Dua Puluh Lima Juta (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 15 December 2015

Akhirnya operasi sudah berhasil dilakukan dan kini kondisi Ibu semakin membaik. Hari demi hari senyum bahagia terlukis indah di bibir Nina. Mata yang dulu sayu kini mulai bersinar seindah mentari pagi. Hari yang telah lama dinanti Nina pun kini telah tiba. Hari dimana Ibunya diizinkan untuk kembali pulang ke rumah. Meski belum fit sepenuhnya, namun dokter telah memberikan izin untuk meninggalkan rumah sakit. Hari itu, sangatlah jelas aku melihat senyum Nina begitu indah, jauh lebih indah dari senyum yang pernah terlihat oleh kedua mataku.

Meski tidak ada satu kata pun terucap dari mulutku, namun di dalam hati, aku sangat bersyukur karena senyuman indah yang dulu pernah sirna kini telah kembali dan jauh lebih indah. Setelah beberapa minggu keadaan Ibu pun semakin membaik, namun tidak demikian dengan kebenciannya kepadaku. Hubungan kami masih tidak direstui bahkan setiap kali aku datang ke rumahnya, tatapan sinis dan penuh kebencian selalu menatapku tajam seakan menginginkanku untuk segera pergi dari rumahnya.

Puncak kebencian Ibu adalah saat aku, Nina, dan salah seorang temanku sedang duduk bersama di sebuah cafe. Saat itu entah mendapat informasi dari siapa, tiba-tiba Ibu datang dan langsung saja marah-marah. Hal tersebut menjadikan pusat perhatian bagi para pengunjung lain. Setiap pasang mata melihat ke arah meja kami. Melihat aku dimarahi, dihina, dan dipandang sangat rendah. Namun, hal itu tidak berhenti di situ, tiba-tiba Nina ditarik paksa untuk pulang. Terlihat jelas Nina sangat enggan untuk pergi. Butir air mata pun tidak mampu terbendung dari mata Nina. Tapi apa yang bisa aku perbuat? Aku hanya bisa melihat Nina pergi dengan derai air mata hiasi wajahnya.

Akhirnya sebuah malam kelam harus aku jalani. Malam dimana aku sendiri benar-benar terkejut, malu, dan sangat sedih. Tidak ada komunikasi sama sekali dari Nina. Aku tahu Nina pasti sedang mendapat ceramah tiada henti dari Ibunya. Ingin sekali rasanya aku menghubungi Nina untuk setidaknya tahu bagaimana kabarnya tapi rasa takut akan Ibunya jauh lebih besar dari rasa khawatirku pada Nina. Akhirnya mau tidak mau aku hanya bisa menunggu dan menunggu dengan sesekali memastikan handphone-ku bahwa ada pesan yang masuk atau tidak.

Malam pun telah beranjak dan sang mentari kini perlahan menampakkan dirinya tapi tidak dengan Nina, sama sekali tidak ada kabar apapun darinya semenjak kejadian malam tadi. Kegalauan dan kekhawatiran setia menyelimuti diriku sejak semalam. Banyak pertanyaan terlintas dalam otakku. Apakah Nina baik-baik saja? Apa yang terjadi dengannya? Apakah Ibunya benar-benar murka padanya? Menjelang siang, masih tidak kabar darinya. Aku pun hanya bisa termenung dan berharap Nina baik-baik saja hingga sebuah suara ketukan pintu menyadarkanku dan membuatku beranjak dari kursi kecil di kamar kostku. Pelan terdengar lirih suara yang aku kenal.

“Assalamualaikum..” Terdengar suara yang sangat aku kenal dari balik pintu.
“Waalaikumsalam.” Jawabku sambil membuka daun pintu dan perlahan menunjukkan sosok yang sangat aku kenal, Nina.
Selama beberapa saat diriku sempat dibuat tidak percaya akan apa yang sedang aku lihat. Ada yang berbeda saat aku melihat raut wajah Nina. Raut wajah yang sangat jarang lihat, kini terpampang jelas di depan kedua mataku. Raut wajah yang sama sekali tidak aku inginkan untuk terlukis di wajah manis Nina, wajah penuh derai air mata.

“Kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya?” tanya Nina sesaat setelah aku menatap matanya.
“Maksudmu?”
“Aku sudah tahu semuanya. Semuanya..” Jelas Nina.
“Ayo masuk dulu. Kita bicara di dalam.” Ajakku kepada Nina sambil ku tarik pelan tangannya.

“Sekarang ceritakan maksud ucapanmu tadi.” Sambil menatap tajam, aku meminta penjelasan atas ucapan Nina yang sekarang sudah duduk di dalam kamar kostku.
“Ke mana komputermu? Ke mana peralatan kameramu? Ke mana kameramu?” Tanya Nina yang semakin membuatku bingung.
“Maksudmu? Kenapa tanya seperti itu?”
“Jawab pertanyaanku..” jawab Nina sambil membalas tatapanku, “sebelum aku menjawab pertanyaanmu tadi.” Lanjut Nina.

“Lagi dipinjam sama teman.” Jawabku singkat.
“Kenapa masih mengelak? Kenapa tidak jawab jujur?” Dengan nada tinggi Nina semakin memburuku dengan pertanyaan–pertanyaannya.

Sejenak aku terdiam dan menarik napas dalam–dalam sebelum menjawab pertanyaannya. Aku tahu maksud dari pertanyaan–pertanyaannya. Jujur aku bingung harus dari mana aku menjelaskan semuanya. Hingga akhirnya pertanyaan Nina yang lain ke luar dari mulutnya dan memecah keheningan yang sejenak terjadi di antara kami.

“Kenapa diam? Mau mencari alasan lain lagi untuk menutupi semuanya?”
“Kamu tahu dari siapa?” Tanyaku menanggapi pertanyaan Nina.
“Bukan hal yang penting siapa yang memberi tahu semua ini.” Jelas Nina sambil memeluk tubuhku.
Tidak butuh waktu lama untuk Nina kembali berbicara.

“Tadi pagi, Romi datang ke rumah. Dia cerita semuanya. Cerita dari kamu jual salah satu ginjal kamu sampai drama yang kamu mainkan saat memberikan uang untuk biaya operasi Ibuku.”
“Lalu?” Pertanyaan singkat ke luar dari mulutku.
“Saat kamu pergi selama satu minggu, di saat itu juga kamu mendonorkan ginjalmu, kan? Bahkan kamu sengaja jual ginjalmu dengan harga murah hanya demi aku, Ibuku dan juga temanmu.”
“Temanku?”

“Iya, temanmu, Romi. Tadi pagi Romi cerita, sesaat setelah dia mengirim pesan padamu, dan saat itu bersamaan dengan hari dimana kita sedang di rumah sakit setelah mendengar kalau Ibuku harus dioperasi. Saat itu, kamu pun langsung pergi menemuinya. Kemudian setelah kamu bertemu dengannya, dia menceritakan tentang keadaan adiknya yang membutuhkan ginjal agar bisa bertahan hidup. Hari itu juga kamu bersedia mendonorkan ginjalmu dan hanya meminta biaya untuk ginjalmu sebesar lima belas juta. Kamu melakukan itu karena kamu sendiri tahu bagaimana keadaan keuangan Romi dan keluarganya saat itu, lalu kamu pun menceritakan apa semua hal tentang Ibuku kepada Romi. Karena itulah kamu hanya meminta bayaran sebesar itu.” Jelas Nina sambil semakin erat memelukku.

“Setelah hasil lab menyatakan ginjalmu cocok dengan ginjal adiknya, hari berikutnya kalian pun melakukan operasi untuk mendonorkan ginjalmu.” Lanjut Nina.
Aku hanya bisa terdiam dan mendengarkan setiap kata yang terucap dari bibir Nina. Nina pun berhenti lagi untuk mengatur napas di tengah isak tangisnya. Kemudian perlahan di melanjutkan ceritanya.

“Dua hari setelah operasi, kamu mendapat uang tersebut dari Romi. Saat itu keadaanmu belum pulih tapi kamu memaksa untuk meninggalkan rumah sakit karena kamu akan menjual komputer, kamera dan semua peralatannya untuk menggenapi uang untuk biaya operasi Ibuku. Dua hari setelahnya, komputer, kamera, dan semua perlengkapannya dibeli oleh temanmu, kamu pun mendapatkan kekurangan biayanya. Setelah itu, kamu mengumpulkan beberapa temanmu termasuk Romi untuk meminta bantuan memainkan drama saat kamu memberikan uang tersebut kepadaku.” Jelas Nina kemudian berhenti.

Kemudian hanya isak tangis Nina yang mampu terdengar olehku. Aku pun bingung harus menanggapi seperti apa cerita Nina. Aku akui semua yang diceritakan Romi kepada Nina memang kenyataan yang ingin sengaja aku tutupi. Beberapa menit sengaja aku biarkan suara tangis Nina menghiasi kamar kostku. Hingga sebuah pertanyaan kembali diucapkan oleh Nina. “Kenapa kamu melakukan itu?” tanya Nina di tengah tangisnya.
Sesaat aku hanya terdiam, sambil melihat Nina yang tengah menatapku dengan mata penuh dengan air mata.

“Aku.. aku hanya tidak ingin..”
“Tidak ingin apa?” tanya Nina setelah aku menghentikan ucapanku.
“Aku hanya tidak ingin, orang yang aku sayang harus merasakan apa yang pernah aku rasakan.” Jelasku sambil memandangi langit–langit kamar kostku.
“Maksudmu?”
“Aku pernah merasakan bagaimana sedihnya saat Ibuku meninggal. Saat itu hanya Ibu satu–satunya keluarga yang aku miliki. Tapi, ternyata takdir berkata lain, Ibu harus pulang menemui Sang Pencipta.” Aku pun tidak mampu menahan air mata yang turun perlahan karena semua kenangan bersama Ibuku tergambar jelas di pikiranku.

Setelah beberapa saat aku mengatur napas, aku pun kembali melanjutkan ceritaku.
“Aku hanya bisa menangis tiap malam. Sama sekali aku tidak menginginkan semua itu terjadi. Hari demi hari aku lalui tanpa ada senyum. Walaupun orang di sekitarku berusaha menghiburku, tapi kesedihan ini terlalu dalam untuk bisa dilupakan dalam waktu yang singkat.” Kembali aku berhenti dan mengatur kembali napasku.

“Apa iya aku harus membiarkan orang yang aku sayang untuk merasakan kesedihan yang pernah aku rasakan? Sama sekali aku tidak menginginkannya. Bahkan aku akan melakukan segalanya agar orang yang aku sayang bisa selalu bahagia. Apalagi Ibumu adalah satu–satunya keluargamu.” Aku melanjutkan ceritaku.
Tidak terasa air mataku semakin banyak basahi pipiku. Perasaan sedih pun kini merasuki benakku. Rasa rindu akan sosok Ibu tengah aku rasakan. Rindu yang begitu besar namun tidak mampu untuk aku ungkapkan.

“Maafkan Ibu, nak..”

Tiba–tiba terdengar suara yang aku kenal. Aku pun langsung mengarahkan pandanganku kepada sosok yang sedang berdiri di pintu kamar kostku. Nina pun melepas pelukannya saat mengetahui sosok yang sedang berdiri tersebut adalah Ibunya. “Ibu..” Kataku sambil menatap wajah yang sama saat Nina berada di depan pintu kamar kostku. Wajah yang penuh dengan air mata.
“Ibu.. Kenapa Ibu bisa di sini?” Tanya Nina heran.

Seolah tidak mempedulikan pertanyaan anaknya, Ibu pun langsung menghampiriku dan mengucapkan lagi kata maaf.
“Maafkan Ibu, nak. Ibu salah menilai kamu. Harusnya Ibu tidak menilaimu dari penampilanmu. Ibu telah salah menilaimu.” Kata Ibu sambil memeluk erat tubuhku.
“Ibu tidak salah apa–apa. Saya tahu apa yang Ibu lakukan adalah demi kebaikan anak Ibu. Saya sadar siapa saya dan apa yang Ibu lakukan memang sudah sepantasnya untuk dilakukan.” Jelasku.

“Ibu mana yang ingin anaknya mempunyai pasangan yang hanya tinggal sebatang kara. Wajar saja Ibu menilai saya seperti itu. Dan saya terima itu, Bu..” Lanjutku.
“Maafkan Ibu, Nak. Sekali lagi maafkan Ibu. Ibu terlalu percaya pada penilaian orang tanpa Ibu mengetahuinya secara langsung. Kamu laki–laki baik. Sangat baik..”
Melihat kejadian itu, Nina pun hanya mampu tersenyum dan tangis kesedihan yang tadi menyelimutinya, kini berubah menjadi air mata haru.

“Nak.. Maukah kamu berjanji pada Ibu?” Tanya Ibu kepadaku.
“Janji apa Ibu?”
“Janji akan menjadi laki–laki yang bertanggung jawab untuk Nina, laki–laki yang mampu menjaga Nina?”

Benar–benar seperti petir di tengah terik matahari yang mengagetkanku. Mendengar pertanyaan itu, aku pun hanya mampu diam terpaku.
“Mau kan, Nak? Kamu berjanji pada Ibu?” Belum sempat aku menjawab pertanyaan Ibu tadi, sekarang Ibu pun kembali bertanya untuk meminta jawaban dariku.
“Iya, Bu. Saya janji akan jadi laki-laki yang bertanggung jawab untuk Nina, dan menjadi laki–laki yang mampu menjaga Nina dengan segenap jiwa raga saya.”

Cerpen Karangan: Chandra Nur Afieluddin
Facebook: https://www.facebook.com/chandra.nurafieluddin

Cerpen Dua Puluh Lima Juta (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


5 days in Paris (Part 1)

Oleh:
September, 23 2013 “menurut aku, kita break aja ya, gak kuat kalo harus LDRan gini sama kamunya” “itu kan menurut kamu, kenapa harus break sih? Kamu masih cinta gak

Ai no Niwa (Kebun Cinta)

Oleh:
Aku belajar menanam ketika aku masih berumur empat tahun. Aku belajar dari ibuku. Ilmu terakhir yang aku dapat dari beliau adalah menanam dengan cinta. Hingga sekarang, di saat aku

Hati Yang Terluka (Part 2)

Oleh:
“Lo kok bisa ada di sekolah ini?” Tanya Kenneth bingung melihat keberadaan Karin di sekolahnya. “Gue pindah ke sini, Ken. Gue bakalan bikin lo balik lagi sama gue.” Ucap

Bidadari Senja di Tepi Jalan

Oleh:
Namaku Adi Prasetyo. Dalam bahasa jawa kuno ‘adi’ berarti besar dan ‘prasetyo’ berarti kesetiaan. Entah hanya sekedar memberi nama yang trend saat itu atau memang kedua orangtuaku berharap bahwa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *