Dulu, Yang Sekarang (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 11 February 2016

Kesemerawutan jalanan ibukota membuatku malas mengendarai mobil. Tak jarang ku gunakan transportasi online, baik ojek maupun taksi. Hari ini aku pun tak membawa mobil. Banyaknya pekerjaan yang aku tumpuk membuatku harus lembur di ruang kerja yang akan lebih sepi dari biasanya. Ya, aku bekerja di majalah fashion ternama di Indonesia, sebagai kepala stylist.

“Belle, lo balik naik taksi atau mau bareng gue?” tanya Vallen.
“Naik taksi aja deh Len, gue masih lama soalnya,” keluhku.
“Hmm, beneran nih gak apa-apa lo sendirian?” tanyanya tak yakin.
“Yakinlah… dont worry, gue di Jakarta udah 22 tahun kalii,” ucapku meyakinkan.
Setelah berpamitan, ia akhirnya meninggalkanku. Aku tahu ia pasti masih khawatir meninggalkanku sendirian di kantor. Vallen sudah ku anggap sebagai kakakku, kami sering pulang bersama.

Kriingg.. Kriingg… Dering handphone-ku menandakan taksiku sudah menunggu. Karena terburu-buru, aku tidak sempat melihat plat mobil, foto dan nama drivernya. Ya, aku memang ceroboh. Yang aku tanyakan hanya di mana driver itu sekarang, dan apa tipe mobilnya. Camry hitam sudah bertengger di depan lobby. Baru kali ini aku mendapat taksi camry. Aku memutuskan untuk duduk di belakang, karena barang bawaanku cukup banyak.

“Selamat malam nona,” sapa driver itu hangat.
“Ugh, ya Pak, mal…” Aku sontak terkejut karena mendapati wajah yang sangat familiar di kursi pengemudi, Niel Cameroon. Bahkan aku tak mampu melanjutkan sapa balasan untuknya.
“Haha, jangan gerogi gitu kali non… yuk, masuk dulu. Kagetnya dipending dulu,” godanya sambil mengedipkan mata.

Aku benar-benar tak menyangka akan bertemu dengannya. Sosok yang paling aku hindari 3 tahun terakhir ini. Sapa, senyum, dan godaan dari mulutnya masih terasa sama, seperti dulu. Seperti saat dia menjadi laki-laki paling menarik untukku. Bedanya, ia tampak lebih berwibawa dan tampan dengan setelan kemeja putih dengan lengan digulung, dan celana panjang hitam. Rambut bertatakan rapi dan berkilau dengan pomade.

“Aku benar-benar tidak menyangka kalau Belle Nathania yang muncul di ponselku adalah Belle-ku,” ucapnya riang.
“Jangan sok manis, perlakukan aku seperti customermu yang lain,” ucapku ketus.
“Meski kau berkata demikian, tetap saja aku tidak bisa memperlakukan special guest sepertimu layaknya customer biasaku.”

Dia masih saja keras kepala. Andai kekeraskepalaannya itu ia pertahankan dulu, mungkin kejadian itu… Ah untuk apalagi aku ingat kejadian masa lalu yang menyesakkan.

Kami tiba di lobby apartmentku sekitar pukul 22:30, aku bergegas membawa semua barangku dan mencoba ke luar dari mobil itu secepat-cepatnya. Aku masih kalah cepat dengan Niel yang sudah bertengger di samping pintu mobil yang terbuka. Tanpa mengucap terima kasih, aku segera masuk ke gedung apartment. Aku bersyukur karena aplikasi ini menarik bayaran lewat kartu kredit, jadi aku tidak perlu memberi uang cash ke Niel (yang akan membuat suasana lebih canggung).

Aku masih tidak percaya dengan yang terjadi semalam. Hari ini hari sabtu, aku bangun lebih siang. Weekend kali ini aku memutuskan untuk merancang jadwal pemotretan dan menentukan tema untuk majalah yang akan terbit bulan ini. Hari ini terlewati dengan sangat biasa, dan terkesan agak membosankan. CEKLIIK, reminder memunculkan notes “meeting dengan Model Management jam 10.” Refleks aku menoleh ke jam dinding yang menunjukkan pukul 7:30. Dengan panik aku mengacak-acak lemari pakaianku, mencari setelan yang pantas untuk menyambut client nanti. Walaupun mepet, aku tidak akan mungkin menggunakan ojek, itu akan merusak tata riasku. Ku pesan taksi dengan aplikasi onlineku.

Kriingg.. Kriingg…
“Pagi Pak, boleh tolong tunggu sebentar di lobby? Saya masih berada di lift, menuju ke bawah,” terangku.
“No problem Non,” sahutnya. Kok suaranya gak asing ya? Ah, perasaan aja kaliya. Tanpa pikir panjang aku bergegas ke lobby. Camry hitam sudah bertengger di sana. Apa sekarang standar taksi di aplikasi tersebut menggunakan mobil semewah ini? Rasa penasaranku pun terjawab. Yup, itu Niel.
“Morning Nn. Belle,” sapanya tetap hangat. “Sini aku bantu angkat barang-barangmu.”

Karena situasi terdesak, aku membiarkannya membawakan barang-barangku. Aku membawa banyak tentengan karena hari ini ada meeting, jadi harus bawa laptop dan lain-lain. Belum lagi aku harus memilih kostum yang sudah dikirim designer di ruang kostum nanti, untuk ditunjukkan kepada client.
“Kok aku bisa dapet kamu lagi sih?”
“Ya, mungkin bukan kebetulan. Sepertinya memang suratan,” jawabnya dengan santai tetapi terdengar sangat menyebalkan.

“Ya, semoga saja aku tidak terus-terusan dapet driver yang bernama Niel Cameroon dengan Camry hitam,” ledekku.
Ia terdiam sejenak. Wajahnya berubah agak serius. Ia menatap mataku dalam.
“Rupanya kamu masih marah ya Belle?”
“Nggak, aku gak marah. Tapi belum bisa lupain aja,”
“Apa mungkin sekarang kamu ngizinin aku untuk kasih penjelasan yang tertunda?”
Suasana menjadi sangat canggung.

Meeting sudah selesai. Aku berhasil mendapatkan model untuk photoshoot edisi terbaru. Aku senang sekali, dengan begitu, pekerjaanku sudah selesai. Aku bisa bersantai 2 hari. Waktu menunjukkan pukul 16:45. “Belle, makan malam bersama yuk? Sekalian merayakan kesuksesan lo di meeting tadi,” ajak Vallen.
“Wah, boleh deh Len. Mau makan di mana Len?”
“Gue denger-denger ada restoran steak baru di Kemang, gimana?”
“Boleh deh. Kalau gue ke sana dengan tampilan kayak gini kehebohan nggak ya?” tanyaku waspada. Karena hari ini aku mengenakan silk mini dress berwarna gold, dengan blazer broken white, heels gold, dan pearl accessories. Rambutku juga dibraid ala-ala bride. Kebayang kan seformal apa, dan terkesan mau ke pesta pernikahan.
“Iyalah, heboh banget! Kecantikan lo hari ini kehebohan!” goda Vallen.
“Rese lo ah!” gerutuku.

Tak seperti yang ku bayangkan, tempatnya sangat romantis. Di meja-meja sekitarku duduk orang yang berpasang-pasangan. Sepertinya tempat ini sering digunakan pasangan-pasangan untuk romantic candle light dinner atau menembak pujaan hati. Mejaku dan Vallen terletak di lantai 2, view yang disajikan sangat indah. Tulisan “reserved” bertengger di meja kami. Aku dan Vallen duduk berhadapan. Tak biasanya Vallen bungkam. Wajahnya terlihat serius, seperti sibuk memikirkan sesuatu. Benar-benar tidak nyaman, ia terlihat seperti Vallen yang beda dengan yang ku kenal selama ini.

“Lo lagi mikirin apa sih? Dari tadi diem aja…” sewotku.
“Haha, iya gua dari tadi penasaran sama hidung lo,” ucapnya membuatku bingung.
“Loh, penasaran kenapa? Emang hidung gue ada yang aneh?” tanyaku sambil sontak membuka kamera depan handphone-ku dan bercermin.
“Gue penasaran aja, kenapa hidung lo lobangnya ada dua, hehe,” candanya.
“Ah, rese lo! Gitu kek dari tadi, jangan diem aja kayak orang nahan poop!” Sewotku.

Walaupun berkali-kali Vallen melontarkan Jokes, aku tetap menyadari ada sesuatu yang aneh dengan Vallen. Suasana yang sangat romantis melayangkan lamunanku. Terbayang wajah tampan lelaki yang 3 tahun lebih tua dariku. Ya, Niel Cameroon. Lelaki yang pernah menjadi satu-satunya pusat perhatianku. No! Wake up Belle! How could you still stuckin’ at him? The one who hurts you. Ku teguk wine-ku dengan frustasi. Tiba-tiba sesuatu menyentuh bibir atasku. Sesuatu yang keras dan dingin. Ku gigit benda itu untuk mengambilnya. Aku benar-benar terkejut dengan apa yang ku dapat. Sebuah liontin yang sangat indah terapit di jariku sekarang.

“Belle…” panggil Vallen dengan wajah serius.
“Would you be my girl?” ucapnya serius dengan tatapan dalam.
Tak pernah aku lihat ekspresi Vallen seperti itu terhadap wanita. Apalagi terhadapku, rekan kerja terdekatnya. Vallen memang kaku terhadap perempuan lain di kantor, tetapi ia sangat baik terhadapku. “Len… gue bener-bener gak ada persiapan untuk ini,” ucapku jujur.
“Just answer, Belle,” mohonnya.

Bersambung

Cerpen Karangan: Ghiinaans
Kalau kalian penasaran sama kelanjutannya, boleh email aku ke ghiinaans[-at-]gmail.com yaa. Kalau banyak yang kepo, nanti aku post lanjutannya?

Cerpen Dulu, Yang Sekarang (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Miracle

Oleh:
Putih… Balutan putih tenang Bergeming, Terpaan angin menggoda Bergeming, Tangan rengkuh menggapai haru Bergeming, Langkah kakinya kian mereda, jauh dari kata cepat. Kaki jenjang itu menghentak tanah dengan keras.

Gadis Penghuni Bangku Sebelah

Oleh:
Aku masih tidak mengerti mengapa aku bisa tertarik pada gadis itu. Gadis yang duduk di bangku sebelahku. Ia tidak istimewa, ia tidak memiliki wajah seperti malaikat, ia tidak berpakaian

Permainan Cinta

Oleh:
Ketika mereka menghabiskan kopi berdua di bawah sinar bulan purnama, mata pun terkunci pada sesama. Namun itu dulu, ya dulu, kini yang bisa Beni lakukan hanyalah mengunci tatapannya pada

Senyuman Senja Terakhir

Oleh:
Kucabut satu per satu kesepian di ruang kelas baruku ini. Kutatap tajamnya sinar mentari pagi yang menembus kelambu biru langit di sampingku. Aku duduk di bangku paling belakang. Kesunyian

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *