Halte Dan Keajaiban

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Penantian, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 26 May 2018

Senin pagi keadaan mulai padat kembali. Orang-orang berkemeja rapi berlalu-lalang di sana-sini. Udara segar pagi mulai tertelan asap hitam kendaraan. Jalanan mulai disesaki kendaraan roda empat begitu pula dengan halte rute 27 mulai disesaki para penanti bus yang siap berebutan dan berdesak-desakan masuk demi mendapatkan tempat. Begitu juga yang akan dilakukan seorang gadis yang mengenakan blazer kuning dan celana jeans. Gadis yang sangat suka berlama-lama di halte hanya untuk menunggu sang keajaiban datang.

“Ayo Zeyn masuk! Angkotnya udah mau jalan”.
Gadis yang berdiri di halte itu terkaget, menghentikan lamunannya. Tak ingin menolak ajakan temannya Ia segera masuk ke dalam angkot. Matanya menengok kesana-kemari, beruntung angkot ini sepi penumpang. Hanya Ia dan teman-temannya. Ini pertama kalinya Zeyna, gadis berseragam putih-biru ini naik kendaraan umum. Tapi ada satu hal yang mengganjal, angkot ini tidak menuju rute 2. “Gak usah bingung, nanti kamu turun di halte kota” lagi-lagi lamunannya buyar oleh suara Juli, teman sekelasnya. Seakan-akan Juli tau apa yang dipikirkan Zeyna sejak tadi. “Semoga angkot rute 2 masih ada” Frey, teman satu klub bahasa inggrisnya tiba-tiba bergumam kecil, sayangnya suaranya dapat didengar Juli dan Zeyna. “Nah! Frey pulang bareng Zeyna aja” Kata Juli tiba-tiba dan tiba-tiba pula Ia mendapatkan sikutan Zeyna. Frey bingung dengan ucapan Juli, “Ayolah, dia gak berani pulang naik angkot sendirian. Maklumlah anak orang kaya biasa dijemput sopir pribadi” bisik Juli sambil menahan tawa kali ini kakinya yang menjadi sasaran empuk Zeyna. Sepanjang perjalanan Zeyna hanya diam memandang luar, masih kesal dengan Juli yang meledeknya.

Tak lama, halte kota mulai terlihat angkot mulai melambatkan jalannya agar tepat berhenti di depan halte. Zeyna yang masih kesal dengan Juli langsung turun dari angkot tanpa pamit padanya. “Ngambek nih ceritanya?” ledek Juli lagi yang masih di dalam angkot. Juli tinggal dirute 3. Frey turun dan mendapatkan kedipan Juli yang menandakan sebuah kode untuknya. Angkot yang dinaiki Juli mulai bergerak meninggalkan halte. Zeyna langsung membuka ranselnya mencari handphonenya hendak memberitahu orang rumah agar menjemputnya dihalte kota. “Kamu juga ke rute 2? Bareng aku aja” Frey membuat Zeyna menghentikan jari-jarinya yang bermain di atas layar ponselnya.
“Eh gak usah, aku—”
“Aku tau kamu gak berani naik angkot kalau gak ada temennya” ucap Frey sambil menahan tawa. Zeyna tak peduli dengan ucapan Frey yang tak lucu tadi, Ia melanjutkan kembali mengetik sebuah pesan di layar ponselnya.
“Nah itu, ayo” Frey menarik lengan Zeyna, mengajaknya berlari mengejar angkot rute 2 yang berhenti tidak tepat didepan halte.
“Penuh, cuma bisa buat satu orang. Aku—”
“Udah gak papa kamu duduk aja” Semua kursi penuh hanya tersisa satu kursi di pinggir pintu. “Terus kamu gimana?” Zeyna mulai khawatir. “Aku juga naik, udah cepetan duduk” Mau tak mau Zeyna duduk dan di sampingnya Frey berdiri dengan tangan memegang pintu dekat Zeyna selayaknya seorang kenet. Kedua kalinya Zeyna naik angkot tapi kali ini penuh penumpang. Risih dan panas yang dirasakan Zeyna. Rasa-rasanya semua orang menatapnya. “Haha..” dari luar Frey menertawakan raut wajah musam Zeyna yang kepanasan.

Lamunannya buyar karena suara ban busway yang bergesek dengan aspal begitu kencang. Kejadian 7 tahun yang lalu itu selalu membuatnya melamun. Masih beruntung Zeyna mendapat tempat duduk. Butuh waktu setengah jam untuk sampai di rute 27. Tahun ini merupakan semester terakhir Zeyna di universitas. Kampusnya jauh dari tempat kosannya, kosannya pun jauh dari tempat tinggal aslinya. Zeyna mendapatkan beasiswa dan diterima di universitas ternama yang letaknya di Ibu Kota. Dengan buswaylah sehari-harinya Zeyna dapat sampai di tujuannya.

Hampir seharian penuh Ia berada di kampus untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Hingga pukul 5 sore Ia baru bisa keluar dari kampusnya. “13 februari yang sepi” omelnya sambil berjalan menuju halte. “Oh iya, Frey!” teringat akan sesuatu Zeyna segera mengeluarkan sebuah amplop coklat yang bersempel pos amerika yang baru beberapa jam lalu Ia terima dari seorang postman. Zeyna berhenti sejenak untuk membaca isi amplop tersebut.

“Selamat ulang tahun Zeyna, semoga selalu dalam lindungan Tuhan. Aku tak tau harus berkata apa lagi. Maaf jika kau bosan dengan isi surat yang sama seperti 7 surat yang lainnya. Maaf karena Aku tak bisa memberikanmu hadiah yang bagus. Aku beruntung bisa mengenal seseorang sepertimu walau sebentar. Sayangnya jarak tak menginginkanku tuk mengenalmu lebih jauh. Aku ingat wajah takutmu saat naik angkot dan saat menolongku karena kecelakaan. Lucu sekali, haha. Terimakasih untuk 7 tahun yang lalu, terimakasih telah menyemangatiku selalu, terimakasih karenamu Aku bisa jadi seperti sekarang. Zeyna, sejak 7 tahun yang lalu hingga sekarang rasa ini tak pernah pudar. Aku menyayangimu. Maaf jika baru sekarang Aku mengatakannya. Maaf karena Aku tak memberikanmu alamat untuk membalas suratku ini. Maaf karena kau harus menunggu suratku disetiap hari ulang tahunmu. Dan maafkan Aku karena ini surat terakhir yang kau terima”

Air matanya tak sanggup lagi Zeyna tahan. Ia menangis, “Aku juga menyayangimu” Zeyna masih bertahan di tempatnya hingga awan gelap yang sedari tadi di langit menurunkan butir-butir air dengan cepat. Hujan. Zeyna masih menangis di bawah rintikan hujan yang semakin deras, tak peduli bajunya akan basah. Padahal tinggal beberapa langkah lagi Ia sampai di halte. “Aku cinta kamu Frey!” teriak Zeyna dengan suara tersedu-sedu di tengah hujan yang deras, suaranya kalah keras dengan suara hujan yang mengenai atap seng halte, air matanya pun bercambur dengan air hujan. Ia tak peduli dengan para penanti busway yang menatapnya aneh. “Tega kamu Freyyy—”

Tangisannya berhenti ketika seseorang memberikan payung di atas kepalanya dan berkata dengan suara berat, “Aku juga cinta kamu Zeyna”. Zeyna segera membalikan badan, benar saja suara berat itu milik Frey. Air matanya semakin deras, “Seharusnya Aku yang berterimakasih, karena kamu aku jadi berani naik kendaraan umum” ucap Zeyna. “Ak ak aku muak harus menunggu selama ini di halte” suaranya semakin tak jelas didengar. Ia memukul-mukul pelan dada Frey, kesal dibuatnya. Frey tersenyum dan segera memeluk erat Zeyna, “Aku kembali”. “Terimakasih kau mau menugguku untuk selama ini” lanjutnya seraya membelai rambut Zeyna yang basah. Dibawah derasnya hujan dan di dekat halte yang ramai pengunjung, keajaiban yang ditunggu-tunggu pun datang.

Cerpen Karangan: Hasna Asjad Allamah
Facebook: Hasna Asjad
Teman-teman yang ingin bertanya-tanya bisa add FB Hasna Asjad.

Cerpen Halte Dan Keajaiban merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rei Oh Rei

Oleh:
Sejak dulu aku selalu terpaku ketika menatap Rei, sahabatku yang selalu mengenakan seragam putih lusuh yang agak jorok, rambut cokelat tua gondrong yang dihighlight kuning, lengkap dengan matanya yang

Kau Lupa?

Oleh:
“Tunggu!” Aku menahan tangannya. Ia berbalik. Tanpa jawab. Dengan jelas raut wajahnya dapat kubaca, apa lagi? “Tak bisakah kau sedikit memutar waktu kebelakang?” “Tidak, aku terlalu sibuk untuk mengerjakan

Hanya Untuk Menunggu (Lagi)

Oleh:
Aku menatap semu ke sebuah lorong gulita yang bersiluet dan sunyi, entah apa yang aku tunggu seakan pandanganku tak beranjak kabur dan ingin terus menatap kegelapan itu. “tuk.. tuk..

Aku Tak Pantas

Oleh:
Senandung lagu Sheila On 7 dan Iwan Fals menghiburku malam ini, hampir lima kali lagu itu terus diputar di playlist musikku. Sebab, setiap liriknya tak lepas dari apa yang

Selama Kita Masih Memandang Langit Yang Sama

Oleh:
“hei” suara Nada mengagetkanku dari lamunanku. “hayo lagi ngapain pagi-pagi udah ngelamun di jendela, nungguin si itu yah? haha” Pertanyaannya langsung membuatku memerah layaknya udang direbus.. yah, tapi memang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *