Decision

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 27 January 2016

‘Kebohongan terbesarku saat aku berkata tak lagi mencintainya..’

Maret 2226
Harus ku apakan hujan di luar sana, hm? Petir saling menyambar berlomba gelegar. Biasanya kau meringkuk di bawah meja seraya tutupi kedua telingamu. Hei.. Ini hanya petir sayang, bukan gempa. Itu yang ku ucap acapkali temukanmu dalam posisi panik itu. Aku terkekeh. Lalu kau ke luar secara perlahan dengan mata berkaca-kaca. Aku hanya bisa tersenyum seraya mendekapmu lembut. Kau sungguh menggemaskan. Kau mendongak, astaga… Kau bahkan lebih tinggi dariku. Kenapa tak berdiri tegap, hm? Aku tersenyum. Kecup bibirmu sekilas. Kau tersenyum imut seraya berlonjak kegirangan. Aku tertawa. Setelahnya membimbingmu ke dalam kamar kita. Antusias sekali kau langsung bergelung dalam selimut, tepuk sisi kosong di sebelahmu dengan semangat. Saat itu aku selalu tersenyum terenyuh. Tentu saja dengan senang hati aku menurut. Memelukmu hingga terlelap.

“Astaga.. Sepertinya hujan mulai berpindah masuk.”

Sepasang lengan lingkari leherku. Aku tersenyum, malu. Seka tetes-tetes yang dengan seenaknya ke luar. Kembali pandangi hujan di luar sana. Sama-sama hayati dalam diam. Biasanya setelah kau terlelap aku akan pandangimu lama. Dengan nakalnya jemariku telusuri tiap lekuk wajahmu, pelipismu. Aku tersenyum jahil. Telusuri tulang hidungmu dari atas. Sungguh tampan. Berhenti di bibirmu, mungil. Dan aku sangat menyukai bibir itu. Usap perlahan dengan ibu jariku. Perlahan ku gerakkan wajahku yang dekat -semakin dekat. Lumat perlahan properti milikku. Hanya milikku. Bibir mungil ini milikku, Nyonya Asca yang bahagia. Hahaha. Dan aku akan benamkan wajahku pada dadamu karena malu. Aku mencintaimu. Aku senang. Selanjutnya kita tidur dengan aku yang memelukmu posesif. Tak rela melepasmu lagi.

Oktober 2218
“Menurutmu aku pantas?”
“Ha? Apanya?” Berlagak lugu.
“Apa aku pantas bersanding dengan Asca?” Jelas dan gamblang.
“Kenapa tidak?” Jawaban enteng.
“Haaah..” Menghela napas frustasi. Berpikir untuk yang kesekian kali.
“Cobalah tutup telingamu pada yang lain. Cukup dengarkan Asca dan kata hatimu.”
“Tak semudah itu, nona..”

“Apanya?”
“Lama-lama aku emosi bicara denganmu.”
“Huuu… Kau harusnya bersyukur bisa dekat denganku. Tak semua orang bisa akrab denganku.”
“karena kau menyebalkan.”
“Hei!”
“Hahaha.”
“Sudahlah. Tak perlu dipikirkan terus. Toh Asca tak pernah mempermasalahkan.”
“Siapa yang tahu?” Menelaah, menuntut jawaban pada mata lawan bicara.
“Err.. Tidak tahu juga sih. Hehe. Tapi aku merasa Asca benar-benar mencintaimu.”
“Cinta saja tidak cukup.”
“Jadi?”
“Pernikahan bukan hanya tentang cinta dan saling menjaga. Tapi juga menyatukan dua keluarga. Sudah, aku pergi.”
‘Semoga kalian bisa bahagia kelak.’
Menatap punggung sahabatnya yang berlalu semakin jauh.

Akhir Oktober 2219
Aku ingin berpisah. Maafkan aku sayang. Kau harus bahagia. Hari-hari ku lewati tanpa semangat. Aku menghilang dari kehidupannya. Berusaha sedikit demi sedikit untuk berubah. Karena aku menyukainya.

Maret 2222
“Bagaimana kabarnya sekarang?”
“Asca mengalami kecelakaan saat bertugas.”
‘Tidak!’ Gelas itu pecah. ‘Setelah perjuanganku untuk sukses, haruskah seperti ini?’
“Ba-bagaimana bisa?” Air itu meluncur. Isakan demi isakan. Sakit! Sangat sakit!
“Dia belum meninggal, dengarkan dulu ceritaku sampai selesai.”
“Ka-katakan.”
“Penjahat itu coba kabur saat diringkus. Ia hantamkan batang besi pada Asca yang saat itu menanganinya. Asca koma lebih dari 3 bulan. Saat sadar, ia…”
“Ka-katakan di mana Asca se-sekarang.”
“Di kediaman orangtuanya.” Aku sudah tak peduli lagi dengan apa yang mereka katakan. Aku ingin Asca. Aku ingin habiskan hariku dengannya. Aku ingin dia, selamanya dia.

“Siapa kamu?”
“Boleh saya bertemu Asca? Saya Anka.”

Saat itu kau duduk di karpet bulu dalam kamarmu. Antusias sekali dengan miniatur-miniatur koleksimu. Aku membekap mulutku dengan punggung tangan. ‘Sayang.. Benarkah ini dirimu? Aku rindu..’ Kau menatapku dan mengerjap cukup lama. ‘Sayang, kau tak mengingatku? Aku rindu..’
Pandanganku tertutup air yang meruah. ‘Aku merindukanmu. Sungguh merindukanmu.’ Aku tersentak. Sesuatu dengan lembut menyeka air mataku. Ku tangkup, itu jemarimu. Aku menangis semakin kencang. ‘Maafkan aku.. Maafkan aku.. Sayang, maafkan aku..’

“Kenapa menangis? Mau main sama Asca? Kamu boleh pinjem mainan Asca. Asca gak pelit kok. Kata ibu, Asca harus baik sama teman Asca, hehe..”
‘Tawamu itu.. Hiks.. Maafkan aku..’
“K-kau tak mengingatku, hm? Ini aku, Anka..”
‘yang dulu menyakitimu..’ Kau menatapku. Apa kau bingung, sayang?
“Anka?” Kau berucap imut. ‘Hiks..’
“Anka!” Kau tiba-tiba memelukku erat. Ku rasa bajuku basah. Kau membuatku khawatir.
“Hiks.. Anka nakal. Anka ninggalin Asca. Hiks.. Nakal. Huweeee…”
‘Kau mengingatku? Aku yang meninggalkanmu?’

Air mataku semakin tak terbendung. Ku raih tubuhmu erat. ‘Maafkan aku, sayang.. Maafkan aku..’
“Hiks.. Kau sayang.. Hiks.. Padaku?” Bahuku tergelitik, kau mengangguk.
“Um.. Tapi Anka nakal. Huks..”
‘Tuhan, aku bahagia..’
“Un. Aku nakal.” Ku seka air mata di pipiku. Urai pelukanku padamu.
Tangkup pipimu dan hapus jejak air mata di sana.

“Aku nakal. Tapi sekarang aku kembali. Asca sayang Anka?”
“Um!”
“Asca mau terus sama-sama Anka?”
“Mau!”
“kalau gitu Asca sama Anka menikah.”
“Menikah?”
“U-um. Asca mau?”
“Mau!” Dan hari itu hari yang sangat membahagiakan untukku.

“Hey, kau tidak apa-apa?”
“Um. Hiks.. Aku baik.” Ku peluk raga yang sedari tadi menempel pada punggungku.
“Saya ingin menjaga putra Ibu, bolehkah? Saya akan berusaha menjadi pendamping yang sebaik-baiknya. Mohon restui kami.”
“Bagaimana dengan orangtuamu?”
“Mereka akan mendukung apa pun yang membuat saya bahagia.”
“Kamu yakin dengan keputusanmu? Asca…”

Mei 2222
Dan kita menikah. Aku sangat bahagia. Aku berlonjak-lonjak di kasur kita. Kau mengikutiku. Kita berlonjak-lonjak hingga kelelahan. Dan malam itu ku habiskan untuk memelukmu hingga pagi menjelang.
“Kau tahu? Hiks.. Kau menggemaskan waktu itu..”
Ku benamkan wajahku semakin dalam. “Kau lebih menyukai aku yang idiot, huh?”
Aku terkikik. Tangkup pipimu sayang. “Selama aku bisa memelukmu, bagaimana pun keadaanmu, aku suka.”
Dan ciuman manis akhiri obrolan kita malam ini. Jemput mimpi indah hanya kita berdua.

Tamat

Eka Mardiana (An_hisuu_26)

Cerpen Karangan: Eka Mardiana
Facebook: Ren Anhisuu
Hanya seonggok individu yang senang mengkhayal dan membaca.
Note: narasi teraneh yang pernah gue buat. Dimana banyak waktu terbuang cuma buat mikir ‘mungkinkah mereka menikah sementara mempelai pria dalam keadaan seperti itu’.
tapi karena gue penganut paham AnkaAscaAlwaysBeTheOne, jadilah gue maksa mereka akhirnya menikah juga. Ini cuma ngarang loh… jadi kalau aneh udah gak aneh lagi? IYKWIM CAO-

Cerpen Decision merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Arti Kesetiaan

Oleh:
“Eh Ren, Rio kayaknya naksir lo deh, samperin gih” celetuk Mita dengan tiba-tiba membuat Iren tersedak dengan es batu yang baru saja di kunyahnya. “Iya tuh Ren, dari tadi

Pesona Pagi

Oleh:
Tak akan pernah ada yang tau rencana Tuhan bentuknya seperti apa dan bagaimana. Tapi sebaiknya kita selalu tetap percaya dibalik air mata yang tak henti bercucuran akan lekas berganti

Dentingan Piano Adelia

Oleh:
Pagi yang begitu dingin. Awal tahun baru yang disambut dengan hujan dan awan kumulus nimbus pekat yang memeluk langit dengan kuat. Hembusan angin semilir menambah suhu kian meminus dan

Helenathan

Oleh:
“Kamu kenapa, Sayang?” pertanyaan Nathan membuat Helen tersadar akan lamunannya. Helen tersenyum manis. “Enggak, kok. Aku gak papa,” “Serius?” tanya Nathan khawatir. “Iyaa,” jawab Helen. Semua murid yang mendengar

1 Cinta yang Kini Jadi Milikmu

Oleh:
Nyaman… mungkin itu adalah satu-satunya kata yang dapat menggambarkan suasana hatiku saat ku pandang raut wajah anggunnya itu. Karena begitu sulit untuk melukiskan perasaanku ini dengan kata-kata. Tari… ya,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *