Dua Puluh Lima Juta (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 15 December 2015

“Dua puluh lima juta?” Tanya Nina shock mendengar nominal yang disebutkan oleh dokter.
“Benar sekali. Total biaya operasi Ibu anda adalah dua puluh lima juta.” Jelas sang dokter.
Mendengar hal itu pun seakan mendengar suara petir tepat di depanku yang memekakkan telinga. Untukku itu bukanlah jumlah yang sedikit. Bahkan uang tabunganku pun jauh dari nominal tersebut.

“Batas waktunya kapan, Dok?” Tanyaku kepada sang dokter.
“Dalam waktu dua minggu, uang tersebut harus sudah siap. Karena hal ini menyangkut kesehatan Ibu pacar anda.”
Dalam sesaat, keadaan berubah hening. Mata sang dokter tanpa henti menatap Nina yang tengah berurai air mata.
“Baik, Dok. Kami akan siapkan uang tersebut.” Kataku menyanggupi.

Kemudian aku mengangkat bahu Nina sebagai tanda untuk meninggalkan ruang dokter. Saat itu terlihat jelas Nina masih shock dengan kenyataan yang dialamainya. Ibunya yang menjadi keluarga satu–satunya yang telah membesarkan, merawat, dan menjaganya, kini tergeletak tidak berdaya karena penyakit jantung yang dia derita. Anak manapun pastilah akan sangat terguncang bila ada di tempat Nina sekarang. Bahkan semua ingatan tentang almarhum Ibuku kini menari–nari dalam otakku. Benar–benar keadaan yang menyayat hati saat sosok yang paling berjasa dalam hidup, Ibu, menjadi sosok tidak berdaya dan tidak bisa apa–apa.

Tangan hangatnya yang selalu hangatkan hati, kini menyentuh dirinya sendirinya pun tidak mampu. Teduh wajahnya yang selalu damaikan diri, kini pucat pasi tanpa ekspresi. Setelah berjalan melewati lorong rumah sakit, kami pun sampai di depan pintu ruangan Ibu Nina dirawat. Tiba–tiba Nina pun terjatuh lemas seakan kakinya tidak mampu lagi menahan beban kenyataan yang ada di depannya. Secara cepat aku pun menangkap tubuh Nina agar tidak sampai menyentuh lantai. Lalu aku angkat tubuhnya dan aku bawa dia untuk duduk di deretan kursi di depan ruang perawatan. “Bagaimana aku bisa dapatkan uang sebanyak itu?” Tanya Nina dalam sela tangisnya.

Bingung melihat keadaan tersebut aku pun tidak tahu harus berbicara apa. Sempat aku terdiam dan hanya menatap Nina yang tengah menutupi wajahnya yang berurai air mata. “Aku janji sama kamu. Aku akan dapatkan uang tersebut untuk kamu, untuk Ibumu.” Kataku agar bisa sedikit mengurangi kegalauan Nina.
“Memang kamu mau apa? Apa yang akan kamu lakukan buat dapatkan uang sebanyak itu?”
“Kamu tenanglah.. Aku pasti bisa mendapatkannya.” Jelasku sambil menatap tajam ke arah Nina.
“Sekarang lebih baik kita masuk dan berada di samping Ibumu. Ayo masuk..” Ajakku sambil mengulurkan tanganku ke arah Nina.

Nina pun menerima uluran tanganku dan segera dia berdiri. Kami pun melangkah ke arah pintu dan kemudian memasuki ruangan tempat di mana Ibu Nina dirawat. Beberapa jam terlewati tanpa ada suara sedikit pun dari kami. Hanya suara alat pengukur detak jantung hiasi sepinya ruangan tersebut. Nina tidak henti–hentinya menangis di samping Ibunya. Membenamkan kepalanya di ranjang tempat tidur Ibunya. Tangannya selalu menggenggam erat tangan Ibunya seakan lem menempelkan kedua tangan perempuan tersebut.

Hal jauh berbeda terjadi dalam otakku. Aku terus menerus mencari ide bagaimana aku bisa dapatkan uang sebanyak itu. Apa yang harus aku lakukan? Jalan apa yang harus aku tempuh? Semakin lama kebingungan semakin menenggelamkanku. Hingga akhirnya sebuah getaran datang dari kantung celanaku menyadarkanku. Ternyata sebuah pesan masuk ke dalam handphone-ku. Segera aku baca isi pesan tersebut. Tidak butuh waktu lama setelah membaca pesan tersebut, aku memutuskan untuk pergi dari rumah sakit. Namun saat hendak berpamitan kepada Nina, bibirku terasa kelu. Bahkan hanya untuk mengucapkan satu huruf pun aku tidak mampu. Beberapa kali aku menarik napas dalam-dalam dan bersiap memulai mengeluarkan kata-kata yang sedari tadi enggan keluar dari rongga mulutku.

“Nin..” Sapaku sambil menyentuh pundak Nina.

Dengan gerakan yang lambat, Nina membangunkan badannya dan menolehkan muka kesedihannya kepadaku.
“Iya..” Jawab Nina dengan suara sangat pelan sampai-sampai suaranya kalah oleh bunyi detak mesin alat pengukur jantung.
“Aku pamit dulu,” bicaraku pelan agar keheningan ruangan kamar tetap terjaga, “aku mau mulai cari uang. Lebih cepat aku cari, lebih cepat Ibumu bisa dioperasi.” Lanjutku.
“Kamu mau cari kemana?
“Ke manapun akan aku cari. Apapun akan aku lakukan demi kesehatan Ibumu.”

Mendengar ucapanku, Nina pun menatapku dengan penuh penasaran. Matanya yang hitam pekat -namun terhias air mata- masih tetap mampu membuatku mematung. Tapi entah apa yang terjadi, dengan cepat Nina terbangun dari duduknya dan memeluk tubuhku sangat erat seakan dia tidak ingin aku pergi dari sisinya walau hanya untuk sesaat. Pelukannya semakin erat dan erat, bahkan aku tidak pernah merasakan pelukan seerat ini sebelumnya. Suaranya yang lirih terdengar berbisik pelan di telingaku.

“Sayang.. Maaf.. Maaf..” Bisik Nina lirih. Mendengar hal tersebut, aku pun melepas pelukannya dan menarik tubuh Nina. Lirih aku bisikkan sesuatu di telinganya.
“Tidak perlu minta maaf. Aku sudah berjanji akan mendapatkan uang itu. Jadi, tunggu aku kembali dan membawa uang itu.” Bisikku di telinga Nina.
Nina pun hanya menjawab dengan anggukan sangat pelan disertai dengan derai air mata yang kian bercucuran.

Akhirnya akupun pergi meninggalkan orang yang aku cintai sendiri menemani orang yang paling berharga dalam hidupnya, Ibu. Sungguh terasa berat langkahku saat meninggalkan mereka berdua. Tapi untuk saat ini ada hal yang jauh lebih penting yang harus aku lakukan. Sudah tiga hari aku tidak kembali ke rumah sakit. Namun komunikasi dengan Nina tetap aku jaga. Sering Nina bertanya, aku ada dimana? Apa yang sedang aku lakukan? Tapi itu semua aku jawab dengan jawaban yang selalu sama, “Aku sedang berjuang untuk mencari uang agar Ibumu bisa kembali sehat.”

Satu minggu telah berlalu dan aku pun kembali ke rumah sakit dengan ditemani beberapa orang temanku. Aku susuri lorong rumah sakit yang dingin sedingin pandanganku menatap jalan yang ada di depanku. Setelah beberapa saat menyusuri lorong rumah sakit, kami pun telah sampai di depan ruangan tempat di mana seseorang yang aku cintai menemani Ibunya yang tengah berjuang dengan penyakitnya. Beberapa saat sebelum masuk, kakiku terasa berat untuk melangkah seakan diikat oleh sebuah rantai seperti para tawanan zaman dulu. Namun, secara jelas aku rasakan dua orang memegang pundakku pertanda untuk memintaku masuk dan menemui orang yang sangat aku cintai.

Akhirnya aku beranikan diri untuk masuk meski ribuan pertanyaan berterbangan di dalam otakku. Apakah Nina akan bertanya apa saja yang telah aku lakukan? Kenapa empat hari ini tidak ada kabar? Apakah aku baik–baik saja? Dan masih banyak pertanyaan yang aku bayangkan akan terucap dari bibir manis Nina. Namun, dengan cepat aku buang segala pikiran tentang pertanyaan yang tidak jelas tersebut dan kemudian melangkahkan kedua kakiku untuk segera menemui Nina. Aku pun segera membuka pintu ruangan tersebut. Pelan–pelan semua hal yang ada di dalam ruangan tersebut mulai terlihat oleh kedua mataku. Bahkan, seseorang yang tengah terbaring di ranjang rumah sakit dan ditemani seorang gadis yang membenamkan mukanya di tepian ranjang pun tidak luput dari penglihatanku.

Semakin lama semakin jelas dan perlahan aku melihat gadis tersebut mulai mengangkat kepalanya karena mendengar suara lirih daun pintu yang makin terbuka lebar. Ya.. Dialah Nina, gadis yang sangat aku cintai dengan muka lusuhnya. Matanya yang sayu memperlihatkan berapa besar ujian yang tengah di hadapinya. Sungguh, aku tidak akan membiarkan lagi indah mata Nina melukiskan kesedihan yang begitu dalam. Cukup hal tersebut menjadi pertama dan kali terakhir mata Nina lukiskan kelamnya kenyataan.

“Sayang..” Ucap Nina dengan nada kaget. Matanya yang tadinya sangat sempit, kini terbuka lebar selebar jendela tepat di belakangnya.
“Bagaimana keadaan, Ibu?” Tanyaku untuk memecah keterkejutan gadis yang tengah terbelalak karena kehadiranku.
“Ibu? Ibu.. Ibu.. masih sama seperti saat kamu pergi. Belum ada perubahan berarti.”
“Begitu..” Jawabku dengan melihat tubuh seorang Ibu di depanku.
“Kamu dari mana saja? Kenapa tidak ada kabar sama sekali?” Tanya Nina memburu.
“Itu bukan urusan penting. Karena yang penting sekarang adalah aku datang sesuai janjiku.”
“Maksudmu?” Tanya Nina sambil mengernyitkan dahinya.

Tidak butuh waktu lama bagiku untuk memanggil teman-teman yang tadi ikut denganku untuk masuk ke dalam ruangan. Teman-temanku pun mulai masuk satu per satu dan aku sadari tatapan Nina semakin heran saat satu per satu temanku memasuki ruangan. “Maksudnya apa ini? Kenapa teman-temanmu ada di sini?” Tanya Nina di tengah rasa bingungya.
“Mereka teman-temanku siap membantu kita untuk membiayai operasi Ibumu.” Jelasku.

“Tunggu dulu.. Aku masih bingung. Maksud kamu sebenarnya apa?”
“Begini, sayang..” ku pegang pundak kecil Nina dan ku tatap mata sayunya, “mereka siap membantu kita secara suka rela menanggung semua biaya operasi. Jadi, secepatnya kita bisa melakukan operasi pada Ibumu, dan semakin cepat Ibumu bisa sembuh.” Jelasku.
“Tapi..” Suara Nina terdengar lirih dengan pandangan menyusuri temanku satu per satu.

“Kamu jangan berpikir macam-macam lagi. Sekarang yang paling penting adalah kesehatan Ibumu.” Kataku.
Setelah beberapa saat, Nina pun hanya mampu mengangguk dan mulai meneteskan air matanya. Dengan cepat aku pun memeluk erat tubuhnya dalam dekapanku. Tangisan Nina kian menjadi-jadi. Bahkan suara pengukur detak jantung pun telah tertutupi oleh isak tangis Nina. Sejenak aku biarkan Nina tenggelam dalam tangisnya.

Bersambung

Cerpen Karangan: Chandra Nur Afieluddin
Facebook: https://www.facebook.com/chandra.nurafieluddin

Cerpen Dua Puluh Lima Juta (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rain and Rainbow

Oleh:
“Pelangi butuh hujan untuk menjamah indahnya dunia. Begitu juga hujan, ia butuh pelangi untuk menyicip manisnya dunia dengan warna indah yang mampu menutup semua tangisnya … ” ‘TAP TAP

SKY

Oleh:
Aku berdiri di sebuah jembatan kayu panjang yang mulai tua. Sendirian aku di tengahnya. Di ujung jembatan ku merasakan seorang laki-laki sedang memandang ke arahku. Aku tak ingin melihatnya.

Sepasang Mata Dari Sahabat

Oleh:
Suasana malam ini begitu dingin, tapi tidak untukku. Aku merasa gelisah, keringat dingin membasahi seluruh badanku. Malam ini begitu hening, yang terdengar hanya suara jarum jam yang terus berdetak.

Cinta di Ujung Senja

Oleh:
Ia selalu usil dan menggangguku. Membuatku kesal saja. Huft! Tapi kenapa setiap kali ia tak datang ke sekolah, aku merasa ada yang kurang. Anak yang nakal, tapi kenapa bikin

Dermaga Tua

Oleh:
Dingin sekali.. rasa-rasanya melebihi dingginnya puncak Gunung Sindoro yang pernah kudaki dulu, Bukan… bukan cuacanya, lebih tepat ke hati dan rasa ini yang dingin, kaku, seperti tidak tau mau

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *