernah mendengar kata-kata itu.. terima kasih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Cinta Tak Pernah Salah (Part 1)”

  1. Orin says:

    Lagi lagi dibikin baper..ih keren bget cerita bkinan Nina. Keep writing ya..I really love it. ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *