Di Bawah Rinai Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 27 December 2017

Musim hujan telah datang, bahkan setiap hari pasti hujan. Kenalkan aku Fanny sesilia putri sekarang aku kelas x-a aku merupakan murid berprestasi di kelas itu dan aku memiliki dua orang sahabat Liana dan Jenny.

Di sekolah, sebelum bel berbunyi di kelas.
“Hai.. Good morning… ladies…” Sapa jenny dengan centil dan tersenyum.
“Apa sih… jen.” kataku marah.
“Gak ada.” jawabnya dengan cemberut.
“Ya.. ya.. ya..” jawab liana.
“Kalian itu bertengkar aja bikin pusing palaku. lama lama kukawinkan kalian berdua!” sambung Liana.
“Ya.. ampun mak..” jawabku. Lalu kami ketawa bersama sama.

Kelas pun sudah mulai ramai. dan bel pun berbunyi semua siswa masuk ke dalam kelas. tak beberapa lama kemudian guru pun datang.
“Pagi anak anak.” sapa guru mtk.
“Pagi bu.”
“Kalian hari ini akan belajar mengenai bangun datar dan besok akan.”
“Buk masa besok minggu depan aja, besok ulangan lo bu.” keluh semua murid.
“Gak bisa minggu depan kalian sudah us…” dan pelajaran dimulai.

Tak beberapa lama kemudian, bel istirahat berbunyi.
“Jen, perpus yuk.” ajak liana.
“yuk, ajak juga fan gak seru gak ada dia.” kata jenny.
“Stop kalian pasti mau ajak aku ke perpus.” kataku.
“Kok tau? mau ikut gak?” tanya liana.
“Ya udah yuk.” lalu kami berjalan ke perpustakaan.

Di perpustakaan.
“Lia, mau cari buku apa?” tanya ku.
“Mau cari buku mtk tentang pelajaran tadi aku gak gerti.” jawabnya.
“Biar aku bantu carikan.” kataku dan mulai mencari di rak rak buku. Tak beberapa lama mencari akhirnya aku melihat buku yang bertulisan buku mtk lengkap. Aku ingin mengambilnya saat aku memegang buku itu ada juga yang memegangnya tangan kami bersentuhan.
“Maaf aku tak sengaja.” kataku sambil memundurkan tanganku.
“Maaf, aku tak liat kamu memegang buku itu.” jawabnya. Dan ternyata dia adalah ketua osis.
“Gak papa ambil aja bukunya.” sambung ketua osis itu.
“Gak usah aku bisa cari yang lain.” jawabku dan pergi mencari buku mtk, baru beberapa langkah, ketua osis itu berkata.
“Kenalkan aku steven ketua osis.” sambil mengulurkan tangannya.
“Gak usah sebut nama satu sekolah sudah tau nama mu.” jawabku.
“Aku fanny.” sambungku sambil berjabat tangannya.
“Kelas?” tanyanya padaku.
“x-a. lo kelas?” jawabku.
“Masa gak tau.” kata ketos.
“gak.” jawabku sambil melihat lihat buku.
“XI-a.” jawabnya.
“Berarti lo lebih tua dariku. ya udah aku mau pergi cari buku.” kataku lalu pergi.

“Lia, nih buku mtknya.” kataku.
“thanks, ajarkan.” jawabnya.
“Ya aku ajarkan.” kataku.

Baru tak beberapa lama aku mengajarkan liana ketos itu datang.
“Nih buku yang tadi lo mau ambil.” Katanya sambil memberikan buku itu padaku.
“Buat apa?” tanyaku.
“Buat ajarin teman lo.” katanya.
“Oke thanks.” jawabku.
“Lain kali panggilnya pake ko gak usah pake lo.” katanya lalu pergi.

“Cie cie yang lagi deket sama ketos.” ejek sahabatku sambil mensenggol senggol aku.
“Apa sih kalian ni. ya udah kita belajar di kelas aja. bad mood aku.” kataku sambil berjalan keluar dari perpus.

Di kelas.
“Gimana sih lo bisa deket sama ketos?” tanya jenny.
“Lo suka ya sama ketos. kalau mau sih ambil aja.” jawabku judes.
“Boro boro, aku suka sama dia.” kata jenny.
“Udah gak usah saling sindir.” kata liana melerai kami berdebat.
“Iya mak iya…” kataku bercanda.
“Jadi kapan aku bisa belajar mtk nya?” tanya Liana sambil menaikan satu alisnya.
“Ya sekarang lah.” jawabku dan aku mulai mengajarinya.

Bel tanda istirahat habis dan semua siswa masuk ke dalam kelas dan pelajaran disambung.
“Lia, nanti mtk lo belajar sendiri aja.” kataku kepada liana yang duduk di depanku.
“ya ya ya.. terserah lo aja.” jawab liana.
“we nanti istirahat dua kita ke kantin ya. gue lapar.” kata jenny.
“Iya.” jawabku.

Bel istirahat kedua berbunyi.
“Jen, jadi gak ke kantin.” ajak liana.
“Jadi yuk.” sambil berdiri dan mulai berjalan ke kantin. aku mengikuti mereka dari belakang.
“Lia, rasanya ada yang ketinggal.” kata jenny.
“Apa yang ketinggal?” tanya liana.
“Fanny!?” kata jenny.
“Woi gue di belakang.” kataku dan mereka melihat ke belakang.
“Ya sorry gue gak liat, dan ngapain lo di belakang.” kata jenny.
“Ya gimana lagi.” jawabku sambil mengeluarkan hp.
“Sorry.” jawab jenny dan menarik tanganku supaya berjalan sejajar dengan mereka.

Sesampainya di kantin.
“Lia, Fan lo mau pesan apa? biar gue pesankan.” tawar Jenny.
“Jen aku nasgor sama es jeruk.” jawab liana.
“Aku gak deh.” jawabku.
“Lo yakin?” tanya jenny.
“iya gue lagi gak lapar.” jawabku dan memasang earphone. lalu jenny pergi memesan makanan.

Tak beberapa lama kami di kantin hari pun hujan.
“Fan hujan lo, lo kan suka hujan gak main hujan.” kata liana.
“Hujan?, kok gue gak nyadar.” kataku sambil melepaskan earphone.
“Iyalah lo kan lagi pake earphone.” sambung jenny.
“Kalau gitu gue mau main hujan dulu.” kataku sambil meletakan hp di meja, berlari kelapangan dan menilmati hujan.

Tak beberapa lama aku bermain hujan ada seseorang yang memayungiku dengan jaketnya.
“Jika lo main hujan sekarang baju lo akan basah dan sakit.” ujarnya.
“Aku tak pernah sakit karena hujan, hujan itu menenangkan.” jawabku sambil menoleh kearah orang yang memayungiku dan ternyata dia adalah ketos.
“Jadi lo suka hujan.” katanya.
“iya. kenapa lo memanyungiku?” tanyaku.
“Karena aku takut lo sakit, dan jangan panggil aku mengunakan lo.” katanya.
“Jadi aku musti memanggil dengan sebutan?” tanyaku.
“Panggil dengan sebutan ko.” katanya.
“Oke, ko stev.” kataku tapi entah kenapa aku merasa jantungku berdebar lebih cepat dari pada sebelumnya.
“Nah gitu lebih akrab.” jawabnya. Dan bel masuk pun berbunyi.
“Ko kalau gitu aku balik ke kelas dulu.” kataku dan berjalan balik ke kelas.

Di kelas.
“Jen, lo kok tinggalan gue di lapangan? dan hp gue mana?” tanyaku.
“Ya gue gak mau gangguin orang lagi berdua duaan. hp lo di meja.” jawab jenny.
“Cie yang tadi di tengah hujan ehm ehm…” ejek liana.
“Apa sih lia aku gak ada apa apa sama dia.” kataku.
“Nih tadi ada yang menitipkan jaket buat lo.” kata Jenny dan aku mengambil jaket itu.
“ini bukannya jaket ko stev.” pikirku tapi entah mengapa aku langsung memakainya. Guru pun tiba tiba datang pelajaran disambung. sampai bel pulang sekolah berbunyi.

“Fan, Lia gue pulang dulu.” kata jenny.
“Oke, hati hati di jalan.” kataku.
Tak beberapa lama setelah jenny pulang.
“Fan gue pulang dulu.” kata liana.
“Oke, hati hati di jalan ya, aku mau lanjut piket lagi.” jawabku.

Setelah tak beberapa lama sahabatku pulang aku pun sudah selesai piket masih hujan malahan makin lebat dan aku teringgat tentang jaket aku berniat mengembalikannya. Aku pergi mencari ko stev dari lantai satu sampai lantai tiga dan aku teringgat kalau ko stev adalah ketos jadi aku berjalan ke ruangan osis. Setelah sampai di ruangan osis, aku melihat ko stev sedang berbicara dengan seorang cewek. “apa itu pacarnya.” pikirku.
“Ko stev jaketnya thanks sudah bagi pinjam.” kataku meletakan jaketnya di atas meja dan berjalan pergi.
“sama sama fan.” jawabnya.

Aku berjalan melewati tirai hujan yang turun semakin deras. aku bermain di bawah tirai hujan.
“Aku merasa cemburu dengan hujan yang selalu bersamamu.” kata seseorang. dan aku langsung berbalik badan.
“kenapa ko?” tanyaku bingung. Dia tidak menjawab dan berjalan mendekatiku.
“Gak ada.” jawab ko stev. Lalu aku sambung bermain hujan.
“Ko andai saja lo belum punya cewek pasti gue bisa dekat sama lo.” pikirku sambil bermain hujan dan berjalan menjauh dari ko stev.
“Lo gapain menjauh dari gue?” kata ko stev dari kejauhan.
“Aku hanya ingin berdua dengan hujan. sama seperti ko stev tadi.” jawabkuku.

Lalu ko stev berlari mendekat.
“Apa yang kamu maksud fan?” tanya ko stev.
“Gak ada ko.” jawabku singkat sambil menadahkan tangan menampung air hujan.
“Jadi kamu cemburu sama cewek yang bersama koko di ruangan osis?” kata ko stev.
“Cemburu?” kataku bigung.
“iya lo cemburukan nengok koko sama cewek tadi.” kata ko stev.
“Terserah apa yang menurut koko aja.” jawabku. sambil menikmati hujan yang masih turun.
“Kalau boleh jujur koko suka sama kamu sejak tadi siang di sekolah.” kata ko stev.
“Maksud koko apa?” tanyaku bigung.
“Jangan pura pura gak gerti fan, koko tau kamu cemburu lihat koko sama cewek di ruangan osis itu.” jawab ko stev.
“Kalau koko tau gapain nanya lagi?” jawabku judes dan berjalan menjauh dari ko stev.

Belum sampai terlalu jauh ko stev sudah mengejarku dan memegang tanganku.
“Fan lo jangan pergi. Jujur koko suka sama kamu, dari sekian banyak cewek yang mengejarku tapi hanya kamu yang memikat hati koko.” ujar ko stev.
“Jika itu benar, aku pun juga suka sama koko.” jawabku.
“Kamu mau gak jadi pacar koko?”
“mau.” jawabku.
Lalu kami bermain di bawah hujan dan sorenya ko stev mengantarku pulang.

The End

Cerpen Karangan: Winne Chintia
Facebook: Winne Chintia
Selamat membaca… & maaf jika ada kata kata yg tidak yambung boleh dikomen…

Cerpen Di Bawah Rinai Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hanya Satu Kali Setahun

Oleh:
“Lo kenapa, Fel? Muka ditekuk kayak lepet begitu?,” tanya Riska saat melihat sahabatnya makan dengan lahap, namun seakan ia hendak memakan piringnya pula. “Tahu lu! Ada apaan, sih?!,” tanya

Hohoho

Oleh:
Bruuk! Kulempar tasku begitu sampai rumah. Hari ini capek sekali. Ini hari Selasa, hari pertama MOPD. Masa Orientasi Peserta Didik Baru. Kemarin aku harus tidur sampai jam sebelas malam

Anang Si Blontang

Oleh:
Siang ini warung pak Mistad sangat ramai, si “pawang” sekolah ini rupanya sedang kebanjiran rejeki. Sejak Kantin sekolah direnovasi, warung ini jadi idola anak-anak. Bu Mistad kewalahan meladeni para

Kenalkan Aku Pada Cinta

Oleh:
CINTA, aku rasa semua orang sudah mengenal cinta, mulai dari anak-anak, remaja, dan yang usianya sudah tidak muda lagi pun tau. Kini aku sudah kelas 1 smp, aku ingin

Api Yang Redup Tersulut Lagi

Oleh:
Jika petang yang tak dapat kembali Jika fajar terlanjur memudar Demi malam yang silih berganti nan pergi Demi ilahi robbi yang mengakhiri Sejarah yang tak dapat kujabah lagi Terpetik

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *