Hai Harmony

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 29 September 2017

Perkenalkan nama aku Harmony James, sore ini aku sedang berada di salah satu cafe yang jaraknya tak jauh dari tempatku mengajar alat musik harmonika setiap kali aku pulang dari tempatku mengajar hujan selalu datang, jadi mau tak mau aku harus menunggunya reda. Sebenarnya aku salah satu orang yang sangat membenci hujan, kebanyakan orang beralasan kalau hujan hanya bisa menghambat waktu mereka. Tetapi alasanku berbeda dengan mereka, aku punya phobia berkepanjangan, karena setiap kali hujan ingatan di masa laluku selalu terngiang-ngiang di kepalaku. Hal ini membuatku tak bisa menyukai hujan lagi.

2 jam berlalu, ternyata langit sudah tak gelap, matahari sudah menampakan dirinya. Aku langsung berjalan menuju pintu cafe, tiba-tiba ada seseorang menepuk pundakku dari belakang sontak aku berbalik dari posisiku.
“Eh sorry, kamu menggalkan ini di meja.” ucap lelaki itu sambil menyodorkan Harmonikaku yang tertinggal. “Oh, mungkin tadi aku tak sadar kalau aku menaruhnya di sana.” Pikirku.
“Makasih.” Jawabku meraih Harmonika ku dari tangannya.
“Iya sama-sama. Ehh ngomong-ngomong nama kamu siapa?” tanya lelaki itu padaku.
“Aku Harmony, Kalau kamu siapa?”
“Harmony.. nama yang bagus persis seprti Harmonika yang kamu punya. Aku Jasson salam kenal ya.”

Jasson? Rasanya tak asing dengan nama itu bagiku. Pertemuan singkatku dengan lelaki yang tak aku kenali membuat benakku terus bertanya-tanya siapa dia? Kenapa aku merasa nyaman saat menatap matanya. Kicauan burung membuatku terbangun dari tidurku yang panjang, semalam aku memimpikan lelaki itu lagi. Entah kenapa sudah tiga hari berturut-turut aku selalu memimpikan dia, padahal aku tak mengenalinya.

Hari ini nenekku sudah menyiapkan sarapan untukku, tetapi aku belum siap-siap untuk berpakaian aku pun langsung beranjak dari tempat tidurku dan berjalan ke arah kamar mandi. Setelah aku selesai berpakaian aku berjalan ke ruang makan. Di meja makan nenekku sudah menunggu kedatanganku dan ia selalu mengulang kembali setiap harinya. Kedua orangtuaku sudah lama meninggal dunia, jadi di rumah yang sebesar ini hanya tersisa aku dan nenekku.

Aku pun sampai di tempatku mengajar, banyak dari muridku yang bertanya padaku, kenapa aku sangat menyukai Harmonika bukan yang lain. Aku pun menjawab “Harmonika adalah hal yang bisa membuat ibu tenang karena dengan Harmonika ibu merasa teman kecil ibu hadir di hadapan ibu.” Sudah lama aku tak mengganti Harmonika pemberian dari Benjasson, ini sudah sangat tua dan tak bisa dipakai lagi. Aku harap bisa membeli Harmonika yang persis seperti ini.

Selesai aku mengajar tiba-tiba seorang anak lelaki menghampiriku dan memberikan sebuah kotak kecil yang berukuran seperti Harmonika. Anak lelaki itu pun tidak mengatakan sepatah kata pun padaku. Dia hanya tersenyum sembari memberikan kotak kecil ini dan langsung pergi dari hadapanku. Aku heran siapa orang yang memberikan kotak ini padahal ulang tahunku masih lama. Di sini pun tak ada keterangan apapun hanya sebuah pita berwarna pink muda. Pink muda? Rasanya aku tak asing dengan pita ini.

Aku berjalan melewati koridor sambil terus berfikir siapa yang memberikan aku kotak kecil ini. Tak sadar aku telah menabrak seseorang yang berbadan tinggi memakai setelan jas biru dongker, tapi setelah aku perhatikan dari ujung kaki hingga kepalanya ternyata dia lelaki yang di cafe itu. Kenapa dia ada di sini? Bukannya gedung ini untuk les musik anak-anak? Oh atau mungkin dia lagi menjemput anaknya. Tapi mana mungkin semuda dia udah punya anak? Ahhh tau pusing!.

“Ehh sorry-sorry aku nggak sengaja nabrak kamu tadi aku berjalan sambil melamun.” Ucapku seraya meminta maaf. Tapi dia hanya tertawa kecil saat aku meminta maaf, baru kali ini aku nabrak orang nggak marah-marah hanya tertawa kecil. Aneh.
“Apa kamu sudah membuka kotak itu?” kalimat itu keluar dari mulutnya. “Jadi ini pemberian darinya, maksud dia apa? Kita kan belum saling kenal udah ngasih kado aja.” Batinku menatap dia dengan heran.
“Kamu heran ya, kenapa aku memberikan kotak ini padamu?”
“I-iya “ jawabku terbata-bata.
“Kamu masih nggak ingat dengan petunjuk-petunjuk yang aku berikan?”
Maksud dia apa sih? Makin ngaco aja nih orang! Petunjuk? kotak kecil di hiasi pita berwarna pink muda? Apa mungkin dia Benjasson? Masa sih aku tak percaya. Bukankah Ben sudah tiada ketika hujan badai dan petir menyambar rumahnya hingga terbakar tanpa meyisakan apapun.

Ketika aku masih bersama pikiranku dia membawaku keluar dari gedung yang membuatku tersadar bahwa di luar sedang hujan. Kenapa dia setega ini membiarkanku merasakan tetes demi tetesan hujan yang mengalir di tubuhku. Aku pun menangis, merasa menyedihkan karena tak mampu melawan hujan hanya bisa terdiam kaku di hadapan dia.

“Hai Harmony.” Kaliamat itu terucap dari mulutnya, aku terkejut saat mendengarnya. Ya aku mengingatnya benar dugaanku selama ini ternyata dia adalah…
“Ben.. Jasson?”
Ben tersenyum padaku, yang kemudian dia langsung menceritakan kisah yang sebenarnya padaku. Ya tuhan dia masih hidup, jadi 13 tahun yang lalu Ben tidak ada di rumahnya tapi dia berada di luar negeri. Pantas saja pagi hari aku ke rumahnya dia tak keluar. Dan aku kira dia marah padaku.

“Kenapa kamu nggak ngasih tahu aku?” tanyaku.
“Aku sebenarnya mau ngasih tahu tapi waktu itu aku tak sempat ke rumah mu dan aku tak punya nomor telepon rumahmu.”
“Hmm aku kira kamu sudah tiada karena hujan badai jadi aku membenci hujan.”
“Bukannya dulu kita sering bermain saat hujan turun kenapa kamu harus membencinya.”
Ben meraih tanganku dan menatapku penuh arti
“Harmony, jika hujan membuatmu benci padanya karena hal itu. Akankah dia membenci dirimu? Seperti apa yang kamu lakukan padanya?”
“Mungkin tidak” jawabku.
“Jadi jangan pernah membenci hujan lagi. Ok?”
“Ok”

Setelah hari itu semuanya berubah aku kembali menjadi diriku yang dulu. Harmony yang sangat menyukai hujan. Ketakutanku tentang hujan, kebencianku tentangnya menghilang setelah Ben datang kembali kedalam hidupku. Dan sungguh takdir Tuhan tak terduga aku bisa memandangi wajahnya lagi sepuas hatiku. Karena dia alasan terbesarku untuk hidup, Benjasson.

Cerpen Karangan: Indah Mega Pertiwi
Hai namaku Indah Mega Pertiwi
Aku sekarang kelas 3 SMA. Sekolah ku teretak di daerah Majalengka yaitu SMAN 2 MAJALENGKA. Hobi ku membuat cerita walau aku tahu aku memang masih belum ahli dalam hal ini tapi semoga kalian suka. Kata guru ku kalau kalian punya bakat jangan di sembunyikan dalam-dalam tapi keluarkan lah mungkin dengan bakat itu kalian akan mendapatkan hasil yang terbaik

Cerpen Hai Harmony merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Catatanku

Oleh:
Namaku Dara, aku mempunyai seorang sahabat namanya Retak. Dia seorang gadis manis dan cantik dia seorang model. Banyak anak cowok menyukainya. Sedangkan aku, aku selalu dipermalukan di kelasku sendiri.

Hati Yang Terluka (Part 3)

Oleh:
Ketika akan pulang, Sherin lupa jika tadi ia meninggalkan buku paketnya di atas meja. Ia memutuskan untuk kembali masuk ke sekolah. Tapi, langkah Sherin terhenti melihat pemandangan yang ada

Jangan Terlalu Membenci

Oleh:
Saya Aisyah, aku adalah perempuan yang super duper cuek dan jutek di kelas IPA 1, kebanyakan sih yang bilang gitu. Dan aku paling enggak suka dijailin sama teman cowok

Tuts (Part 2)

Oleh:
Remi dan Arta menghilang bagai asap yang tertelan tiupan angin. Cello mematung melihat kejadian itu. Di ufuk barat, sinar matahari menuju senja. Orange cerah. Seingat Cello, hari masih siang

Sleeping Beauty (Part 1)

Oleh:
“Aira… wake up” seru Poppy sahabat karibku dengan suara cemprengnya dan dengan sok-sok’an berbahasa Inggris, padahal nilai rapornya kadang-kadang merah. Ia sedang berusaha membangunkanku dari tidur nyenyakku dan membuyarkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *