Di Antara Kita

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 22 June 2016

Saat mataku terbuka mentari sudah membumbung tinggi di angkasa. Menghias pagi bersama kicauan burung.

Satu..

Dua..

Tiga..

Tess..

Air mata menetes dari ujung mataku. Entah apa yang membuatku menangis saat baru terbangun dari tidur. Mungkin sesuatu yang kupikirkan saat sebelum tidur. Atau mungkin mimpi buruk yang baru saja kulihat.

Dia, sosok yang kucintai akan pergi ke luar negeri karena ayahnya dipindahkan ke luar negeri. Aku takkan melihatnya lagi. Aku takkan melihat senyum di wajahnya. Aku takkan mendapat tawa darinya.

“Pagi, Edin! Ayoo~ bangun dan sarapan, Dion sudah menunggumu di depan!” suara khas kakak menerobos indera pendengarku ketika ia memasuki kamarku dengan segelas susu putih. Dengan cepat aku mengusap wajahku untuk menghapus air mata di sana.

“Ya .. ya .. ya, aku sudah bangun jadi berhenti berteriak di pagi hari!”

Dia tersenyum lebar lalu memberikan segelas susu padaku yang kemudian kuteguk hingga habis. Dia membantuku melipat selimut yang kupakai semalam.

“Dion menunggumu sejak pukul setengah enam, kalian mau kemana?” tanyanya sembari meletakkan selimut yang telah dilipatnya pada lemari terbuka yang tertempel di dinding kamar, tak jauh dari ranjangku.

“Astaga! Aku kan sudah janjian mau jogging pagi ini, kak!”

Aku melesat ke kamar mandi untuk bersikat gigi dan membasuh wajah. Setelah itu mengganti pakaian tidurku dengan pakaian khusus untuk jogging. Kuraih sepatu olahraga dan memakainya dengan cepat lalu mengambil handuk kecil dan menyampirkannya di leher.

“Dion! Maaf, aku kesiangan” kataku sembari mengikat rambutku ketika menghampirinya di ruang tamu. Dia tersenyum samar.

“Tak apa, ini masih pukul enam. Masih cukup segar untuk berjogging” katanya dan aku tersenyum.

“Kakak, aku berangkat!”

Kakiku terasa lemas dan aku memutuskan untuk beristirahat di kursi taman. Dion sedang membeli minuman di cafe yang tak terlalu jauh dari kursi taman. Aku melihat sepasang kekasih yang berjalan cukup dekat, namun tak bersentuhan. Mereka saling mengobrol dan nampak santai.

Kemudian aku melihat pasangan lainnya yang bertengkar di muka umum. Saling menjelekkan satu sama lain. Lalu yang satu mengatakan, “kita putus!” kemudian pergi begitu saja.

Pasangan lainnya duduk di bawah pohon rindang tampak berbagi headshet dan mendengarkan lagu bersama. Ditemani sebuah buku yang mereka baca bersama. Aku tersenyum melihat mereka.

“Edin” aku menoleh ketika namaku disebut. Itu Dion, dengan dua botol air putih di tangannya.

“Terimakasih, Dion” kataku ketika dia menyerahkan salah satu air mineral itu. Dia duduk di sampingku dan meneguk minumannya. Aku tersenyum samar menatapnya, lalu beralih pada sepasang kekasih yang duduk di bawah pohon tadi. Mereka yang kulihat adalah sahabatku.

“Mereka sangat romantis, apakah aku juga bisa seperti itu?” gumamku.

“Apa?” Dion bertanya dan menatap mataku dengan tatapannya yang tenang.

“Tidak ada!” sahutku cepat.

“Ada yang harus kukatakan,” katanya dengan raut wajah serius. Aku menunggu ucapan berikutnya.

“Aku.. Tidak jadi ke luar negeri. Aku akan tinggal bersama nenek disini!” katanya senang dan dia tersenyum lebar. Ahh, senyum itu benar-benar membuatku terpesona.

Syukurlah, dia tak jadi pergi.

Aku terlalu berharap, Dion adalah pria yang rajin dan pintar. Dia juga disukai banyak gadis di sekolahku. Dan ia pernah berkata kalau dia menyukai seseorang. Tentu itu membuatku kecewa, sangat kecewa.

Salahku sebenarnya karena jatuh cinta pada seseorang yang menganggapku sahabat, katanya. Ditambah dia pria yang diinginkan banyak gadis. Mungkin salah satu dari mereka akan menjadi kekasihnya suatu hari nanti. Dan kuyakin itu bukan aku.

“Edin! Apa kau marah padaku, hum?”

Aku tak berani menatap matanya yang tenang dan terkadang tak menampakkan emosi. Ini terlalu sakit. Dia bilang dia akan menembak gadis yang ia sukai itu. Kuharap gadis itu juga mencintainya.

“Edin, kamu kenapa?” dia bertanya lagi. Kini dia merubah posisinya berada di hadapanku dan menatap kedua bola mataku.

“Aku sedang tidak ingin mengobrol sekarang, jadi diamlah” kataku lemah.

“Kau marah padaku?”

Aku diam. Memalingkan wajahku dari tatapan lembutnya.

“Ya, kau marah padaku. Aku akan menunda menembak gadis itu” katanya sedih. Aku berbalik dan menatapnya tajam.

“Kenapa?” tanyaku.

“Karena kau marah padaku!”

Dia membuatku heran sekarang. Apa hubungannya aku marah dengannya dan rencananya menembak gadis itu? Huh, baiklah..

“Aku tidak marah, kok!” kataku sambil tersenyum. Dia tersenyum lebar dan melesat pergi.

Sakit..

Sungguh..

Dia akan memberi hatinya pada gadis itu..

Harapanku sudah tak ada..

Tess..

Air mata kembali menetes dan dengan cepat aku menghapusnya karena Dion tiba-tiba kembali. Dia membawa setangkai mawar dan duduk di hadapanku.

“Maukah kau jadi kekasihku, Edin?”

Deg.

Jantungku berdegub kencang mendengar ucapannya. Apa yang dia lakukan? Apa dia melakukan ini untuk latihan? Mungkin iya. Tak mungkin ia menembakku.

“Ya” jawabku dengan setenang mungkin dan menerima bunga yang ia sodorkan padaku. Menghirupnya lembut. Namun tanganku bergetar dan dia tersenyum.

“Terimakasih telah menerima cintaku, aku mencintaimu” katanya.

Apa?

Aku tak percaya ini. Dia benar-benar menembakku? Tak kusangka, dia…

Ahh, aku bersedia menjadi kekasihmu. Kali ini jawaban di hatiku benar-benar tulus dan sungguh-sungguh. Terimakasih, Dion.

END

Cerpen Karangan: Hersia Puteri
Facebook: Hersia Puteri

Cerpen Di Antara Kita merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tatapanmu Adalah Bahagiaku

Oleh:
Betapa menawannya paras cantik Rachel. Seorang wanita cantik yang duduk di kelas 3 SMA. Tutur katanya yang lembut membuat hati Rafa luluh. Getar hati muncul di saat rafa melihat

I Wuf You

Oleh:
Semilir angin berhembus dikebalut senja. Menghadirkan nuansa jingga di angkasa. Di sini… di atas batu karang ini. Kunikmati mentari yang perlahan melambaikan tangannya pada bumi. Seolah mengucapkan sampai jumpa

Little Girl With A Big Dreams

Oleh:
Pernah mendengar tentang sebuah mimpi besar dari gadis kecil? Jika belum pernah biar aku beritahu kisah yang akan membuat siapapun yang membacanya akan tersenyum geli dan terharu. Ketika itu

Gomen Nasai, Satoru!

Oleh:
“Ohayou gozaimasu (Selamat pagi), Manami!” sapa Yumiko padaku yang baru saja selesai memarkir sepeda di parkiran depan. Aku tersenyum pada Yumiko dan membalas sapaannya, “Ohayou gozaimasu, Yumiko!” Sesaat Yumiko

Senyuman Itu

Oleh:
Jatuh cinta terjadi karena proses yang cukup panjang, itulah proses yang seharusnya aku lewati secara alamiah dan manusiawi. Tapi ternyata proses panjang itu tidak terjadi padaku, pada saat pertama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *