Emora Aramo

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 24 March 2016

Terik matahari telah membakar kulit halus Ara, marah dan bete itulah yang dia rasakan saat ini. Bagaimana tidak, Ara telah menunggu lebih dari 2 jam di bawah sengatan mentari yang tak bersahabat dengannya siang ini. “Hm di mana sih kamu Emora? sampai berakar kaki ini rasanya. Kebiasaan! bener-bener jam kareet.” gerutu Ara yang terus mondar-mandir seperti taksi tanpa penumpang.

Emo sendiri cowok yang dimaksud gadis bernama Ara sedang bergelut dengan kerumunan macetnya kendaraan di Jl. Pemuda Surabaya. Decitan ban dan kemeriahan bunyi klakson yang bergilir membuat suasana di jalan pun benar-benar bising, pengap dan penuh aura kemarahan dari setiap pengendara. “Haduuh sampai kapan macet ini akan berakhir? sudah 1 jam lebih ku habiskan waktu untuk merayakan macet yang tak pernah berakhir ini. Pasti sekarang Ara telah mengeluarkan dua tanduk malaikat pencabut nyawanya.” Gerutu Emo sambil terus menekan klakson.

3 jam pun berlalu, Akhirnya Emo telah sampai di tempat mereka janjian. Namun sepertinya dia harus lari maraton siang-siang bolong untuk menghampiri Ara yang mulai berjalan menjauh dari tempat mereka janjian. “Aramo tunggu..” Teriak Amo, dia selalu memanggil Ara dengan sebutan Aramo artinya Aranya Emo. Begitu pula Ara yang juga memanggilnya Emora artinya Emonya Ara.

Ara tak mempedulikan teriakan Emo, dia terus berjalan bahkan mempercepat langkahnya. Namun Emo berhasil mengejar dan menarik tangan Ara dan jatuh ke pelukannya. Napas Emo masih tak beraturan, Ara yang marah kini merasakan detakan jantung serta hembusan napas Emo mulai luluh. Dia hanya mampu diam dalam pelukan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Untuk 15 menit lamanya mereka masih berpelukan di bawah rindangnya pohon yang menjulang tinggi di dekat gedung Bioskop tempat di mana mereka janjian. Emo melepaskan pelukkannya dan mulai berkata, “Aramo maaf, aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku tahu, aku sangat telat dari jam janjian kita. Dan filmnya sudah selesai pastinya.” kata Emo dengan penuh penyesalan.

“Kenapa lagi kali ini, ketiduran, nganterin Adik, atau Mama kamu? Hmm dari raut wajah kamu aku sudah tahu, pasti ketiduran dan kena macet kan?” tanya Ara dengan wajah datar, karena seperti itulah kebiasaan Emo. “Iya Aramo ketiduran lagi dan akhirnya kena macet.” Sahut Emo dengan nada pasrah dengan menundukkan kepala, Emo tahu kalau keterlambatannya kali ini benar-benar sangat kelewat batas.

“Ok, mungkin kamu kecapean ya kemarin habis lembur semaleman.” jawab Ara dengan nada lembut. Mendengar jawaban Ara, Emo tercengang. Baru kali ini dia melihat ceweknya itu tak menunjukkan wajah marah padahal dia telah ngaret lama sekali. “Kamu ngak apa-apa kan Aramo?” Kok tumben kamu nggak marah, biasanya kamu ngomel-ngomel kayak kereta api berjalan. “Iya aku baik-baik saja. Mau marah kayak gimana lagi Emora kita sudah jalani ini lebih dari 3 tahun dan kejadian seperti ini tidak terjadi 1 atau 3 kali tapi hampir tiap kali kita ada janji. Jadi aku cape untuk marah sama kamu, toh film yang mau kita tonton nanti akan diputar 2 jam lagi.”

“Aramo maafkan aku yang belum bisa memperbaiki kebiasaan buruk ini. Tapi saat aku telah membuatmu marah, aku berjanji akan selalu membuat kamu bahagia bagaimanapun caranya.” kata Emo dengan mata berbinar.
“Ya, Ya Ya.. Emora aku percaya. Aku juga nggak akan bisa jika harus berlama-lama marah kepadamu. Kamu tahu it..” belum sempat Ara menyelesaikan perkataannya Emo sudah menarik wajah Ara dan mencium kening dan kedua pipi Ara lalu memeluknya erat. “Iya, aku tahu itu Aramo-ku.” Sambil terus mengelus kepala dan mencium aroma rambut Ara yang sangat Emo sukai.

1,5 Jam telah berlalu, waktu lama yang Ara dan Emo nanti untuk menonton film kesukaannya telah tiba. Mereka telah sampai di depan loket pemesanan tiket film jam tayang kedua, namun tiket film yang mereka tonton telah habis terjual. Dengan raut wajah penuh kekecewaan Ara pun hanya mampu tersenyum di depan Emo, “Mungkin nggak hari ini Emora kita bisa menonton film itu.” Agar Ara nggak terlalu kecewa, Emo mencoba menawarkan film lain pada Ara. Namun gairah menonton Ara sepertinya telah benar-benar sirna. Sebelum mereka ke luar dari bioskop mereka tak sengaja melihat seorang ibu yang marah-marah dengan penjaga loket kelas Premier.

“Mohon maaf tapi kami tidak bisa mengembalikkan uang atau menukar tiket film yang sudah dibeli Bu.”
“Masa nggak bisa sih Mbak? Aku belinya loh baru tadi pagi, dan anakku benar-benar nggak bisa nonton film ini nanti malam. Nggak apa-apa gak dikembalikan uangnya, tapi setidaknya aku mau nukar dengan tiket film lain masak nggak bisa juga?”

“Iya Bu, tapi sudah ketentuan Bioskop ini jika tiket yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan maupun ditukarkan. Kalau memang berhalangan nonton mungkin bisa dijual, dikasihkan ke teman atau kerabat saja.” penjaga loket itu menyarankan. “Ya sudah deh Mbak, kalau nggak bisa. Terima kasih!” dengan raut wajah masih marah Ibu tersebut meninggalkan loket dan berjalan berlawanan arah menuju Ara dan Emo. Dan tak sengaja pula Ibu itu pun bertabrakan dengan Ara yang sedang tak fokus berjalan.

“Gimana sih Mbak? Jalan kok ngelamun.” kata Ibu itu.
“Maaf Bu.” Jawab Ara sambil membantu Ibu itu mengambil barang yang berserakan di lantai.
Emo yang mengetahui kejadian itu langsung membantu Ara bangun.
“Aramo kamu nggak apa-apa sayang?”

Ara hanya menggelengkan kepala dengan lesu. Sambil menyerahkan barang yang jatuh pada Ibu tadi. Sebelum barang itu sempat diambil Ibu itu Emo keburu mengambil dan berkata. “Bu tiket filmnya boleh saya beli?” Ibu itu pun dengan antusias menjawab. “Oh tentu saja boleh, silakan kalau mau dibeli. Kebetulan ada punya 2 tiket dan aku nggak bisa pakai buat nonton nanti malam karena ada keperluan mendadak.”

“Ok saya beli ya Bu, berapa 2 tiket?”
“200 ribu Mas, soalnya ini Premier.”
“Ok 200 ribu ya, ini.” Emo mengulurkan uang 200 ribu pada ibu itu.
“Terima kasih.” Ibu itu berlalu dengan wajah sumringah.
Ara yang sedari tadi diam mulai angkat bicara.

“Emora, kamu ngapain beli itu tiket? Apa karena kamu takut Ibu itu akan marah-marah ke aku juga seperti dia tadi marah-marah ke penjaga loket?”
“Aramo sayang bukanlah, coba lihat tiket ini.” Ara pun melihat tiket tersebut dan mulai menampakkan raut wajah bahagia. “Apa cinderella? Aah aku suka Emora sama film ini, aku kira sudah nggak akan tayang di bioskop lagi. Aku suka karakter Lily James dalam film ini. Walaupun sering nonton dalam berbagai versi kartun tapi tetap saja aku ingin menonton film aslinya dalam wujud manusia. Makasih Emora.” Ucap Ara sambil mencubit pipi dan kemudian memeluk Emo. “Masama Aramo Sayang.”

“Eist, tunggu. Kamu kan nggak suka nonton film cerita dongeng sayang, terus nanti malem aku nonton sama siapa?” tanya Aramo dengan wajah seperti anak kecil yang merengek meminta mainnan kepada ayahnya. Emo tahu jika Ara suka sekali film dongeng walaupun dia kadang bersikap dewasa tapi di sisi lain Ara mempunyai sisi kekanak-kanakannya juga, jadi Emo harus benar-benar mengalah kali ini.
“Iyaaa Sama aku, ini sebagai permintaan maaf karena tadi telat.”
“Serius? Ok aku maafin dan makasih.”

Wajah yang sedari tadi lesu kini pun kembali ceria, dan mereka berdua pun memutuskan untuk pergi ke kebun binatang dan makan malam sebelum lanjut menonton film malamnya. Namun di luar dugaan setelah pulang dari kebun binatang tiba-tiba Emo ditelepon Mamanya disuruh segera pulang karena Neneknya berkunjung ke rumah dan ada acara keluarga yang harus mereka semua hadiri. Mau nggak mau Emo harus menuruti kemauan Mamanya. Mereka memutuskan pulang, dan lanjut nonton nanti malam.

“Aramo sayang kamu nggak marah kan?”
“Iya nggak apa-apa tapi nanti setelah acaranya selesai kita jadi nonton kan?”
“Iya aku usahakan kita jadi nonton, kamu pulang istirahat nanti malam aku jemput jam 19.30 ya. Jangan lupa dandan yang cantik.”
“Oke siap.”

Malam pun telah tiba, tepat pukul 19.20 Emo mengirim pesan pada Ara.
“Aramo sayang, ini masih belum selesai acara keluarganya. Kemungkinan aku akan terlambat jemput kamu. Bagaimana kalau kamu naik taksi ke bioskop dan kita ketemu di sana? Maaf ya sayang, cium untukmu. See you.”
“Sudah ku duga pasti kemungkinan seperti ini bakal terjadi, percuma juga dandan cantik kalau dianya gak ada. Hm, Emooo aku sebel sama kamu.” gerutu Ara.

Setelah cukup lama berpikir akhirnya Ara pun memutuskan untuk tetap menonton sendiri. Tepat pukul 20.20 Ara sudah sampai bioskop. 25 menit lagi film akan dimulai, tapi belum ada tanda-tanda Emo memberinya kabar bahwa dia akan datang menepati janjinya. Ara semakin gelisah, dan dia pun mulai melakukan kebiasaan saat dia telah gelisah dan cemas yaitu berjalan mondar-mandir ke sana ke mari. 15 menit berlalu dan sekarang waktunya Ara harus masuk ke gedung bioskop, sebelum masuk dia mencoba menghubungi Emo. Namun tak ada jawaban. “Mungkin acara keluarganya belum selesai.” Ara mencoba berpikir positif, walau di hati kecilnya dia sangat merasa kecewa dan kesal pada Emo.

Kini Ara telah berada di dalam bioskop, tak henti-hentinya Ara menatap pintu ke luar berharap Emo muncul dan menemaninya menonton. Tapi sampai 15 menit terakhir Emo belum juga datang, Akhirnya Ara pun tak mampu menahan lagi air mata kekecewaannya. “Kamu selalu begini Emo, nggak pernah nepatin janji. Seharusnya aku tak memaafkanmu tadi.” Ara mulai marah dalam tangisnya. Semua orang yang melihat Ara pun menjadi heran, “Loh Mbak ini Endingnya kan bahagia, kenapa Mbaknya malah nangis?” Ara hanya tersenyum. Dan penonton lain pun menimpali. “Mungkin dia menangis bahagia.” Ara tak menanggapi perkataan itu, ia berdiri dan mulai berjalan ke luar bioskop. Dengan langkah lunglai Ara menelusuri jalan mencari taksi untuk pulang, namun tiba-tiba ada tangan menarik Ara.

“Aramo sayang maaf baru saja acaranya selesai, filmnya sudah selesai ya? Aku selalu membuatmu kecewa. Maaf Aramo.” Kata Emo sembari menarik Ara dalam pelukannya. Emo tahu jika Ara sangat kecewa kepadanya. “Kalau kamu mau marah, ngomel. Ayo marahlah pukul aku, cubit aku dan omelin aku sampai kamu bisa melepaskan beban kecewa itu. Ini bukan Ara yang ku kenal, kamu beberapa minggu ini berubah, tiba-tiba nggak pernah jadi marah saat kita bertemu walaupun sebenarnya kamu ingin melakukan itu.” Ucap Emo sambil terus memandang dan memegangi wajah Ara. Tiba-tiba Ara meneteskan air mata dan mulai bicara. “Aku takut jika aku selalu ngambek, marah dan ngomel terus sama kamu maka kamu lama-lama akan bosan dan ninggalin aku Emora, tiap kali aku melihatmu. Nggak tahu kenapa rasa cintaku semakin bertambah dan rasa itulah yang membuatku takut untuk kehilangan kamu sayang.”

Emo mengecup kening Ara dan mendekapnya kembali dalam pelukan sembari berbisik. “Aramo sayang, aku juga sangat mencintai kamu dan juga takut untuk kehilanganmu. Akan tetapi kamu nggak papa marah saat aku benar-benar melakukan kesalahan yang membuat kamu kecewa. Jangan kamu pendam karena rasa mara itu, karena aku selalu rindu akan omelanmu dan wajah kamu saat ngambek.”

“Emang wajah aku cantik pas ngambek? Kok kamu kangennya pas gitu?”
“Enggak cantik, tapi lucu banget hehehe tapi imut.” mendengar jawaban Emo Amarah Ara pun mulai mencair.

Sesampai di rumah baru 30 menit Ara memejamkan mata, tiba-tiba ada yang mengetuk pintunya. “Emm siapa? Mama, Papa, Adek? masuk aja aku ngantuk banget,” Namun tak ada jawaban yang dia dengar, akhirnya dengan mata masih setengah terpejam Ara pun menuju pintu dan membukanya. Namun ia tak menemukan siapa pun berada di balik pintu. “Siapa sih malam-malam iseng ngetuk pintu. Pasti adek nih ngerjain kakak ya?” Ara pun kembali menutup pintunya, akan tetapi tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari bawah tangga. Saat itulah mata Ara langsung terbelalak dan mulai merasa bulu kuduknya merinding. Dengan jantung berpacu kencang dia mulai melangkah mendekati tangga, dan apa yang dia lihat banyak cahaya lilin berjejer di pinggir tangga.

Belum sempat tersadar dari kaget Ara mulai mendengar suara sandal bergesek dengan lantai yang mulai mendekat dan tiba-tiba alunan suara pun mulai terdengar, “Happy birthday to you, Happy birthday to you, Happy Birthday Happy Birthday, Happy Birthday Ara…” Wajah Ara masih terkejut melihat pemandangan yang ada di depannya. Dia tak mengingat sama sekali bahwa esok adalah hari ulang tahunnya karena seharian telah dibuat kesal oleh Emo, kini butiran air mata kebahagiaan mengalir di wajah Ara. Emo keluarga Ara, dan Keluarga Emo bahkan sahabat-sahabat Ara dan Emo semua ada di depan Ara. Emo melangkah mendekat dengan membawa kue dan bunga untuk Ara. “Selamat Ulang Tahun Aramo sayang.” Ara tak dapat berkata sedikit pun dia hanya mampu meneteskan air mata keharuan dan menutup mata untuk berdoa.

Pada saat Ara membuka mata keluarga serta sahabat-sahabatnya telah berjejer dengan membawa masing-masing huruf yang jika dirangkai bertuliskan “Will You Merry Me Aramo?” Ara pun mencari Emo yang telah berlutut dengan membawa sebuah cincin emas berhiaskan permata mungil di atasnya. Ara terharu hanya mampu menganggukkan kepala kemudian berhampur dalam pelukan Emo. “Sayang aku sangat mencintaimu, terima kasih atas semua kejutan ini. Aku sangat bersedia menjadi pendamping hidup kamu sampai kita terpisah dalam dua dunia nanti.” Emo mencium kening Ara dan memasukkan cincin di jari manis Ara sebelum Ara lanjut meniup lilin Emopun berkata. “Aku juga sangat mencintamu sayang, Ara akan selamanya jadi milik Emo dan Emo akan selamanya jadi milik Ara sampai mereka berdua berpisah di dunia yang berbeda.”

Surabaya, di dalam kamar pukul 23:25 24 Februari 2016

Cerpen Karangan: Nur Widayanti
Blog: widagezy.wordpress.com

Cerpen Emora Aramo merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Bisa Jadi Cinta

Oleh:
Hai nama aku Dita. Aku kenalin sahabat aku nih, Echa, Pita, Meme dan Evan. Kita sudah temenan dari kelas 1 SD sampai sekarang SMA kelas 2. Kita selalu sekolah

Denganmu Cinta

Oleh:
Aku Lia, Aku adalah anak sulung dari dua bersaudara, Aku hidup dalam keluarga yang berkecukupan dan hidup dalam Kasih sayang yang berlimpah. Hari ini, Hari pertama ku masuk ke

Love And Equatorial

Oleh:
Hari ini cuacanya masih tetap panas, memang selalu panas di kota ini. Aku berjalan di sepanjang trotoar yang menuju ke kompleks perumahan tempatku mengontrak sebuah rumah kecil. Hanya aku

Beautiful In White

Oleh:
Siang terik kali ini aku baru ke luar dari kantorku untuk makan siang. Setengah berlari ke arah parkiran dan menuju motor besarku. Memakai helmku dan mulai melaju pelan. Yang

Sahabat Jadi Cinta

Oleh:
Hay kenalin namaku Zahra Indri, biasa dipanggil Zahra. Aku punya kakak bernama Doni Saputra, aku juga punya sahabat namanya Ilham fauzi. Dia tuh orangnya baik banget, aku sebenarnya sudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *