Hana

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 1 December 2017

Hana, dalam bahasa Korea artinya ‘satu’ dan dalam bahasa Jepang artinya ‘bunga’. Bunga melambangkan keindahan dan kecantikan, sama seperti dia yang selalu cantik setiap hari.

Perkenalkan namaku Altair Bhagaskara, biasa dipanggil Alta. Aku sekarang duduk di bangku SMA kelas XI-IPS, kebiasaanku sehari-hari di sekolah yaitu belajar dan mengikuti ekskul futsal. Aku bukanlah seorang siswa populer yang setiap hari dikelilingi oleh murid perempuan, aku hanyalah seorang murid kutu buku yang selalu mengkhayal dan banyak mimpi.

Meskipun aku mengikuti ekskul futsal, tapi hanya sedikit orang-orang yang mengenalku. Tak apa orang-orang tak mengenaliku yang jelas aku sangat senang karena ternyata perempuan yang aku sukai mengetahui namaku. Perempuan itu namanya Hana, dia seangkatan denganku namun beda kelas. Dia orangnya sama sepertiku, tidak terkenal. Dia mengikuti ekskul mading dan dia menjabat sebagai sekretaris.

Menurutku Hana itu berbeda dengan murid perempuan yang ada di sekolah ini. Dia itu selalu berpenampilan apa adanya alias natural, disaat perempuan lain mengikuti fashion zaman sekarang dan selalu berpenampilan seperti mau dangdutan, hanya Hana lah satu-satunya perempuan yang tak mengikuti gaya mereka.

Hana, sesuai dengan arti namanya dalam bahasa Jepang yaitu bunga. Ia bagaikan bunga yang paling Indah di antara bunga lainnya, ia memancarkan kecantikan alami dalam tubuhnya, tanpa polesan make-up saja sudah cantik apa lagi kalau memakai make-up pasti ia sangat cantik sekali. Hana itu cantiknya luar dalam, sempurna.

Jam istirahat pertama aku berjalan menyusuri koridor kelas X. Langkahku memelan saat beberapa meter lagi sampai di ruang mading. Aku merasa aneh kepada diriku sendiri karena selalu gugup bila berhadapan dengan Hana, padahal aku sudah sering berbicara dengannya namun tetap saja gugup.

Saat tanganku hendak membuka pintu tiba-tiba pintunya ada yang membukanya dari dalam.

“Alta?”
Aku mundur dua langkah dan tersenyum canggung. “Oh, hai Hana,”
“Hai juga, mau ngirim puisi lagi?”
Aku mengangguk cepat, “Hmm, iya. Ini puisinya.” jawabku sambil menyerahkan selembar kertas berisi puisi yang sudah kutulis dengan rapi.
Hana mengambil kertas tersebut lalu membacanya cepat. Ia tersenyum kecil lalu menatapku. “Puisinya bagus.”
“Makasih… Aku duluan ya.” ucapku.
Hana mengangguk pelan sambil tersenyum. “Iya.” balasnya.
Aku berjalan cepat meninggalkannya, jantungku berdetak kencang saat melihat senyumannya yang manis sekali. Bunga-bunga di hatiku bermekaran seperti di musim semi.

“Alta!”
Aku mendengar ada yang memanggil namaku dan orang itu adalah Deri teman sebangku sekaligus teman satu timku. Deri menepuk bahuku dan nafasnya terengah-engah karena berlari untuk menghampiriku.
“Abis dari mana? Dari tadi dicariin.”
“Dari klub mading, emang ada apa?”
“Yaelaah masih aja kayak gitu, gak ada perubahan sama sekali.” Deri menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum meremehkanku.
Aku menyipitkan mataku malas. “Gak usah dibahas, ada apa nyariin?”
“Kelas kita ditantang main bola ama anak kelas IPS 4.”
“Kapan maennya?”
“Karena nanti guru ada rapat, jadi maennya pas pelajaran ketiga.”
Aku mengangguk pelan. “Oh. Ok! Kantin yuk.”

Kami berdua berjalan menuju kantin untuk mengisi perut karena cacing diperut sudah demo ingin diberi makan. Limabelas menit kemudian bel masuk berbunyi, aku dan Deri segera pergi ke lapangan untuk bermain bola. Teman-teman kelasku dan kelas XI-IPS 4 sudah berkumpul di lapangan. Murid perempuan sudah berkumpul di pinggir lapangan menjadi supporter kami. Kelas IPS 4 memakai kaos olahraga karena kelas mereka sekarang bagian penjas. Sedangkan kelas ku memakai seragam putih abu.

Toni teman sekelasku yang menjadi wasit meniup peluitnya tanda permainan dimulai. Murid perempuan berteriak menyemangati kelasnya masing-masing ada juga yang meneriaki salah satu dari kami.

“Go Alta! Go Alta! Go!”
“Go Jaen! Go Jaen! Go!”
“SEMANGAT!!!”

Deri menggiring bola ke daerah lawan aku segera berlari ke sebelah kanan. “Der!” aku memberi isyarat supaya Deri mengoper bola kepadaku. Deri lalu menendang bola ke arahku, aku menerimanya dengan baik tanpa membuang waktu aku langsung menendangnya ke arah gawang dan bola pun masuk.
“GOOL!!!”

Murid perempuan berteriak kencang sambil bertepuk tangan, teman-temanku merangkulku dan tersenyum senang. Aku melirik kearah penonton dan menemukan Hana yang tengah tersenyum lebar sambil bertepuk tangan. Aku senang melihatnya.

Hana…
Kau adalah bunga yang tumbuh di hatiku
Kau satu-satunya perempuan yang menghiasi hariku
Senyummu menyejukkan hatiku yang gersang
Kehadiranmu mewarnai hariku yang kelabu

Hana…
Suatu saat nanti
Kau akan kujadikan
satu-satunya perempuan yang selalu berada di sisiku
Selalu berada di hatiku.. Selamanya

Karena kau adalah satu-satunya
Dan hanya satu-satunya bunga di hatiku

Aku meletakkan alat tulis ke dalam tasku. Aku sama sekali tidak berniat untuk memberikan puisi —yang baru saja kutulis— kepada Hana. Aku tak mempunyai keberanian dan aku juga takut kalau aku memberikannya nanti dia benci kepadaku, aku tak mau dibenci oleh Hana.

“Napa, Al? Ngelamun aja.”
“Gak kenapa-napa, kantin yuk, Der,” ajakku pada Deri.
Deri menggelengkan kepalanya, “Nggak ah, Al. Aku lagi ngirit uang buat beli sepatu bola baru.”
“Oh, ya udah aku duluan ya.”
Deri mengangguk pelan dan mengangkat sebelah tangannya.
Aku pergi meninggalkan kelas menuju kantin, namun aku merasa curiga pada Deri karena tadi dia tersenyum misterius kepadaku.

Bel masuk berbunyi aku segera kembali kekelas. Kecurigaanku makin besar saat melihat Deri yang terlihat sedang menahan senyum saat melihatku.

“Kenapa, Der?”
Deri berdehem pelan dan menggelengkan kepalanya. “Gak kenapa-napa.”
“Al, ntar jangan dulu pulang ya.” lanjutnya.
“Ada apa emang?” tanyaku bingung.
“Jangan pulang aja dulu.” tegasnya.
Aku hanya mengangguk mengiyakan. “Oke!”

Tak terasa sekarang sudah waktunya pulang, aku membereskan alat tulis ku namun aku belum beranjak dari tempat dudukku. Aku melirik Deri yang hendak pergi. “Der, tunggu kok kamu malah pergi?”
Deri menatapku dan keningnya berkerut. “Lha! Emang sekarang waktunya pulang, Al,”
“Trus tadi kamu nyuruh aku jangan pulang dulu emang ada apa?” tanyaku bingung.
Deri tersenyum lebar sambil menepuk bahuku, “Tunggu aja di sini, nanti juga kamu bakal tau. Udah ya aku pulang duluan.”

Belum aku bertanya lagi Deri sudah terlebih dahulu berlari meninggalkanku sendirian. Aku hanya menghela nafas panjang, aku tidak tau kenapa Deri menyuruhku jangan pulang terlebih dahulu, apa ada hal penting untukku? Entahlah.

Hampir sepuluh menit aku menunggu namun tidak ada tanda-tanda yang aneh di kelas ini, aku merasa kesal karena mau-maunya dibodohi oleh Deri, dan aku juga kesal kenapa aku percaya begitu saja dengan apa yang diucapkan oleh Deri, padahal teman sebangkuku itu orangnya suka jahil.

Aku berjalan meninggalkan kelas dengan perasaan jengkel. Awas ya Deri, tunggu pembalasanku. Gerutuku dalam hati. Saat sampai di depan pintu, aku kaget melihat seseorang sedang berdiri sambil menyandarkan punggungnya ke dinding.

“Hana?”
“Alta?”

Kami berdua sama-sama diam dan saling pandang, aku langsung tersadar dan mengerjapkan mataku beberapa kali, Hana pun melakukan hal yang sama.

“Ada apa, Hana?”
Hana menggerakkan bola matanya gelisah, ia tersenyum kecil sambil menatapku. “Emm, makasih ya puisinya.”
Aku mengernyit bingung. “Puisi apa?”
Hana membuka ranselnya dan mengeluarkan sesuatu. Ia kemudian menyerahkan secarik kertas dan bunga Mawar putih. Aku mengambilnya dan membaca kertas tersebut. “Ini kan..” aku mengerjapkan mata tak percaya.
“Puisi itu tentang aku kan?”
Aku menelan ludah, bagaimana bisa puisi ini ada di tangan Hana. “I-itu, itu tidak seperti yang kau ba-” belum selesai aku menjelaskan, Hana sudah terlebih dahulu memotong ucapanku.
“Makasih puisinya, aku suka kok, Al,” Hana tersenyum manis padaku. Aku terpesona melihat senyumannya.

Hana kaulah satu-satunya bunga yang abadi di hatiku

Cerpen Karangan: Rika Santia Sunari
Facebook: Rika Aldebaran

Cerpen Hana merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Dan Kelulusan

Oleh:
Bulan Mei sudah tiba, saatnya bagiku dan semua teman temanku mengucapkan kata kata terakhir untuk bangku sekolah kami. Masa sekolah kami terisi oleh banyak hal yang tidak terlupakan. Begitu

Hari Yang Sial

Oleh:
Jam menunjukkan pukul 5 pagi. Aku langsung bangun dan pergi mandi lalu salat. Sudah itu memakai baju sekolah dan berangkat sekolah. Nama sekolahku SMPN 01 Palabuhanratu, tidak mewah sih

Tabik Sang Pahlawan

Oleh:
Sebagian orang menganggap hari Senin adalah hari yang menyebalkan dan menjengkelkan, bahkan ada yang menjuluki hari Senin sebagai Monster Day. Tapi tidak untuk Kiana, baginya hari Senin merupakan hari

Gadis Pikun

Oleh:
Kendaraan yang paling disukai sindi adalah angkot, bagi sindi angkot adalah kendaraan yang paling setia mengantar dia ke manapun ia mau. Hari ini sindi berangkat sekolah naik angkot dengan

Cinta Datang Terlambat

Oleh:
“mau sampai kapan jomblo din?” Tanya fitri dengan mulut dipenuhi makanan. “jodoh di tangan Tuhan kali, ngomongin jodoh mah urusan belakangan aja fit” jawabku lirih. “tapi kan, semenjak putus

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *