Dion (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 18 November 2017

Masih di sebelah Dion aku duduk di mobilnya. Rasanya seperti biasa Dion mengajakku pergi jalan-jalan dulu, aku selalu duduk di samping Dion. Raisa di belakang dengan bonekanya yang selalu ia bawa pergi.
Dion membawa Raisa pulang, tapi aku belum boleh pulang. Mungkinkah dia akan membawaku kepada orangtuanya?

“Dion, kenapa aku gak boleh pulang sih? Nanti Raisa sama siapa di rumah?” Tanyaku
“Kan ada Sonia yang nemenin? Kamu tenang aja, yang penting sekarang kamu ikut aku”
“Ke mana?”
“Udah… nanti kamu tau sendiri tempatnya”
“Tapi…”
“Udah… ikut aja”
Aku masih saja bertanya-tanya kemana Dion akan membawaku. Hanya ada satu petunjuk yang kudapat, tempat itu sangat spesial untukku. Tapi Di mana? Dan apa?

Setelah Dion memberhentikan mobilnya, Aku melihat ke sekelilingku. Ada danau yang sangat indah, sebuah jembatan yang penuh dengan bunga dan sebuah karpet kecil yang dihiasi dengan bunga dan lilin.
Mungkin kalian bertanya-tanya tempat apa ini. tempat ini adalah tempat dimana aku dan Dion pertama kali bertemu 2 tahun yang lalu. Tepatnya di atas Jembatan. Saat itu aku sedang menenangkan diri karena aku belum bisa melepas kepergian ibuku. Dion yang kebetulan juga ada disana memperkenalkan dirinya dan menghiburku. Mulai saat itulah aku tau bahwa dia berada di universitas yang sama denganku.

“Dion, kenapa kamu bawa aku ke sini?” Tanyaku setelah Dion mempersilahkan aku duduk di atas karpet itu
“Ini kan tempat pertama kali kita ketemu?” Jawabnya santai
“Iya tau, tapi kenapa?” Tanyaku lagi
“Ini tanggal berapa?” Dion balik tanya
“Tanggal… 13 Mei” Seruku setelah melihat tanggal di ponselku
“Berarti…” Kata-katanya menggantung
“Berarti apa?” Tanyaku dengan bingung
“Masa kamu lupa sih?” Tanyanya sambil merangkulku
“Dion, aku beneran lupa” Kataku sedikit merengek
“Ini” Katanya sambil menyerahkan sebuah kado padaku
Sungguh mengherankan. Pikirku. Aneh sekali sikap Dion hari ini, seperti ada yang dia sembunyikan.
“Apa ini?” Tanyaku sambil membuka kado itu
“Liat aja sendiri” Tantangnya

Setelah seluruh isi kado terlihat, aku membuka kotaknya dan menemukan sebuah boneka beruang berwarna biru, persis dengan yang dia berikan sewaktu dia menembakku, dan ada sebuah kotak Surat kecil berwarna biru juga. Isinya “Happy Anniversary!!!” Baru aku tau mengapa dia membawaku ke sini. Hari ini adalah hari jadi kami yang ke satu tahun. Sungguh kejutan yang mengesankan.

“Dion, apa arti semua ini?” Tanyaku
“Kamu masih belum mengerti?” Dion balik tanya
“Kamu tega ya sama aku” Kataku
“Kok tega sih? Aku jadi bingung” Balasnya
“Kamu tega dah bikin aku takut tau gak” Seruku sambil mendorongnya
Aku sangat bahagia hari itu. Sesaat setelah aku mendorongnya, Dion menarikku dalam pelukannya. Pelukan yang selama ini hilang dariku selama berhari-hari, sekarang sudah kembali dengan sempurna. Cinta sejatiku…

“Dah gak marah lagi kan?” Tanyanya
“Masih” Jawabku
“Aku mesti ngapain biar kamu gak marah lagi?” Tanyanya lagi
“Nyebur ke danau” Jawabku menggodanya
“Oke kalo itu bikin kamu gak marah lagi” Katanya sambil berdiri
“Kamu beneran mau nyebur?” Tanyaku
“Katanya suruh nyebur?” Kata Dion polos
“Maksudnya nyebur ke danau hati aku” Kataku sambil tertawa
“Ryn, aku udah di sana selama satu tahun” Tegasnya
“Iya iya maaf…”

Aku dan Dion berada di sana seharian. Tak terbayang olehku bisa seperti ini lagi hubunganku dengan Dion. Jam sudah menunjukkan pukul 04.00, ternyata sudah sore sekali. Aku dan Dion pulang ke rumahku.
“Makasih ya Dion buat jalan-jalannya” Kataku setelah aku turun dari mobilnya
“Iya, besok kamu ada kuliah gak?” Tanyanya
“Ada kok, tapi cuma 2 jam” Jawabku
“Mau aku jemput?” Tawarnya
“Nggak usah deh, kamu kan juga ada jadwal” Tolakku
“Aku gak mau kuliah. Aku maunya jemput kamu, itu aja” Balasnya
“Penting aku atau pelajaran?” Tanyaku
“Kamulah” Jawabnya
“Ih… nyebelin banget” Gumamku
“Mau nggak?” Tanyanya lagi
“Terserah kamu aja deh. O ya, kamu tidur di mana? Katanya dah minggat, hihihi” Kataku
“Di mobil, kalau suruh nginep rumah kamu juga nggak papa” Celetuknya
“Ih… nggak-nggak, nggak boleh” Tegasku
“Ya udah deh, ketemu besok ya… dah!!!” Katanya sambil masuk ke mobil
“Mau ke mana?” Tanyaku
“Pulang dong” Jawabnya
“Pulang? Pulang ke mana?” Tanyaku lagi
“Ya ke rumah…” Jawabnya
“Oh… alamatnya mana sih?” Tanyaku sedikit menggodanya
“E… emm…” Dion berpikir sejenak “Di hati kamu” Candanya
“Hem… terserah” Kataku sambil masuk ke dalam rumah

Malam ini terasa sangat berbeda dengan hari-hari yang lalu. Kehangatan menyelimuti setiap jengkal tubuhku. Dari kamarku, kulihat cahaya berwarna oranye cerah dan suara mobil yang tidak kukenali. Mobil siapa itu? Pikirku. Aku pun keluar untuk melihat mobil siapa yang datang malam-malam begini.

Setelah kucermati, ada dua mobil berwarna hitam, yang satu mesinnya tidak menyala, jelas milik Dion, yang satu lagi, entah milik siapa. Tak lama kemudian keluar dua orang, sepertinya mereka adalah suami istri. Tapi siapa mereka? Pikirku lagi. Wajah mereka memang tidak terlihat jelas olehku. Begitu juga dengan mereka, mereka tidak bisa melihatku dengan jelas. Dengan tergesa-gesa mereka menuju pintu rumahku.

“Maaf, cari siapa ya?” Tanyaku
“Saya mencari anak saya, ada yang memberi tau saya kalau anak saya ada di sini” Jawab ibu itu
“Anak ibu?” Tanyaku kebingungan
“Ya… Namanya Dion, katanya dia satu kampus sama adek ya?” Kali ini Bapak itu yang angkat bicara
“Dion?” Kataku kaget
“Siapa Ryn?” Tanya Dion yang tiba-tiba berseru didekat mobilnya
“Eh… emm, lebih baik kamu ke sini” Jawabku
Setelah Dion mendekatiku, dia menengok ke arah bapak dan ibu itu. dia terlihat sangat terkejut melihat muka mamanya yang memerah.
“Mama, papa, kapan ke sini?” Tanya Dion sambil mencium tangan mereka berdua
“Sejak kapan kamu di sini?” Tanya mama Dion dengan nada marah
“E… Barusan kok ma” Jawab Dion berbohong
Mendengarnya berbohong, aku menginjak kaki Dion karena dia telah berbohong pada orangtuanya sendiri.
“Au… apa sih” Katanya
Aku hanya melotot padanya
“Oh… lalu sejak kapan mobil kamu di sini? Barusan juga?” Tanya ibu itu lagi
“Iya lah ma”
“Tapi sejak kami datang, mobil kamu sudah ada di sini?” Gantian papa Dion yang berbicara
“Eh… itu…” Dion tergagap sambil menggaruk kepalanya
“Jujur aja” Bisikku pada Dion
“Ya udah deh. Aku di sini sejak tadi siang”
“Kenapa kamu di sini?” Tanya mama Dion lebih seperti menginterogasi
“Em, cuma ngajak jalan-jalan kok ma”
“Nggak bohong? Terus Kesya?”
“Ma, aku gak mau ketemu dia lagi dan jangan paksa aku buat tunangan sama Kesya” Kata Dion yang sudah berani berbicara
“Tapi kenapa? Dia cantik, berbakat, baik, sopan. Apa kekurangan dia?”
“Kekurangan dia adalah aku tidak mencintainya. Aku hanya mencintai Airyn, dan sejujurnya karangan bunga yang kurusak itu buat Airyn, bukan buat Kesya”
“Airyn? Siapa Airyn, semoga dia lebih dari yang mama duga”
“Em… sebaiknya mama sama papa pulang aja ya, besok aku kirimin foto dia”
“Kenapa kamu gak pulang saja?” Tanya papa Dion
“Ada Kesya di rumah kan, nah…, ya udah kalian pulang saja” Jawab Dion sambil mendorong papa dan mamannya
“Tapi kamu gak boleh macem-macem di sini” Nasihat papa
“Tenang aja pa, di sini ada temenku kok”
“Dia?” Tanya papa Dion sambil menunjukku
“Itu adiknya” Jawab Dion berbohong lagi
“Temen kamu perempuan atau laki-laki?”
“Ya laki lah pa… udah deh, nggak usah kawatir”
“Ya udah, kamu baik-baik di sini”
“Iya pa…”

Setelah orangtua Dion menjauh, aku memarahi Dion karena berbohong dua kali. Ternyata polos juga anak ini, manja banget.
“Tega ya kamu bohongin orangtua sendiri” Kataku
“Yang penting gak sama kamu. Udah ya, masih ngantuk nih” Balasnya
“Kamu bakalan kirim foto aku ke mereka besok?” Tanyaku
“Iya lah…” Jawabnya
“Ya udah deh” Kataku sambil masuk ke rumah

Keesokan harinya, Dion benar-benar mengirim fotoku ke mereka lewat email. Dion juga memberikan facebookku dan instagramku. Dion mengirim beberapa foto, diantaranya saat kami di dufan dan di danau. Kenapa harus kirim foto yang lagi berdua sama Dion sih? ada sih yang aku sendiri, yaitu saat aku wisuda SMA.

Di rumah Dion, papa dan mama Dion melihat-lihat fotoku dengan Dion. Komentar mereka berbeda di setiap foto. Detail sekali. Pikirku.
“Bagaimana dengan gadis pilihan Dion ma?” Tanya papa Dion
“Cantik pa, kelihatannya juga terpelajar dan pintar” Jawab mama Dion dengan tersenyum “Tapi apa kepribadiannya bagus?” Tanya mama Dion
“Dari cara berpakaian di setiap fotonya, selalu sopan dan rapi kok ma” Jawab papa Dion
“Papa benar. Semua foto di media sosialnya selalu rapi dan sopan. Mungkinkah dia lebih baik dari Kesya?” Tanya mama Dion lagi
“Pertanyaan itu cuma bisa dijawab sama Dion” Jawab papa Dion
“Baiklah sekarang kita suruh Dion buat mempertemukan kita sama Airyn” Saran mama Dion
“Oke, papa kabarin Dion dulu ya”

Setelah mereka setuju, Dion mengabariku kalau aku harus bersiap-siap untuk bertemu sama orangtuanya. Di danau. Rasanya sangat gugup sekali untuk bertemu mereka berdua.
Setelah aku dan Dion sampai di danau, kami mendatangi meja yang sudah diisi dua orang yang pasti orangtua Dion. Aku kagum melihat mereka. Aku kira, orangtua Dion menyeramkan, ternyata tidak.

“Ma, pa, ini yang namanya Airyn” Kata Dion memperkenalkanku
“Selamat sore, om, tante” Kataku sambil mencium tangan mereka berdua
“Sore juga” Jawab mama Dion tersenyum “Lebih cantik dari yang ada di fotonya ya pa” Kata mama Dion memujiku
“Iya ma, ya sudah ayo duduk” Ajak papa Dion
Kami pun duduk melingkar dihiasi pemandangan danau yang sangat indah di sore hari. Kami membahas tentang aku dan Dion, dari awal kita bertemu sampai saat ini.

“Mungkin hanya Airyn yang bisa buat Dion bahagia ya kan pa?” Tanya mama Dion
“Iya ma, Nak Airyn tinggal sama siapa?” Tanya papa Dion padaku
“Saya Cuma tinggal sama adik saya om” Jawabku
“Ayah kamu?” Tanya beliau lagi
“Saya tidak tau om, sejak saya masih kecil, saya belum bertemu dengan ayah saya sampai sekarang” Jawabku
“Lalu, siapa saja yang kamu miliki saat ini?” Tanya mama Dion
“Adik saya, om dan nenek saya”
“Di mana om dan nenek kamu?”
“Di Bekasi om, nenek tinggal dengan om saya”
“Oh… baguslah kalau begitu”

Sungguh kehangatan yang luar biasa bisa berkumpul seperti ini. Seperti mereka ini orangtuaku. Tapi tiba-tiba suasana ini menjadi kacau setelah Dion memanggil Kesya yang tengah menggandeng tangan seorang Pria.

“Kesya!!?” Kata Dion tiba-tiba
“Dion? Sedang apa kamu di sini?” Kata Kesya terkejut sambil melepas tangan pria itu
“Seharusnya kami yang tanya, sedang apa kamu dengan pria itu?” Mama Dion angkat bicara
“Tante, dia bukan siapa-siapa kok” Jawab Kesya “Heh Airyn, ngapain aja kamu sama calon tunangan aku. Pergi kamu dari sini” Bentak Kesya mengalihkan pembicaraan
“Jangan macam-macam sama Airyn, dialah calon tunangan Dion, bukan kamu. dan tidak ada siapapun yang bisa mengusir Airyn, termasuk kamu” Bentak mama Dion
“Ma, udah, jangan emosi seperti itu” Kata papa Dion menenangkan
“Tidak bisa pa, wanita seperti ini tidak patut dikasihani”
“Kesya, sekarang aku minta kamu pergi dari sini” Pinta Dion
“Benar, tidak ada lagi yang mengharapkan kamu, sekarang kamu pergi atau kami yang pergi” Kata mama Dion
“Ehh…” Kesya hanya bergumam
“Baiklah kami yang pergi, ayo semuanya kita pergi dari sini” Ajak mama Dion
“Tapi bagaimana dengan acara pertunangannya?” Tanya Kesya
“Jangan lagi bermimpi, Airyn akan menggantikan posisi kamu” Tegas mama Dion sambil beranjak dari tempatnya
Aku tidak menyangka akan mendapat perlindungan seperti ini dari keluarga Dion. Sungguh kurasakan kenyamanan di sekitar mereka. Aku akan mengingat selalu jasa mereka.

Akhirnya acara pertunanganku dengan Dion dilakukan dengan sangat meriah, dihadiri juga dengan om, nenek dan Raisa. Mereka tampak bahagia sekali seperti kebahagian yang kurasakan.

The End

Cerpen Karangan: Nirmala Widyasari
Facebook: Nirmala Widyasari

Cerpen Dion (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Cinta Di Radio FM

Oleh:
Bruak!! Semua buku pelajaran yang aku bawa, jatuh berceceran ke lantai. Entah siapa yang menabrakku, aku hanya fokus memunguti bukuku itu. “Oh, sorry Nadya, aku gak sengaja..” Ternyata Tristan

Unconditional (Part 2)

Oleh:
Sometimes you have to try not to care. Because sometimes, no matter how much you do, You can mean nothing to someone who means so much to you. It’s

My SunFlower is You

Oleh:
Matahari mulai bergerak turun menuju tempatnya beristirahat. Ia mulai menyisakan cahaya-cahaya indah di langit bekas jejaknya. Menjadikan sore itu panorama indah yang biasa kulihat akhir-akhir ini. I Want You..

Burung Pipit dan Seekor Singa (Part 2)

Oleh:
Aku duduk terdiam menatap danau yang indah sambil tidur di pundak Rafa. Aku merasa sulit untuk meninggalkannya, umpatku dalam hati. Dia mengusap rambutku dengan lembut, lalu mencium keningku. Seorang

Arini

Oleh:
Semilir angin berhembus menyebabkan daun-daun kering berjatuhan. Di kursi taman ini aku menikmati sejuknya. Di sini pula aku pertama kali berjumpa dengannya 8 tahun lalu. Masih ku ingat senyuman

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *