Di Sudut Perpustakaan, Aku pun Terjatuh

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 28 April 2018

Saat matahari tak lagi bersembunyi di balik awan, aku masih saja duduk di sudut perpustakaan yang sunyi namun penuh kenangan. Aku melihat sebuah novel di atas meja, tertulis judul “Kursi Favorit Kita”. Aku pun penasaran dan membaca lembar demi lembar novel tersebut. Kemudian di akhir novel tersebut terdapat sebuah kalimat “Ternyata, kamu yang aku kagumi juga memiliki tempat favorit, tempat favorit yang sama denganku, kursi di sudut perpustakaan yang menghadap ke sebuah jendela, tempat dimana aku telah jatuh ke dalam hatimu”. Kemudian aku menemukan sebuah note kecil di samping novel itu dan bertuliskan: “Sampai jumpa 1 tahun kemudian, maafkan aku tak menjadikan kursi ini menjadi tempat favoritku lagi, karena aku harus ke Amsterdam, dan aku berjanji kita akan bertemu lagi di sini, di tempat favorit kita?”

1 tahun yang lalu….
Aku seorang mahasiswi semester 2 yang sedang berjuang dalam dunia perkuliahan yang kata FTV-FTV menyenangkan namun kenyataannya indescribable. Aku seseorang yang tidak terlalu bisa untuk bergaul dengan orang yang baru aku kenal. Satu hal lagi tentang diriku, aku menyukai ketenangan, salah satu yang memberikanku ketenangan ialah perpustakaan. Perpustakaan membuatku dapat merangkai khayalan-khayalan yang ada di benakku, membuat otakku dapat menyusun rangkaian impian-impian yang ada di hatiku. Belahan jiwaku saat ini ialah perpustakaan.

Kala itu, aku sedang duduk di kursi pojok perpustakaan. Kursi itu menjadi kursi favoritku karena berada di sudut ketenangan, dan menghadap ke jendela yang mensuguhi pandangan pepohonan di belakang perpustakaan. Aku mulai membaca sebuah novel fiksi karangan penulis favoritku. Entah kenapa aku masih menyukai genre romantis. Menurutku, ketika membaca novel-novel itu, hatiku seakan terbawa, terhanyut, dan hatiku jatuh untuk novel tersebut.

Setelah hampir 20 halaman aku membaca, perutku mencoba memberikanku sebuah kode bahwa ia telah lapar. Aku meninggalkan kursi favoritku, dan beranjak menuju tempat jajan di dalam perpustakaan itu. Aku hanya membeli sebuah minuman teh dingin. Teh merupakan minuman favoritku, segalanya yang membuatku tenang ialah favoritku. Aku pun kembali menuju kursi favoritku dan ternyata sudah ada seseorang yang menduduki tempat duduk itu. Sosok pria berkacamata tengah fokus pada laptopnya sembari jarinya bergerak mengetikkan papan keyboard.

Sosok pria berkacamata itu ialah Ketua UKM Kampus yang aku ikuti. Dia adalah sosok yang supel, ceria, dan dia juga sering membuat lawakan-lawakan yang membuat orang-orang akan tertawa kegelian melihat tingkah lucunya itu. Namun dibalik tingkah lucunya itu, dia juga sosok yang memiliki magnet saat sedang membicarakan masalah serius, sosok yang bijaksana dan dewasa. Di hari itu aku melihatnya sebagai sosok yang berbeda. 180 derajat berbeda, dia terlihat sangat serius. Aku memandanginya diam-diam dari kursi di belakangnya. Terlihat ia sedang menulis sebuah narasi, dan aku menduga itu sebuah novel. Aku tertegun, ternyata diam-diam dia suka menulis, karena orang-orang hanya mengetahui dia adalah sosok pemimpin yang bijaksana dan ceria.

Keesokan harinya, setelah letih mendengarkan para dosen menerangkan materi yang begitu tak kumengerti, Aku kembali ke duniaku, perpustakaan. Aku duduk di kursi favoritku, pojok perpustakaan dan kembali membuka novel favoritku. Tak biasanya, aku tak terlalu fokus membaca novel, terlintas kejadian kemarin persis di kursi ini sosok yang tak kuduga tengah duduk di sini. Aku pun membuka laptopku dan memulai kebiasaanku, mencurahkan isi hatiku lewat tulisan, aku menyukai setiap detail yang aku alami dalam hidup kemudian aku tuangkan ke dalam tulisan. Aku begitu mencintai setiap kejadian yang aku alami, karena aku tau, kejadian di kemudian hari hanya akan menjadi sebuah kenangan. Aku tak mau itu terlewat begitu saja, maka dari itu aku tuangkan ke dalam sebuah tulisan.

Tiga jam berlalu, aku pun beranjak pergi dari kursi favoritku. Tak kuduga ternyata, sosok itu kembali datang. Datang dengan membawa sebuah laptop kemudian dia duduk di kursi favoritku. Aku terpaku melihatnya, begitu mengagumkan sosoknya, satu sisi yang menjadi favoritku, dia juga menyukai ketenangan, ketenangan di pojok perpustakaan seperti halnya aku.

Seminggu berikutnya, matahari menyambut lembut diriku yang ingin beranjak ke kampus. Namun, dosen yang akan mengajar secara tiba-tiba menyatakan tidak bisa hadir karena ada sebuah urusan. Teman-teman yang lain merasa kecewa terlihat dari celotehan dan ekspresi cemberut mereka karena sudah capek-capek ke kampus. Namun, aku justru merasakan sebaliknya, ini ialah kesempatan untukku untuk berlama-lama di perpustakaan. Sekarang niatku bertambah selain untuk membaca sebuah novel dan menulis diary, ke perpustakaan ialah untuk membayar rindu kepada sosok yang kukagumi itu.

Aku menuju sudut perpustakaan dan duduk di kursi favoritku. Aku terkejut menemukan sebuah botol teh dingin di atas mejaku. Aku pun menarik sebuah note kecil di bawah botol itu, bertuliskan: ”minuman ini juga akan memberikanmu ketenangan bukan? Minum saja, aku tau kamu pasti akan haus apabila duduk di sini berjam-jam?”. Aku pun sontak terdiam, hatiku seakan bergetar dan bertanya-tanya, siapakah gerangan yang menaruh minuman favorit di tempat favoritku ini. Terbersit sosok itu, apakah mungkin dia? Kemudian aku kembali membuka laptop dan menuliskan kejadian yang aku alami hari ini.

Tak terasa 2 jam berlalu aku habiskan menulis tentang kejadian hari ini dan menuliskan tentang sosoknya. Matahari nampak kelelahan dan ingin tidur rupanya, aku pun beranjak pergi meninggalkan perpustakaan. Di pintu perpustakaan aku bertemu dengannya, dan dia pun melihatku, dengan sedikit canggung aku memulai sebuah percakapan.

“Sore Kak, ngapain ke perpustakaan sore-sore begini?” Tanyaku dengan ekspresi ceria.
“Oh, aku ingin duduk saja di perpustakaan, sambil menyelesaikan tugasku. Kamu sudah ingin pulang?” Jawabnya.
“Iya kak, ini sudah sore. Aku pulang duluan ya Kak” Jawabku sambil tersenyum dan melambaikan tanganku.

Dalam hatiku, aku ingin sekali berucap, Apakah Kakak yang memberikan minuman ini? Terima kasih banyak ya. Tapi itu hanya sebatas dalam hati, karena aku tak tau sebenarnya siapa yang menaruh minuman itu di kursi favoritku, mungkin saja Ibu perpustakaan, mungkin saja itu untuk orang lain, mungkin saja bukan dia. Dalam hatiku berkata, Sosoknyalah yang memberikanku minuman tersebut namun aku berusaha untuk menyangkalnya.

Hari-hari berikutnya, aku kembali menghabiskan waktu sepulang kuliahku di perpustakaan. Sudah seminggu, sosoknya tak pernah aku lihat di perpustakaan. Aku merasakan sebuah kehampaan dalam hatiku, kerinduan dalam benakku. Hanya dengan sering melihatnya di perpustakaan, membuatku merasa dia telah menempati satu ruang dalam hatiku, hanya dengan dia memiliki kebiasaan yang sama, mempunyai tempat favorit yang sama di perpustakaan, aku pun merasa menemukan seorang yang selaras denganku, namun aku tak tau apakah dia merasakan hal yang sama seperti perasaanku.

Aku menghadiri sebuah acara yang diselenggarakan UKM kampus, aku pun tak melihat sosoknya. Ternyata, kudengar dia mendapat beasiswa ke Amsterdam selama satu tahun. Aku pun merasa bahagia dan bertambah kagum dengan sosoknya namun aku mencoba menutupi perasaan itu dengan bertingkah biasa saja. Di satu sisi, aku pun merasa sedih, karena apabila nanti aku ke perpustakaan, aku tak dapat membayar rinduku untuk melihat sosoknya lagi. Sosok yang memiliki kesamaan denganku, walaupun tak pernah memiliki waktu bersama dengannya, cukup dengan melihatnya saja di sudut perpustakaan, telah dapat membuatku terjatuh ke dalam hatinya.

Cerpen Karangan: Windy Septiyanti
Facebook: Windy Septiyanti
Seorang mahasiswi semester 4, di sebuah kota kecil, Solo.

Cerpen Di Sudut Perpustakaan, Aku pun Terjatuh merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bayaran Mahal untuk Khayalan

Oleh:
Apa kamu pernah takut pada kenyataan? Baik, biar aku bicarakan sekarang. Aku benci mengakui ini, tapi, ya, aku lelah serta-merta mengabaikan semua hal ini dalam otakku. Berlari-larian mengitari kepalaku,

Salut D’Amour

Oleh:
Aku memandang ke luar jendela sejak pulang sekolah tadi. Memandangi hujan yang mengguyur Bumi hari ini membuat hatiku sedikit lega. Ya, rasanya dingin, tentram, menyejukkan, menyegarkan. Rasanya kedongkolanku hari

Rasa Terpendam

Oleh:
Safanya, itulah yang aku tahu tentang namamu, pertama aku melihatmu, mataku seolah tak bisa berkedip, seperti melihat pelangi yang indah di atas sana, aku tahu namamu dari ibumu, ibumu

Merak Jingga

Oleh:
Rasa Suka hadir tanpa disangka. Rasa kagum ada di saat yang tak tepat. Rasa cinta muncul ketika hati ini sedang goyah. Rasa ketertarikan ini sulit ku bedakan. Apakah ini

Terlambat Untuk Menerima

Oleh:
Mentari mengintip dengan malu-malu di balik tirai jendela sebuah rumah sederhana. Disertai kokok ayam jantan yang bersahutan. Pagi kembali datang membawa kesejukan khas pegunungan. Tetes embun masih nyaring terdengar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Di Sudut Perpustakaan, Aku pun Terjatuh”

  1. Setia Anggina .V.Purba says:

    Cerpennya sangat bagus

  2. Dadung Lembu says:

    Keren…..diksinya ok banget

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *