Girl And The Theory

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 26 February 2016

Gadis itu terlihat sangat terburu-buru semenjak memasukki gerbang Starhigh. Ia terus saja berjalan dengan langkah panjangnya dan wajah yang menunduk, hingga -BUKK- Ia menabrak sesuatu yang membuatnya terjatuh ke belakang. “Lenting sebagian,” Gumamnya sambil membetulkan letak kacamatanya yang merosot. Ia mengambil bukunya yang baru saja terjatuh, merapikan seragamnya, menepuk bagian belakang roknya yang kotor akibat jatuh, dan selanjutnya ia kembali berjalan tanpa melihat ada seseorang di depannya.

BUKK!! Lagi-lagi ia menabrak sesuatu, namun kali ini ia tidak jatuh karena tangannya buru-buru dicekal oleh seseorang di hadapannya. Gadis itu buru-buru berdiri, dan melihat orang di hadapannya. “Lo bakalan jatoh dan jatoh lagi kalau mata lo gak digunain dengan baik!” Kata pria yang mencekal tangannya.
“Kamu tahu berapa kecepatan yang kamu gunakan, sampai bisa membuat aku jatuh? Jangan salahkan mataku, karena tubuh kamu yang terlalu besar itu menabrak tubuh kecilku,” Ucap Gadis itu. Kelani Aufa Putri, tidak terima dengan perkataan pria di hadapannya.

“Jelas-jelas lo yang nabrak gue, percuma punya empat mata, tapi gak ada yang digunain. Ck!” Pria itu membalas ucapan Lani dengan berdecak. “Lenting sebagian, menurut fisika, jika ada dua benda, yaitu benda A dan benda B yang saling menumbuk atau menabrak, dan benda A bergerak ke arah yang lain, berarti benda B yang tidak bergeraklah yang memiliki kecepatan lebih besar sebelum tumbukan, sehingga membuat benda A bergerak ke arah lain. Dan di sini–” Lani menghentikan penjelasannya ketika pria di hadapannya ini tersenyum miring, Lani mengerutkan keningnya bingung.

“Tumbukan lenting sebagian akan terjadi jika setelah bertumbukan, kedua benda menyatu sesaat kemudian terpisah dengan arah yang sesuai dengan kecepatan benda yang terbesar. Di sini gak ada lenting sempurna atau sebagian. Yang ada lo dan gue, lo yang lagi buru-buru, dan gue yang lagi lihatin lo dari sini,” Kata Pria itu menyangkal penjelasan Lani. Ingat akan sesuatu, Lani menepuk keingnya, “Aku harus menemui Bu Intan.” Katanya lalu pergi dari hadapan pria itu. Diam-diam pria itu, Raffaza Aditya. Terus melihat ke arah gadis yang baru saja menabraknya dan pergi begitu saja tanpa meninggalkan kata maaf.

“Wey! Dilihatin terus kapan dideketinnya?” Tanya salah seorang temannya, menepuk bahunya dari belakang.
Raffa menoleh tersenyum tipis, “Lo gak ngerti,” Begitu katanya.
“Maafin adek gue ya?” Tanya pria itu menaik-turunkan alisnya.
“Jauh sebelum dia minta maaf, maaf gue udah buat dia semua. Walaupun dia gak pernah berbuat salah sama gue,” Jawab Raffa pada temannya yang tak lain adalah kakak dari gadis tadi.
Keanu Alfiano Putra, hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil terkekeh.

Lani memasukki ruang kelasnya yang sangat ramai akan celotehan para temannya. Dan dia langsung duduk di tempat duduknya tanpa memedulikan keadaan kelas. “Eh keong lemah udah masuk ya? Kemarin sakit? Uh lemah banget sih,” Kata seorang temannya mengejek Lani dengan sebutan keong. Lantas seluruh kelas tertawa mendengar ejekan tersebut. Tanpa ambil pusing, Lani mengeluarkan buku pelajarannya dan berusaha memahaminya. Hingga seorang guru fisika memasukki kelas XI IPA 2, membuat keadaan kembali tenang.

Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak 7 menit yang lalu, namun Lani baru saja kembali dari ruang guru. Lani memasukki ruang kelasnya yang sudah sepi, bahkan hanya terlihat tas hitamnya saja di tengah kelas. Namun tanpa diduga, ada secarik kertas di atas meja Lani. Lantas Lani langsung membuka dan membaca isi surat itu. “Hidup dimulai dari sebuah kecepatan yang tak tentu. Mungkin dari nol atau mungkin dari atas. Kehidupan itu seperti GLBB dibagi menjadi 2 macam: GLBB diperlambat adalah ketika kita berada dalam tempat teratas. Kehilangan keseimbangan emosi kita dan pada akhirnya jatuh menyentuh tanah sampai kita temukan titik nol (0) akibat adanya percepatan gravitasi yang turut menyeret kita ke dalam pusaran bumi.”

“Atau apakah kita memiliki GLBB dipercepat? Hidup yang dimulai dari titik nol (0) kemudian berarah naik menempati titik tertinggi. Mungkin susah bagi kita untuk melawan percepatan gravitasi yang ada, tapi ada Tuhan. That’s the point. He is holding our hand. Di dalam GLBB dipercepat terdapat sebuah proses yang amat berat untuk naik ke atas. Namun yakinlah bahwa proses out yang membuat kita indah. Kehidupan ini seperti GLBB (Gerak Lurus Berubah Beraturan). Hasil atau kenyataan yang akan kita peroleh mendatang atau saat ini adalah usaha atau kerja yang kita lakukan dikalikan dengan waktu yang kita tempuh.”

“Karena itu hiduplah seperti rumus “percepatan (a)” dalam Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB) dan bukan rumus Gerak Lurus Beraturan (GLB), dimana rumus GLB, tidak ada nilai perubahan kecepatan, dengan kata lain kecepatannya tetap atau konstan, sehingga nilai percepatannya nol. Itu sama artinya seorang tak maju-maju dalam hidupnya. Terus menerus dalam keadaan yang sama sepanjang waktu. Pada rumus GLBB, dikenal pula istilah “perlambatan” (nilai percepatannya minus). Rumus ini pun jangan ditiru, karena nilai minus muncul akibat kecepatan akhir yang dilakukaan lebih kecil dari pada kecepatan awal (?v = Vt – Vo). Ini sama artinya seorang mengalami kemunduran dalam hidupnya. Be Strong Kelani Aufa Putri!”

Lani menautkan kedua alisnya, heran akan apa yang barusan ia baca. “Ini punya siapa? Apa ini buat aku?” Batinnya bertanya. Tanpa sepengetahuan Lani, ada seorang yang tersenyum di balik kaca jendela kelasnya. “Lani! Ayo cepetan, keburu hujan!” Teriak Kakaknya dari depan pintu kelas Lani.
“Iya sebentar Kak!” Jawab Lani.

“Ada yang dipikirin?” Tanya Keanu pada adiknya yang sedari tadi hanya sibuk memainkan alisnya.
Lani menoleh, “Tadi ada kertas di meja aku Kak,” Kata Lani menjawab pertanyaan kakaknya.
Keanu mengerutkan keningnya, namun setelahnya ia bertanya, “Kertas apa?” Tanyanya lagi.
“Nih!” Lani menyodorkan kertas yang sedari tadi ada di dalam saku seragamnya.
Keanu membuka lipatan kertas itu dan membacanya dengan alisnya mengerut.
“Aku gak ngerti,” Ucap Lani memajukan bibirnya ke depan.
“Katanya pakar fisika tapi gak ngerti. Dasar aneh!” Balas Keanu.

“Tapi itu ke luar jalur pelajaran aku Kak,” Elak Lani.
“Ini tuh maksudnya, kalau kamu lagi ditimpa musibah atau cobaan, kamu harus bangkit dan melawan semuanya. Buktiin pada semuanya kalau kamu gak selemah yang mereka katakan. Dan walaupun kamu gak punya teman buat berpegangan, kamu masih punya Tuhan yang selalu berada di samping kamu.” Jelas Keanu mengelus kepala adiknya sayang.
“Terus siapa yang ngirimin itu?” Tanya Lani.
“Ini semacam pengagum rahasia. Sewaktu-waktu kamu harus terbuka dengan keadaan sekitar, jangan menutupi segalanya. Karena di luar sana ada yang menunggu supaya kamu bisa membuka diri kamu buat dia,” Jawab Keanu.

Keesokan paginya, Lani berusaha melihat keadaan sekitarnya, mencoba melakukan apa yang kakaknya katakan untuk membuka diri. Selama ini ia terkesan cuek dengan sekitarnya, hingga waktu itu ia tak mengetahui bahwa namanya dimasukkan dalam lomba drama. Sehingga pada lomba itu ia hanya bisa mengeluarkan teori-teori yang ia ketahui, bukan dialog-dialog yang seharusnya ada dalam drama.

“Jika resultan gaya pada suatu benda sama dengan nol, maka benda yang mula-mula diam akan terus diam. Sedangkan, benda yang mula-mula bergerak, akan terus bergerak dengan kecepatan tetap.” Ucap Raffa berjalan di sebelah Lani. “Hukum I Newton?” Tanya Lani menoleh pada Raffa. Raffa mengangguk menyetujui pertanyaan Lani.
“Orang kalau udah males, berarti minta dipaksa kalau pengen berubah, dan gue bakalan bantu lo buat berubah. It means gak cuek dan kaku lagi,” Jawabnya.
“Walaupun aku masih gak ngerti aku boleh menyetujuinya kan?” Tanya Lani tersenyum manis. Raffa terkekeh lalu mengulurkan tangannya ke depan, “Raffa..” Katanya mengenalkan diri.
Lani menyambut uluran tangan Raffa, dan menjawabnya “Lani..” sambil tersenyum manis.

Baru saja ia ingin mendudukkan bokongnya di kursi, matanya sudah menuju pada sebuah kertas putih yang menarik perhatiannya. Ia teringat akan secarik kertas tempo itu, “Apa pengirim dan isinya sama dengan yang waktu itu?” Tanya Lani dalam hati. Perlahan ia membuka lipatan kertas itu dan membacanya. “Termodinamika, tentang hukum kekekalan energi, dimana disebutkan bahwa, ‘Energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan tetapi dapat berubah ke bentuk-bentuk yang lain.’ Demikian halnya dengan cinta.”

“Kita sebagai mahluk hidup tidak dapat menciptakan cinta dan memusnahkan cinta. Jika ada seorang profesor yang bisa menciptakan robot yang di dalam softwarenya ada program cinta, maka teori ini akan gugur dengan sendirinya. Kita terlahir sudah dibekali cinta oleh Yang Maha Kuasa dan akan tetap kita bawa setelah kita mati. Jadi sama seperti energi, hidup matinya cinta ditentukan oleh Sang Pencipta. Dan salahkah aku jika selama ini aku mencintaimu dari balik layar, Lani?” Perlahan garis bibir Lani tertarik membentuk lengkungan sudut. Ia tersenyum membaca surat itu, baru kali ini rasanya ia mendapat sebuah surat cinta, dan baru kali ini juga ia merasa jantungnya berdebar sangat kencang.

“Wah keong dapet surat cinta tuh, cie ada juga yang mau sama keong lemot,” Seorang teman kelas Lani menyeletuk, membuat seisi kelas dipenuhi kata, “Cie” yang menggema di dalamnya. Ia tak peduli, Lani memasukkan kertas tersebut ke dalam saku seragamnya.

Keanu menepuk bahu Raffa yang sedang menulis sesuatu diatas kertas.
“Seperti hukum kekekalan energi mekanik Raf! Energi total= Energi kinetik ditambah Energi potensial Dalam mewujudkan impian lo, lo hanya memiliki dua pilihan yaitu terus melakukan gerak atau tetap diam. Semakin besar energi gerak lo, ke arah diam, impian lo akan berkurang. Lakukan bukan menunggu!” Raffa langsung menghentikan kegiatan menulisnya, dan meremas kertas tersebut lalu melemparnya ke tong sampah terdekat. “Lo the best Ken!” Katanya menepuk bahu Keanu.

Selama satu minggu, Lani terus dikirimi surat cinta yang tidak ia ketahui siapa pengirimnya. Ia merasa menjadi pengoleksi kertas saat ini. Hingga hari ini, detik ini. Surat itu tak datang lagi.
“Apa aku salah mengaggumi seseorang tanpa tahu wajahnya?” Tanya Lani pada Raffa yang sedang meminum Milk Coffeenya. Raffa tersenyum, lalu kembali bertanya pada Lani.
“Apa aku salah, mencintai seseorang dalam diam?” Kata Raffa yang sukses membuat Lani mematung. Semenjak Raffa dekat dengan Lani. Ia merubah panggilan Gue-lo. Menjadi Aku-kamu sesuai panggilan Lani.

“Yang jelas kita harus berusaha Lani,” Raffa kembali meminum minumannya
“Usaha = Gaya dikali Perpindahan?” Tanya Lani sambil mengerutkan alisnya.
Raffa tersenyum dan mengangguk. “Usaha= Gaya dikali Perpindahan. Usaha adalah hasil kali gaya kamu dan perpindahan yang kamu capai. Seberapa besar pun gaya yang kamu berikan, namun bila kamu tidak semakin maju, maka usaha kamu adalah nol. Sekarang apa kamu tahu bahwa aku sedang berusaha mendapatkan kamu?” Tanya Raffa.

DEG!

Lani tidak mengerti mengapa jantungnya kini berdebar sama ketika ia membaca surat-surat itu.
“Surat itu? Surat yang kamu terima, itu semua dari aku,” Ucap Raffa sambil tersenyum manis
Dan Lani lagi-lagi dibuat mematung olehnya, belum saja pernyataan sebelumnya ia cerna. Namun pernyataan yang baru saja, begitu mengagetkannya. Lani tersenyum pada Raffa, ia menarik napas perlahan. “Seperti yang kamu pernah bilang, hukum kekekalan energi, ‘Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, tetapi dapat diubah bentuk dari satu bentuk energi menjadi bentuk energi lain.’ Walaupun aku masih bingung sama semua yang terjadi hari ini, aku akan berusaha mengubah semuanya menjadi cinta.” Ucap Lani tersenyum.

Raffa langsung berdiri karena perasaannya yang bahagia, namun Lani mengingatkan Raffa akan sesuatu, “Ingat hukum gravitasi newton, Gaya = massa dikali percepatan gravitasi Rumus ini mengingatkan kamu untuk tetap menginjakkan kaki di bumi meskipun kamu dalam keadaan sangat senang, karena bila kamu melompat terlalu tinggi karena kegirangan, kamu akan tetap ditarik kembali ke bumi, rendah hatilah dalam keadaan apa pun.” Ucap Lani sambil tersenyum bahagia. Raffa kembali duduk di kursinya tanpa melepas senyum di bibirnya.

“Secara sederhananya, sebuah gaya cinta bekerja pada sepasang hati, dan tidak pernah hanya pada sebuah hati saja. Jadi untuk setiap gaya selalu memiliki dua ujung. Setiap ujung gaya ini sama kecuali arahnya yang berlawanan. Atau sebuah ujung gaya adalah cerminan dari ujung lainnya. Secara matematis, Cinta ini berupa persamaan vektor satu dimensi, yang bisa dituliskan. Rasakanlah Cinta bukan pada awalnya saja, Setelah kau punya, selanjutnya dan seterusnya kau jaga. Resapilah makna bukan pada saat kau tahu saja, Setelah kau bisa, lakukanlah selamanya. Terimalah kekurangan salah satunya, Setelah kau mampu, maka semuanya akan bahagia. Dan pada intinya, aku ingin kau selalu bergerak, merasakan, memberi, dan menjaga dengan dimensi yang sama seperti apa yang aku rasa.”

The End

Cerpen Karangan: Choirianissa Yulia
Facebook: Choirianissa Yuliaa
Choirianissa Yulia 17 y.o
Wattpad: @choccio
Ig: @cranissa.y

Cerpen Girl And The Theory merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Lingkungan Alam

Oleh:
Suatu hari, di suatu sekolah menengah atas yang bernama SMA Negeri 1 Kateman akan segera mengadakan penghijauan, menanam pohon di sekitar halaman sekolah yang diselenggarakan oleh pihak sekolah. Andi,

Our Friendship (Part 4)

Oleh:
Pulang sekolah pun tiba. Diva, Alvin, Rieta dan Rey berjalan berbarengan menuju parkiran. “Oh ya, guys.. I have a good idea, nih.. Gimana kalau hari ini kita pulang barengan

Hargai Cinta

Oleh:
Ini kisah cinta pertamaku, kisah yang takkan terlupakan. Dulu, saat masih SMP aku pernah suka-sukaan sma seorang cowok, dia dulu di kelas C dan aku di kelas A. Menurutku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Girl And The Theory”

  1. Ahmus says:

    Cerpen yang bagus, sarat dengan ilmu fisika tapi dengan pemahaman yang mudah di bumbui arti di dalam hidup. . . Terus berkarya ya. . .

  2. devi mambi says:

    Wah ilmu nya hebat ya! Terus berkarya wih yeyeye!

  3. Ini keren banget kak (y) selain mendapatkan teori kita juga dapat membaca cerita yang benar-benar keren banget. Tetap semangat untuk terus berkarya! Semangat! 😉

  4. Selli Oktavia says:

    Keren cerpennya.. Dibumbui dengan ilmu fisika lagi.. Tambah keren..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *