Clay

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 16 May 2017

Mungkin dia tidak ingat saat aku tiba-tiba mengatakan bahwa kami sebenarnya pernah bertemu saat di taman kanak-kanak (TK). TK memang saat dimana anak-anak bermain sambil belajar, juga mengenal yang namanya berteman. Namun, nyatanya, gadis itu adalah satu-satunya murid yang namanya tidak aku ketahui. Kami hampir tidak pernah bicara pada satu sama lain. Pernah satu kali. Itu pun saat kami berbagi sebuah lilin mainan.

Saat itu, kami punya suatu mata pelajaran yang berhubungan dengan kreativitas. Pada hari sebelumnya, guru kami memang menyuruh kami untuk membawa setidaknya sebungkus lilin mainan. Namun, aku lupa membawanya. Guru kami pun meminta seorang murid perempuan yang duduk di sebelahku untuk meminjamkanku sebagian lilin mainannya.

“Pinjamkan Alex sebagian lilin mainanmu, ya?” pinta sang guru pada gadis itu, dengan sangat ramah.
Gadis itu pun, dengan senyumannya yang manis, membelah sebagian lilinnya dan meminjamkannya padaku. Kejadian seperti itu hanya terjadi sekali dalam satu tahun itu. Aku bahkan belum tahu namanya, dan tidak peduli siapa dia. Mengingat kata ibuku dari dulu sampai sekarang-
“Kamu itu, Al, nggak pernah perhatian sama orang-orang di sekitarmu.”

Lalu, siapa yang kemudian sangka bahwa ternyata kami bertemu lagi sekitar 6 tahun kemudian? Saat itu, kami pernah berpapasan saat membeli sesuatu di warung dekat rumah. Aku masih belum tahu namanya. Aku hanya ingat suaranya yang anggun saat berbicara dengan ibu penjaga warung.
“Beli gula satu kilo, ya Bu,” katanya dengan ramah.

Saat itu, dia sama sekali tidak menyadari keberadaanku di sebelahnya. Dia hanya menerima sebungkus gula pasir dengan berat satu kilogram itu sembari menyerahkan sejumlah uang kepada ibu penjaga warung. Setelah itu, dia pergi begitu saja. Aku pun sebenarnya belum menaruh kepedulian untuk tahu siapa gadis yang berambut kucir dua itu. Dalam ingatanku, dia hanyalah seorang gadis yang pernah meminjamkanku sebagian lilin mainannya. Tetapi tetap saja, senyumannya saat memberikan lilin mainan itu tidak pernah aku lupakan. Jenis komunikasi pertama yang aku terima dari gadis itu.

Beberapa tahun kemudian, tidak terasa waktu cepat sekali berlalu, aku seperti tiba-tiba sudah berada di bangku sekolah menengah pertama. Pernah beberapa kali aku bertanya-tanya, di SMP mana gadis itu bersekolah. Aku sering mengunjungi beberapa SMP di kota, baik yang negeri, maupun yang swasta, untuk bertanding dengan grup basket sekolah-sekolah tersebut. Namun sejauh mata memandang, di tengah-tengah permainan basketku, aku tidak pernah menemukan wajah gadis itu. Beberapa kali, saat teman-temanku mengajakku untuk mengunjungi kantin sekolah-sekolah itu, aku juga menyempatkan diri celingak-celinguk untuk sekadar menemukan gadis berambut kucir dua yang belum juga aku tahu namanya itu. Akan tetapi, belum juga ada hasilnya.

Memasuki tahun akhir SMP, aku yakin, aku bertemu dengan gadis itu. Yah, tidak bertemu secara langsung, tetapi aku yakin, aku melihat dan mengenali wajahnya. Saat itu, aku sedang berada di salah satu SMA negeri di kota, untuk mengikuti ujian masuk SMA berstandar internasional. Saat jeda berlangsung, saat aku sedang menikmati kudapan bersama teman-temanku di kantin SMA tersebut, aku tidak sengaja memandang gadis itu. Dia sedang tertawa dengan manis bersama seorang temannya, berjalan memasuki sebuah ruang kelas. Aku benar-benar hampir tidak percaya bahwa gadis itu sedang mengikuti ujian masuk SMA berstandar internasional juga, dan kebetulan mendapat lokasi ujian yang sama denganku.

Takut kehilangan gadis itu lagi, akhirnya aku bangkit meninggalkan teman-temanku dan menghampiri ruang kelas yang dia masuki tadi. Aku tahu, aku tidak mungkin tiba-tiba menghampiri gadis itu dan mengajaknya bicara. Maka dari itu, hal pertama yang aku cari tentangnya adalah namanya. Aku menghampiri jendela kelas itu dan melihat sebuah lembaran yang tertempel di kaca salah satu jendela. Di sana tertera denah tempat duduk ujian bagi murid-murid di kelas itu. Ada fotonya juga. Aku pun langsung mencari wajah gadis itu di denah tersebut. Di situlah aku seperti merasakan sebuah kelegaan. Akhirnya aku mengetahui namanya.

Tahun demi tahun berlalu, tidak terasa aku sudah berada di tengah masa jenjang sekolah menengah atas. Aku sempat melupakan gadis itu saat 2 tahun tidak pernah melihatnya lagi. Namun, asal kalian tahu saja. Entah kenapa, saat mendengar namanya, aku masih tetap merasa was-was, berharap bisa bertemu dengannya lagi.

Waktu demi waktu berlalu, harapan itu sempat tenggelam dan terlupakan dengan munculnya beberapa gadis yang menjadi teman bermainku. Menjadi kapten tim basket membuatku terus diincar beberapa teman perempuan sekolahku. Maksudnya, mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatian dariku. Setidaknya itulah yang dikatakan teman-teman satu tim basketku dan guru bimbingan konseling (BK) sekolah, Pak Danang.

Pak Danang memberitahu segalanya kepadaku di sela-sela istirahat sekolah. Katanya, para gadis itu seringkali mengungkapkan curahan hatinya pada Pak Danang tentangku. Pak Danang pun akhirnya berpesan padaku untuk menaruh setidaknya sedikit saja perhatian pada teman-teman perempuanku itu. Memang terdengar aneh jika seorang guru tiba-tiba meminta muridnya untuk membalas perhatian orang-orang yang naksir dengannya. Tetapi itulah satu-satunya pesan sekaligus pernyataan seorang guru yang paling kuingat selama SMA.

“Cobalah, balas perhatian yang selama ini diberikan oleh orang-orang di sekitarmu, Al. Kamu ini cowok. Harus peka,” kata Pak Danang, yang kemudian mencomot tahu goreng dari jari-jemariku.

Ternyata, sulit rasanya untuk peka terhadap berbagai hal yang sebenarnya tidak ingin aku ketahui, tidak aku pedulikan. Tetapi lebih sulit lagi rasanya untuk mencari tahu jawaban dan informasi dari hal-hal yang justru ingin aku ketahui, yaitu: Di mana gadis itu tinggal?

Pengumuman kelulusan SMA telah mengisi kebahagiaan dalam sekolahku ini. Sementara itu, pengumuman diterimanya aku di universitas impianku telah mengisi kebahagiaan tidak hanya di benakku, tetapi juga kedua orangtuaku. Selama setahun ini, aku belum juga menemukan jawaban dari pertanyaan di mana gadis itu tinggal, bahkan sampai sempat melupakannya. Aku bisa masuk ke universitas impianku, tetapi untuk pertanyaan kedua mengenai seorang gadis saja aku tidak bisa menemukan jawabannya. Semakin hari, aku semakin penasaran dengan gadis itu. Kenapa aku jadi sering memikirkannya, padahal kami sangat, sangat jarang bertemu?

“Al!”
“Eh, Ibu! Ngagetin aja, deh,” gerutuku pada ibuku yang tiba-tiba datang entah dari mana, sambil menaruh berplastik-plastik besar belanjaan mingguannya di atas meja makan di hadapanku.
“Kamu ini mikirin apa, sih? Ibu ucapin salam, kok sampai nggak dijawab?”
“Wa ‘alaikum salam, Ibu.”
“Tuh, kan! Ibu padahal belum ngucapin salam, loh.”
Aku pun menggeliat kesal.
“Kamu mikirin apa, sih Al? Belakangan ini sering banget bengong. Masih mikirin gimana nanti kuliah di Bandung ngekos?” tanya ibuku sambil menaruh barang-barang belanjaannya satu per satu ke dalam laci di atas kompor.
“Bukan, Bu. Itu mah udah selesai dipikirinnya kemarin sama Jillian. Tuh anak, kecil-kecil, tapi pikirannya udah dewasa, Bu,” jawabku sambil memilah-milah belanjaan ibuku. Jillian adalah adikku yang masih duduk di bangku SMP kelas 2.
“Terus, apa dong? Mikirin cewek, ya?” goda ibuku sambil mencolek pinggangku dengan canda.
Mau tidak mau, aku menjawab dengan jujur sambil setengah bengong. “Iya, Bu.”

Saat itulah aku merasa bahwa ibuku berhenti bergerak. Aku menoleh padanya yang ternyata sedang memberikan ekspresi kaget di wajahnya, seperti baru mengetahui bahwa aku diam-diam buang air besar di celana. Dia pun menutup pintu laci di atas kompor dan segera menghampiriku, masih dengan ekspresi kaget itu.
“Tumben kamu mikirin cewek, Nak. Siapa cewek itu? Kapan Ibu bisa ketemu sama dia?” tanya ibuku bertubi-tubi.

Aku tidak heran, karena memang, ini adalah pertama kalinya aku membicarakan seorang gadis pada seseorang. Karena tidak tahan, aku pun menceritakan segala kegelisahan dan rasa penasaran yang selama ini aku pendam. Aku menceritakan segala yang aku tahu tentang gadis itu, dari pertama kali kami bertemu. Aku menceritakan bagaimana gadis itu selalu aku pikirkan di sela-sela kegiatanku. Aku menceritakan betapa bingung dan bodohnya aku karena aku memikirkan seseorang yang bahkan tidak mengenalku.

“Tapi aku masih penasaran, di mana dia tinggal, Bu. Aku penasaran, gimana kabarnya sekarang.”
“Loh, tadi kan kamu bilang, kamu satu TK sama dia. Kamu juga pernah ketemu dia waktu kamu Ibu suruh beli terasi di warung Bu Pipit depan sana. Berarti rumah dia nggak jauh dari sini, Al.”
Kedua mataku terbelalak, mulutku terbuka. Bodohnya aku tidak memikirkan hal itu selama ini. Aku bahkan lupa kalau aku pernah satu TK dengan gadis itu. Sayangnya saat aku tanya pada ibuku, apakah dia tahu rumah gadis itu di sebelah mana, ibuku mengatakan tidak pernah mendengar nama gadis yang aku sebutkan. Dia pun menyarankan untuk ke TK tempatku dulu menuntut ilmu dasar menulis. Siapa tahu, pihak TK masih menyimpan alamat rumah murid-muridnya angkatan 12 tahun yang lalu. Tidak ada salahnya mencoba, kan?

Esok pagi, aku benar-benar mengunjungi TK tersebut. Suasana anak-anak yang berlarian mengingatkanku akan masa kecilku. Masa kecilku bersama gadis itu yang kenangannya hanya sepercik. Di gedung kecil itu, aku bertemu dengan Bu Ningsih, guru TK-ku dulu yang meminta gadis impianku untuk meminjamkan sebagian lilin mainannya untukku. Bu Ningsih terlihat lebih tua dibanding terakhir aku melihatnya. Dia hampir tidak mengenaliku, bahkan saat aku mengatakan bahwa aku pernah menjadi salah satu muridnya, dia memang akhirnya memberikan ekspresi “Oh, Alex! Sudah besar sekali, kamu!” tapi aku tidak yakin kalau dia benar-benar ingat padaku.

“Semua data ada di sini. Dari pertama kali TK ini dibangun, data murid yang sekolah di sini selalu disimpan dengan baik, kok,” kata Bu Ningsih sambil membolak-balikkan sebuah arsip.
Ternyata benar. Semua data masih disimpan, termasuk informasi mengenai alamat rumah gadis impianku ini. Setelah berterimakasih dan berpamitan, aku langsung menuju rumah gadis ini. Tidak menyangka bahwa alamatnya memang tidak jauh dari rumahku.

Sesampainya di depan rumah sang gadis, aku pun segera mengetuk pintu depan dan mengucap salam. Jantungku benar-benar berdegup kencang. Aku sempat heran terhadap diriku sendiri, beraninya aku mengunjungi rumah seorang gadis yang bahkan tidak mengenaliku. Sempat terpikirkan, apa yang seharusnya aku katakan pada gadis itu, setelah kami bertemu nanti? Haruskah aku segera pergi meninggalkan rumah ini? Tetapi sudah terlambat, saat terdengar suara knop pintu yang dibuka. Yang membuka dari dalam ternyata adalah Ibu dari sang gadis.

“Allisa lagi ke Bandung sama kakaknya, Dik. Kebetulan, dia baru aja keterima di Universitas Padjadjaran. Dia ke sana buat cari kosan.”
Jawaban sang Ibu tentu membuatku terkejut. Sepertinya aku juga merasa sangat senang. Sangat, sangat senang. Ada rasa lega juga di hatiku, karena aku memang belum siap untuk bertemu dengan Allisa langsung hari ini. Akhirnya aku berterimakasih dan berpamit diri. Saat pintu kembali tertutup, aku terdiam sebentar di sana, memikirkan, mengapa jantungku masih belum berhenti berdegup kencang. Secara tidak sadar, aku tersenyum sendirian di teras rumah itu. Sampai sebuah suara yang sangat aku rindukan, tiba-tiba menyadarkan lamunanku.
“Alex?”
Aku segera berbalik, mengarah ke sumber suara dengan ekspresi tidak percaya. Aku melihat Allisa, dengan kakak perempuannya yang sedang tersenyum-senyum geli melihat kami. Allisa terlihat malu-malu menutup mulutnya, berdiri di ambang pagar rumahnya sendiri, sementara kakaknya segera meninggalkan kami, memasuki rumah. Gadis impianku itu sedang membawa tas ransel di pundaknya. Aku hampir tidak percaya kalau Allisa baru saja menyebut namaku dengan sangat jelas.

Allisa masih berdiri mematung di tempatnya. Aku memberanikan diri untuk menghampirinya. Dia terlihat gugup. Dia menunduk, gelisah.
“Aku nggak nyangka kita diterima di universitas yang sama,” kataku, setelah memberanikan diri.
Kalimat itu berhasil membuat Allisa mau menatap balik kedua mataku. Dia akhirnya pun juga membalas senyumanku, dengan senyuman yang sama manisnya saat memberiku lilin mainan 12 tahun yang lalu. Saat akhirnya kami berbicara, di sanalah aku langsung sadar bahwa aku selama ini telah jatuh cinta padanya. Aku ingat kata-kata ibuku sebelum aku sampai di hadapan Allisa sekarang.
“Belum pernah Ibu dengar kamu sampai segitu perhatiannya sama seorang gadis, Al. Dari dulu, ternyata perhatianmu cuma buat dia, toh.”

Dari pembicaraan kami, aku jadi tahu banyak hal yang selama ini aku ingin ketahui. Siapa yang sangka kalau Allisa masih menyimpan lilin mainan yang dulu sempat aku pinjam saat TK. Siapa yang sangka kalau gadis impianku ini ternyata sudah menyukaiku sejak 12 tahun yang lalu, sampai sekarang. Siapa yang sangka kalau aku adalah impian dari gadis impianku sendiri.

The End

Cerpen Karangan: Junavazuci
Blog: preciousglowstick.blogspot.com
Memiliki minat pada perkembangan musik dan suka menulis lagu. Cerpenku yang lainnya bisa dicek di blogku! 🙂

Cerpen Clay merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Idol Scandal (Part 2)

Oleh:
Hari ini moodku benar-benar buruk, bagaimana tidak aku hanya salah membuka lembaran kerja saat si killer men mengajar dan dia mengomeliku hampir 2 jam bayangkan aku hanya salah satu

My Sweet Wolf Boy (Part 1)

Oleh:
Angin dingin menembus tirai jendela yang berkibar-kibar tertiup angin. Samar-samar, aku mulai mengingat apa yang terjadi kemarin. Saat itu, aku tengah mengerjakan gaun pesanan sahabatku yang akan menikah, Angela.

Cokelat Dari Penggemar Rahasia

Oleh:
‘Hai Diva..!. Semoga kamu suka ini.. -Penggemar rahasiamu- ‘. ‘Pasti kau bertanya-tanya, siapa aku. Iya kan? Hehe.. -Penggemar rahasiamu- ‘. ‘Kali ini yang bungkus aku sendiri loh.. cantik nggak,

Miracle

Oleh:
Putih… Balutan putih tenang Bergeming, Terpaan angin menggoda Bergeming, Tangan rengkuh menggapai haru Bergeming, Langkah kakinya kian mereda, jauh dari kata cepat. Kaki jenjang itu menghentak tanah dengan keras.

Cinta Itu Beda

Oleh:
Tik … Yang lelaki bernama Beda. Memang dia beda dengan lelaki manapun. Wajahnya tidak bulat juga tidak oval. Bentuk rahangnya tergambar jelas. Membuatnya terlihat jantan namun tidak menyeramkan karena

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *