Hati Yang Terluka (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 15 December 2018

Hari ini adalah hari pertama Sherin bersekolah di sekolah barunya. Alasan Sherin pindah ke sekolah tersebut adalah ingin lebih mengenal sosok yang bernama Kenneth Albrian. Padahal sekolahnya yang dulu merupakan sekolah unggulan di daerahnya. Ya, Sherin sudah jatuh cinta kepada Kenneth sejak pertama kali melihatnya di perlombaan basket yang diadakan di sekolahnya.

“Perkenalkan nama saya Sherin Inggira, biasa di panggil Sherin.” Ucap Sherin memperkenalkan dirinya.
“Baiklah, Sherin kamu duduk di sana.” Ucap Bu Tari sambil menunjuk ke arah salah satu kursi yang kosong di barisan kedua dari depan.

“Hai, nama gue Olin.” Olin yang merupakan teman duduk Sherin mengulurkan tangannya untuk mengajaknya berkenalan.
“Sherin.” Sherin meraih uluran tangan Olin sambil tersenyum.
“Hari ini tidak ada guru yang masuk mengajar karena ada rapat di aula. Jadi kalian jangan membuat keributan di kelas.” Ucap Bu Tari sebelum meninggalkan kelas.

Setelah kepergian Bu Tari, kelas yang tadinya tenang berubah menjadi ribut. Laki-lakinya mulai bermain kartu remi, sedangkan perempuannya sudah membuat salon dadakan dengan mengeluarkan semua alat make up mereka.
“Gini nih kalau guru nggak masuk, kelas berubah jadi kayak pasar, ribut bener.” Ucap Olin.
“Sekolah gue dulu, juga kayak gini kalau lagi free.” Ucap Sherin.
“Woyy, kalian semua bisa diam gak sih. nggak denger tadi pesan Bu Tari. JANGAN RIBUT.” Teriak Aldo yang merupakan ketua kelas. Merasa tidak di pedulikan, Aldo maju ke depan kelas.
Brakkk
Aldo menendang meja sehinggak menimbulkan suara yang cukup keras. Semua siswa yang tadinya ribut kini fokus melihat Aldo.
“Gue sebagai ketua kelas harus mengamankan kelas supaya tidak ribut. Gue nggak larang kalian untuk main kartu atau melakukan kegiatan lainnya. Tapi kalian jangan ribut, bisakan main nggak pake ribut segala?” Ucap Aldo.
“Tapi nggak seru, Do. Main tanpa ribut itu, kayak sayur tanpa garam tau. Hambar.” Protes Reno tidak setuju dengan perkataan Aldo.
“Ya udah, yang mau ribut silahkan.” Ucapan Aldo belum selesai karena dipotong oleh Reno.
“Thanks, Do. Lo emang ketua kelas yang pengertian deh.” Ucap Reno.
“Gue belum selesai bicara, Reno. Yang mau ribut boleh saja, tapi nama kalian gue kasi ke Bu Tari, biar nilai kalian diturunin, gimana?” Ucap Aldo sambil tersenyum miring.
“Yah. nggak asik lo, Do.” Keluh Reno.
“Masih untung kelas ini punya ketua kelas kayak Aldo.” Ucap Olin sambil menopang dagunya di atas meja dengan arah pandangannya tertuju pada Aldo.
Sherin hanya tersenyum mendengar ucapan Olin. Kelas sudah menjadi sedikit lebih tenang setelah mendengar ucapan Aldo tadi.

“Olin, gue boleh nanya nggak?” Tanya Sherin.
“Mau nanya soal apa?” Ucap Olin.
“Lo tau nggak siswa yang namanya Kenneth Albrian.” Ucap Sherin.
“Maksud lo, Kenneth yang kapten basket itu.”
“Iya, lo kenal nggak?” Kini Sherin sudah duduk menghadap ke Olin.
“Ya iyalah, orang dia itu sepupu gue.” Ucap Olin.
“Lo bisa nggak ngenalin gue sama dia.” Pinta Sherin dengan mata yang berbinar binar ke Olin berharap permintaannya dikabulkan.
“Lo suka sama Kenneth, ya?” Ucap Olin yang dibalas anggukan oleh Sherin.
“Lo nggak tau sikap Kenneth itu kayak gimana, dia itu cowok yang cuek abis, tau nggak? Gue aja yang sepupunya diecuekin sama dia.” Ucap Olin dengan nada yang sedikit kesal.
“Gue mohon bantuin gue, ya?” Sherin menautkan tangannya di depan dadanya memohon agar Olin dapat membantunya.
“Gue mau nanya alasan lo pindah ke sini, setahu gue sekolah lo itu merupakan sekolah yang cukup unggul, kan?” Tanya Olin.
“Gue pindah ke sini itu supaya bisa lebih dekat sama Kanneth.” Ucap Sherin sambil tersipu malu.
“Ck, segitu sukanya lo sama Kenneth.” Ucap Olin
“Gini aja deh, gue anterin lo ketemu sama Kenneth, selebihnya lo yang urus sendiri, ya.” Usul Olin yang langsung dibalas angguka oleh Sherin.

Sherin dan Olin berjalan bersisian di koridor dekat lapangan basket. Sherin cukup menyita perhatian orang-orang yang juga ada di koridor tersebut, terlebih lagi para cowoknya. Mereka menatap Sherin dengan tatapan memuja. Sherin memang salah satu cewek yang dikaruniai tubuh yang bisa dikatakan menghampiri kata sempurna. Tubuhnya yang tinggi, kulit yang putih, hidung yang mancung, dan juga lesung pipit yang ada di kedua pipinya.

Sherin dan Olin menghampiri Kenneth yang sedang mendribble bola.
“Kenneth.” Merasa namanya dipanggil, Kenneth menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah sumber suara.
“Ada yang mau ketemu sama lo.” Olin memberi kode kepada Sherin untuk segera mendekat ke arah Olin dan Kenneth berada.
“Hai.” Sapa Sherin. Kenneth memandang Sherin dengan tatapan bingung.
“Kenalin nama gue Sherin.” Sherin mengulurkan tangannya untuk mengajak Kenneth berkenalan. Tapi Kenneth hanya menatap tangan Sherin yang menggantung di udara tanpa meraihnya sedikit pun. Merasa diabaikan, Sherin kembali menarik tangannya.
“Lo ingat nggak, tim cheers waktu lo ikut pertandingan basket di sekolah SMA Blue Sky. Gue salah satu anggotanya, gue liat waktu lo main basket, keren banget tau nggak.” Ucap Sherin bersemangat.
“Gue bela-belain pindah ke sini untuk bisa kenal lo lebih dekat lagi, boleh kan?” Tambah Sherin.
“Kurang kerjaan banget.” Ucap Kenneth sebelum meninggalkan lapangan basket.
“Tuh kan gue bilangin juga apa, dia itu cuek abis.” Ucap Olin.
“Gue pindah ke sini supaya bisa lebih mengenal Kenneth, jadi gue bakalan terus usaha untuk dekat sama dia.” Ucap Sherin optimis.
“Gue Cuma bisa dukung lo doang, Rin.” Olin menepuk pundak Sherin.
“Thanks. Gue seneng bisa dapat teman kayak lo, Lin.” Ucap Sherin.

“Perfect.” Ucap Sherin melihat tubuhnya di depan cermin. Biasanya, Sherin hanya mengucir rambutnya, tapi hari ini ia biarkan rambutnya di gerai, Sherin juga menambahkan bandana di atas kepalanya.
Sherin duduk di meja makan sambil menikmati sarapannya. Seperti biasa, Sherin hanya sarapan seorang diri, tanpa kehadiran ayah ataupun mamanya. Kedua orangtua Sherin sudah bercerai, mamanya sudah menikah lagi dan ayahnya pergi ke Jerman membantu bisnis yang di jalankan oleh keluarganya. Sebenarnya Sherin sudah di ajak ke Jerman oleh ayahnya, tapi Sherin menolak dengan alasan banyak kenangan yang akan ia tinggal di rumah ini. Jadi Sherin memilih untuk tetap tinggal di rumah itu. Di rumah ini hanya ada pembantu dan supir yang biasa mengantar Sherin.

Sherin berjalan menyusuri koridor menuju kelasnya. Ia melihat Olin yang sudah terlebih dahulu datang.
“Pagi Olin.” Sapa Sherin. Olin yang sedari tadi memainkan hpnya langsung menatap Sherin sambil tersenyum.
“Pagi, Rin.” Ucap Olin.
Pak Raka yang merupakan guru matematika sudah memasuki kelas. Seperti murid lainnya, Sherin juga merasa pusing jika berurusan dengan yang namanya matematika.

Tingg tinggg
Bel tanda istirahat mengakhiri pelajaran matematika.
“Sherin, kita ke kantin, yuk.” Ajak Olin setelah membereskan buku-bukunya di atas meja.
“Ayo.” Ucap Sherin.

Sesampainya di kantin, Sherin dan Olin pergi memesan makanan.
“Rin, lo mau duduk di mana?” Tanya Olin sambil memegang makan yang tadi ia pesan. Sherin mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kantin. Ekor mata Sherin melihat Kenneth yang tengah duduk sendiri di pojok kantin.
“Kita ke sana aja, Lin.” Ucap Sherin. Olin hanya mengikuti Sherin dari belakang.
“Di samping lo kosong, gue sama Olin boleh duduk nggak?” Ucap Sherin setelah sampai di dekat Kenneth. Kenneth tidak menjawab ucapan Sherin, ia lebih memilih fokus menghabiskan makanannya. Merasa tidak di respon, Sherin memilih untuk duduk di samping Kenneth.
“Gue seneng banget bisa satu sekolahan sama lo.” Ucap Sherin.
“Gak heran deh, kalau lo itu jadi kapten basket, lo mainnya jago banget, sih.” Sherin masih berusaha memancing Kenneth agar mau mengobrol dengannya.
“Selain suka olahraga basket, lo suka olahraga apa lagi, Ken?”
“Ken, Sherin ngajak lo ngobrol, kok lo nggak jawab sih.” Olin yang sedari diam merasa kesal kepada Kenneth karena mengabaikan Sherin.

Setelah menghabiskan makanannya, Kenneth bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari kantin. Olin mendengus melihat sikap Kenneth yang sangat cuek.
“Gue heran kenapa Kenneth bisa jadi cuek gitu.” Gumam Olin.
“Loh, emangnya dulu Kenneth kayak gimana.” Tanya Sherin.
“Dulu Kenneth itu orangnya ramah, tapi pas masuk SMA dia berubah jadi dingin, cuek banget. Gue nggak tau alasannya kenapa dia berubah.” Ucap Olin.
“Gue udah kenyang nih, balik ke kelas, yuk.” Ucap Olin
“Iya, makanan gue juga udah abis.”

Sherin dan Olin berjalan menuju ke kelasnya. Setelah memasuki kelas, mereka berjalan ke arah kursi mereka.
“Lin, sepulang sekolah gue ada rapat bentar, nggak lama kok.” Ucap Aldo kepada Olin.
“Iya, gue tungguin kok.” Ucap Olin
“Lo berdua pacaran, ya?” Tebak Sherin.
“Iya, Rin. Udah jalan satu tahun.” Ucap Olin.
“Long langest, ya?” Ucap Sherin.
“Thanks, Rin.” Ucap Aldo.
“Gue mau ke toilet dulu, ya?” Pamit Sherin kepada Olin.

Setelah dari toilet, Sherin berjalan menuju kelasnya kembali. Tapi, ditengah perjalanan Sherin melihat Kenneth dan teman-temannya sedang bermain basket. Sherin berdiri di pinggir lapangan untuk melihat permainan basket mereka.
“KENNETH GO GO GO.” Teriak Sherin sambil menari-nari menirukan gerakan cheerleader yang biasa ia lakukan di sekolahnya dulu.

“Ken, itu siapa panggil-panggil nama lo, kok gue baru liat, ya?” Tanya Gino teman Kenneth.
“nggak tau gue.” Ucap Kenneth sambil mendribble bola lalu melemparnya ke ring.
“Yeee.” Teriak Sherin melihat bola yang dilempar Kenneth berhasil masuk ke dalam ring.
“Cantik Ken, kalau lo nggak mau, buat gue aja deh.” Ucap Gino yang dibalas dengusan oleh Kenneth.

Sherin melihat Kenneth dan teman-temannya sudah berhenti bermain basket. Sherin kemudian berjalan ke arah Kenneth dan teman-temannya.
“Hai.” Sapa Sherin.
“Hai.” Ucap teman-teman Kenneth, Kenneth hanya melirik Sherin sekilas.
“Kok gue nggak pernah ngeliat lo di sekolah. Lo anak baru, ya?” Tanya Gino.
“Iya, baru kemarin gue pindahnya.” Jawab Sherin.
“Oh ya Ken, permainan basket lo tadi keren banget, tau nggak.” Ucap Sherin.
“Kapan-kapan gue boleh minta di ajarin main basket sama lo, ya.” Lanjut Sherin.
“nggak.” Ucap Kenneth datar.
“Kalau Kenneth nggak mau, gue bisa kok ngajarin lo main basket.” Tawar Gino.
“Makasih, tapi gue pengennya Kenneth yang ngajarin gue, boleh ya?” Pinta Sherin kepada Kenneth.
“Gue nggak bisa.” Ucap Kenneth lalu berlalu dari hadapan Sherin.
Sementara dari jauh, Olin mengamati semua hal yang dilakukan Sherin tadi.
“Gue harap Sherin bisa ngilangin sifat cueknya Kenneth.” Gumam Olin.

Keesokan harinya, Sherin datang ke sekolah dengan membawa sekotak coklat. Rencananya ia akan mengungkapkan isi hatinya kepada Kenneth hari ini. Mungkin Sherin belum terlalu mengenal Kenneth, tapi ia sudah yakin dengan perasaannya kepada Kenneth.
“Lo beneran mau ngungkapin perasaan lo sama Kenneth.” Tanya Olin memastikan.
“Iya, Lin. Gue nggak peduli kalau nanti gue ditolak, yang penting gue udah ngaku sama dia.” Ucap Sherin optimis.
“Ya udah deh. Gue Cuma bisa doain lo doang.” Ucap Olin.

Sherin melihat Kenneth melewati kelasnya. Ia kemudian berlari mengejar Kenneth lalu berhenti di hadapannya.
“Lo ngapain ngalangin jalan gue.” Ucap Kenneth bingung.
“Mungkin ini terlau cepat buat gue, tapi gue udah yakin sama perasaan gue sendiri.” Ucap Sherin yang masih menundukkan kepalanya.
“Gue nggak peduli lo mau ngatain gue kayak gimana. Gue Cuma mau ngungkapin perasaan gue sama lo, kalau gue itu, suka sama lo.” Sherin mendongakkan kepalanya menatap mata Kenneth. Siswa yang berada di koridor tersebut kaget melihat aksi Sherin yang mengungkapkan perasaanya kepada Kenneth.
“Gue nggak minta apa-apa sama lo. Gue Cuma mau ngungkapin perasaan gue ini. Oh ya, ini coklat buatan gue sendiri.” Ucap Sherin sambil menyodorkan kotak coklat yang sedari tadi ia pegang. Kenneth tidak mengambil kotak tersebut, ia memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanannya. Merasa diabaikan, Sherin kembali mengejar Kenneth.
“Kalau lo nggak bisa bales perasaan gue, setidaknya lo terima ni coklat. Gue udah susah-susah buatin ini Cuma buat lo.” Sherin menarik tangan Kenneth lalu memberikan kotak tersebut. Kenneth hanya melihat punggung Sherin yang perlahan menjauh dan menghilang dari pandangannya.

Kenneth duduk di sebuah cafe sambil meminum kopi yang baru saja ia pesan.
“Kenneth?”
“Karin?” Ucap Kenneth
“Gue nggak nyangka bisa ketemu sama lo di sini.” Ucap Karin.
“Gue baru kembali dari Singapura kemarin.” Lanjut Karin. Kenneth masih tidak mengeluarkan suara.
“Ken, soal kejadian waktu itu, gue minta maaf.” Ucap Karin.
“Gue tahu waktu itu lo pasti kecewa banget sama gue, gue minta maaf. Gue kembali ke sini supaya gue bisa memperbaiki hubungan kita lagi.” Ucap Karin lagi.
“nggak ada yang perlu diperbaikin lagi, Rin.” Ucap Kenneth.
“Gue nyesel banget ninggalin lo waktu itu. Gue nggak bisa lupain lo, gue terus kepikiran lo di sana. Dan gue yakin lo masih cinta sama gue.” Ucap Karin.
“Gue pengen kita balik kayak dulu lagi, Ken” Tambahnya.

Sherin memasuki sebuah cafe yang di dalamnya ada Kenneth dan juga Karin. Kenneth yang melihat keberadaan Sherin di cafe tersebut langsung melambaikan tangannya ke arah Sherin.
“Sherin.” Panggil Kenneth. Sherin yang mendengar namanya di panggil langsung menoleh ke arah Kenneth. Sherin kemudian berjalan ke meja Kenneth.
“Lo duduk di sini.” Ucap Kenneth. Sherin kemudian duduk di samping Kenneth. Karin hanya diam melihat Kenneth dan juga Sherin.
“Ken, ini apa?” Tanya Karin bingung melihat Kenneth yang menggenggam tangan Sherin di atas meja. Sementara Sherin hanya diam memandangi tangannya yang di genggam oleh Kenneth.
“Gue udah punya pacar, dan ini pacar gue.” Ucap Kenneth sambil menunjukkan tautan tangannya dengan Sherin.
“Ken, lo nggak mungkin bisa lupain gue.” Ucap Karin dengan air mata yang sudah menumpuk di matanya.
“Gue minta maaf, Rin. Gue nggak bisa balik lagi sama lo. Gue udah punya Sherin.” Ucap Kenneth. Sherin masih terdiam, ia belum bisa mengeluarkan suaranya. Ia masih bingung dengan apa yang terjadi sekarang ini.
“Ken?” Ucap Karin lirih. Kenneth tidak tahan melihat Karin yang sudah menangis di depannya. Ingin rasanya ia menghapus air matanya, tapi mengingat apa yang sudah Karin lakukan kepadanya dulu, menjadi alasan Kenneth untuk tidak kembali lagi padanya.
“Gue duluan, Rin.” Kenneth menarik tangan Sherin keluar dari cafe tersebut. Sepeninggalan Kenneth, Karin mulai terisak, ia sangat menyesal telah meninggalkan Kenneth.

Setelah cukup jauh dari cafe, Kenneth melepaskan tangan Sherin.
“Gue baleh minta tolong, nggak?” Tanya Kenneth.
“Minta tolong apa.” Ucap Sherin.
“Gue minta lo pura-pura jadi pacar gue kalau di depan Karin.” Ucap Kenneth.
“Karin?” Tanya Sherin.
“Cewek yang di cafe tadi.” Jawab Kenneth.
“Oh, emangnya kenapa lo harus pura-pura punya pacar di depannya Karin?” Tanya Sherin bingung.
“Ya udah kalau lo nggak mau.” Kenneth berjalan meninggalkan Sherin. Sherin dengan sigap mencekal tangan Kenneth.
“Gue bakal bantuin lo.” Ucap Sherin.
“Setidaknya dengan ini, gue bisa lebih dekat sama lo, Ken.” Batin Sherin.

Cerpen Karangan: Widia Astuti
Blog / Facebook: Widia Astuti

Cerpen Hati Yang Terluka (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Skor Imbang

Oleh:
Mata Satria berkedip-kedip sebelah di saat dia tak sengaja bertatap muka dengan seorang cewek di mini market. Cewek cantik itu tersipu malu dan beranjak pergi. Edo yang berada di

Cinta Yang Tersakiti

Oleh:
“Teettt…” bel istirahat berbunyi semua siswa berhamburan ke luar kelas termasuk aku. Tiba-tiba ada seseorang yang menarik tanganku dan ternyata itu Angga. “Angga kamu ngagetin aja sih.” Kataku sedikit

Rabu di Purnawarman

Oleh:
Besok adalah hari rabu, eumm.. aku merasa gak sabar menunggu besok itu datang. KRING! KRING! KRING! Suara jam weker itu membangunkan tidur lelapku tepat di jam 04.00 am. Hari

Askar

Oleh:
Untuk masalah cinta, kita bisa memilih siapa orang yang ingin kita cintai, siapa orang yang ingin kita jadikan teman hidup. Tapi pada kenyataannya kita tak bisa mengelak ketika si

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *