Goodbye Summer

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Fiksi Penggemar (Fanfiction), Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 9 December 2017

Musim panas selalu menjadi salam perpisahan di antara kita.
“kita seperti kembali kemasa kita masih sekolah dulu. Kau masih ingat sewaktu kita dihukum karena tidak mengerjakan tugas dulu?” tanya Kyungsoo membuka percakapan diantara kami
“tentu aku masih mengingatnya” jawabku

Lima tahun yang lalu, sewaktu kita masih duduk di bangku SMA, kita selalu bersama. Kita seperti sepasang kekasih bukan? atau lebih dari itu? pertanyaan yang selalu teman-teman perempuanku dulu tanyakan padaku. Dimana ada aku disitu ada Kyungsoo. Kita pergi sekolah bersama, belajar bersama, bermain bersama, dan dihukum bersama. Aku masih ingat malam sebelum aku dan Kyungsoo dihukum. Saat itu Kyungsoo datang ke rumahku membawa setumpuk video game yang baru saja dibelinya. Kyungsoo si maniak games itu adalah julukanku dulu untuknya.

“apa yang ingin kau lakukan malam-malam begini datang ke rumahku membawa tumpukan video games itu Kyungsoo?”
“tentu untuk memainkan semua games ini bersamamu Jihyo”
“kalau ingin main games main saja di rumahmu. Mengapa harus jauh-jauh ke rumahku?”
“Ayah dan Ibu sedang ada di rumah. Mereka sangat berisik, jadinya aku tidak bisa berkonsentrasi untuk memainkan semua games ini”

Kyungsoo selalu melakukan hal yang membuatku terkejut. Aku tahu Kyungsoo sedang melarikan diri malam itu. Tanpa Kyungsoo ceritakan aku sudah bisa membaca tingkahnya setiap kali Kyungsoo sedang bermasalah.

Malam itu kami habiskan waktu bersama dengan memainkan semua games yang Kyungsoo bawa. Seperti biasa saat bersamanya aku selalu merasa bahagia sampai melupakan hal lain di dunia ini, termasuk tugas matematika yang harus dikumpulkan esok hari. Bodohnya tak ada satupun dari kami yang sadar dengan tugas itu. Kyungsoo dan aku tenggelam dalam kebahagiaan.

Esok harinya saat guru menyuruh semua anak mengumpulkan buku tugas aku baru sadar belum menyelesaikan tugas itu. Akhirnya kami harus menjalani hukuman bersama.

Saat ini berjalan di sebelahnya melewati lorong ini, lorong kelas kita dulu, tanpa sadar aku tak bisa menyembunyikan senyumku. Seperti mimpi yang menjadi nyata setelah 5 tahun lulus dari sekolah ini dan berpisah dengannya, hari ini aku bisa kembali melihat wajah dan senyumnya. Lorong kelas ini menjadi saksi kenakalan kami dulu. Apakah aku sudah gila? mengingat ketika kita dihukum dulu mengapa begitu menyenangkan?

Kau adalah aku dan aku adalah kau. Kata-kata ini yang selalu Kyungsoo katakan padaku setiap kali aku mendapat masalah.

“Jihyo pokoknya hari ini kau harus datang ke festival musim panas sekolah. Aku akan tampil bernyanyi di sana, oke?”
“ah.. kau mengganggu acara liburku. Aku tidak mau datang”
“ayolah.. kau harus datang! aku tidak mau tahu”

Awalnya aku memang tidak berniat untuk datang, seperti memiliki indera keenam aku merasa akan terjadi hal buruk padaku jika aku datang ke acara itu. Tapi telepon darinya membuatku goyah. Aku tahu Kyungsoo sudah mempersiapkan lagu terbaik untuk dinyanyikan dalam acara itu. Aku juga tahu Kyungsoo sudah berlatih keras untuk penampilannya hari itu. Dengan alasan persahabatan akhirnya aku memutuskan untuk datang ke acara itu.

Festival musim semi yang selalu diadakan di lapangan sekolah. Sebuah panggung yang lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya sudah berdiri kokoh di tengah lapangan. Puluhan stand yang memamerkan beragam kreasi murid-murid sudah berjejer mengitari lapangan. Suasana sekolah menjadi sangat berbeda dengan beragam dekorasi yang sudah dibuat dari seminggu sebelum acara ini terselenggara.

Acara ini memang selalu ditungu-tunggu oleh seluruh murid terkecuali aku. Aku benci keramaian, mungkin itu yang menjadi alasan mengapa aku tidak banyak memiliki teman diluar teman kelasku. Aku memang sulit beradaptasi dengan lingkungan dan orang baru, terlebih lagi aku phobia keramaian. Berada di tengah keramaian akan membuatku merasa pusing.

Hari itu sesampainya di sekolah, aku segera mencarinya. Aku pergi ke belakang panggung berharap Kyungsoo ada di sana. Tepat. Dia dengan penampilannya saat itu yang membuatku sedikit terkejut. Kyungsoo sedang bersiap-siap di belakang panggung. Kyungsoo tampan dengan kemeja biru langit itu.

“oh! kau sudah datang. Aku akan tampil 15 menit lagi. Sebelum aku tampil kau bisa duduk di sini, aku tahu kau pusing melihat orang berlalu lalang di luar kan?” memang hanya Kyungsoo yang tahu phobiaku ini.
“ah tidak perlu. aku ke sini karena ingin menyemangatimu. Setelah ini aku akan keluar, aku ingin berkeliling melihat stand”
“apa kau yakin tidak apa-apa berjalan tanpa aku?” pertanyaan konyol yang selalu kau tanyakan padaku.
“yak! aku ini bukan anak kecil yang bisa hilang kalau tidak ada orang yang mendampinginya. Lagipula ini kan sekolahku juga, kenapa aku harus khawatir”
“hahaha baiklah, jaga dirimu baik-baik”

Aku pikir masih ada waktu sebelum Kyungsoo tampil jadi aku bisa berkeliling melihat-lihat stand. Lagipula ini adalah kali pertamaku datang ke festival musim semi sekolah semenjak aku bersekolah di sini jadi aku tidak akan menyia-nyiakan waktuku.

Selama aku mengobrol dengan Kyungsoo di belakang panggung tadi ternyata ada segerombolan senior yang memperhatikanku. Ya mereka itu penggemar Kyungsoo. Aku baru tahu kalau Kyungsoo memiliki cukup banyak penggemar setelah kejadian di festival itu. Aku tahu kalau Kyungsoo memang terkenal memiliki suara yang bagus. Kyungsoo sering mengisi acara-acara sekolah. Tapi aku tidak pernah menyangka sebegitu terkenalnya dia terutama dikalangan senior.

Saat asyik mengitari stand gerombolan senior itu menghampiriku. Aku mengabaikan mereka karena merasa tidak memiliki urusan dengan mereka. Salah satu senior menarik tanganku kala itu untuk menjauh dari keramaian stand. Jujur aku mulai takut saat itu.

“jadi ini gadis yang selalu bersama dengan Kyungsoo? apa hubunganmu dengan Kyungsoo? pacarnya?” senior yang lain mulai menginterogasiku
“aku hanya teman sekelasnya. Aku bukan pacarnya”
“kalau kau bukan pacarnya mulai sekarang berhenti mendekati Kyungsoo” senior itu berteriak tepat di depan wajahku
Aku sangat kesal saat itu. “mengapa aku harus menjauhinya? memang kalian siapa?”

Sepertinya kata-kataku sudah membuat mereka semakin marah padaku. Tapi hatiku juga sangat kesal dibuat mereka saat itu. Alhasil terjadilah pertengkaran saling jambak dan berteriak di antara kami.

“yak! kalian kalau berani jangan keroyokan! sini hadapi aku satu persatu!” teriakku saat itu melihat mereka secara bersamaan menyerangku.

Teriakan kami ternyata mengalihkan perhatian murid-murid lain yang hadir dalam festival itu, termasuk Kyungsoo yang saat itu sedang tampil di atas panggung. Tak lama sudah banyak murid yang mengerumuni kami. Seorang murid laki-laki yang merupakan teman sekelasku melerai pertengkaran kami. Aku bisa melihat Kyungsoo dari kejauhan berlari menghampiriku. Wajahnya antara kesal dan khawatir saat itu. Kyungsoo lalu menarik tanganku dan membawaku menjauh dari keramaian itu. Kyungsoo membawaku pulang. Sepanjang perjalanan pulang tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya ataupun dari mulutku. Aku terlalu takut untuk memulai pembicaraan. Aku takut Kyungsoo marah padaku karena telah membuat keributan dalam acara itu. Benar saja, Kyungsoo marah padaku. Setelah turun dari bus, telingaku habis-habisan dibuat pengang oleh ocehannya.

“kau ini apa-apaan sih! kenapa berkelahi dengan senior-senior itu? seperti anak kecil saja”
“mengapa kau menyalahkan semua pertengkaran tadi padaku? coba kau tanyakan saja pada penggemar-penggemarmu itu” aku masih sangat kesal saat itu ditambah Kyungsoo yang ikut memarahiku membuatku tidak bisa mengendalikan emosiku. Aku menangis sejadi-jadinya di depan Kyungsoo saat itu. Ini pertama kalinya Kyungsoo memarahiku seperti ini.
“sejak awal aku sudah bilang aku tidak ingin datang, tapi karena ingin melihat penampilanmu aku memutuskan untuk datang. Kalau tahu seperti ini aku tidak akan pernah datang ke acara itu.” aku bergegas pergi meninggalkan halte itu sebelum lebih sulit lagi mengendalikan air mataku saat itu. Satu yang tidak kau tahu hingga kini, sesaat itu juga aku menyesal karena mengatakan semua itu padamu.

Setelah kejadian itu Kyungsoo tidak menghubungiku. Aku juga tidak menghubunginya, karena aku merasa gengsi untuk menghubunginya lebih dulu. Rasa gengsi itu juga yang membuatku mengacuhkannya di sekolah setiap Kyungsoo mencoba menyapaku. Aku rasa untuk beberapa saat menghindarinya adalah jalan yang tepat tapi ternyata hanya tiga hari tidak mendengar kabarnya dan bermain bersamanya sudah membuatku kesepian. Aku memberanikan diri untuk menghubunginya. Semalaman suntuk aku menghubungi ponselnya, tapi tidak ada jawaban sedikitpun. Beribu pikiran mulai berkecamuk dalam otakku.
“apakah kemarin aku sangat berlebihan padamu? apa kau sangat marah padaku?”

Esok harinya di sekolah aku juga tidak melihatnya di kelas. Kyungsoo bolos sekolah. Aku tahu itu setelah aku datang ke rumahnya sepulang sekolah. Ibu Kyungsoo yang membukakan pintu untukku waktu itu. Ibu bilang kalau kyungsoo belum pulang sekolah. Pasti kali ini Kyungsoo juga sedang melarikan diri. Aku terus mencarinya ke semua tempat yang sering kami datangi disaat bosan tapi aku tidak juga menemukannya.

Hari sudah menjelang sore ketika aku mulai menyerah mencarinya. Aku juga harus kembali ke sekolah sebelum pulang karena aku meninggalkan sepedaku hari itu. Sesampainya di sekolah aku ingat satu tempat rahasia kami yang belum aku datangi. Tempat yang selalu aku dan Kyungsoo tuju setiap kali bolos dari pelajaran bahasa. Rooftop sekolah. Aku segera berlari menaiki semua anak tangga di sekolah. Benar saja, Kyungsoo ada di sana. Kyungsoo dengan seragam sekolahnya sedang tertidur pada sebuah bangku panjang saat itu. Aku menghampirinya sekedar ingin melihat keadaannya.

“sepertinya kau sangat lelah” ucapku saat itu melihatnya tertidur sangat lelap.
Saat aku beranjak pergi Kyungsoo justru terbangun dari tidurnya. Kyungsoo menarik tanganku untuk duduk kembali dan tidak meninggalkannya. Kami untuk waktu yang cukup lama hanya diam sampai akhirnya aku berani membuka percakapan.
“maafkan aku”
“untuk apa?” jawabnya tanpa menoleh ke arahku sedikitpun. sepertinya Kyungsoo masih marah padaku.
“karena bertengkar hari itu. Maafkan aku juga sudah membentakmu hari itu di halte”
Kyungsoo menoleh ke arahku namun tak ada satu katapun keluar dari mulutnya. Kyungsoo hanya diam menatapku. Jujur saja aku gugup saat itu karena tatapannya.
“yak! kenapa hari ini kau bolos sekolah?” aku menjitak kepalanya untuk menghentikan tatapannya padaku.
“aw.. sakit tahu. Belum juga aku maafkan kesalahanmu kemarin sekarang kau malah menjitakku. Aku tidak akan memaafkanmu”
“habis kau membuatku khawatir. Semalaman aku menghubungimu tapi kau juga tidak mengangkatnya, lalu pagi ini aku tidak melihatmu di kelas” Lagi-lagi Kyungsoo tidak menjawabku. Kyungsoo hanya diam dan menundukkan kepalanya.
“apa sesuatu terjadi padamu?”
Tak ada jawaban darinya.

Tak lama air mata itu jatuh. Kyungsoo menangis. Aku semakin khawatir. Aku tahu ini pasti karena kedua orangtuanya. Kyungsoo memang pandai berakting. Dia adalah murid terbaik di klub drama tapi dia tidak pernah bisa berakting di hadapanku. Aku tahu persis saat itu dia sedang mengahadapi masalah. Ayah dan Ibu Kyungsoo sudah memutuskan untuk bercerai. Hubungan mereka memang sudah lama tidak harmonis. Mereka sering bertengkar di rumah bahkan ketika Kyungsoo sedang berada di rumah. Pertengkaran mereka yang membuat Kyungsoo tidak betah di rumah dan selalu datang ke rumahku seperti malam itu.

Aku memberikan sapu tanganku untuk menghapus air matanya. Sore itu untuk pertama kalinya aku melihat Kyungsoo menangis. ‘Semua yang kau hadapi memang sangat berat Kyungsoo’.
“kau adalah aku dan aku adalah kau. Ceritakan semua masalahmu padaku, biar aku hapuskan semua kesedihanmu Kyungsoo. Aku ini gienie cantikmu dari lampu ajaib” godaku saat itu mencoba menghiburnya.
Sebesar apapun usahaku memahaminya saat itu aku tahu tetap saja sakit yang aku rasakan tidak sesakit yang dia rasakan. Aku hanya bisa menemani Kyungsoo hingga dia merasa baikan.

“bagaimana kabarmu?” Kyungsoo menanyakan kabarku. Bukankah seharusnya hal ini yang ditanyakannya padaku sejak pertama kami berjumpa pagi ini, mengapa baru sekarang? ah tak apalah setidaknya dengan begitu aku memiliki alasan untuk mengetahui kabarnya. Hingga hari ini setelah 5 tahun berpisah dengan Kyungsoo aku masih sama seperti dulu. Aku masih sangat gengsi menanyakan kabarnya. Apalagi kami sudah sangat lama tidak bertemu, rasanya sangat sulit memulai percakapan dengannya walau sebenarnya aku sangat merindukannya.

“hei! bagaimana kabarmu Jihyo?”
“ah iya, kabarku baik bahkan sangat baik. Bagaiman denganmu?”
“kabarku juga baik. Sepertinya kau sudah berubah sekarang”
“maksudmu?”
“kau lebih banyak melamun. Tidak seperti Jihyo yang aku kenal dulu. Kau terlihat kaku dan canggung sekarang. Apa kau tidak senang bertemu denganku?”

Aku juga tidak tahu apa yang terjadi padaku hari ini. Kalau saja aku bisa mengatakan padanya aku sangat menantikan pertemuan hari ini sejak seminggu yang lalu. Bahkan semalam aku tidak bisa tidur hanya karena memikirkan apa yang harus aku tanyakan atau lakukan saat bertemu dengannya. Tapi ya seperti aku bilang, aku masih sama seperti aku yang dulu. Gadis dengan tingkat gengsi sangat tinggi. Gengsi itu juga yang membuatku menyesal dulu. Seminggu sebelum acara kelulusan kami dulu, Kyungsoo mengatakan padaku bahwa setelah lulus dia akan melajutkan sekolahnya di Amerika. Berita itu sungguh membuatku sedih. Saat itu aku tidak mengerti alasan mengapa aku harus bersedih mendengar Kyungsoo akan pergi. Aku pikir mungkin karena aku akan kehilangan sahabat terbaikku atau karena tidak bisa lagi menghabiskan waktu untuk bermain bersamanya.

Seminggu terakhir itu kami habiskan dengan penuh suka cita. Aku selalu pulang telat ke rumah. Ini memang konyol tapi kami membuat perjanjian untuk menghabiskan sisa waktu kebersamaan kami dengan pergi ke semua tempat yang kami suka mulai dari taman bermain, kebun binatang, museum sejarah kesukaanku, sampai menonton drama musikal favoritnya.

Semakin mendekati hari kelulusan, mengapa perasaan sedihku semakin besar. Hari-hari yang telah aku habiskan bersama Kyungsoo tidak cukup menyembuhkan rasa sedih itu. Semua kenanganku bersama Kyungsoo justru semakin membuatku tak rela untuk berpisah dengannya. Satu hari sebelum kelulusan, hari terkahirku bisa bermain dengan Kyungsoo. Aku baru sadar dengan perasaan itu. Alasan mengapa aku merasa begitu sedih harus berpisah dengannya. Setelah melihat senyumnya hari itu, aku sadar bahwa aku jatuh cinta padanya. Tapi aku tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaan ini padanya. Bahkan aku sendiri belum yakin sepenuhnya saat itu.

Di hari itu aku dan Kyungsoo menghabiskan waktu bermain di rooftop sekolah. Seharian itu aku kumpulkan kekuatanku untuk mengalahkan rasa gengsiku. Aku mengumpulkan keberanianku untuk menjelaskan semua perasaanku padanya, tapi aku tetap tidak bisa mengatakannya. Akhirnya aku hanya bisa menangis setelah Kyungsoo benar-benar pergi. Seharusnya aku ungkapkan semua itu, memintamu untuk tidak pergi meninggalkanku.

Tepat di musim semi 5 tahun yang lalu kita berpisah dan kembali bertemu di musim semi tahun ini. Seperti lagu terakhir yang Kyungsoo nyanyikan di acara perpisahan dulu “perasaan ini sungguh berharga”. Saat ini aku dan Kyungsoo sedang berada di rooftop sekolah. Kyungsoo terlihat sedang menikmati semua hal dari rooftop ini yang masih sama seperti dulu. Aku juga menikmatinya, suasana rooftop sekolah dengan semua kenangan kami dulu.

“apa kau masih ingat Jihyo?”
“ingat tentang apa?”
“satu hari sebelum kelulusan kita dulu”
“oh itu, tentu aku masih mengingatnya. Kita habiskan seharian itu di sini bukan?”
“ya. Pohon sakura di belakang sekolah. Apa kau masih mengingatnya juga?”

Satu kenangan lagi yang tidak akan pernah aku lupakan. Pohon sakura di belakang sekolah. Hari itu, saat kelulusan, aku melarikan diri ditengah penampilan Kyungsoo yang terakhir. Aku melarikan diri karena aku tidak kuat menahan bulir air mataku yang menetes begitu saja mendengar Kyungsoo bernyanyi kala itu. Di balik pohon sakura itu aku menangis sejadinya.

Tidak berapa lama mungkin setelah Kyungsoo selesai dengan penampilannya, dia menghampiriku. Aku kira ini adalah tempat persembunyian terbaikku yang tidak akan ditemukan olehnya, namun benar katanya ‘kau adalah aku dan aku adalah kau’. Kyungsoo tahu segala hal tentangku. Kyungsoo terlihat begitu khawatir melihatku menangis dan seperti seorang lelaki dewasa Kyungsoo menggenggam tanganku kuat sedangkan aku justru semakin sulit menghentikan air mataku kala itu. Semua terasa menyedihkan karena aku tidak bisa menjelaskan perasaanku yang sebenarnya. Akhirnya hanya ada salam perpisahan di antara aku dan Kyungsoo kala itu.

“hari itu seharusnya aku mengatakan hal penting yang telah lama aku pendam padamu Jihyo, tapi melihatmu menangis justru membuatku semakin sulit mengatakan itu”
Kyungsoo diam sejenak dan kini dia menatapaku dalam.
“setelah salam perpisahan kita di pohon itu aku menyesal. Kalaupun aku katakan sekarang sepertinya semua sudah sangat terlambat. Seharusnya aku mengatakan perasaanku padamu saat itu, perasaanku kalau aku menyukaimu. Karena ketidakberanianku, semua itu kini menjadi kenangan yang menyakitkan”

Kyungsoo mengapa semua ini baru kau katakan sekarang? mengapa di antara kita tidak ada yang memiliki cukup keberanian mengatakan perasaan kita sebenarnya kala itu?
Kini aku merasa kau sangat benar ‘kau adalah aku dan aku adalah kau’. Kini semua sudah terlambat Kyungsoo karena aku sudah bersama yang lain. Lusa adalah hari pertunanganku dengan Taejoon. Sejak kau pergi cerita kita pun berakhir ketika semua belum dimulai. Kini foto-foto kebersamaan kita dulu yang tidak bisa menjelaskan status kita menjadi tumpukan cerita memilukan, karena kata-kata yang tidak bisa kita ungkapkan.

“maafkan aku Jihyo. Sekali lagi di musim panas aku harus mengatakan selamat tinggal padamu. Semoga hidupmu bahagia”
“selamat tinggal Kyungsoo. Semoga kau juga bahagia”
Kyungsoo memelukku untuk yang terakhir kalinya.

Esok hari Kyungsoo harus kembali ke Amerika karena masa liburannya sudah berakhir dan aku juga harus kembali menjalani kehidupanku. Aku harus mengubur kembali semua kenanganku bersama Kyungsoo. Sudah cukup sehari ini mengenang semua itu bersamanya. Kini aku sudah siap memulai kehidupan baruku bersama Taejoon. Musim panas selalu menjadi saksi perpisahanku dengan Kyungsoo.

THE END

Cerpen Karangan: Nolit
Facebook: Novalita Sri Maryam
Nama: Nova Lita Sri Maryam
Nama panggilan: Nolit/ova (but i prefer nolit than ova kkk)
profesi: mahasiswi Kimia IPB

Cerpen Goodbye Summer merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pacar Impian

Oleh:
Indah melirik ke arah seorang cowok yang sedang bermain basket di lapangan sekolah. dini yang sejak tadi memperhatikan itu menyenggol bahu indah sembari berkata “ciee.. yang lagi merhatiin pujaan

My Young Sister

Oleh:
Aku berjalan menyusuri jalan dengan menenteng tasku yang cukup berat karena tugasku sangat banyak hari ini, musim semi hampir berakhir bunga-bunga sakura mulai berguguran. Saat aku sampai pada ujung

Sakura Love (Part 1)

Oleh:
Teriknya mentari saat musim kemarau di Indonesia memang bisa membuat sebagian besar orang enggan untuk melakukan aktifitas seperti biasanya. Apalagi di kota-kota besar seperti di Jakarta. Cuaca yang tidak

Paradise of Love (Part 2)

Oleh:
Pagi hari di rumah dalam kelas, Soo Hye membawa bekal untuk dimakan bersama amber. “ambeerr.” Panggil Soo Hye. “nggak.” Jawab amber santai. “Kita sama–sama.” Tanya Soo Hye. “enggak.” Jawab

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Goodbye Summer”

  1. oohsehun says:

    Terinspirasi dari lagu Goodbye Summer kan ini? Aku juga suka banget lagunya. Aku juga ExoL,, 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *