Dinda dan Raffa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 4 February 2018

“Din.. Dinda!. Duduk dulu dong, Din!.”
“Apa? Gue udah ngerasa cukup, Fa!.” Kata cewek itu sebelum melangkah kan kakinya menjauhi tempat itu.
“Gue pulang.” Lanjutnya tanpa menoleh ke lawan bicaranya. Sedangkan seseorang di belakangnya menampakkkan wajah lesu, sedih, kumel, kudel dan dekil. Eeh.. berlebihan deng, cuma lesu dan sedih serta agak kudel aja karena abis latihan basket.

Ya cewek yang dipanggil “Dinda” tadi adalah pacar dari Raffa, cowok yang sekarang menatap kepergian Dinda dengan wajah penyesalan.

“Dasar kadal!!” Dinda meletakkan tas sekolahnya dengan keras di meja riasnya. Emosi sih..
“Janji janji mulu tapi nggak pernah berubah!.”
“Raffa cungukkk!! Dasar cowok rese’!.” Amuknya semakin menjadi. Tangannya mengepal tanda ia sedang geram sekali.
“AAAAAHH!!!”. Teriaknya membuat kamarnya yang sepi seketika jadi ramai. Ramai oleh dia sendiri tentunya.

“DINDA! LO SAWAN APA HAH! DIKIRA INI HUTAN!.” Oh noo.. itu pasti kak Rey. Kakak tunggal Dinda. Nah loh.. salah siapa teriak-teriak.
Dinda nyengir miris mendengar teriakan kak Rey yang ternyata lebih badai dari teriakan miliknya.
“Auk ahh. nggak tau orang lagi kesal apah?.” ternyata Dinda masih berani menjawab. Tapi cuma bisik-bisik sih.

Setelah cukup puas melampiaskan rasa kesalnya lewat teriakan yang menggemparkan, Dinda akhirnya capek sendiri dan berakhir dengan tidur cantik di singgasananya.
Penasaran apa yang membuat Dinda teriak-teriak mirip orang sawan?. Baiklah, Dinda seperti itu karena memergoki Raffa sedang memberi setangkai mawar merah untuk seorang cewek manis yang merupakan adik kelas mereka setelah latihan basket tadi. Dan itu bukan pertama kalinya Raffa berusaha mendapatkan cewek cantik padahal hubungannya dengan Dinda belum berakhir. Cocok kan kalau Dinda menyebutnya kadal?

Dinda dan Raffa. Sepasang kekasih yang jarang sekali akur. Sekali akur juga beberapa jam kemudian pasti rusuh lagi. Jangan heran, itu karena Raffa yang memulai. Raffa memang terkenal player di sekolahnya. Sudah tak terhitung siapa saja cewek cantik yang pernah dirayunya. Padahal statusnya masih pacar Dinda!.
Wajahnya memang mendukung sihh. Dengan wajah yang mampu menghipnotis para wanita, Raffa dengan mudahnya merayu sana sini. nggak tau aja kalo Dinda udah panas karena tingkahnya yang tengil itu.

Raffa Panduwinata. Hidung mancung, kulit putih bersih, tubuh tegap dengan tinggi tak kurang dari 170 cm. Dilengkapi dengan alis tebal, bibir tipis yang berwarna pink tapi cowok banget. Duuhh.. siapa yang tidak terpesona? Apalagi kalau sudah beraksi di lapangan basket dengan peluh yang menetes di dahi dan anak-anak rambut di jidatnya. Beuhh..
Tapi seketika pesonanya luntur kalau berhadapan dengan Dinda. Dinda belum pernah menunjukkan kekagumannya pada cowok itu. Dinda selalu menatap Raffa dengan tatapan jengah, kadang malah sinis. Pasangan macam apa ini?
Lalu apa yang membuat mereka menjadi sepasang kekasih seperti sekarang?

Flasback on
“Ya sayang? plis dong tolongin tante.”
“Tante kok mintanya aneh deh, yang lain dong tante. Pasti Dinda turutin deh.” Mohon Dinda pada Tante Wita. Mama Raffa.
“Tante cuma minta itu aja sayang. Tolongin tante dong. Kamu tau kan, Raffa itu susah banget ngaturnya. Cuma kamu yang bisa taklukin dia sayang. Dia kalo sama kamu kayaknya nurut deh” Tante Wita mencoba membujuk Dinda. Dinda tampak bimbang, wajahnya menampilkan kebingungan harus menjawab apa.

“Duh.. Tante ada ada aja deh. Gimana ini coba” Batin Dinda. Setelah berpikir cukup lama dan dengan melihat wajah memelas tante Wita yang memprihatinkan akhirnya Dinda menyetujui untuk mengabulkan permohonan tante Wita.
Dinda menarik napas pasrah sebelum akhirnya berkata “Oke deh. Aku mau tante. Tapi emangnya si Raffa mau gitu pacaran sama aku?.” Tanya Dinda menatap tante Wita dan Raffa bergantian.
Raffa menyunggingkan senyum gelinya membuat Dinda memutar bola matanya kesal.

“Jadi lo nembak gue, Din?” Tanyanya diiringi senyum jahil.
“Dihh.. Mama lo yang nembak gue. Sori dori gue mau nembak lo!.” sungut Dinda tak senang. Raffa dan tante Wita tertawa melihat tingkah Dinda.
“karena Mama yang minta jadi aku oke aja.”
Jawab Raffa enteng.

Flasback off.

Yah. Karena itu lah Dinda dan Raffa pacaran sekarang.

Dinda bangun satu jam kemudian karena perutnya sudah meraung minta makan. Rencananya tadi Dinda akan mengajak Raffa makan sepulang sekolah. Tapi Berhubung Raffa malah asik rayu-rayu cewek jadi batal deh. Tuh kan! Inget Raffa jadi tambah bad mood gue. Pikir Dinda.

Setelah mandi dan makan, Dinda duduk di balkon kamarnya dengan di temani gitar kesayangannya. Gitar itu hadiah ulang tahunnya yang ke 17 kemarin dari Raffa.
“Dihh.. Raffa terus deh isi otak Lo, Din!.” Gerutunya pada diri sendiri. Sedang enak-enaknya bengong, suara bass Raffa tiba-tiba terdengar.
“Ya ampun.. Gue kenapa sih. Sekarang malah tambah parah halusinasi gue!.” Itu bukan halusinasi bodoh! Raffa memang memanggilmu!
Dinda baru sadar kalau itu bukan halusinasi setelah panggilan ke tiga dari Raffa.

“Din..?”. Lembut. Selembut sutra.
“Din. Bukain pintu dong!”
“Dinda?!. Lo tidur lagi hah?!.” Geram Raffa karena Dinda tak kunjung membuka pintu.

“Lah. Beneran ada Raffa di luar?.” katanya heran.
“Halah pasti mau minta maaf. Bodo amat!” batin Dinda.

Tak mendapat Jawaban, Raffa terus-terusan menggedor pintu kamar dan memanggilnya. Akhirnya Dinda menyerah dan membuka pintu kamarnya.
“Brisik banget sih lo! Gue lagi males ngomong. Mending sekarang lo pulang!.” Bentak Dinda.
Bukannya takut, Raffa malah nyengir tak bersalah. Dinda kesal.
“Dasar sinting!!!.” Dinda berniat untuk menutup kembali pintu kamarnya namun Raffa dengan cepat menahannya dengan kaki kanan. Tanpa aba-aba Raffa mendorong bahu kanan Dinda dan melangkahkan kakinya masuk.

“Pulang sana! Gue mau tidur!.” Kata Dinda sambil menunjuk pintu keluar.
“Masa aku capek-capek ke sini diusir sih sayang.” Raffa memelas.
Bluss.
Pipi Dinda memerah.

“Nih. Gue bawain es krim kesukaan lo.” Raffa memberi bingkisan yang dibawanya. Tak menghiraukan Raffa, Dinda malah melengos melewati Raffa menuju balkon.
“Dimakan dong. Ntar meleleh Din.”
“Bodo amat. Mau leleh kek mau angus kek. Lo makan aja sendiri!.” ketus Dinda. Raffa mengikutinya menuju balkon. Membukakan bungkus es krim itu lalu menyodorkannya secara paksa ke mulut Dinda.

“Lo sadis banget sih, Fa!.” Protes Dinda dengan mimik kesal.
“Makanya makan dong. Lo nggak menghargai gue banget deh.”
Akhirnya Dinda memakan es krim pemberian Raffa. Dinda asik dengan es krimnya dan Raffa memainkan gitar milik Dinda.

Tangannya sibuk dengan senar gitar tapi mata dan pikirannya sibuk dengan cewek yang ada di hadapannya ini.
Merasa diamati, Dinda menoleh ke arah Raffa. Raffa tersenyum manis menampakan lesung pipi kanannya.

“Kenapa lo liatin gue begitu?.” Tanya Dinda heran.
Raffa diam. Sedetik kemudian.. Cup.
“Manis.” Kata Raffa tanpa dosa.
Sedangkan Dinda mematung atas perlakuan Raffa barusan. Bahkan Dinda baru sadar kalau bibir Raffa baru aja mendarat di bibirnya.

PLAK!!
“Duh.. Sakit sayang.” erang Raffa setelah Dinda memukul bahunya.
Blussh.
Pipi Dinda memerah lagi. Segera dipalingkannya wajah merah itu dari Raffa.

“Kok ngeliat ke sana sih. Akunya kan di sini.”
“Din?.”
“Ap.. HAH!” Dinda kaget mendapati wajah Raffa begitu dekat dengan wajahnya. Sejenak mereka terpaku. Mereka mengamati wajah di hadapan masing-maasing.
Deru napas teratur Raffa menenangkan Dinda. Perlahan Raffa memajukan wajahnya. Kini hidung mereka bersentukan. Dinda memundurkan kepalanya tapi Raffa memajukanya lagi. Ketika Dinda akan memundurkan wajahnya lagi Raffa telah mendaratkan bibirnya di sudut bibir Dinda. Setelah itu dengan cepat Raffa menjauh dari Dinda. Alhasil Dinda tak bisa memukul bahu Raffa lagi. Raffa tergelak. Dengan bibir monyong Dinda memalingkan wajahnya dari hadapan Raffa.

Setelah tawa Raffa reda, hanya hening yang ada. Dinda diam, memikirkan kejadian barusan. Raffa diam. Bingung harus bagaimana memulai pembicaraan. Akhirnya Raffa mengakhiri hening itu.

“Din.” Dinda menoleh
“Aku minta maaf soal tadi siang ya.” Ucapanya tulus. Dinda diam, menunggu kelanjutan kalimat Raffa.
“Dulu aku terpaksa iya in omongan Mama. Kamu tau lah. Aku nggak suka diatur-atur, Din. Aku suka kebebasan. Tapi Mama nyuruh aku pacaran Sama kamu.” Dinda merinding, dia tau arah pembicaraan Raffa. Mati-matian ditahannya air mata yang akan menggenang di pelupuk matanya. Belum sempat Raffa menyelesaikan kalimatnya, Dinda memotong.
“Gue tau, Fa. Gue paham kok. Kalo lo maunya kita kayak dulu lagi gue bakal ngomong sama nyokap lo. Lo tenang aja.” Nada suara Dinda sedikit bergetar.

“Gue bakal bil…”
“Aku belum selesai, Din. Jangan dipotong oke?.” Pinta Raffa dengan jari telunjuk yang menempel di bibir Dinda. Dinda mengangguk. Setelah melihat Dinda mengerti Raffa menurunkan jarinya.
“Aku sering deketin cewek, Din. Tapi aku nggak pernah ngerasain apa yang selalu aku rasain tiap dekat Kamu.”
Wajah Dinda memancarkan kebingungan. Apa maksud lelaki di hadapannya ini?.

“Aku selalu berusaha buat nepis rasaku ini, Din. Tapi nyatanya nggak bisa. Aku selalu berusaha buat ilangin rasa ini tapi susah.”
Raffa menarik napas panjang.
“Aku pikir kalau kamu itu nggak bakal suka sama aku dan bakal nganggep aku ini cuma sahabat kecil kamu. nggak lebih.”
Raffa membuang pandangan kesegala arah. Lalu kembali menatap Dinda lekat.

“Tapi aku salah. Aku liat ada pancaran cemburu di mata kamu saat Kamu mergokin aku ngasih coklat ke Veronica.”
“Tapi aku masih nggak yakin. Aku sengaja kasih mawar merah ke Ara waktu kamu datang ke lapagan. Dan akhirnya Aku benar-benar yakin kalo kamu memang punya hati ke aku. Kamu marah, sampe sekarang kamu masih marah sama aku.” Raffa tersenyum jahil. Dinda tersipu, dia malu ketauan cemburu. Dalam hati Raffa sudah ngakak. Tapi mati-matian ditahan karena tak mau mengganggu moment ini.

“Udah?.” Tanya Dinda belagak jengah.
“Udah.” jawab Raffa mengangguk.
“Trus?. Intinya apa?.” tanya Dinda lagi.
“Eerr…” Raffa bingung sekarang. Gimana cara ngmomongnya sih. Pikirnya. Raffa menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia grogi sekarang, padahal biasanya nggak ada tuh namanya grogi kalau lagi berhadapan dengan cewek cantik di sekolahnya.

Grogi ni bocah? nggak nyangka gue cowok tengil kayak dia bisa grogi. Batin Dinda geli.
“Gue juga sama kayak lo, Fa. Gue sayang banget sama lo. nggak cuma sebagai sahabat. Gue sayang sama lo sebagai pacar.” Perkataan Dinda membuat jantungnya berdetak tiga kali lebih cepat.

Hug.
Dinda memeluk Raffa erat. Menyembunyikan wajah merahnya di dada bidang Raffa. Dengan senang hati Raffa membalas pelukan Dinda tak kalah erat.

Makasih, Fa. Gue Pikir lo nggak bakal bisa ngangep gue lebih dari sahabat. Batin Dinda di tengah pelukan mereka. Tanpa sadar Dinda menangis karena baper.
Raffa merasakan bajunya basah. Dinda menangis? Tanyanya dalam hati. Segera Raffa melepaskan pelukannya dan menatap wajah sendu Dinda.
“Hey.. kok masih nangis sayang?. Ada apa?.”
“Gak papa. Gue cuma malu aja bilang gitu.” Mendengar Jawaban pacarnya itu. Tunggu? Pacar? Yeayyy sekarang hatinya berbunga-bunga mengetahui status mereka adalah pacaran sungguhan.

“Makasih ya sayang udah buat Aku seneng.”
“Iya.. sam. Ehh Kamu tadi panggil aku apa?” Raffa kaget campur senang saat menyadari ada yang berbeda dari kalimat Dinda.
“Sa..yang” Dinda menekankan setiap suku katanya sambil malu-malu. Mendengar pengulagan itu, Raffa tersenyum manis sekali.

Cup
Tak disangka-sangka!
Raffa terpaku. tak percaya. Dia menyentuh pipi kanannya.
Dinda nyium gue? serius?. Pikirnya.

Dinda Segera menutup wajahnya karena malu.
Raffa Segera mengubah raut kagetnya menyadari Dinda menutup wajah Karena malu.
“Kok ditutup si yank mukanya. Kan aku nggak bisa liat wajah cantik kamu. Apalagi pas lagi blushing gini. Pasti tambah cantik.” Raffa sengaja menggoda Dinda. Dinda menurunkan kedua tangannya yang di gunakan untuk menutupi wajahnya.

Sekarang kedua tangannya itu mendarat di wajah tampan cowok di hadapannya dengan manis. Dinda mencubit gemas pipi Raffa.
“Iiiiihhh..”
“Aduh. Sakit tau, Din.” Sungut Raffa seraya memegangi pipinya.
Dinda hanya cengengesan melihat wajah tampan pacarnya itu. Wajah kesal Raffa bertahan beberapa detik. Sejurus kemudian wajahnya berubah bersemangat.

“Jadi.. Kita pacaran beneran kan, Din?.”
Dinda mengangguk semangat menunjuk kan wajah bahagianya.

Sore itu. Senja itu. Menjadi keindahan pelengkap bagi mereka berdua

End

Cerpen Karangan: Cholida Nastaini
Facebook: Iin Nastaini

Cerpen Dinda dan Raffa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jatuh Hati

Oleh:
Aku rebeca, siswi menengah atas yang telah mematikan saklar cintaku.Tapi apalah daya, jika aku malah jatuh hati pada muridku sendiri. ‘ada ruang hatiku yang kau temukan Sempat aku lupakan,

Bukan FTV Cinta

Oleh:
“Sas.” Cinta menyikut lengan Saski yang tengah asyik melahap bekalnya. Mulutnya penuh dengan roti isi selai kacang kesukaannya. “kemarin aku lihat si Diana diantar pacarnya pergi ke butik, loh.”

Kepergianmu

Oleh:
“Kalau aku panggil kamu dari jauh, kamu bakal dengar nggak?” “Seberapa jauh?” “Nggak jauh-jauh amat kok, paling cuma 5000 Km.” “…” “Aku akan teriak sekencang mungkin, supaya kamu dengar.”

Kenanganku dan Tentangnya

Oleh:
Lima belas tahun aku menyimpan rahasia ini. Bahwa aku mengalami masa kecil yang buruk. Kemurungan demi kemurungan pada semua hari yang kulalui. Aku tidak dapat menceritakannya ke siapapun. Ya,

F For Farah

Oleh:
Aku senang membiarkan diriku terbuai dalam lamunan. Bagiku itu sangat mengasyikkan, sekaligus membuat diriku sibuk daripada berbuat sesuatu yang tidak jelas. Kali ini aku kembali melamun, sambil menatap melalui

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Dinda dan Raffa”

  1. mimi says:

    wahh aku suka deh cerpen kamu,,buat lagi yaa 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *