Galuh Untuk Galih

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 9 September 2017

“aku kira kamu nggak akan datang?”
“kenapa enggak?” jawab Galih dengan senyum manisnya. Ia memberikan setangkai bunga mawar yang sebelumnya ia sembunyikan di balik badan atletisnya.
Galuh tersipu, matanya berbinar. Ia senang dengan perlakuan Galih padanya. Sederhana tetapi berkesan.

“maaf aku tidak membawa apa-apa lagi selain ini.” katanya dengan menatap setangkai bunga mawar yang sudah berpindah pemilik.

Galuh lagi-lagi tersenyum. Bukan untuk menertawakan Galih tetapi ia fikir ini sudah lebih dari cukup. Galih mau datang ke acara ulang tahunnya saja itu sudah membuat Galuh senangnya bukan main.

“kamu nggak suka?” tanya Galih ragu. Ia merasa telah berbuat kesalahan.
“tidak, tapi suka sekali. Aku kira kamu nggak akan datang gara-gara kejadian kemarin?” giliran Galuh yang ragu untuk bertanya.
“sudahlah tidak usah dibahas aku tidak mau mendengarnya.”
Galuh sedikit kecewa dengan jawaban dari Galih, tapi ia tidak ingin merusak suasana yang sudah nyaman baginya.

Sebenarnya, hari ini Galuh ada mata kuliah siang. Tetapi ia sudah bangun dini hari sebelum subuh. Hatinya sedang senang. Karena semalam baru saja ia berdamai dengan Galih. Kekasih yang dicintainya sejak mereka sama-sama duduk di kelas sebelas.

Galuh mulai membereskan kamarnya. Kemudian pergi mandi untuk solat subuh. Pagi ini Galuh punya janji dengan Galih. Mereka akan jogging di taman kota Bandung. Walau sebenarnya hari ini bukan akhir pekan. Tetapi mereka ingin memperbaiki hubungan mereka yang renggang seminggu terakhir.

“bu Galuh izin pergi sama Galih ya? Mau jogging di tamkot.” Galuh meminta ijin pada ibunya yang sedang mencuci piring di dapur.
“iya sayang, hati-hati joggingnya, Salam juga buat Galih.” jawab ibunya.
“nanti orangnya juga ke sini bu, jemput Galuh.”
“oh gitu, ya udah kalo gitu ibu siapin dulu sarapan buat kalian.” ibu menghentikan aktivitasnya.
“nggak usah bu, nanti di tamkot aja sekalian.” kata Galuh kemudian membantu ibunya mencuci piring.

Setelah berpamitan pada orangtua Galuh. Galih dan Galuh segera melesat ke tempat tujuan. Tidak terlalu jauh, hanya butuh dua puluh menit mereka sampai di tamkot. Galih memarkirkan motornya kemudian keduanya jogging. Hanya terlihat beberapa orang saja yang jogging tidak seramai di akhir pekan. Tetapi Galih dan Galuh sangat menikmati. Mungkin lebih baik memang seperti ini.

“sarapan yuk?” ajak Galuh menghentikan joggingnya.
“baru lima belas menit?” jawab Galih. Ia melirik jam tangannya.
“tapi udah laperrr.” rengek Galuh. Ia mengelus-elus perutnya.
Dengan terpaksa Galih menuruti permintaan Galuh. Mereka menuju warung ce titin yang menjual lontong sayur menu favorit Galuh.

“kamu tau nggak?” tanya Galuh.
“tau apa?” tanya balik Galih.
“aku kira setelah kemarin perang, kita nggak bisa lagi jogging bersama, ketawa bersama, apalagi sarapan sama-sama kayak gini.” cerita Galuh panjang lebar.
Galih hanya tersenyum mendengar cerita Galuh.
“ih serius tau.” kata Galuh dengan nada manjanya.
Tidak ada komentar yang keluar dari mulut Galih. Ia hanya tersenyum lebar.

“aku antar yuk?” ajak Andre dari dalam mobilnya.
“tidak, terima kasih.” jawab Galuh.
“cuacanya sangat panas, mending naik mobil aja.” bujuk Andre.
“udah biasa.”

Galuh melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan Andre. Ia tidak ingin Galih salah paham lagi melihat mereka jalan bersama. Cukup kemarin saja Galih salah paham padanya. Ia tidak ingin kehilangan Galih. Galuh mempercepat langkahnya menuju jalan besar.

Bus tidak juga datang. Galuh mulai gelisah. Lagi-lagi ia melirik jam tangan mungilnya. Sementara Andre masih setia menunggu di dalam mobilnya. Dua puluh menit lagi Galuh harus masuk. Jangan sampai ia terlambat. Karena ia pasti tidak akan lulus jika terlambat ataupun sampai tidak masuk mata kuliah pak Hilman. Karena kata-kata itu yang selalu diucapkan pak Hilman pada setiap pertemuan. Meminta tolong Galih, pasti ia tidak bisa karena ia sedang ada kelas. Galuh melirik Andre. Ia masih ada. Haruskah ia terpaksa ikut dengan Andre? Saat ini batin dan fikirannya tidak sejalan. Sudahlah. Tanpa fikir panjang Galuh menuju mobil Andre dan ia menyetujui Andre mengantarnya sampai kampus. Sangat terpaksa, Galuh ingin cepat lulus. Semoga Galih akan mengerti.

Galuh harus turun sebelum sampai kampus. Ia tidak ingin Galih tau dan marah lagi. Misi berhasil sampai mata kuliah selasai ia belum melihat Galih semoga saja ia tidak pernah tau.

“Luh tadi aku lihat Galih dan Andre di kampus dua.” Yunda sahabat Galuh memberi tau.
Galuh terkejut, ia sedikit berlari menemui mereka. Galuh takut akan terjadi sesuatu pada Galih.
Ia melihat Andre dan Galih sedang berhadapan. Galuh ingin menemuinya tetapi Yunda segera mencegahnya.
“tunggu dulu di sini, kita lihat sebenarnya apa yang terjadi.”
“kenapa lo harus marah? bukannya gue pernah bilang, ngajak cewek lo tuh gampang, tinggal bawa mobil udah selesai, nanti dia juga mau sendiri.” kata Andre.
Galuh terkejut, ia tidak menyangka dengan Kata-kata Andre. Tiba-tiba Galih memberikan tanda merah pada pipi kanan Andre. Galuh semakin terkejut. Mungkin inikah yang dilakukan Galih tempo hari? Ia menuduh Galih yang tidak-tidak sementara ia selalu membela Andre. Hingga hubungan keduanya retak.
Galuh meneteskan air mata. Galih melihatnya. Ia segera menghampiri Galuh. Kemudian mengajaknya ke taman kampus. Galih terus menenangkan Galuh. Sampai Galuh berhenti menangis.

“maaf.” kata Galuh.
“sudahlah tidak usah dibahas, kamu tau sendiri aku paling tidak suka ngomongin dia.”
Galuh mengangguk. Walau sebenarnya ia ingin tau kenapa Andre bisa mengatakan itu, sementara mereka bertetangga.
Galuh menangis lagi. Galih segera memeluknya untuk menenangkannya.

Cerpen Karangan: Ikke Fadillah
Facebook: Ikke fadillah

Cerpen Galuh Untuk Galih merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Idol Scandal (Part 1)

Oleh:
Suasana riuh penonton memenuhi stadium tempat konser penyanyi papan atas paling fenomenal abad ini, di antara lautan penonton yang berteriak dan menggila disini aku hanya bisa menggelengkan kepala sambil

Bersama Hujan

Oleh:
Hari itu merupakan hari ke dua Dara bersekolah di sekolah tersebut. Kejadian berawal saat Dara sedang berteduh di halte dekat sekolah. Dia duduk memandangi setiap tetesan hujan yang jatuh

You’re Sky, I’m Earth

Oleh:
Kau langit yang tak mungkin tersentuh oleh gapaian tanganku Di sini, bumi, tempatku berpijak Hanya berandai-andai setiap menatapmu Kau yang jauh di sana Akankah bisa bersatu? Nya, lihatlah ke

Keciprat Genangan Cinta

Oleh:
Tanpa alasan yang jelas secara tiba tiba dan tak terduga siang ini turun hujan yang begitu deras, padahal tadi pagi cuaca begitu cerah. “Hadehh php banget ini cuaca, tadi

Puisi Untuk Biru

Oleh:
Libur kuliah panjang seolah membuatku berhibernasi. Ya, pekerjaanku sehari-hari hanya merupakan rutinitas yaitu bangun, memasak nasi dan menggoreng lauk, setelah matang kumakan sendiri dan sisanya bermalas-malasan. Sesekali kubenahi kamar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *