Dibalik Kacamata Andre (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Olahraga
Lolos moderasi pada: 30 August 2019

“Bukan begitu Shintia?” Pak Iwan yang adalah dosen yang kebetulan mengajar pagi itu mengagetkan Shintia ketika mendengarkan materi kuliah.
“I-iya pak.” Shintia menegakkan kepalanya. Sementara hampir seisi kelas menahan tawa. Memang Shintia sering mengantuk akhir-akhir ini karena deadline kegiatan himpunan jurusan.
“Saya mengenal Shintia ini, dulu pernah saya buat beberapa anak himpunan kesusahan meminta tanda-tangan saya untuk suatu proposal. Saya sampai lupa proposal apa. Hahaha… Yang saya ingat mereka mengirim Shintia ini yang datang, pintar juga anak-anak ormawa zaman sekarang mengandalkan anak perempuan untuk mempercepat urusan.” Sejenak hampir seisi kelas tertawa hebat, sementara Shintia mukanya sudah merah padam sejak tadi mendengar celoteh dosen yang juga merangkap jadi kepala jurusan itu.
“Kalau begitu saya tunjuk kamu jadi ketua kelas mata kuliah ini ya.” Pak Iwan kembali menghadap layar proyektor dan mengembalikan fokusnya menerangkan mata kuliah.
Shintia kaget bukan main, urusan himpunan juga belum selesai, dia sudah dikasih tanggung jawab lain. Awal semester ini Shintia sudah sangat merindukan tidur tujuh jam selayaknya kebutuhan manusia dewasa.

“Shin, udah tenang aja. Jadi ketua kelas mah kerjaannya cuma komunikasi sama dosen dan membagikan materi ke anak-anak. Gitu aja stress.” Vincent, temannya yang duduk dekat dengannya senyum sambil mengedipkan mata. “Sehari tidur cuma tiga jam, paling kali ini jadi dua jam. Hahahaha…”
“Sialan.” Shintia meninju tangan Vincent tanpa terlihat oleh Pak Iwan.

Pak Iwan menyelesaikan kelas hari itu. Kemudian beliau menyalin beberapa materi ke flashdisk milik Shintia. Beberapa murid mulai meninggalkan kelas, beberapa masih mengobrol, ada juga yang masih mencatat dan mendiskusikan materi yang baru saja diberikan pak Iwan.

Shintia sendiri sibuk memindahkan materi kuliah barusan ke google drive yang kemudian dia share ke grup angkatan yang juga baru saja dia buat. Sambil menunggu beberapa mahasiswa kelas itu join grup, dia menelepon temannya di kantor himpunan. “Tungguin deh, hitungan menit.”

Di belakang Shintia, seorang cowok dengan tampang keraguan mendekat ke Shintia. Cowok ini rambutnya rapi belah pinggir, kacamata bulat kecil persis kacamata Harry Potter, juga tidak lupa blouse dimasukkan ke dalam celana dengan ikat pinggang. Cowok berkulit bersih itu kemudian memberanikan diri untuk mengucapkan satu kata ke Shintia. “Kak Shintia.”
Shintia membalikkan badan sedikit kaget tetapi tidak lupa senyumannya. “Ya, saya.”
“Ngg. Anu, kak. Saya mau minta materi yang tadi boleh ga?” cowok ini menggaruk-garuk kepalanya sambil senyum malu-malu.
“Bentar. Kamu bukan dari angkatanku ya? Kamu anak semester lima ya? Kamu kenapa ambil mata kuliah semester tujuh? Hayo! Pengen lulus tiga setengah ya kamu? Hahahaha…” Shintia berceloteh terus sambil cekikikan sendiri.
Cowok itu cuma tersenyum dan tertawa sedikit.
“Sebenernya kita ada grup sih. Kamu udah join belum? Tadi sih udah beberapa aku invite, tapi aku baru tahu ada adik kelas di kelas ini.” Kata Shintia sambil tersenyum manis.
“I-ini kak, barcode-ku. Tolong kak diinvite.” Cowok itu cepat-cepat mengambil handphonenya, karena gugup dia menjatuhkan beberapa buku di tangannya.
“Eh, pelan-pelan.” Shintia membantu mengumpulkan buku-bukunya. “Nih.” Shintia menyerahkan buku-buku itu kepadanya.
Shintia membuka line dan mengundang cowok itu masuk grup kelas. “Andre ya?”
“I-iya kak. Makasih banyak kak.” Andre mengangguk sopan ke Shintia. “Pamit, kak.”

Shintia buru-buru ke kantor himpunan. Dari luar kelihatan para rekannya sudah memulai rapat. Shintia cepat-cepat membuka laptopnya dan memerhatikan jalannya rapat dengan baik.
Dari luar seorang mahasiswa melewati kantor himpunan dan menatap Shintia dengan dalam. Cowok itu hanya bisa mengagumi dari jauh si bintang kampus yang bersinar itu.

Shintia pagi itu datang lebih pagi karena dia ada jadwal ketemu dengan beberapa anak mengenai urusan himpunan. Seseorang ingin mendekatinya tetapi didahului oleh mahasiswa senior lainnya. Cowok senior itu dikenal sebagai atlit voli di jurusan dengan titel spiker berprestasi. Shintia yang juga atlit voli sering bertemu dengan cowok itu karena mereka kebetulan sama-sama kapten.

“Shin, kamu nginep di kampus? Gila, tangguh amat.” Mahasiswa dengan rambut sedikit acak-acakan dan mengenakan kemeja kotak-kotak duduk di dekatnya.
“Enggaklah, bisa dimarahin sama mami.” Shintia tetap mengarahkan matanya ke laptop.
“Oh, anak mami toh.” Cowok itu masih saja memandangi Shintia.
Shintia menatapnya aneh. “Kamu mau ngapain sih?”
“Kamu udah sarapan belum? Aku traktir mau ga?” cowok itu masih saja menatap Shintia.
“Udah sarapan. Tadi udah kenyang dimasakin mami. Thanks ya.” Shintia kembali mengarahkan matanya ke laptop. “Please, Ryan. Aku lagi ingin sendiri.”
Ryan pun menyerah kemudian meninggalkan dia.

Sementara itu seseorang yang dari tadi duduk di meja dekat mereka, terus mendengarkan pembicaraan mereka. Dia adalah Andre, adik kelas yang bertemu dengan Shintia kemarin. Shintia melirik sebentar berharap Ryan menjauh dan tidak berniat kembali. Shintia tiba-tiba melihat Andre yang masih sibuk membaca buku.
“Eh, Andre. Sini, duduk di sini.” Shintia memanggil Andre yang kaget dipanggil oleh Shintia. “Kemarin aku kan ngantuk pas pak Iwan ngajar. Jadi masih banyak yang belum ngerti, kamu kayaknya ngerti banget ya. Hahaha…”
Andre berjalan malu-malu menuju Shintia, lalu duduk di dekatnya. “Izin ya kak duduk di sini.”
Shintia tertawa. “Kamu sopan banget ya. Santai aja kalau sama aku.”

Andre pun menjelaskan beberapa materi yang diberikan oleh pak Iwan. Shintia pun berusaha memahami. Ketika sudah selesai, Andre tiba-tiba bertanya. “Kakak masih sibuk ya di himpunan?”
“Ini kita mau ngadain laporan pertanggung-jawaban, jadi sebentar lagi aku bakal lepas dari pengurus himpunan. Mau fokus belajar, udah tingkat akhir nih. Hahaha…” kata Shintia sambil mematikan laptopnya.
“Berarti ga ada kesibukan lain ya kak?” Andre kembali bertanya.
“Oh, paling bakal tetap jadi atlit voli. Aku paling ga bisa Andre, lepas dari voli.” Kata Shintia dengan penuh semangat. “Nanti kalau aku ada pertandingan, kamu nonton ya.”
Andre tersenyum. Mereka berdua pun berjalan menuju ruangan kuliah mereka pagi itu.

Matahari sudah terbenam sore itu. Andre terlihat sedang menunggu sesuatu di gerbang jurusan. Dia tempak gelisah, sesekali dia berbicara lewat telepon. Berulang kali ia melihat jam tangannya.
Tiba-tiba sebuah sepeda motor mendekatinya, pengendaranya membuka helm. “Andre, kenapa sendirian?” ternyata Shintia yang menghampirinya.
“Eh, kak. Aku nunggu jemputan, tapi katanya masih terjebak macet. Padahal aku harus cepat pulang, ada tugas yang mesti aku selesaikan.” Kata Andre sambil menggaruk kepalanya.
“Oh gitu. Aku anterin mau ga? Kamu tinggal di mana?” Shintia mematikan mesin motornya.
“Ga usah kak. Jangan repot-repot.” Andre tersenyum canggung.
“Ayo, deh. Katanya mau cepet pulang. Hitung-hitung makasih aku karena kamu udah ajarin tadi.” Shintia menepuk jok belakang agar Andre mau diantar.
“Aku tinggal di perum Alisari kak.” Kata Andre sambil naik ke sepeda motor Shintia.
“Lah, sama dong. Aku juga. Baru tahu nih ada anak jurusan yang tinggalnya deketan.” Shintia menancapkan gasnya. “Kita cari jalan yang ga ada polisi ya, kamu ga pakai helm soalnya. Hahaha…”

Beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di depan rumah Andre. Beberapa tirai di jendela rumah Andre tiba-tiba terbuka sedikit.
“Wah kayaknya kita diawasi deh.” Kata Shintia sambil tertawa.
“Maaf kak. Keluargaku emang suka kepo.” Kata Andre sambil tersenyum canggung.
“Iya gapapa. Sesekali boleh kan main ke sini?” sahut Shintia sambil memandangi rumah Andre.
Andre mengangguk. Shintia menyalakan mesin motornya lalu menyusuri jalanan. Andre agak lama menatapnya sampai Shintia benar-benar lenyap di jalanan.

“Hei, Andre. Temenin aku makan ya.” Shintia menarik tangan Andre ke sebuah meja makan di kantin. Andre yang kebetulan sedang membeli air mineral itu tampak kaget.
Mereka pun duduk dan Shintia terus saja berbicara sementara Andre mulai gelisah karena sekeliling mereka mulai menatap mereka berdua.
Shintia sadar akan hal itu. “Maaf ya, kamu jadi ga nyaman dilihatin mereka begini. Kapan-kapan kita cari tempat makan siang di luar kampus gimana?”
Andre mengangguk sambil tersenyum. Shintia menatap Andre dan kemudian bertanya, “Jumat depan aku ada tanding voli lawan jurusan sebelah. Kamu dateng ya?”
“Aku ga begitu ngerti tentang olahraga kak. Apalagi voli.” Andre tersenyum malu-malu sambil sesekali meminum air mineralnya.
“Gapapa. Kamu dateng aja. Biar aku makin semangat. Hahaha…” Shintia menyelesaikan makan siangnya, lalu meneguk air minum di depannya. “Andre, kamu harus suka olahraga. Biar hidup kamu tuh lebih enjoy.”
“Ajarin dong kak.” Andre tertawa. Andre mulai lebih santai berbicara dengan Shintia.
“Oh, mau dong. Kapan nih?” Shintia terlihat bersemangat menanggapi pernyataan Andre.
“Weekend besok gimana? Di rumah ada lapangan basket punya kakakku. Bisa kita pakai buat latihan.” Kata Andre tetapi sedikit ragu Shintia tidak menyetujui.
“Boleh aja. Aku udah ga sibuk jadi pengurus himpunan. Banyak waktu deh buat kamu.” Shintia mengedipkan matanya.
Muka Andre memerah mendengar pernyataan Shintia. Dia pun mengangguk lalu membalas senyuman Shintia.

Shintia membunyikan bel rumah Andre di depan gerbang rumahnya sore itu. Seorang perempuan yang kelihatan lebih dewasa dari Shintia membukakan gerbang sambil tersenyum. “Shintia kan?”
Shintia mengangguk tersenyum. “Iya, kak.” Shintia menyalakan mesin motornya lalu parkir di lokasi rumah Andre yang penuh dengan bunga langka.
“Kenalin saya Devi, kakaknya Andre.” Shintia dan Devi berjabatan dengan hangat. “Tadi Andre pesen, kamu tunggu langsung di lapangan basket sana ya.” Devi mengarahkan Shintia dengan tangannya.
“Makasih kak.” Shintia menyusuri jalan setapak menuju lapangan basket dengan sebuah bola voli di tangannya.

Baru Shintia mengagumi luasnya rumah Andre, Andre muncul dari sampingnya. “Loh Andre kamu lepas kacamata?”
“Iya kak. Pakai soft-lens. Biar ga ribet latihannya.” Andre menatap Shintia malu-malu karena Shintia memandangnya tampak kagum.
“Ganteng juga ya kamu.” Kata Shintia sambil mengusap kepala Andre dengan menjinjitkan kakinya karena badan Andre yang tinggi. “Sayangnya, ini otot ga pernah dilatih kayaknya.” Sambung Shintia lagi sambil meninju lengan Andre.
“Baru juga aku bangga dibilang ganteng, langsung disindir lagi deh.” Andre cemberut lalu perlahan berubah menjadi tertawa.
“Langsung latihan yuk. Pertama kamu harus tahu dasarnya seperti passing atas dan passing bawah.” Shintia membentuk tangannya dengan pola passing bawah. “Passing bawah tangannya begini.”
Andre terlihat kaku. Shintia pun membantunya dengan memegang tangannya. Sesekali mata mereka bertatapan dalam, yang kemudian menimbulkan suatu perasaan yang mereka tak bisa jelaskan.

Setelah beberapa jam, mereka beristirahat.
“Aku kasih kamu PR ya.” Kata Shintia dengan nafas tak beraturan. “Kalau berhasil, aku traktir apapun yang kamu suka.”
“Wah ada PR-nya ya. Hahaha…” Andre pun masih bisa tertawa dengan nafas yang terlihat masih lelah.
“Kamu lakukan passing tadi sampai kamu bisa seratus passing dalam lima menit. Terserah mau passing atas atau passing bawah.” Shintia mengedipkan mata ke arah Andre.
“Ya, boleh deh.”

Andre menatap langit senja yang kuning sore itu. “Kak, kita masuk ke rumah yuk. Mama siapin makan malam.”
Shintia mengangguk. Sambil berjalan menuju rumah Andre, Shintia berbicara ringan dengan Andre. “Andre, di tim voliku ada anak seangkatanmu. Aku tanyain mereka tentang kamu.”
Andre berhenti berjalan lalu menatap Shintia sebentar. Shintia pun melanjutkan, “Mereka bilang kamu terlalu ambisius, pendiam, dan tidak pandai bergaul.”
Andre terlihat pucat dan memasang wajah gugup. Dia menunggu Shintia melanjutkan bicaranya. “Asal kamu tahu Andre, mereka itu salah, mereka ga pernah tahu permata di balik kacamatamu itu.”

Cerpen Karangan: Rosa D S
Blog: www.personaltreasure.blogspot.com

Cerpen Dibalik Kacamata Andre (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


After Five Last Year

Oleh:
“Dia satu sekolah sama gue lho Rel”, ucap Adel saat kami bertemu di acara reuni SD, yup! Adel adalah sahabatku sejak kami duduk di kelas satu SD, hm… entah

Tanda Tanya Cintaku

Oleh:
Tepat pukul 04.00 suara Adzan Subuh dikumandangkan. Aku terlelap dari ranjang tidurku sambil menguap tanda masih mengantuk, aku terbangun dan menatap sang mentari yang kian menyapaku di jendela kamarku.

Love Street (Part 3)

Oleh:
Di dalam mobil. “Kita ke mana?” tanyaku. “Banyak nanya.” ucapnya datar masih fokus menyetir mobilnya. Aku mengeluarkan hpku. “Sekarang tutup mana lo.” ucapnya sambil mengulurkan selembar kain. “Gak mau.”

18 Days (Part 2)

Oleh:
Masih mencengkeram tanganku dia bertanya, “Dari mana kamu? Kenapa hp-nya nggak aktif?” Cengkeramannya semakin kuat sedikit sakit. “Aku dari taman bacaan, nggak aktif? perasaan aktif kok,” jawabku dengan suara

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *