Dibalik Kacamata Andre (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Olahraga
Lolos moderasi pada: 30 August 2019

Mereka berdua pun memasuki rumah Andre. Shintia mengamati beberapa foto di ruang tamu mereka. Tampak sebuah ukiran nama dan tanggal lahir Andre dan kakak-kakaknya.
“Andre, kamu kelahiran sembilan enam?” Shintia menatap ukiran itu dengan kaget.
“Iya kak, pernah cuti sekolah satu tahun karena sakit.” Andre tersenyum sesaat. “Kenapa? Kaget karena ternyata tahun kelahiran kita itu sama?”
“Aku lahir bulan September. Kamu tiga bulan lebih tua dari aku.” Shintia menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. “Wah, kamu ga boleh panggil aku kakak lagi dong. Awas ya kalau panggil kakak. Aku nanti berasa tua.” Andre tersenyum menanggapi pernyataan itu.

“Hey, my new favorite couple. Makan yuk.” Tiba-tiba mama Andre muncul dan memanggil mereka.
“Mom, please.” Andre tersenyum malu melihat tingkah mamanya. Mereka pun menyusuri rumah Andre menuju ruang makan di rumah itu.

Mereka berdua mulai duduk di meja makan. Beberapa saat mucul papa Andre dan kedua kakaknya, yang satu laki-laki, yang satu perempuan.
“Halo, saya papanya Andre.” Kata papa Andre menjabat tangan Shintia.
“Oh iya om.” Shintia berdiri dari kursinya menyambut jabatan papa Andre.
“Ini cewek yang anterin kamu pake motor itu ya. Andre, Andre. Buruan belajar naik kendaraan sendiri. Jangan nyusahin cewek. Hahaha…” kata kakak laki-laki Andre sambil menepuk pundak Andre. “Halo Shin, panggil aja aku kak Billy.” Shintia mengangguk tersenyum.

Setelah malam itu dihabiskan dengan banyak bercanda, Shintia pamit pulang. “Tante, om, kak, saya pulang dulu ya. Rumah saya deket kok di E-7.”
“Bye, hati-hati ya adik cantik.” Seru Billy dari depan rumah sambil merangkul pundak Andre. Billy mengusap kepala Andre menggodanya. Terlihat muka Andre senyum masam ke kakaknya.

“Duh kok macet, ya. Pertandingannya udah mulai lagi.” Andre menggerutu kesal ke jalanan. Dia berulang kali menatap jam tangannya.
“Sabar, den. Kita entar cari jalan pintas di depan. Saya tahu kok jalannya.” Kata pak Gagas, sopir keluarga Andre.
Dengan kecepatan yang lebih maksimal, pak Gagas menyusuri jalanan. Beberapa menit kemudian, mereka sampai di kampus dan Andre langsung meluncur berlari ke area penonton.

Andre melihat papan score, tim voli Shintia ketinggalan dua set. Di set ketiga juga tertinggal 15-19. Andre pun berdiri memberi semangat kepada pemain seperti penonton lainnya. Andre yang mengambil tempat duduk dekat dengan lapangan tampak melambaikan tangannya ke arah Shintia.
Ketika technical time out, Shintia berlari ke arah pelatihnya. Sesaat dia melihat Andre melambaikan tangan ke arahnya. Shintia tersenyum ke arahnya. Andre sangat berharap kehadirannya bisa membangkitkan semangat Shintia.

Pertandingan dimulai kembali. Shintia tampak lebih bersemangat. Beberapa spike keras menyamakan kedudukan, bahkan di akhir set ketiga dimenangkan oleh tim Shintia. Yang menjadi bintangnya tentu saja Shintia.

Saat break menuju set keempat, Shintia mendatangi Andre yang sangat sumringah melihat semangat Shintia di set ketiga.
“Jadi dateng juga?” tanya Shintia sambil duduk di dekat Andre.
“Iya, tadi macet di jalanan. Untung sopirnya pinter cari jalan cepet.” Di tengah keramaian, mata Andre hanya tertuju pada Shintia.
“Di timku ada yang kamu kenal ga selain aku?” Shintia bertanya lalu meneguk air mineral dari botol minumnya.
“Oh, itu yang badannya kecil sendiri. Namanya Bella, pernah satu kelompok tugas sama aku.” Andre menunjuk ke arah tempat anggota tim lain duduk. “Emang bisa ya, badan sekecil itu jadi pemain voli?”
Shintia tertawa. “Itu namanya Libero. Kebanyakan emang badannya lebih kecil dari pemain lainnya, soalnya mereka harus membaca serangan cepat lawan untuk pertahanan.” Shintia menatap Andre kembali. “Padahal aku ngarepnya kamu kenalnya aku doang. Ternyata ada juga ya yang kamu kenal.”

Setelah bercanda cukup lama, set keempat pun dimulai. Shintia masih belum lengah. Tetapi tim lawan sepertinya banyak mengincar gerakan Shintia. Untungnya anggota tim Shintia sangat baik mengumpan, sehingga Shintia masih banyak mencetak poin.
Benar saja, tim Shintia berhasil menyamakan kedudukan di set keempat. Tinggal satu set lagi, maka tim Shintia akan memenangi pertandingan. Break kali ini Shintia tidak mendatangi Andre, karena pelatih perlu bicara dengan mereka mengenai strategi untuk memenangkan pertandingan ini.

Set kelima dimulai. Kedua tim benar-benar tegang karena memasuki babak penentuan. Terlihat Shintia yang melakukan serve. Serve yang baik itu ujungnya memberikan poin bagi tim Shintia. Awal yang baik yang membuahkan harapan tim Shintia akan memenangi pertandingan.
Di pertengahan pertandingan sebuah spike keras dari tim lawan mengenai kepala Shintia. Shintia pingsan. Banyak yang berebutan menolongnya. Tampak pelatihnya dan Ryan memapahnya ke sebuah ruangan. Andre mengikuti rombongan itu dari belakang.

Di ruangan medis, semua rekan dan teman-teman Shintia memenuhi ruangan. Andre hanya bisa melihat dari luar, itupun dia tidak bisa melihat Shintia dari luar.
Seorang mahasiswi dengan peralatan P3K memasuki ruangan. “Tolong, selain medis meninggalkan ruangan ini.” Semua yang tadi memenuhi ruangan keluar sambil memandangi Shintia dari luar. Andre melihat Shintia terkapar. Hatinya khawatir tidak menentu. Semua yang ada disitu sibuk berdiskusi.
“Nanti aku yang anterin dia aja pak. Saya kenal keluarganya. Bob, temenin aku ya.” Kata Ryan kepada pelatih kemudian pada Bobby temannya. Pelatih itu mengangguk.
“Ini aku udah bawain tas dan perlengkapan Shintia yang tertinggal di lapangan.” Kata yang lain.
“Aku juga udah bilang Shintia supaya berhenti voli. Dia pasti kecapean tuh.”
“Tadi mamanya nelpon, katanya ga usah dianterin. Ini mamanya mau jemput.”

Mereka semua begitu peduli. Mereka adalah teman-teman baik Shintia. Andre pelan-pelan menjauh dari mereka semua. Andre seperti menyadari suatu hal. Andre bukanlah siapa-siapa disitu. Shintia memang baik pada semua orang. Dia juga pasti baik pada Andre karena hanya menganggapnya teman biasa. Malam itu Andre pulang dan ingin melupakan apapun perasaan yang ia rasakan tentang Shintia beberapa waktu ini.

Beberapa hari setelah kejadian itu, Andre sudah tak pernah bertemu Shintia. Dia selalu menghindar dan tidak menjawab chat Shintia. Beberapa kali Shintia memanggilnya tetapi Andre selalu pergi pura-pura tidak mendengar.

“Andre. Dipanggil mama.” Devi memanggil Andre sambil mengetuk pintu kamarnya. Andre segera membuka pintu lalu turun ke bawah.
Sungguh tidak terduga, mamanya sedang mengobrol santai dengan Shintia di ruang keluarga. Andre hendak kembali ke kamar, tetapi langsung dilihat oleh mamanya. “Andre, ada tamu yang lagi nungguin kok kabur.”
Andre pun turun lalu duduk di dekat mamanya. Tetapi mamanya malah beranjak bersiap meninggalkan mereka.
“Jalan-jalan ke taman komplek mau ga?” Shintia menarik tangan Andre. “Ayo.”
Andre terlihat pasrah ditarik oleh Shintia. Tetapi jauh di dalam hatinya dia sangat senang ada Shintia di sini.

Cuaca hari itu terasa sejuk walau sedikit mendung. Andre memakai jaketnya, lalu berjalan mengikuti Shintia.
Beberapa menit mereka berjalan santai, mereka akhirnya sampai di taman komplek. Cukup sepi. Mereka duduk di salah satu pendopo sambil menatap pohon-pohon yang ada disitu.
Andre masih diam tak tahu mau berkata apa. Tiba-tiba Shintia angkat bicara. “Kenapa kamu menghindar beberapa hari ini? Aku ada salah ya ke kamu?”
“Enggak, kamu ga salah kok.” Andre menjawab cepat pertanyaan Shintia yang satu itu.
“Oke, bisa kamu jelasin apa yang salah?” Shintia menatap mata Andre tajam.
Andre tampak berpikir keras. “Maafin aku.” Andre mulai terlihat gugup. Dia mengepalkan tangannya menahan getaran di badannya. “Aku ga pantes deket sama kamu Shin. Maafin aku sudah terlalu jauh mencampuri hidupmu. Aku tahu kok semua yang kamu lakuin ke aku itu karena kamu cuma mau menjadi teman baikku.” Andre mulai berkaca-kaca. “Padahal aku berharap lebih.”

Tiba-tiba hujan turun dan semakin lama semakin deras. Andre melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada Shintia. Shintia terdiam mematung mendengar pernyataan Andre barusan. Kacamata Andre mulai berembun, lalu Andre melepasnya. Mata itu tulus, terlihat bayangan wajah Shintia di bola matanya.

Tiba-tiba Shintia mengeluarkan suaranya. “Kamu tahu ga, pas aku bangun dari pingsanku. Aku berharap kamu ada disitu.”
Andre terlihat mengigil karena kedinginan.
Shintia menyambung lagi perkataannya. “Kamu harus ganti rugi atas kesalahan kamu menghindari aku.” Andre mengangkat bahunya menanggapi pernyataan Shintia.
“Kamu harus janji jangan pernah tinggalin aku lagi.” Shintia mulai menangis. “Kamu harus janji selalu ada buat aku.” Shintia sekarang terisak-isak. “Kamu.. kamu harus..”
Andre menarik kepala Shintia menyandarkannya di dada Andre. Tangan Andre membelai rambut Shintia kemudian mencium keningnya.

Dinginnya air hujan memang mendinginkan raga Andre. Tetapi terasa hangat di dalam dekapan Shintia. Kehangatan itu mengumpulkan tenaganya untuk mengatakan, “Aku janji.”

Cerpen Karangan: Rosa D S
Blog: www.personaltreasure.blogspot.com

Cerpen Dibalik Kacamata Andre (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Power of First Love

Oleh:
Sudah hampir 14 tahun semenjak perpisahan kami, Sepenggal cerita, ketika itu kami masih duduk di bangku SMP. Yudha adalah teman sejak kami kecil, sejak TK sampai SMP kami selalu

An Edelweiss from Neptune

Oleh:
“Wah gue mau lihat!” “Gue dulu!” “Gue lahh!!” Segerombol murid menyerbu papan pengumuman. Mencari nama mereka di antara ratusan nama terpampang. Berharap-harap lalu mengeluarkan beragam ekspresi. Beberapa dari mereka

Meet 999 Days 23 Hours 59 Minute 60 Second

Oleh:
Kepercayaan adalah hal terberat dalam hubungan. Dan jagalah kepercayaan itu jangan sampai kau menghilangkannya. -Maurin “Kamu beneran mau pacaran sama Adit?” Sely meyakinkanku, aku hanya berduduk santai dikursiku sambil

Tugas Dari Dosen

Oleh:
Saat Bunga sedang di perpustakaan untuk mencari buku untuk melengkapi tugas yang diberikan oleh dosennya, tanpa sengaja dia menabrak seorang pria lalu buku yang dipegangnya terjatuh. Si pria membantu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *