Di Senja Buta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 9 May 2018

“Siapa yang peduli aku dan semua masa laluku?” Teriak gadis itu menggema di setiap sudut ruangan.
“kau? Kau ingin membenciku karena telah membuat sahabatmu menunggu? Karena telah membuat sahabatmu mencari? Hingga mati di detik selanjutnya? Kau menyalahkanku karena telah pergi dari kehidupan laki laki itu tanpa satu kata pun? Iya.. iya bimoo?” ia menyambung ucapan demi ucapan dengan hati yang penuh luka. Laki-laki yang tak lain bernama bimo tersebut menggenggam erat sebuah kotak kecil di balik punggungnya. Ia hampir menangis hanya ego yang menutupi sedih yang tak terkalahkan.

“kau tau apa tentangku? Kau menghancurkan semuanya bimo. Aku pergi dari kota itu dan meninggalkan sahabatku dan ternyata juga sahabatmu bukan karena ego. Bukan karena aku membenci rivo, tapi bagaimana mungkin aku tetap hadir di hidupnya walau ia sudah mempunya istri. Bagaimana mungkin aku bersahabat dengan seorang laki laki yang nanti akan dipanggil ayah? 3 tahun aku putuskan untuk menjadi wanita terdekatnya namun di tahun ke empat ia memutuskan untuk menikah dengan seorang wanita yang pernah menamparku. Kau tau syok nya aku? Dan aku semakin merasa bersalah ketika ia 2 kali mencoba membatalkan pernikahan itu lantaran aku tidak menemuinya dalam minggu itu bimo. Lalu dengan hati yang penuh luka kudampingi sahabatku itu untuk mengucap sebuah janji suci. Ia resmi menj.. menjadi milik orang lain.” dengan ucapan terbata bata gadis tersebut mengakhiri kalimatnya. Ia mendekati bimo dengan perasaan hampa. Luka yang hampir bisa ia obati kini seakan dikorek lagi hingga terasa lebih menyayat.

“jika kau memang sahabatnya rivo. Kau pasti ada di antara ratusan undangan. Dan kau pasti melihat wanita paling sengsara di sampingnya. Itu aku bimo, aku dania.” Tekan gadis yang ternyata bernama dania tersebut. kini ego bimo benarbenar terkalahkan. Ia menangis, mengiringi setiap tetesan air mata gadis yang ia benci. Benci? Sepertinya ia begitu menyesal karena telah memutuskan untuk membenci dania. Ia baru sadar, bukan dania yang meninggalkan rivo begitu saja. Tapi keadaan yang membuat ia beranjak. Benar, laki laki itu baru sadar bahwa dania lah gadis yang hampir pingsan ketika hendak naik taksi selepas acara pernikahan rivo sahabatnya yang ternyata sahabat dekat dania pula.

“selama 3 tahun tidak pernah sekalipun rivo memberiku kesempatan untuk mengucap satu kalimat saja. Yaitu I LOVE YOU tidak pernah tidak pernah sama sekali.” Lirih dania masih dalam tatapan luka. bimo mengalihkan pandanganya tak sanggup menatap gadis yang telah ia lukai selama ini. yang telah ia maki karena dianggap telah membuat sahabatnya pergi untuk selamanya.

“aku mencintaimu bimo. Aku tidak ingin terlambat lagi untuk mengucapkan satu kalimat itu. benar waktu telah membuat aku perlahan meninggalkan masa laluku. Aku pikir kamu pengobat hatiku ternyata aku salah, kamu memberikanku sejuta kenangan karena hanya ingin balas dendam walau tidak tau dendam seperti apa yang ingin kau balas.” Tuturnya

“aku memutuskan untuk bekerja sebagai sekretarismu tanpa digaji sepeserpun lantaran ingin membalas budimu karena telah mengeluarkanku dari kantor polisi. Tanpa aku tau bahwa kaulah dibalik semuanya. Bahwa ternyata kau lah yang menyusun scenario hidupku selama 8 bulan terakhir ini. selamat, kau berhasil bimo. Kau berhasil menciptakan sebuah film pendek dengan Ending yang penuh luka.” sambungnya lagi dan lagi. Dania memundurkan langkahnya mencari pintu keluar dan segera pergi.

Bimo masih terpaku dengan air mata yang selalu mendesak ingin keluar. Perlahan-lahan otaknya bisa menerka nerka semua kejadian yang sebenarnya gadis itu alami. Bagaimana bisa ia menyalahkan kematian rivo karena kepergian dania? Bagaimana bisa seorang bimo tak sadar bahwa rivo lah yang dihantui rasa bersalah karena baru tahu betapa besarnya cinta gadis itu terhadap dirinya.

“kau harus berjanji denganku MO. Kau harus mememulihkan semua luka dania dan menghapuskan semua ingatannya tentang masa lalu?”
“Aaaaaaaaaa…” bimo berteriak sekuat tenaga ketika teringat kata-kata rivo sahabatnya.
“Bodoh… bodohh” Ia memukul mukul kepala nya dengan amat kesal bagaimana mungkin ia tak paham dengan apa yang diucapkan rivo kepadanya. Memulihkan? Menghapus? Benar, seharunya ia mengobati semua luka dania bukan malah menghancurkannya seperti saat ini.

Sudah dua hari bimo tak keluar dari kamarnya, ia seperti mayat hidup yang hanya mengandalkan beberapa teguk air putih dimeja lampu tidur.
Sakit, perih, hancur semua nya ia rasakan. Tak seharusnya ia sekejam itu dengan dania. Di lubuk hati bimo terdalam, ia begitu memikirkan dania secara rinci bahkan kadang tanpa disadari ia melangkah menuju kamar tidur dania yang berada di lantai bawah hanya untuk memastikan ia sudah tertidur atau belum. Dua hari yang lalu bimo ingin melupakan semua dendamnya dan berencana melamar dania namun, gadis itu mengetahui apa yang sebelumnya terjadi.

Bimo memperbaiki posisi tidur, wajahnya terlihat pucat menghadap ke jendela besar kaca yang terlihat jelas suasana di luar. Gemuruh dan petir menyambar di luar sana. Hujan terlihat marah dengan rintiknya yang deras. Ingin rasanya ia keluar kamar dan menemui dania di lantai bawah. Tapi, lagi lagi ego yang membuat kaki bimo tercekat dan seperti terikat di tempat tidurnya yang empuk.

Ponsel bimo terus berdering dari kemarin sore, tapi tak ada sedikitpun hatinya berniat untuk melirik apalagi menyentuh barang tersebut.
“Hei kau ke mana saja?” teriak seorang laki-laki dari depan kamarnya yang sudah terbuka. “apa kau sakit? kantor terasa kacau tanpa kalian berdua” tutur lelaki itu sambil berjalan menuju bimo.
“berdua?” Tanya bimo sambil duduk dari tempat tidurnya.
“kalau kau sakit kenapa tak kasih kabar? kami akan mengunjungimu” tutur Hen teman sekantornya tanpa menghiraukan pertanyaan bimo yang agak terdengar seperti enggan berbicara.
“aku baik baik saja.” Gumam bimo.
“apa dania juga tidak ke kantor?” Tanyanya agak ragu.
“dania? Siapa..”
“oh. Maksudku sherly”
“sejak kapan kau mengubah nama gadis mungil itu?” ejek Hen
“sherly tidak ke kantor?” tanya bimo lagi dengan nada yang serius.
“bukankah dia pergi dua hari yang lalu? Aku melihatnya di bandara. Aku kira kau yang memberinya cuti.”
“Di bandara?”
“iya, aku sempat menegurnya.”
Mendengar penjelasan tersebut bimo segera beranjak dari tempat tidur.

Pohon-pohon berdenyut dihempas angin petang. Gadis itu terus mempercepat langkah. Rasa ada ribunan beban mengganjal di hatinya yang mungil. Tubuhnya kuyub tertimpa rintik hujan yang mulia turun dari tadi sore. Kakinya terhenti ketika bimo menarik tanganya.

“ada apa?” bentak gadis itu dengan air mata berurai
“kau terlihat pucat” tutur bimo sambil menatap wajah dania lekat. Rasanya ia ingin berteriak mengatakan cukup untuk bertingkah egois. Gadis itu tak peduli dengan apa yang terjadi lagi lagi ia melepas genggaman bimo dan berjalan menyelusuri trotoar yang basah. Namun bimo tak kalah cepat, ia kembali menarik tangan dania namun sekarang dengan sedikit agak kasar. Dania terhempas ke dada bimo yang bidang. nafas dania menggebu. rindu, sakit, kecewa, semuanya ia rasakan.

“apa kau akan terus menghindar?” teriak bimo sambil memegang kedua pundak dania
“aku akan menganggap kau mimpi buruk dan segera bangun.”
“apa kau sekejam itu?” Tanya bimo lagi
“masih bisa kau berucap kalau aku yang kejam? Ha?” teriak dania
Namun bibir bimo menyapu bibir dania dengan lembut. Gadis itu terperangah hebat laki laki yang begitu dingin selama ini menciumnya dengan air mata yang bergelinang di kedua mata.

Dania melepaskan ciuman itu.
“kau sudah gil..” belum sempat gadis itu berucap ia kembali mengecup bibir dania. ditariknya pinggang gadis itu agar lebih mendekat. Laki laki tersebut begitu menikmati setiap sentuhan bibir mereka. Sudah hampir satu bulan lamanya ia berkelana mencari gadis yang tidak cukup cantik tersebut namun berhasil mengkait hati beberapa pria tampan termasuk dirinya. Lalu diakhiri ciuman itu dengan kecupan manis di bibir mereka. tangan gadis tersebut gemetar menahan rindu dan hasrat. Bimo kembali mendekap tubuh dania.

“kalau kau ingin kabur lagi, ajak aku. sepertinya di sini tempat yang bagus untuk menciptakan bahagia.” Tuturnya sambil melepaskan pelukan mereka. Bimo meraih tangan dania dan menyelinapkan sebuah cincin dengan berlian yang mengkilau di ujungnya.
“kau akan menikah denganku. Aku tidak akan meminta persetujuanmu” tutur bimo
“heh. Kau memang selalu egois” cibir dania namun dengan sedikit sungging di bibirnya.
“aku tau umurmu baru 21 tahun, aku tau kamu terlahir biasa bisa saja tanpa ada yang menarik kecuali tahi lalat di samping telinga kananmu. Namun aku mencintaimu aku merasa bukan apa apa tanpa kamu. Dan aku tidak punya alasan khusus mengapa begitu sangat mencintai kamu. Ini untuk pertama kalinya seumur hidupku aku berucap maafkan aku.”
“sebenarnya kamu..” lagi lagi bimo mengecup bibir dania tanda tak ingin mendengar apa apa. Kali ini mereka seperti sangat berhasrat. Hujan yang masih rintik rintik bagai penghias kisah mereka di senja buta.

Cerpen Karangan: Milnadiatul Hasanah
Facebook: Nadya Sherly
Lahir : 22 juli 1998 dijambi

Cerpen Di Senja Buta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Puisiku Cintaku

Oleh:
Hari libur adalah waktu yang tepat untuk bersantai. Seperti biasa, hari ini waktunya Mila dan Daffa menghabiskan waktu bersama. Dan layaknya sepasang kekasih pada umumnya, mereka menghabiskan waktu di

Cinta Yang Terobati

Oleh:
Kisah cinta nggak semudah atau segampang yang kita bayangkan, itu semua butuh perjuangan untuk mendapatkanya. Ketika orang yang kita sayang 100% pada akhirnya akan ada dua jawaban: dapat teman

Bait Bait Curahan Hati

Oleh:
Lautan awan putih membentuk riak-riak gelombang saling kejar satu sama lain. Hawa dingin di ketinggian memaksa penghuni yang ada di sekitarnya untuk memakai baju tebal, termasuk diriku. Namun keindahan

Seikat Mawar

Oleh:
Aku menatapnya kagum. Dave, lelaki yang ku kenal pendiam itu ternyata mahir memainkan sebuah lagu River flows in you. Jari-jarinya menari dengan lincah di atas tuts-tuts piano memainkan mahakarya

Gadis Halte

Oleh:
Ini hari minggu, keramaian makin terlihat di setiap sudut kota. Tak terkecuali di depan gadis kecil itu. Hal layak ramai berburu untuk mendapatkan ‘jatah’ naik angkutan umum. Karena jika

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *