Cup Cake

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 3 June 2015

“Tiittt… tiiittt… tiiittt….” Suara jam weker membangunkanku.
Ku raih dan ku matikan, ku lihat sebuah Cup cake dengan krim strawberry favoritku terletak tepat di sebelahnya. Sepucuk surat bersandar di bungkusnya. Ku buka dan ku baca.

Good morning Princess Cup cake

Aku tersenyum melihatnya dan aku tau siapa pengirimnya.
“Ma… Tadi Denis kemari yah?” Teriakku.
“Ya tadi pagi-pagi sekali dia datang dan menitipkan Cup cake favorit mu.” Jawab suara dari luar ruangan kamarku.
Siang ini aku berjanji akan jalan dengannya, ini hari jadi kami yang ke 2 tahun 4 bulan tepatnya. Ku angkat tubuh pemalas ini dan ku bawa untuk membersihkan diri.
Setelah selesai, masih dengan menggunakan handuk dan rambut panjangku yang masih basah. Ku ambil dan ku nikmati Cup cake pertamaku hari ini.
“hemmm enak sekali…!!” ucapku girang.

Jam menunjukkan pukul 11.. Suara klakson sepeda motor terdengar dari depan gerbang rumahku.
“Ma… aku pergi dulu yah…” teriakku.
“Hati-hati…” jawabnya parau.

Denis mengajakku berjalan-jalan ke beberapa tempat, namun seperti biasa tanpa perlu ku katakan dia membawaku ke sebuah toko kue berlambangkan Cup cake. Tempat yang paling ku suka.

“Den, aku mau yang ini..” pinta ku menunjuk ke sebuah cup cake rasa coklat krim strawberry.

Lelaki itu tersenyum melihatku, dia begitu senang memandangiku setiap kali aku bersamanya ke toko kue langgananku ini. Sejak aku kecil ayahku sering sekali mengajakku ke tempat ini, selain kuenya yang begitu enak tempat ini memiliki suasana yang begitu nyaman dan indah dipandang. Tempat yang klasik namun begitu elegan.
Namun yang membuatku suka tempat ini adalah cup cakenya yang terkenal begitu manis dan menggoda. Terbukti tentunya, begitu banyak pelanggan yang datang kemari hanya demi mencicipi cup cake yang begitu terkenal di daerah ini.

Dengan senyuman yang menawan, lelaki itu mengambil kue pesananku dan menyuruh ku menunggu sebentar. Dia selalu setia menemaniku ke tempat ini, seminggu mungkin bisa berkali-kali.

Denis, dia kekasihku. Tak ku sangka sudah 2 tahun 4 bulan sejak kami pertama kali bergandengan tangan. Masih ingat aku hari dimana dia mengungkapkan cintanya padaku, dengan 8 buah cup cake yang bertuliskan I LOVE YOU.
Sungguh romantis dan begitu manis, andai bisa ku simpan semua cup cake itu pasti sudah menjadi pajangan utama di kamarku.

Handphone ku berbunyi, ada yang menelpon ku. Ku rogoh tas gandeng ku dan ku ambil segera berharap ada yang penting sehingga mengganggu waktu ku bersama kekasihku.

Aku terpaku saat ku menatap nama yang tertera disana. “Arifah” nama itu yang muncul di layar handphone ku, tragedi itu mulai nampak kembali, kupikir setelah sekian lama kami tak pernah bertemu, semuanya akan berlalu dengan mudah. Namun sepertinya akan kembali sulit bagiku melupakan persahabatan kami di masa lalu. Aku masih saja terdiam hingga handphoneku berbunyi untuk kedua kalinya. Saat itu pikiranku melayang jauh, menyusuri waktu itu.

Hari itu, hujan rintik-rintik membasahi segalanya di sekitarku, aku berlari untuk menemui Denis dan Arifah yang telah lama menunggu ku di toko kue langgananku ini, karena takut mereka terlalu lama menunggu. Ku susuri jalan menuju tampat itu. Tapi, kakiku terlalu berat melangkah lagi hingga tak pernah sekalipun aku sampai kesana.

Aku melihatnya. Ku lihat segalanya terlalu indah untuk mengganggu kebersamaan di antara mereka. Sejak saat itu ku sadari semua, tatapan yang tak pernah bisa aku temukan saat aku menatap Arifah sebelumnya.

Saat itu aku dan Denis hanya teman biasa, begitu juga dengan Arifah. Namun aku tak tau bahwa Arifah memiliki rasa yang sama dengan ku. Sejak awal aku sudah menduga, pertemanan dua orang perempuan dan seorang lelaki akan membuahkan cinta segitiga. Dimana, bila dua hati bersatu, akan ada satu hati yang terluka.
Sejak dia tau Denis lebih memilihku, Arifah tak mau lagi menemuiku, dia mengatakan aku ini sahabat yang keterlaluan. Teman makan teman, begitu lebih tepatnya. Aku pun terjebak dalam dilema yang biasanya ku baca dalam cerita-cerita. Tak ku sangka aku benar-benar akan mengalaminya.
Arifah atau Denis? Cinta atau sahabat? Karma atau luka? Pilihan-pilihan itu menghantui fikiran ku. Namun Denis lebih dahulu mengutarakan isi hatinya padaku dan saat itu ku pilih pilihan ku. Sejak hari itu, berakhirlah persahabatan kami.

Aku tersentak, setelah ketiga kalinya handphone ku berbunyi dan masih menampilkan nama yang sama. Segera ku reject telponnya dengan wajah yang menunjukkan kebingungan.
“ada apa dia menelpon ku?” tanyaku dalam hati.
Tak ku sangka lebih 2 tahun dia masih menyimpan nomorku. Padahal kami tak pernah berhubungan sejak dilema itu.
“Siti, ayo pergi..” ajak Denis.
“Siti…” panggilnya sekali lagi.
“Eh…eee… iya ayo..” jawabku yang baru tersadar dari lamunanku.
Segera aku menggandeng dan memeluk lengan pangeranku, dia tersenyum melihat tingkah manjaku dan kami pun berjalan keluar menuju pintu.
Sebelum pulang ke rumah, dari tempat ini biasanya kami akan pergi ke taman bunga dimana tempat Denis menembakku. Dia suka mengenang saat-saat itu, saat paling bahagia dalam hidupku.
Di dekat air mancur, Denis mengajakku duduk di kursi panjang berwarna putih. Dia membuka bungkusan coklat dan mengambil sebuah cup cake berwarna pink dari dalamnya. Dengan sangat romantisnya perlahan ia menyuapiku, aku pun tak sungkan langsung melahap dan menikmati makanan favoritku itu dengan sedikit perilaku manja.
Terkenang masa-masa indah bersamanya, setiap suapan mengandung jutaan makna yang diutarakan dalam satu kata “Cinta”. Dengan lembut dan romantisnya ia membersihkan krim cake yang belepotan di bibir ku.
Seketika itu dia menatapku, matanya berkaca. Bibirnya merekahkan sebuah senyuman tulus yang membuatku bahagia.
“Siti aku mencintaimu..” ujarnya
Hatiku terasa lebih manis dari ratusan cup cake yang pernah ku cicipi. Wanita mana yang tidak melayang hatinya diperlakukan seromantis ini? Sungguh tiap gadis ingin lelaki seperti dirinya.
Aku masih terdiam memandanginya yang membersihkan krim di bibirku, sungguh dalam tatapannya. Seakan dia memaksa ku masuk dan merasakan cinta yang ia miliki.
“Aku ingin, setiap hari bisa menyuapimu sebuah cup cake yang kau sukai..” ujarnya lagi.
Tanpa sadar mata ku terasa sempit untuk menatapnya, air mata menghalangi pandangan ku. Haru dan bahagia bersatu di dada, sungguh beruntung aku mendapatkan kekasih sepertinya. Setelah, membersihkan krim di bibirku kini ia menepiskan butiran yang mengalir di pipiku.
“Den, aku ingin kamu selalu ada… mengusap setiap air mata ini..” sahut ku.
“Pasti… Aku pasti melakukan itu..” jawabnya dengan senyuman.
Dia memelukku erat, air mata ku kini membasahi kemejanya yang rapi. Beberapa kali ia menciumi rambut ku, seolah mengatakan “aku sayang padamu”.

Suasana bahagia itu terusik oleh sebuah bunyi handphone dari tas ku. Seketika Denis melepaskan pelukannya dan memintaku menjawab telpon itu. Ku raih tas ku dan ku ambil benda pengganggu itu.
“Arifah” lagi-lagi dia, kenapa dia mengangguku di saat-saat indah seperti ini, selama dua tahun dia tak menghubungiku sekarang dia mengganggu kemesraanku dengan kekasih ku. Lagi-lagi ku reject telpon itu namun kali ini dengan wajah yang cukup kesal.
Denis hanya diam, dengan dua tangannya yang saling menggenggam. Menatap bungkus Cup cake yang tadi dia belikan untukku.
“Dari siapa?” tanyanya tiba-tiba.
“bu.. bukan dari siapa-siapa..” jawabku.
“kalau penting angkat aja dong.” Ujarnya dengan senyum mempesona.
“iya, tapi memang gak penting kok.”

Langit mulai mendung, gemuruh mulai terdengar, angin pun tak mau kalah menunjukkan aksinya. Denis segera menggandeng tanganku dan menarikku pergi, aku sedikit berlari mengejarnya. Mata ku tertuju pada genggaman tangannya yang begitu dingin, seakan aku tak ingin melepasnya untuk selamanya.

Di sepeda motornya ku peluk erat tubuhnya dan ku hirup jelas aroma tubuhnya. Membuatku nyaman dan tenggelam di dalam kenikmatan. Angin mengibarkan rambutku, rintik-rintik hujan mulai jatuh.
Akhirnya kami sampai di depan rumahku, Denis membuka kaca helmnya dan tersenyum manis padaku. Segera aku turun dan berdiri di sampingnya.
Denis memintaku mendekatkan wajahku ke helmnya. Lalu tiba-tiba dia menyentuh keningku dengan kecupan lembut dari bibirnya. Seketika pipiku memerah dan senyumku merekah, wajahku tersipu malu. Dia menatapku, tertawa kecil, lalu….
“Dah, Sampai jumpa… princess cup cake” katanya.
“Daahh…” teriakku girang melambaikan tangan.
Sungguh aku ingin menghabiskan waktu ku lebih lama dengannya, tapi masih ada hari esok.. fikirku. Hari ini entah mengapa terasa begitu istimewa dari pada hari-hari sebelumnya. Kebahagiaan yang tiada tara membuatku tak bisa berhenti tersenyum puas.

Perlahan sosoknya mulai menghilang dari pandanganku, hujan mulai deras dan aku mulai berbalik memalingkan diri dari arah Denis pergi. Ku bawa kaki ku melangkah menuju pintu… tiba-tiba…
“Arifah!!!” ucapku.
Aku masih terheran-heran kenapa dia menelponku berulang kali, padahal selama ini kami tak pernah lagi berkomunikasi. Berdiri di depan pintu, ku cari handphone ku di dalam tas ungu kesayanganku.
Ketemu, 7 panggilan tak terjawab dengan sebuah pesan sudah muncul di layar handphone ku. 6 panggilan dari Arifah dan 1 panggilan dari Ayu adiknya Denis. Ku buka pesan teks itu yang juga dari Arifah.

From: Arifah
Number: 081387******
Kamu dimana? Berulang kali aku hubungi kenapa kamu tak menjawabnya? Bahkan kamu merejectnya. Hari ini jangan pedulikan masalah kita yang telah lalu. Semua sudah berakhir. Tak ada lagi yang harus kita bicarakan.
Kamu dimana? Kenapa kamu gak datang ke rumah sakit? Apa kamu gak tau. Pagi tadi ketika ia pulang dari rumahmu, ia mengalami kecelakaan. Sebuah mobil box menabraknya, kepalanya mengalami pendarahan hebat! dokter bilang dia tak dapat diselamatkan! dimana kamu saat dia membutuhkanmu?
Dia telah meninggal! meninggal!!! dimana kau saat ia membutuhkanmu?

Aku terdiam, air mata ku membanjiri wajahku… kaku, tubuh ini terasa kaku. Serasa ribuan jarum menusuk tubuhku. Bahkan tanganku tak mampu menggenggam Handphone ku lagi.
“BOHONG!!!” teriakku.
“Pasti semua itu bohong, Denis bersama ku hari ini..” teriakku seraya meneteskan air mata.
“Tadi ia menggandeng tanganku, tadi ia mengusap air mataku, tadi ia membersihkan bibirku. Gak mungkin!!! gak mungkin…”
Aku mulai depresi dan berbicara sendiri, gak mungkin Denis pergi!! dia bersama ku hari ini. Tak pernah ku fikirkan semua kebahagiaan yang ku rasakan hari ini adalah ucapan perpisahanku dengannya.
Aku berlari menerjang derasnya hujan, air mataku kini tak tampak ia menyatu bersama tangisan langit kelabu. Berlari seakan tak punya tujuan, berharap bisa melihat wajahnya untuk yang terakhir kalinya.
“Denis, kamu sudah berjanji… untuk selalu menghapuskan air mata di pipiku..”
Kini, Denis tak ada di sampingku untuk menepis air mataku. Hanyalah hujan yang terus menerpa wajah ini dan menutupi luka yang menganga karena kepergiannya.

“Tiittt… tiiittt… tiiittt….” Suara jam weker membangunkanku.
Tersentak aku, dari mimpi gilaku yang membuat jantungku berdegup begitu cepatnya…!!
“Mimpi… tadi itu cuma mimpi..” ucapku.
Nafasku masih tak teratur dan aku mulai takut, “Cup cake!!” sentakku. Ku palingkan wajahku menuju jam weker ku.
Deg.. deg.. deg… deg… Jantungku semakin kacau berdetak. Ada disana.. Cup cake dengan krim strawberry besertakan secarih kertas di sampingnya.
Ku buka dengan rasa penuh ketakutan

Good morning Princess Cup cake

Secepat angin, segera ku bangkit dari kasurku dan melesat menuju pintu depan rumah ku. Tanpa pamit segera aku pergi berlari menggunakan piama ungu berhiaskan puluhan gambar Cup cake kecil dengan buah berry di atasnya.
Kaki ku tak lagi merasa sakit, walau tak mengenakan alas kaki seraya berlari. Fikiranku melayang, air mataku berlinang. “Denis…” ucapku pelan berulang kali.

Isak tangis mengiringiku berlari, berlari menuju rumah Denis yang hanya berjarak 3 block dari rumahku, orang-orang yang melihatku pasti terheran-heran. Melihat seorang gadis menggunakan piama, tak beralas kaki dan menangis berlari terburu-buru mengejar ketakutan terbesarnya.

Tiba ku di depan rumah Denis dan segera ku membunyikan Bell, Sosok lelaki gagah keluar dan terheran-heran melihat ku yang berantakan seperti ini. Segera ku terjang tubuh tegapnya, ku peluk, ku dekap dan air mataku membasahi kaos putihnya.
“Kamu kenapa?” tanyanya heran dan membalas pelukanku.
“Kamu gak boleh pergi… kamu gak boleh pergi..” jawabku dipenuhi isak tangis.
“Siti… aku akan selalu ada… selalu ada untuk mengusap setiap air mata ini..” katanya seraya mencium rambut ku yang masih lusuh.
Seketika aku teringat kata-kata itu, kata-kata yang juga dia ucapkan di dalam mimpiku. Namun kali ini aku tak akan membiarkannya sama, tak akan ku biarkan dia pergi meninggalkanku. Aku ingin selalu dia ada untuk mengusap air mataku.

Cerpen Karangan: Rauufy Hamdennirieza
Blog: http://gre-art-stp.blogspot.com
Mencoba mengisi waktu muda dengan tidak menjadi sampah yang penuh kata! greART?

Cerpen Cup Cake merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Senang, Aku Bahagia

Oleh:
Aku menyeka air mataku. Aku tau dia tidak ingin aku meneteskan air mata, walau bagaimana pun perasaanku saat ini. Teraduk-aduk, terhantam sesuatu yang berat. Aku menatap dia yang terbaring

Rain

Oleh:
Seorang gadis tengah duduk sembari memegang selembar kertas yang hanya berisi 4 kata yaitu I LOVE YOU, KARIN. Itu surat cinta yang pertama kali ia terima, entah kenapa surat

My Love, My Heart, My All

Oleh:
Ada pepatah yang bilang, jodoh bakal datang pada waktunya. Tapi, Iyas ngerasa jodoh selalu menjauhinya. Gimana nggak? 17 tahun berlalu dan Iyas belum punya pengalaman berpacaran. Hah…!!! “Yas! Kantin

Miracle (Part 1)

Oleh:
Jika aku tahu, akan menjadi seperti ini kisahnya, lebih baik aku menolak takdir yang telah tertulis yang hanya menyebabkan hatiku berkeping-keping, rasanya diriku telah kosong, rindu akan senyuman damai

We Are Artis Bangkrut (Part 1)

Oleh:
Pernahkah kamu punya sahabat? Aku pernah. Namanya Han Go An. Dia seorang laki-laki labil. Kalau bicara seperti perempuan. Dia suka memakai pakaian berwarna cerah yang sangat mencolok. Dia suka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *