Come Back to Four Second

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 19 August 2016

“Felly! Bisakah kamu datang hari ini ke kantor?,” tanya kepala Editor.
“Tapi, hari ini saya libur kan Pak? Kenapa harus saya datang ke kantor?!,” tanya Felly bingung. Ditambah, nyawanya masih belum lengkap setelah ia tidur dari tidur panjangnya.
“Hari ini ada kunjungan dari penanam saham terbesar di studio suara kita. Kita tidak mempunyai artis dengan reputasi tertinggi selain kamu. Saya mengerti, tidak seharusnya saya melakukan hal ini kepadamu. Tapi, apa daya apabila ketua Direksi yang memintanya? Mau tidak mau, saya harus mau melakukan. Lagipula, saya juga tidak masalah setelah mereka mau membayar kamu mahal. Hanya beberapa lagu, Fel. Tidak satu album.”
“Hsssshhhh! Baiklah, jam berapa?,” tanya Felly dengan mata yang masih separuh tertutup.
“Tiga puluh menit dari sekarang.”
“What?! Tapi…”
“Turunlah ke lobi apartemenmu. Kantor sudah menyiapkan tata rias dan juga gaun untuk penyambutan. Saya juga sudah mengirim supir untuk kamu datang ke sini. Jadi, kamu nggak capek di jalan karena kecapekan nyetir.”
“Tapi…”
Kata Felly terputus saat kepala Editornya mematikan telponnya. Dengan langkah gontai. Ia menekan tombol bel kepada resepsionis untuk mempersilahkan orang suruhan kepala Editor masuk ke dalam apartemennya.

Tak lama menunggu, mereka sudah ada di depan pintu apartemen Felly.
“Felly Anggi Wiraatmaja, right?,” tanya seorang banci dengan lihainya.
“Yes! Enter now!,” jawab Felly dengan mempersilahkan ia masuk.
“Apakah kau sendirian?,” tanya Felly dengan menekan teko untuk menyiapkan kopi panas bagi si banci itu.
“Tidak nona. Aku mebawa asistenku. Hmmmmm, bisakah kau membersihkan dirimu terlebih dahulu?,” tanya perias banci itu saat Felly menyodorkan kopi untuknya.
“Tentu saja. Tidak mungkin aku datang ke kantor dalam penyambutan dengan bau mulut dan muka yang masam seperti ini.”
“Baguslah kalau begitu. Aku akan menyiapkan make-up agar sesuai dengan gaunmu.”
“Lagi-lagi aku harus memaki gaun yang membuat kakiku tidak bisa berjalan. Oh Tuhan, semoga saja aku bisa melangkahkan kakiku nanti untuk menguasai panggung,” gumam Felly dengan memasuki kamar mandi.

Dengan riang Felly menari-nari dan bernyanyi di dalam kamar mandi. Hingga ia lupa waktu untuk datang ke kantor dalam waktu tiga puluh menit.
“Nona, ponselmu berbunyi. Kepala Editor menelponmu. Cepat keluar dari kamar mandi! Mereka sudah menunggumu!,” seru perias banci itu dari luar kamar mandi.
“Kepala Editor!,” gumam Felly.
Dengan cepat ia pun membersihkan dirinya dari busa yang sudah disediakan oleh banci tadi.
“Apakah aku harus make-up sekarang banci?”
“Hey panggil aku Erika. Okay?! Bukan banci!”
“Ok, ok! Whatever.”
Tanpa berkata, Erika mendudukannya di sofa tidur yang sudah dia siapkan. Kemudian melukis wajah Felly dengan ahlinya. Begitu juga dengan asistennya yang membantu untuk menata rambut Felly.
Hingga tahap akhir, ia menggunakan gaun merah maron yang begitu elegan dengan pernak-pernik yang ada di sana sini. Sepatu hag warna hitam yang melingkupi telapak kaki kepalnya dengan ukiran batik. Sehingga, membentuk warna hitam putih yang menyatu. Terlihat anggun.
“Nona, bisakah kita berangkat sekarang?,” tanya asisten Erika.
Felly hanya bisa mengangguk. Bagaikan putri, ia harus berjalan dengan belakang gaun yang harus dibantu dengan tangan orang lain agar memudahkan Felly untuk berjalan.

Dengan cepat, mobil kiriman kantor melaju begitu cepat, hingga ia sampai di depan lobi kantor. Para pengawal menuntunnya untuk memasuki lift ke arah panggung secara langsung. Sehingga, Felly datang dalam penyambutan dengan berdiri di depan karpet merah dengan beberapa pengawal dan pegawai dan membawa bunga sebagai tanda penghormatan.
“Silahkan masuk!,” pinta Kepala Direksi dengan penuh hormat.
Felly pun memberikan bunga kepada investor itu. Sejenak, mata mereka saling bertatapan. Begitu lama. Tanpa suara. Tanpa senyuman. Bagaimana bisa? Yah… mereka hanya bisa berbicara tentang masa lalu melalui tatapan mata mereka. Walaupun tangan pegawai mengingatkan Felly untuk menyapa, ia hanya bisa terdiam.
Dadanya kembali terasa sesak. Rasa itu kembali lagi setelah tiga tahun Felly berusaha untuk menguburnya dengan sejuta kesibukan. Hingga ia bisa mengucapkan bahwa ia bena-benar telah melupakan lelaki di depannya ini. Arka. Arkana Aditya. Mantan kekasihnya. Cinta pertamanya yang sempat hilang tujuh tahun silam. Kemudian, ia melespaskan selama tiga tahun belakangan ini. Semua nampak begitu jelas.
“Selamat datang di kantor kami,” sapa salah seorang pegawai.
Arka hanya tersenyum tipis dengan menganggukkan kepalanya. Kemudian, kembali menatap Felly. Gadis yang pernah mencaci makinya dengan begitu kejam. Felly mengalingkan tatapannya. Suasana kembali ramai dengan adanya sahutan sambutan dari berbagai pihak.

Mereka berjalan berjejer seperti pengantin. Hingga langkah mereka terhenti saat tentor utama menghentikan langkahnya. Kemudian, melangkahkan dengan kaki yang setengah berlari.
“Aku merindukamu! Bodoh!,” ucap laki-laki itu dengan memeluk Felly spontan saat Arka tak dapat membendung rindunya dengan wanita yang ada di depannya.
“Lepaskan! Lepaskan Arka! Jangan membuat aku malu di sini!,” pinta Felly setengah berbisik dengan berusaha melepaskan pelukan Arka yang spontan.
Semua mata tertuju kepada mereka berdua. Kamera berulang kali mengambil gambar mereka. Bagimana tidak? Sepanjang masa mereka mencari tahu tentang kekasih artis naik daun itu. Akan tetapi, semua hanya berhasil dengan gosip belaka. Dan sekarang, mereka mendapatkan hot news secara gratis.
Wartawan mendekat. Menyiapkan microfon dan juga berbagai alat-alat yang lainnya untuk meliput. Hingga terpaksa, Felly dan Arka harus diamankan oleh pihak keamanan dan diungsikan ke dalam ruangan khusus.

“Apa kau puas?! Kau mengacaukan segalanya, Arka! Kau tahu, aku ke sini dengan rasa terpaksa. Tahu begini, lebih baik aku tertidur lelap di apartemen!,” kata Felly mengoceh hebat.
“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu kepadamu.”
Felly hanya menatap Arka dengan sinis.
“Felly! Bisakah kita menikah?!”
“Apa?! Apa kau bilang?! Menikah?! Aku bukan kucing yang bisa menikah kapan saja!”
“Lantas, kenapa kau masih menggunakan kalung itu?,” tanya Arka dengan tatapan mata yang sendu.
Seketika Felly membelalakkan matanya. Pipinya berubah seperti kepiting rabus. Merah semu malu.
“Aku lupa melepasnya!,” kata Felly dengan mengalingkan tatapan matanya.
Arka pun mendekat hingga ia berada di depan Felly. Kemudian, ia mengangkat jari telunjuknya untuk memutar dagu Felly dengan lembut.
“Katakanlah padaku bahwa kau lupa melepasnya dengan menatap mataku. Jika memang itu benar, aku berjanji tidak akan menganggmu lagi. Aku akan berhenti, Felly Anggi Wiraatmaja.”
“Kenapa kau melakukan semua ini?!”
“Lantas kenapa kau melakukan ini jikalau kau sudah melupakanku gadis gila!,” kata Arka dengan memberikan album single Felly yang pertama.
“Apa maksudmu?,” tanya Felly.
“Jangan membohongiku, Felly. Aku mengenal siapa kau?!”
“Mengenalku?! Jikala kau mengenalku, kenapa kau membayar cinta kita dengan uang?!”
“Aku tidak pernah membayar cinta kita dengan uang! Dan kau! Kenapa kau menulis semua lagu ini?! Felly, aku investor di sini! Jangan salahkan aku kalau aku mendapatkan data tentang deskripsi setiap lagumu!”
“Okay! Aku menulis semua tentang kisah kita! Termasuk kekejamanmu!”
“Kekejamanku?! Apakah aku masih terlihat kejam saat aku mengajakmu menikah?! Apakah salah aku sebagai seorang laki-laki normal mengajak wanita yang dicintainya untuk menikah dan hidup bersama?! Kemanapun arahnya selalu bersama?! Apa aku salah?!”
Felly pun hendak menjawab. Namun, ia tak mampu menjawabnya. Dengan keras ia menghempaskan tubuhnya ke sofa yang ada di ruangan itu. Tak lupa, ia berulang kali memijat dahinya yang terasa pening.

“Kenapa kau menawarkan hartamu saat itu?,” tanya Felly dengan lirikan yang menyebalkan.
“Karena aku tidak ingin isteriku bekerja keras untuk membantuku. Aku hanya ingin isteriku menjadi putri di dalam rumah. Bisa kulihat saat aku bangun tidur, berangkat kerja, pulang kerja, dan juga saat tidur. Tanpa harus kawatir ia pulang malam karena pekerjaan. Aku juga hanya ingin, isteriku manjadi seorang ibu. Ibu yang penuh dengan perhatian. Yah! Perhatian yang terfokus untuk keluarganya. Hanya itu.”
“Kenapa kau menungguku bodoh?!,” tanya Felly dengan mata yang mulai panas.
“Karena kau bukanlah gadis yang memiliki hati seperti Ice Cream. Melainkan, kau adalah gadis yang berhati keras seperti batu. Bukan hanya hatimu yang keras. Tapi, juga otakmu yang kecil itu. Tapi, di balik itu semua kau begitu lembut seperti bulu kucing. Kau begitu menggemaskan saat kau marah. Dan, kau bisa membuat gila saat aku mendengar suara manjamu.”
Felly hanya bisa terdiam dengan pipi yang sudah basah karena derasnya air mata yang mengalir. Ia tak bisa berkata apapun. Ia hanya bisa terdiam mematung. Membeku dengan hati yang terasa begitu sakit. Dan juga, jantung yang terasa hendak berhenti bekerja saat suara Arka mulai menghilang. Semua itu menyiksanya. Jiwa dan raganya.

Perlahan, Arka menekuk lututnya. Matanya bertemu dengan mata Felly yang penuh dengan rindu. Yah.. rindu yang terkubur begitu dalam. Meski di luar tampak bahwa Felly membenci Arka. Namun, Arka tidak dapat menerima kebohongan itu. Hatinya terus memberontak bahwa Felly masih tetap mencintainya.
“Felly. Aku merindukanmu!,” ucap Arka dengan memeluk Felly.
Felly hanya bisa memukul punggung Arka. Tetap dengan isak tangisnya. Semakin berderu dan terdengar begitu bebas.
“Menangislah sepuasmu. Aku akan menunggu di sini.”
“Kenapa kau kembali lagi? Kenapa kau kembali membuat aku seperti ini?”
“Karena aku mencintaimu dengan rasa sayang yang begitu dalam. Aku tak bisa membohongi diriku sendiri. Semua itu akan semakin menyiksaku.”
“Kenapa kau mau menunggu?”
“Jikalau kau bisa menunggu selama tujuh tahun, kenapa aku tidak bisa menunggu hanya tiga tahun? Walaupun, aku merasa bahwa tiga tahun terasa begitu lama. Melebihi tujuh tahun.”
Felly tetap dalam isak tangisnya.
“Arka,” panggil Felly lemah.
“Hmmmm?”
“Ka,” panggil Felly lagi. Untuk kali ini, dengan begitu manja. Seperti malam-malam yang pernah mereka lewatkan di telpon.
Arka pun melepaskan pelukannya.
“Apa?”
Felly menundukkan kepalanya. Namun, terhalang oleh jari telunjuk Arka yang sudah siap sedia menjadi pagar penghalang di sana. Hingga akhirnya, mereka bertatapan lurus. Tentunya dengan mata yang sembab karena isak tangis masing-masing individu.
Hening.
Hingga terdengar suara, Arka bergerak. Memegang kadua pundak Felly. Begitu juga Felly. Ia begitu antusias dengan gerakan itu. Sejenak, Felly menunggu. Hingga, Felly merasa kesal dengan hal itu. Suasana menjadi canggung. Sangat canggung. Begitu juga dengan Arka. Mereka berdua berasakan hal yang sama.
“Ayo menikah!,” ucap Felly dan Arka bersamaan.
Kemudian mereka tertawa bersama dengan nafas yang terdengar lega. Yah.. lega karena mendapatkan cintanya kembali. Meskipun, cinta itu munafik. Akan tetapi, satu hal yang perlu kita ketahui. Sepandai apapun cinta berbohong. Hati tidak akan pernah bisa membantunya berbohong. Karena cinta, adalah anugerah terindah. Walau tekadang menyakitkan. Mengingat, kehidupan tak selama indah seperti yang telah dibayangkan. Dan, sesuai dengan rencana yang telah terajut rapi.

Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Facebook: Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Kerudung Putih)
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani[-at-]yahoo.co.id. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Cerpen Come Back to Four Second merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terimakasih

Oleh:
Pelangi setelah hujan? Apakah akan selalu ada? Sejatinya seperti rumput yang terkena embun setelah turunnya hujan.. Mempelajari berbagai hal, perasaan, keadaan.. Ingin memperbaharui perasaan ini, tetap pada orang yang

Cinta Sejati Ku Telah Kembali

Oleh:
Ini cerpen tentang kehidupan ku mengenai CINTA. Cinta itu.. Bagiku adalah suatu hal yang sangat indah. namun, kita juga harus bersiap untuk merasakan pahitnya juga.. ya seperti hidup, kadang

The Last Song

Oleh:
“Candy! Candy! Candy!” Teriakan para fans gadis yang bernama Candy itu memenuhi gedung konser. Candy pun segera muncul di atas panggung. Dia tersenyum seraya melambaikan tangan pada fans-fans setianya.

Will be Socked

Oleh:
Pesta tergelar begitu megah. Alunan lagu yang beet mengawali suasana yang mengkhususkan untuk para pendatang tamu yang berhubungan dengan kedua mempelai. Semua pengunjung menikmati jamuan yang ada. Termasuk gadis

Cinta Yang Terobati

Oleh:
Kisah cinta nggak semudah atau segampang yang kita bayangkan, itu semua butuh perjuangan untuk mendapatkanya. Ketika orang yang kita sayang 100% pada akhirnya akan ada dua jawaban: dapat teman

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *