Cinta Yang Tulus

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 28 March 2018

Sila sedang duduk di bangku cafe, sambil menatap pemandangan luar jendela. Duduk termenung sambil mengaduk-aduk kopi yang ada di depannya. Cuaca yang sedang hujan membuat pikiran dan perasaannya ke mana-mana. Dia baru saja putus dari pacarnya. Padahal mereka sudah satu tahun pacaran. Tapi semua itu hancur dalam sehari. Karena pacarnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Waktu yang lama untuk mereka habiskan berdua. Namun kini semua itu hanya akan menjadi kenangan manis yang sulit dilupakan. Sila berfikir, kenapa takdir begitu kejam padanya?.

Tiba-tiba datang seorang laki-laki memasuki cafe. Sila cuek dan tidak peduli pada orang lain. “Apa aku boleh duduk di sini?” Tanya orang itu pada Sila. “Silahkan saja” jawab Sila tanpa berpaling sedikitpun.

Orang itu duduk di depan Sila. Memandang gerak-gerik Sila, membuatnya tertawa kecil. Sila berpaling dan melihat orang itu. Ia tampak terkejut. “Hai, aku Dirka” kata orang itu. “Hai aku Sila” jawabnya dengan gugup. Mereka berbincang-bincang tentang banyak hal. Bahkan Sila menceritakan tetang masalah percintaannya. Setelah beberapa lama, mereka berdua memutuskan untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Sila tersenyum sendiri, jika mengingat pertemuannya dengan Dirka.

Kini genap sudah tiga bulan Sila dan Dirka saling mengenal. Mereka sangat akrab. Tak sedikit orang yang menanggap mereka sudah pacaran. Tapi itu semua terlalu berat untuk Sila. Ia sangat trauma dengan kegagalan cinta pertamanya. Dengan sabarnya Dirka mengerti perasaan Sila. Dirka berpikir, bahwa Sila mencintai pacarnya selama setahun. Mungkin sangat sulit bagi Sila melupakan semua kenangan bersama pacarnya hanya dalam waktu tiga bulan. Meski begitu hari-hari yang Sila lalui bersama Dirka juga lebih berwarna.

Hari ini mereka akan bertemu di cafe. Cafe yang menjadi tempat pertama mereka bertemu. Sila sudah duduk di cafe, menunggu kedatangan Dirka. Tak lama kemudian datanglah Dirka. Sila melambaikan tangan, lalu Dirka menghampirinya. “Udah lama?” Tanya Dirka yang langsung duduk. “Lumayan sih” jawab Sila. Mereka diam sesaat, memikirkan apa yang menjadi bahan obrolan kali ini. “Mbak, pesan cappucino dua ya” kata Dirka pada cafe.

Tak menunggu lama, pesanan datang. “Gimana kuliahnya?” Tanya Dirka. “Ah biasa aja, males banget kalau di suruh buat tugas” jawab Sila dengan bibir nyunyun. Udah, nyesel aku tanya gitu” kata Dirka sambil mengacak-acak poni Sila. “Maaf ya” ucap Dirka. “Untuk apa?” Tanya Sila. “Aku harus pergi ke Singapore selama beberapa hari” jawab Dirka. Walaupun Sila agak kecewa, dia harus tersenyum. “Kukira ada apa Tapi jangan lupa oleh-olehnya” kata Sila. Mereka tertawa bersama.

Dirka sedang berada di Singapure, meski begitu ia selalu mengirim pesan kepada Sila untuk memberitahu kabar di mana dia berada.

Pagi hari sudah datang, Sila sudah bangun. Ia tengah bersiap-siap untuk berangkat kuliah. Ia adalah mahasiswi semester 5. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia mengangkatnya, itu dari Dirka. “Ada apa?” Tanya Sila. “Aku sudah di depan rumahmu” jawab Dirka. “Apa? Ok, aku keluar sekarang” kata Sila. Setelah menutup telepon, ia keluar dari rumahnya, dan memang sudah ada mobil Dirka. “Hai” sapa Dirka. “Kapan kamu kembali?” Tanya Sila. “Kamu selalu bertanya, sekarang aku bertanya. Apa kamu mau kuantar ke kampus?” Tanya Dirka. “Kamu nggak kerja? Nanti kamu terlambat” tolak Sila.

Tanpa berfikir panjang, Dirka menarik tangan Sila untuk masuk ke mobilnya. Mereka pun berangkat. Sepanjang perjalanan Sila masih dengan wajah yang cemberut.
“Kamu mau turun?” Tanya Dirka ingin menggoda Sila.
“Nggak, enak aja” jawab Sila.
Dirka tertawa keras, sehingga membuat Sila semakin kesal. Beberapa kali Sila memukul pundak Dirka untuk melampiaskan kemarahannya.

Tak lama kemudian sampailah mereka di kampus Sila. Dirka turun terlebih dahulu, membukakan pintu untuk Sila. Sila pum turun dari mobil.
“Silahkan tuan putri” kata Dirka.
“Terima kasih, tuan” ucap Sila. Mereka tertawa bersama.

Tiba-tiba lewatlah dua pengkhianat. Siapa lagi kalau bukan mantan pacar dan sahabatnya Sila, yaitu Rendy dan Vio. Sila hanya bisa menatap pemandangan itu. Dia memiliki tekad bulat untuk melupakan cinta pertamannya. Untuk apa ia memikirkan masa lalu. Setidaknya dia punya Dirka, orang yang selalu ada di sampingnya setiap waktu. “Udahlah, nggak usah lihatin terus” tegur Dirka berbisik di telinga Sila. “Ah… kamu” kata Sila mencubit perut Dirka. Mungkin Dirka merasa kesakitan. “Ya udah kamu pergi” suruh Sila. “Jadi diusir nih” protes Dirka. “Terserah” jawab Sila dengan bibir yang manyun.

Dirka mencubit hidung mungil Sila. Membuat Sila marah, akhirnya mereka tetawa lagi. “Aku pergi ya” pamit Dirka. Sila mengangguk, Dirka masuk ke mobilnya dan pergi. Sila melangkah menuju kelasnya. Setelah sampai di deoan kelas dia berpapasan dengan Vio. “Pacar baru?” Tanya Vio dengan maksud menyindir Sila. “Bukan hanya teman kok” jawab Sila langsung duduk di kursinya. “Teman? Bahkan teman tidak akan seperti itu” kata Vio lagi. “Yang jelas, dia bukan seorang teman sepertimu” tukas Sila. Vio diam seketika, raut wajahnya menjadi pucat.

Tak lama kemudian masuklah Dosen dan materi pun dimulai. Setelah sekitar dua jam materi selesai. “Semua, tugas harus selesai minggu depan” umumkan Dosen. “Baik pak” jawab satu kelas secara serentak. Dosen keluar, di ikuti semua yang ada dikelas. Ada yang langsung pulang karena tidak ada kegiatan. Ada juga yang masih tinggal di kampus, hanya sekedar malas pulang dan berkumpul dengan yang lain. Sila memilih tetap tinggal di kampus. Untuk mengejarkan tugasnya dan juga berkumpul dengan teman-temannya.

Tiba-tiba datang Vio yang langsung bergabung dengan Sila dan teman-temannya. “Hai, semua” sapa Vio. Tidak ada yang mempedulikan atau menjawab Vio. Sila memilih fokus ke tugasnya. “Kalian ini tuli ya” bentak Vio. Tentu saja itu teman-teman Sila marah besar. “Kamu nggak lihat, kami semua lagi ngerjain tugas” jawab salah satu teman Sila dengan nada membentak. “Hei, nggak usah sewot gitu dong” balas Vio. “Udah deh. Maaf Vio, kami sedang sibuk” ucap Sila dengan lembut. “Nggak usah, sok lembut. Kamu itu munafik” bentak Vio.

“Aku tahu itu, semua orang itu munafik termasuk kamu sendiri” jawab Sila dengan nada yang tenang. Tiba-tiba datanglah Rendy menghampiri Vio dan bertanya apa yang terjadi. Vio menceritakan semuanya. “Kamu bilang Vio itu munafik?” Tanya Rendy pada Sila. “Aku tidak berkata begitu. Tapi aku akan sangat bersyukur jika kalian menyadarinya” jawab Sila. Mungkin itu membuat Rendy marah. Ia hendak menampar pipi Sila. Beruntung ada seseorang yang menahan. “Hai, jangan kasar sama cewek” kata Dirka sambil melepas genggaman. “Sila, ikut aku” kata Dirka yang langsung menarik tangan Sila menuju mobilnya. Sila tidak protes, karena dia sudah berjanji pada Dirka untuk tidak berhubungan dengan Rendy dan Vio.

Sesampainya di dalam mobil, mereka terdiam. “Kamu bisa kan menghindari mereka” kata Dirka dengan ekspresi wajah marah, tapi berusaha lembut.
Sila terdiam, ia tahu bahwa ia salah. Ia membiarkan Dirka untuk memarahinya. “Sekarang jelaskan, apa janji itu masih tetap berlaku?” Pinta Dirka. “Maaf, aku juga ingin menghindari mereka. Tapi…” kata Sila mencoba menjelaskan pada Dirka, kemudian di potong oleh Dirka. “Sudahlah jangan membahas ini lagi” tegas Dirka. Sementara Sila terdiam. Dirka menstater mobilnya dan mrluncur. Tidak ada pembicaraan seperti biasa di sepanjang perjalanan. Dirka terlalu marah pada Sila. Ia takut jika ia akan berlaku kasar. Sementara Sila terlalu takut jika Dirka semakin marah ketika ia banyak bicara.

Tak lama kemudian sampailah mereka di depan rumah Sila. Tak ada yang turun, mereka masih ada di dalam mobil. Mereka terdiam dan saling menenangkan pikirannya masing-masing.
“Maaf, tidak seharusnya aku marah padamu” ucap Dirka.
“Tidak, aku yang harusnya minta maaf” jawab Sila.
“Kamu jauhi mereka. Aku berharap kamu bisa melupakan orang itu” tegas Dirka. Sila hanya terdiam dan menunduk karena merasa bersalah. Laki-laki seperti Dirka adalah laki-laki yang langka. Bagaimana bisa dia begitu sabar menunggu Sila. Saat Sila belum sembuh dari luka hatinya. Ia tetap menunggu. Cintanya tulus meski ia tahu bahwa mungkin saja ia tidak mendapat cinta dari Sila. “Terima kasih dan maaf” ucap Sila dengan tulus. “Untuk apa?” Tanya Dirka dengan dingin.
“Untuk semua yang sudah kamu lakukan untukku. Dan maaf karena sudah menyusahkanmu” jelas Sila. “Tidak masalah. Jika mencintaimu menghancurkan segalanya, akan lebih jika aku melupakannya” balas Dirka. “Jangan lupakan cinta itu” pinta Sila. Dirka sangat bingung. Ia tidak mengerti maksud Sila sebenarnya. “Apa maksudmu?” Tanyanya. “Aku pamit ya” pamit Sila yang langsung mencium pipi Dirka. Sila keluar tanpa menjawab pertanyaan dari Dirka. Tapi terjawab dengan ciuman di pipi Dirka. Sementara Dirka diam mematung dan berfikir apakah ia sedang bermimpi. Ia mencubit pipinya, dan terasa sakit. Menandakan bahwa ia tidak sedang bermimpi.

Sila sedang berada di kantin kampus. Ia duduk sambil membaca sebuah novel dan terpasang earphone di telinganya. Beberapa kali ia dipanggil temannya, ia sama sekali tidak mendengar. Hingga membuat temannya kesal dan melepas earphone dari telinganya.
“Ada apa sih?” Tanya Sila, bingung dan sedikit marah.
“Dari tadi kupanggil tidak menjawab” protes Hisa.
“Maaf dech, ada apa?” Tanya Sila lagi cengengesan.
“Kamu terlihat bahagia, ada apa?” Tanya Hisa yang mulai kepo.
“Kamu tahu, aku sudah melupakan Rendy dan menemukan cinta yang baru dan jauh lebih baik” jawab Sila dengan tersenyum.
“Benarkah? Siapa? Apa orangnya tampan? Apa orang itu juga mencintaimu?” Tanya Hisa, membuat Sila menelan ludahnya sendiri.
“Bagaimana aku akan menjawab? Kamu tanya langsung Empat” protes Sila.
“Baiklah” kata Hisa mengalah.
“Kamu tahu Dirka, itu loh orang yang kemarin kemari. Dia adalah cinta baruku” jelas Sila.

Sore ini Dirka mengajak Sila berkencan. Sila pun sibuk memilih pakaian yang akan ia kenakan. Ia berpikir bahwa ia harus terlihat cantik di hadapan Dirka. Akhirnya Sila menemukan pakaian yang akan ia kenakan. Sebuah gaun pendek yang cantik. Setelah siap ia keluar dari kamarnya. Ia langsung berpamitan kepada orangtuanya.

“Ayah, ibu. Aku pergi dengan Dirka” pamit Sila yang langsung keluar rumah.
“Hati-hati” kata ayahnya.
“Ok, ayah” jawab Sila yang sudah ada di luar rumah. Ia duduk di teras, menunggu Dirka menjemputnya.

Tak lama kemudian, berhentilah sebuah mobil di depan rumah Sila. Bisa ditebak mobil siapa itu. Tentu saja itu adalah mobilnya Dirka. “Udah lama?” Tanya Dirka menghampiri Sila di teras.
“Udah, sampai aku ngantuk” jawab Sila. “Iya dech maaf. Oh ya orang tuamu ada di rumah?” Tanya Dirka. “Ya, mereka ada di dalam” jawab Sila. Dirka masuk untuk meminta ijin kepada ayah dan ibu Sila. Inilah yang Sila suka Dari sosok Dirka. Sosol yang berbeda dari laki-laki lain. Ia lebih dewasa dan jantan.

Mereka pun berangkat, di perjalanan Sila bernyanyi sambil menikmati perjalanan. Dirka hanya tertawa melihat tingkah lucu Sila. Setelah sekitar setengah jam, sampailah mereka di tempat tujuan. Sebuah pantai yang sangat indah. Mereka duduk di bangku sambil menikmati pemandangan matahari yang akan terbenam. Sebuah pemandangan yang cocok untuk dua orang yang sedang jatuh cinta. “Kenapa kamu mencintaiku?” Tanya Sila yang langsung bersandar di pundak Dirka. “Mungkin karena kamu cantik, seperti matahari itu” jawab Dirka dengan tangan kiri yang merangkul pundak Sila dan tangan kanannya yang menunjuk ke arah matahari.
“Jadi kamu suka semua orang cantik?” Tanya Sila lagi. “E.. bisa jadi sih” jawab Dirka. Itu membuat Sila kesal dan mencubit perut Dirka. “Au, sakit tahu” protes Dirka. Sila tertawa senang melihat Dirka yang sedang kesakitan. Tawanya berhenti, Dirka menatapnya semakin dekat dan semakin dekat. Akhirnya bibir Dirka menempel di bibir Sila. Sila terkejut tapi tetap menerimanya.

Tiga puluh detik berlangsung, dengan lembut Dirka melepas bibirnya dari bibir Sila. “Sila, maaf aku sudah lancang” ucap Dirka. Sila tidak menjawab, ia hanya memegang bibirnya sambil memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Jantungnya berdegub kencang tak karuan.
“Sila maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi” ucap Dirka sekali lagi.
“Tidak, anggap saja ini sebagai awal dari hubungan kita” jawab Sila. “Hubungan? Kita? Maksud kamu apa?” Tanya Dirka. Sila tidak menjawab dia berlari di pinggir laut. “Kalau kamu bisa menangkapku, maka aku kan menerima cintamu” teriak Sila. Dirka dengan semangat mengejar Sila dan berhasil menangkapnya. Bersatulah mereka.

Mencintai seseorang bukan bagaimana kita mendapat balasan cinta tersebut. Tapi bagaimana kita memberikan cinta itu. Janganlah selalu meminta atau menuntut cinta. Cobalah untuk memberi cinta itu. Seperti kata pepatah bahwa orang yang memberi akan menerima. Karena hidup adalah memberi dan menerima bukan meminta.

The End.

Cerpen Karangan: Tia Nur Agustin
Facebook: Tia Agustin

Cerpen Cinta Yang Tulus merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Oedipus Complex (Part 1)

Oleh:
Hujan di minggu pagi dimana orang-orang asyik bergulung dengan selimut mereka tapi tidak denganku yah seandainya aku menjadi salah satu dari mereka tentu lebih menyenangkan. Disinilah aku di ruangan

Dua Puluh Lima Juta (Part 1)

Oleh:
“Dua puluh lima juta?” Tanya Nina shock mendengar nominal yang disebutkan oleh dokter. “Benar sekali. Total biaya operasi Ibu anda adalah dua puluh lima juta.” Jelas sang dokter. Mendengar

We Are Artis Bangkrut (Part 1)

Oleh:
Pernahkah kamu punya sahabat? Aku pernah. Namanya Han Go An. Dia seorang laki-laki labil. Kalau bicara seperti perempuan. Dia suka memakai pakaian berwarna cerah yang sangat mencolok. Dia suka

Laki Laki Masa Lalu

Oleh:
“Menurutmu, seperti apa cinta itu?” “Menurutku, cinta itu seperti awan itu. Putih, indah dan sangat tenang. Kalau menurutku cinta itu seperti awan, bagaimana menurutmu? apa kau berfikir cinta itu

I Wuf You

Oleh:
Semilir angin berhembus dikebalut senja. Menghadirkan nuansa jingga di angkasa. Di sini… di atas batu karang ini. Kunikmati mentari yang perlahan melambaikan tangannya pada bumi. Seolah mengucapkan sampai jumpa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *