Dear Adre

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 23 June 2017

Dear Adre,
Aku terdiam di satu tempat yang kuyakin kamu tahu. Tempat favoritku. Entah harus kumulai dari mana, begitu banyak cerita yang terjadi. Bahagia, sedih, cinta dan air mata. Tak terkira sudah tiga tahun sejak saat itu, hari dimana hati yang berbicara dan air mata yang menjadi saksi. Tidak. Aku tidak di sini untuk melihat masa lalu itu. Semua yang ingin kukatakan hanyalah, tidakkah kau ingat alasan kita pernah bersama?.

Saat itu libur musim panas, terasa sengatan matahari begitu tajam menusuk kulit, aku mencari angin dan pergi ke sebuah danau tak jauh dari rumah kakekku. Tentu aku mengenali tempat itu, itu adalah tempatku selalu menghabiskan sepanjang musim panas hingga kembali ke asrama. Sejak kecil, pohon beringin rimbun di pinggir danau itu adalah tempat favoritku. Selain sejuknya hembusan angin sangat terasa di sana, satu hal yang selalu menghantui pikiranku dan membuatku merindukan tempat itu adalah seorang anak laki-laki yang pada hari itu tengah diselimuti amarah dan meluapkan emosinya pada seluruh penghuni danau. Aku mendengar salah satu umpatannya. Bagaimana tidak, anak itu teriaknya keras sekali.

“Aaaaargh …!! Kenapa hanya mereka yang mempunyai orangtua yang perhatian!! Kenapa aku mendapat orang yang tidak.. tidak.. tidak pernah mengerti aku!!.” Kata anak laki-laki itu terbata-bata memilih kata umpatan yang sesuai. Sontak melihat itu aku tak bisa menahan gelak. Namun, akibatnya aku malah jadi sasaran ke dua luapan emosinya.
“Hei!! Apa yang kau lakukan?!.” Tanyanya dengan nada membentak. Mendengar gertakannya aku mengerti dia tak suka diperhatikan. Aku yang terlanjur tertawa berpaling sejenak menutupi kesalahanku dan tak mau kalah kubalas kata-katanya sama sinisnya.
“Apa?! Aku hanya tertawa.” Kataku sama tingginya.
Entah aku salah ngomong apa, anak laki-laki itu bergerak mendekat. Dari posisi awal di sisi lain pohon sekarang berada tepat di hadapanku.
“Aku tidak suka ada orang lain yang menertawakanku!.” Kata anak itu.
“Aku tidak menertawakanmu. Lagian, memilih kata untuk mencela orang saja tergagap.” Kataku. Tapi Ups! Aku seharusnya tidak berkata seperti itu. Sudah terlambat, aku ketahuan berkelit. Hendak aku lari dari tempat itu, namun entah apa yang terjadi pada kakiku. Tak dapat melangkah jauh, aku hanya berjalan mundur sementara anak laki-laki itu kian mendekat menggenggam tinjunya. Dan …
Aaaaaahhh…!!!
Hampir aku terjatuh ke danau. Namun, .. aku melihat tanganku tertahan oleh lengan nan kokoh yang mencegahku jatuh ke dalam air. Sesaat kemudian, ditariknya tubuhku kembali ke tempat kering. Aku bersyukur tak jatuh ke dalam sana, jika tidak aku bisa saja dalam masalah besar.

Setelah menenangkan jantungku, aku mengucapkan terima kasih pada anak laki-laki itu.
“Terima kasih, namaku Lea.” Kataku dan mengangkat tangan bermaksud hendak kenalan.
“Aku Adre. Tidak masalah. Aku harus pergi.” Katanya, kemudian pergi meninggalkanku begitu menjabat tanganku.
“Hei tunggu!.” Kataku menahannya. Kulihat dia berbalik, dan mengangkat alisnya menanyakan apa maksudku.
“Um, eh.. aku.. aku hanya ingin mengucapkan terima kasih.” Kataku gugup. Ada apa ini, perasaan aneh apa yang kurasakan. Namun, yang lebih tak bisa kupercaya, akhirnya anak laki-laki itu tersenyum. Entah melihat tingkahku yang gelagapan atau karena apa, yang jelas aku sudah tak merasakan emosi marahnya sejak tadi dia menolongku. Kejadian itu masih dan selalu kuingat karena dialah. Adre. Penyelamatku.

Waktu berlalu, seiring beranjak kita tumbuh dewasa. Kita semakin dekat. Jarak yang terpaut jauh, pun tak dapat memisahkan kita. Sekalipun aku tidak di rumah kakek, kita tetap berhubungan dengan surat. Aku ingat surat pertamamu. Kau tulis…

Hai, apa kabar? Kalau kau baca ini, berarti tukang pos itu tidak nyasar atau dia baik hati. Segeralah kirim suratmu, aku tunggu segera.
Adre.

Aku masih ingat jelas bagaimana aku tertawa sejadi-jadinya membaca surat darimu. Segera setelah itu aku membuat surat balasan untukmu. Kutuliskan semua kenangan kita. Bagaimana kita bertemu, sampai semua hal-hal lucu yang kita lakukan bersama. Namun, aku tak habis pikir. Apa yang telah kubuat, apa ada yang salah dengan kata-kataku. Kau menghilang. Hilang. Tak tahu kabar, aku selalu kirimkan surat tapi tak satupun yang kau balas. Andai kau tahu, betapa aku merindu karena itu. Kau tak pernah seperti ini sebelumnya. Aku bingung. Berbagai pikiran aneh mulai menghantuiku dan mengatakan bahwa aku takkan pernah melihatmu lagi.

Sampai, tepatnya tanggal 23 Juli, saat kupikir aku akan melewatkan perayaan istimewaku tanpa orang yang berharga. Adre. Ajaibnya, apa yang aku ucapkan barusan menjadi kenyataan. Engkau muncul dengan seikat bunga di tanganmu. Aku spontan memeluk sosok yang telah lama kunantikan. Tak peduli berapa pasang mata terpaku menatap. Aku hanya tak ingin kehilangan kamu lagi. Kau bisikan kata yang semakin membuatku tak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya.
“Lea, happy birthday. And, will you be mine?.” Katamu.
Mendengar itu, lengkap sudah bagian diriku yang beberapa bulan ini hilang. Sekarang separuh jiwaku telah kembali dan kupastikan takkan pergi lagi.

Hari-hari berikutnya adalah hari terbaik dalam hidupku. Kuhabiskan sebagian waktuku bersamamu. Kita mengunjungi kakekku, duduk santai di bawah pohon di pinggir danau. Meskipun hanya duduk diam dan tak melakukan apa-apa, aku tetap merasa bahagia. Karena bisa berdua denganmu. Aku ingat lagu pertama yang kau nyanyikan untukku. Alunan gitar menghanyutkanku lebih dalam tenggelam dalam khayal indah bersamamu.

Kumelintas .. pada satu masa .. ketika kumenemukan cinta ..
Saat itu kehadiranmu .. memberi arti bagi hidupku ..

“Hei, hari sudah sore.” Katamu saat melihat matahari sudah menunduk dan menarik tanganku untuk pulang. Kurasakan kehangatan genggamanmu. Begitu tiba di rumah, aku bahkan tak melirik kamar mandi. Inginku malam cepat berganti lagi siang, agar aku bisa kembali bertemu denganmu.

Adre. Segitu dalam rasaku, kuharap kamu tidak berpikir sebaliknya. Begitulah selalu do’aku asal tau saja. Disela-sela tidurku, aku bertanya sendiri. Apa kabarmu? Apa yang kamu lakukan sekarang?. Namun, semakin aku memikirkanmu, semakin sering pikiran aneh itu muncul. Bahkan satu malam, aku bermimpi dengan acuhnya kau meninggalkanku. Kamu pergi begitu saja. Tapi, aku tetap mencoba menghibur diri, berusaha meyakinkan hatiku bahwa itu semua tidak nyata. Mimpi, hanya mimpi.

Aku tidak pernah tahu apa arti dari semua firasat anehku itu. Sampai, hari itu, ketika kamu bilang semua tidak akan sama.
“Apa?! Apa maksud kamu?!.” Tanyaku setengah berteriak.
“Aku, aku akan melanjutkan study ke luar negeri.” Jawabmu lemah.
Aku hanya bisa terdiam. Tak kuat aku menahan air mata.
“Jadi, ini perpisahan?.” Kataku mulai parau.
Namun, kau menggeleng. Aku tidak mengerti, lalu kamu menjelaskan semuanya.
“Aku hanya pergi tuk sementara. Bukannya ninggalin kamu selamanya.” Katamu. Sedikit menenangkanku.
“Aku pasti kembali. Tapi, kamu harus janji untuk selalu menjaga hatimu, untukku.” Lanjutmu kemudian.
Tanpa banyak berkata, aku tersenyum mengiyakan janjiku padamu. Dengan sepenuh hati kan kujaga cintaku hanya untukmu. Begitupun aku minta ke kamu. Lalu kita mengikat jari kelingking sebagai tanda kesetiaan. Kau memelukku. Kubalas pelukanmu erat karena aku tahu, aku akan sangat merindukan saat-saat ini.

Hari ini, Kamis, 21 Juli, aku kembali menuliskan surat selayaknya dulu yang kita sering lakukan. Kutulis semua yang kualami, agar kamu tau betapa aku kangen kamu. Dan seperti biasa di setiap suratku, kutuliskan …

Cepatlah kembali …
Love, Lea.

Cerpen Karangan: Ahmad Redho
Facebook: OfficialEdho

Cerpen Dear Adre merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lovely Boyfriend

Oleh:
“Jadi pacarku ya!.” Ucap Mr. Populer mengejutkanku. “Eh, maksudnya?.” Tanyaku bingung. “Aku tahu selama ini kau suka padaku kan?. Bahkan aku juga tahu kau selalu mengawasiku.” “Ta… Tapi kau

His Promise, Pria Berjersey (Part 2)

Oleh:
Kick off babak pertama dimulai. Mas Hanis diturunkan. Untuk pertama kalinya Aku mau berdesak-desakkan masuk ke dalam tribun dan mau bersorak-sorak seperti ini. Hingga babak pertama selesai skor masih

Bahkan Pelangi Pun Menangis

Oleh:
Namamu Indah. Seperti orangnya. Indah. Cantik menawan. Kamu adalah siswi satu sekolahku. Dan, aku langsung jatuh cinta padamu. Mungkin orang beranggapan ini adalah cinta monyet, tapi ini bukan. Kalau

Sahabat Jadi Cinta

Oleh:
Hay kenalin namaku Zahra Indri, biasa dipanggil Zahra. Aku punya kakak bernama Doni Saputra, aku juga punya sahabat namanya Ilham fauzi. Dia tuh orangnya baik banget, aku sebenarnya sudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Dear Adre”

  1. Jheje nana delchano dolar says:

    Keren,,,,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *