First Love with Rain Drops

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 20 May 2015

Hujan turun dengan derasnya. Mungkin sekarang memang musim hujan, karena hampir setiap hari turun hujan. Sial bagiku hari ini. Karena aku tidak membawa payung, sehingga tak bisa pulang ke rumah. Aku hanya bisa menunggu hujan sampai reda. Tapi aku sudah begitu bosan menunggu. “Serly, duluan ya!” ujar salah satu teman sekelasku padaku. Satu per satu temanku berlalu menuju rumah mereka masing-masing. Aku tak bisa pergi bersama mereka karena jalan menuju rumah kita tak searah. Walaupun begitu, aku masih setia menunggu sang hujan yang tak juga kunjung reda.

Beberapa menit kemudian. Aku tak sengaja melihat sebuah payung berwarna putih tersandar di suatu tempat tak jauh dari tempatku berteduh. Aku pun menghampiri payung itu, berharap tak ada orang yang memilikinya sehingga aku bisa pulang. Saat hendak mengambil payung itu, aku pun melihat di sekelilingku. Dan ternyata ada seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap dengan sekujur tubuhnya yang basah, karena ia berdiri di tengah-tengah hujan deras itu. Laki-laki itu sepertinya sekolah disini.

“Hei, apakah kau yang mempunyai payung ini?” teriak ku dari belakang. Laki-laki itu menoleh dan mengangguk. “Hei, ngapain disana? Kau bisa sakit!” teriak ku lagi. Laki-laki itu masih berdiri sambil memandangi langit mendung yang dituruni tetesan-tetesan air itu. Aku menjadi sedikit kesal pada laki-laki aneh itu. “Hei…! Apakah kau tuli?” teriak ku kesal. Laki-laki itu pun menghampiriku. Saat dia sudah berada di dekatku, hujan tiba-tiba reda. Aku sedikit tak percaya dengan hal ini. Mungkin ini hanya sebuah kebetulan saja.

“Ini, ambil saja payungku!” kata laki-laki itu dengan payungnya yang berada di tangannya. “Em… ini hujannya juga udah reda kok, kamu aja yang pake payungnya” ucap ku dan mulai melangkah menuju pulang. Tiba-tiba laki-laki itu menahan ku untuk pulang dengan memegang sebelah tanganku.

“Ada apa?” tanyaku penasaran. “Masih hujan gerimis.” Ujar laki-laki itu singkat. “Oh, gak apa-apa. Cuma hujan gerimis,” Kata ku sambil tersenyum. “Baiklah, kalau begitu kita pulang sama-sama” ajak laki-laki dengan paras wajahnya yang cukup tampan itu. Aku pun mengangguk sambil tersenyum simpul pada laki-laki itu.

Di perjalanan, suasana begitu canggung saat dengan laki-laki itu. Sepertinya, aku juga mulai tertarik dengan orang yang berjalan di sampingku dan memayungi ku ini.

“Em… kalau boleh tau, siapa namamu? Namaku serly” aku memulai pembicaraan. “Kau kelas berapa?” tanya laki-laki itu sedikit menyimpang dari topik pembicaraan. “Aku kelas X” jawabku singkat. “Oh, aku kelas XI, kakak kelasmu.” Ujar laki-laki itu. Aku sedikit tertegun begitu mengetahui kalau laki-laki ini adalah kakak kelasku. “Jadi, siapa nama kakak?” tanyaku lagi. Laki-laki ini hanya diam, dan tersenyum kepadaku. Senyuman manisnya itu membuatku semakin terpukau, dan semakin tertarik kepadanya.

Akhirnya kita sampai di sebuah persimpangan. Aku lupa menanyakan apakah kita sejalan atau tidak. Tapi, semoga saja ia berjalan lurus. Saat sudah ingin berbelok atau lurus, tiba-tiba kakak kelasku ini menghentikan langkahnya. Tapi tak lama kemudian ia berjalan lurus. Aku menjadi lega. Ternyata kita searah.

Tak lama kemudian, aku pun sampai di rumah. “Terima kasih banyak kak!” ucap ku sambil tersenyum lebar. “Hei, ambil ini!” ujarnya, dengan secarik kertas yang diberikan kepadaku. Aku pun menerimanya. Dan membacanya. “Rian?” aku membacanya sedikit keras. Aku tak tau apa yang dimaksud oleh lelaki itu. Aku mulai menoleh ke arah lelaki itu. Tapi lelaki itu telah menghilang entah kemana.

Malam harinya, aku terus memandangi secarik kertas yang berisikan tulisan ‘Rian’ itu. “Oh, mungkin namanya Rian” pikirku. Aku mulai berpikir kalau namanya Rian. “Namanya cukup mirip dengan hujan. Rain dan Rian” ucapku sambil tertawa kecil.

Keesokan harinya di sekolah. Sama seperti kemarin. Pada saat pulang sekolah, hujan turun dengan derasnya. untungnya, kali ini aku membawa payung. Tapi, saat ingin pulang, aku teringat pada Rian. Lelaki yang mengajakku pulang kemarin. Aku pun pergi ke tempat kita bertemu kemarin. Kakak kelasku itu terlihat berdiri di tengah-tengah hujan, dengan sekujur tubuhnya yang basah kuyup. Sama seperti kemarin. Aku mendekatinya, dan memayunginya agar tidak kehujanan. Lelaki itu sepertinya sedikit kaget saat hujan tak lagi membasahinya. Ia menoleh ke arah ku.

“Kau ini bodoh ya, Rian” aku mulai menyebut namanya.
“Akhirnya kau tau juga namaku” kata Rian sedikit ketus.
“Em… kenapa kau selalu berdiri di tengah-tengah hujan seperti ini? Kau tak takut sakit?” tanyaku.
“Aku menyukai hujan. Aku juga tak pernah sakit karena hujan.” Jawab Rian dengan nada datar.

Aku terus memandanginya. Ia terlihat masih memandangi langit mendung itu walau sedikit ditutupi oleh payungku. Aku heran. Mengapa lelaki ini menyukai hujan? Tapi, hal itu yang membuatku tertarik kepadanya. Dan dia juga begitu tampan.

“Hei!” kata Rian mengusik lamunanku. Aku pun dengan spontan memalingkan wajahku. Hatiku berdebar-debar keras. Tak seperti biasanya. Aku menjadi begitu gugup dibuatnya. “A… aku pulang duluan!” kata ku dan berlalu.
Saat berjalan menuju pulang, aku melangkah begitu cepat. Karena berjalan saking cepatnya, genangan air akibat hujan membasahi sepatuku, dan juga percikan-percikannya membuat kakiku juga basah. “Sial!” aku sedikit geram saat melihat sepatuku basah dan agak kotor.

Tiba-tiba Rian sudah berada di sampingku. Aku menjadi terkejut saat melihat sosoknya di sampingku. Dia tersenyum kepadaku dan berkata, “Hei, kenapa kau berjalan begitu cepat?” Rian memandangi sepatuku yang basah dan kotor itu. “Em… aku hanya ingin cepat-cepat pulang” ujarku sedikit gugup dan segera memalingkan pandanganku darinya.

Suasana menjadi begitu canggung. Rian terus memandangiku. Dan hal itu membuatku tersipu. Setelah beberapa lama, Rian masih saja memandangiku. Aku pun memandanginya. Wajahku semakin memerah saat melihat tatapan matanya yang tajam menatap mataku. Saat itu, aku tak bisa berkata apa-apa. Tapi suara jatuhan hujan membuat suasana tak begitu hening. Senyuman pun mulai mengembang di wajah Rian.

“Hei, kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Rian dengan senyuman jahilnya. Untuk pertama kalinya aku melihat senyuman seperti itu muncul di wajahnya. Aku tak merespon. Mulutku seakan terkunci. Begitu juga dengan mataku yang terus menatap wajah Rian yang masih sedikit basah oleh air hujan. Senyuman Rian kian menghilang karena aku hanya terdiam sambil menatapnya.

“Aku menyukaimu,” tanpa kusadari, aku mengucapkan kalimat itu. Aku dengan spontan menutup mulutku setelah mengucapkan kalimat itu. “Apa yang ku katakan?” batinku. Rian tertegun saat mendengar kalimat itu. “Tapi… aku hanya menyukai hujan!” aku sedikit tak percaya saat Rian mengucapkan kata itu. Ia menatap hujan dan mengangkat tangan kanannya mengadah ke atas, membiarkan tetesan-tetesan hujan membasahi tangannya itu.

Sedangkan aku, aku begitu cemburu kepada tetesan-tetesan hujan itu. Perasaan ini menyiksaku. aku sangat ingin menangis. Tapi, aku masih bisa menahannya. Dan sepertinya… aku juga masih bisa menutupi luka yang ada di hatiku ini.

“Hujan ini… aku hanya menyukainya. Tapi, aku mencintai seseorang,” kata Rian membuatku sedikit tertegun. Setetes air mata menetes dan mulai membasahi pipiku. Aku tak bisa menahannya lagi.

“Aku bertemu dengannya saat aku sedang berada di tengah-tengah hujan. Dia pernah bertanya, ‘apakah kau tak takut sakit?’ sepertinya hanya dia yang perhatian padaku, sampai-sampai bertanya seperti itu.” Lanjut Rian sambil tertawa kecil. Aku mulai mengerti. Tetesan-tetesan air mata mulai
berjatuhan ke tanah dan kian membasahi pipiku. Kini luka di hatiku telah terobati. Rian kembali menatapku. Ia menggeletakan payungnya di tanah, tanpa menghiraukannya dan langsung memeluku. Tanganku seakan tak ingin memegang payung lagi. Aku pun menggeletakkanya ke tanah. Dan kami

Berpelukan di tengah-tengah hujan. Tak perduli apakah tetesan-tetesan hujan yang kian membasahi seluruh badanku ini membuatku sakit. Karena bagiku yang terpenting adalah hatiku. Hatiku kini tak sakit lagi.

Hujan… tetesan-tetesan hujan ini… telah menyatukan kita berdua.

Cerpen Karangan: Ni Made Tasyarani
Facebook: Tasyarani Aca

Cerpen First Love with Rain Drops merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Beautiful Tune About Love

Oleh:
Music is my life. Kalimat itu merupakan salah satu dari jutaan definisi Raditya Ardiansyah tentang musik. Cowok berzodiak Leo itu memang terobsesi untuk menjadi seorang musisi terkenal, syukur-syukur bisa

From Best Friend To Love

Oleh:
BUM! Annisa mengalihkan pandangannya dari televisi menuju pintu yang baru saja dibanting tertutup. Dari balik pintu itu Horizon berdiri sambil berkacak pinggang menatap tepat ke arah kaki Annisa yang

Sudah Saatnya Kau Bahagia

Oleh:
Taman bunga, di tengah kota, menjadi tempat yang teramat istimewa bagimu. Di sana kau mengikrarkan cinta. Membuat dunia dipenuhi lantunan orkestra yang romantis nan merdu. Bunga yang menari-nari pun

Dia Kebahagiaanku

Oleh:
Aku berjalan berdampingan dengannya. Sesekali dia menggodaku dengan canda tawa kami seperti biasanya. Aku begitu nyaman ketika ada di sampingnya. Ingin rasanya aku katakan padanya “jangan pergi dariku, jangan

Oh My God

Oleh:
Dunia itu emang sempit, katanya sih. Pagi ini aku dan Flo, sohibku akan mengunjungi museum, awalnya sih aku nggak mau karena bagiku museum itu membosankan hanya ada benda-benda kuno.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *