Hati Yang Terluka (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 15 December 2018

“Lo kok bisa ada di sekolah ini?” Tanya Kenneth bingung melihat keberadaan Karin di sekolahnya.
“Gue pindah ke sini, Ken. Gue bakalan bikin lo balik lagi sama gue.” Ucap Karin tersenyum.

Dari jauh Sherin melihat Kenneth dan Karin. Ia kemudian berlari menghampiri mereka.
“Kenneth.” Ucap Sherin sambil menggandeng tangan Kenneth.
“Gue udah lapar nih, kita ke kantin yuk.” Ajak Sherin yang di balas anggukan oleh Kenneth. Sebelum pergi, Sherin sempat berbalik sambil tersenyum ke arah Karin.

Sesampainya di kantin, Kenneth melepaskan tangan Sherin dari tangannya.
“Lain kali nggak usah kayak gini.” Ucap Kenneth datar.
“Biar lebih meyakinkan lagi, kalau kita itu pacaran.” Ucap Sherin tersenyum.

“Sherin!” Panggil Olin yang ternyata juga ada di kantin bersama dengan Aldo.
“Kita duduk di sana aja, Ken.” Ajak Sherin sambil menunjuk meja yang di tempati oleh Olin.
“nggak, lo aja.” Tolak Kenneth.
“Nurut aja sih Ken. Kan gue juga pacar lo.”
“Lo itu Cuma pacar boongan gue, lagian kan kita Cuma akting di depannya Karin doang.” Ucap Kenneth.
“Lo nggak bosan apa, makan sendiri mulu. Sekali-kali makan bareng nggak papa, kan?” Sherin menarik tangan Kenneth mendekat ke meja tempat Olin duduk.

“Hai, Lin, Do.” Sapa Sherin kepada Olin dan Aldo.
Sherin dan Kenneth duduk berhadapan. Olin dan Aldo memandang Sherin dan Kenneth secara bergantian, suasana pun menjadi sedikit canggung.
“Gue pesen makan dulu.” Ucap Kenneth.
“Sekalian pesenin gue ya, Ken. Makanannya samain aja sama lo.” Pinta Sherin
Sebelum Kenneth mengeluarkan suaranya, Sherin langsung memberikan kode melalui gerakan matanya mengenai kehadiran Karin. Kenneth yang langsung menangkap kode tersebut lantas tersenyum.

“Nanti sekalian gue pesenin lo.” Ucap Kenneth sambil mengacak-acak puncak rambut Sherin.
“Sherin, Kenneth kok bisa berubah kayak gitu sih?” Tanya Olin bingung melihat perubahan sikap Kenneth.

Belum sempat Sherin menjawab pertanyaan Olin, seseorang sudah terlebih dahulu menyelanya.
“Lo Olin, kan?” Tanya Karin.
“Karin?” Ucap Olin.
“Lo kapan pindahnya ke sini?” Tanya Olin.
“Baru hari ini, Lin.” Jawab Karin sambil duduk di samping Olin. Sherin menatap mereka bingung. Tak lama kemudian, Kenneth datang sambil membawa dua mangkok bakso.
“Ini.” Kenneth langsung membuang mukanya setelah melihat Karin.
“Makasih, Ken.” Ucap Sherin. Sherin yang menyadari jika sedari tadi Karin terus menatap Kenneth.
“Ken, buka mulut lo.” Ucap Sherin berniat untuk menyuapi Kenneth. Kenneth pun langsung membuka mulutnya.
“Gue juga mau nyobain punya lo dong.” Pinta Sherin sambil membuka mulutnya berharap Kenneth mau menyuapinya juga.
“Rasanya kan sama aja, Rin.” Sherin langsung cemberut sambil menundukkan kepalanya menatap bakso yang ada di hadapannya.
“Nih.” Kenneth menyodorkan bakso ke mulut Sherin.
“Gue berharap kita bisa kayak gini terus, Ken.” Batin Sherin.
Sementara itu, Karin menatap nanar ke arah Kenneth.

Setelah dari kantin, Olin langsung menarik tangan Sherin untuk duduk di bangkunya.
“Lo sama Kenneth kenapa? Kalian pacaran, ya? Tapi, kemarin Kenneth nolak lo, kan? Kok jadi berubah kayak gini? Lo apain Kenneth, Rin?” Olin memberikan pertanyaan secara beruntun kepada Sherin.
“Nanyanya satu-satu dong, Lin.”
“Jadi kemarin itu gue emang di tolak sama Kenneth. Tapi, pas pulang sekolah, gue ketemu sama Ken di cafe, di sana juga ada Karin. Nah, di situ Kenneth minta gue pura-pura jadi pacarnya di depan Karin. Gue seneng banget, Lin. Ya, meskipun Kenneth Cuma jadiin gue pacar bo’ongannya.” Jelas Sherin.
“Jadi, Kenneth minta lo jadi pacar pura-puraanya di depan Karin?” Tanya Olin yang di balas anggukan oleh Sherin.
“Eh, tapi Karin itu siapanya Kenneth” Tanya Sherin.
“Dulu itu, Karin sempet pacaran sama Kenneth.”
“Trus kenapa mereka putus?” Tanya Sherin lagi.
“Gue nggak tau persis sih penyebabnya apa mereka putus.” Ucap Olin.
“Oh ya. Lo tau alamat Kenneth nggak?” Tanya Sherin.
“Gue tau, emangnya lo mau ngapain?”

Sherin mengetuk pintu rumah Kenneth.
“Cari siapa ya?” Tanya orang yang membuka pintu.
“Kenneth, tante.” Jawab Sherin.
“Kenneth baru mandi, masuk dulu, yuk.” Ucap Ratna yang merupakan mama Kenneth.

Sherin melihat Ratna sedang sibuk menyiapkan sarapan di dapur, langsung menghampirinya.
“Sherin bantuin ya, tan.” Ucap Sherin sambil mengambil wortel dan pisau.
“nggak usah, kamu duduk aja.” Tolak Ratna.
“nggak papa, Tan. Sherin udah biasa kok masak.” Ucap Sherin yang dibalas senyuman oleh Ratna.

“Sherin, lo kok bisa ada di sini?” Tanya Kenneth yang melihat Sherin menyiapkan makanan di atas meja makan.
“Wahh, siapa nih?” Tanya Alfa yang merupakan Ayah Kenneth.
“Temannya Kenneth, yah.” Jawab Ratna sambil mengambilkan nasi ke piring Alfa dan juga Kenneth.
“Lo ngapain ke rumah gue?” Tanya Kenneth.
“Gue mau berangkat bareng sama lo.” Jawab.
“Gue nggak mau, lo berangkat sendiri aja.” Ucap Kenneth.
“Tapi supir gue, udah gue suruh pulang.”

“Kenneth kamu berangkatnya sama Sherin aja. Kasian dia udah datang pagi-pagi ke sini loh.” Ucap Ratna.
“Iya, Ma.” Ucap Kenneth singkat.
“Nih, kamu makan yang banyak, ya. nggak usah malu.” Ratna menyendokkan nasi ke ke piring Sherin.
“Kapan keluarga gue kayak gini?” Batin Sherin.

Setelah selesai sarapan, Kenneth dan Sherin berpamitan kepada Ratna dan juga Alfa.
“Kita naik motor?” Tanya Sherin.
“Kenapa? nggak mau, ya udah lo berangkat sendiri aja.” Ucap Kenneth datar.
“nggak, gue mau kok.” Sherin menerima helm yang di berikan Kenneth. Sherin hanya berpegangan pada tas ransel Kenneth.

Ketika ingin memasuki kelas, tangan Kenneth di tarik seseorang. Kenneth pun di bawa ke belakang kelas.
“Lo mau ngomong apa, Rin.” Tanya Kenneth.
“Ken, maafin gue. Gue emang salah karena udah ninggalin lo, gue nyesel, Ken.”
“Gue mau kita balik lagi kayak dulu, Ken.” Karin menggenggam ke dua tangan Kenneth.
“Rin, gue udah kecewa banget sama lo. Lo udah nngekhianatin gue. Lo pikir gue nggak tau, kalau selama kita pacaran lo sering banget selingkuhin gue, Rin. Gue Cuma pura-pura nggak tau, itu karena gue sayang banget sama lo. Gue nggak mau kehilangan lo. Gue terus bertahan, berharap lo bisa ngeliat gue. Tapi, pas anniversary kita yang pertama lo putusin gue, Rin. Dan dengan mudahnya lo ninggalin gue dan milih pacaran sama sahabat gue sendiri.” Karin mulai menangis mendengar penuturan Kenneth.
“Setelah lo lakuin itu sama gue, lo mau gue maafin lo, Rin? nggak. Gue belum bisa, Rin.” Kenneth melepaskan genggaman tangan Karin.
Kenneth berjalan meninggalkan Karin yang masih menangis. Tanpa mereka sadari, Sherin melihat semua kejadian antara Karin dan Kenneth.
“Gue harap gue bisa nyatuin hati lo yang udah patah” Batin Sherin.

Bel pulang sudah berbunyi, semua siswa satu persatu mulai meninggalkan sekolah. Tapi, Sherin masih duduk sambil melihat ke arah lapangan basket. Tepatnya ia melihat Kenneth yang sedang latihan bermain basket bersama teman-temannya. Sherin hanya sesekali berteriak ketika Kenneth berhasil memasukkan basket ke ring. Kenneth malah bermasa bodoh dengan kehadiran Sherin, sedangkan teman-temannya yang lain sibuk mencuri-curi pandang ke arah Sherin.

“Ken, lo udah mau pulang?” Kenneth mengambil tasnya lalu berjalan ke parkiran sekolah.
“Hhmm.” Gumam Kenneth.
“Anterin gue pulang dong.” Pinta Sherin.
“Lo pulang aja sendiri.” Ucap Kenneth datar.
“Lo nggak kasian apa sama gue, gue udah nungguin lo latihan selama tiga jam, loh.” Ucap Sherin.
“Gue nggak nyuruh lo buat nungguin gue, kan?”
“Ya, sebagai pacar yang baik, gue harus semangatin lo pas latihan, kan?”
“Udah gue bilang berapa kali, kita itu Cuma pacar bo’ongan. nggak usah berlebihan.” Ucap Kenneth masih dengan nada datarnya.
“Anterin gue pulang, ya. Itung-itungkan sebagai balas budi lo ke gue, kan gue udah bantuin lo.” Sherin menautkan tangannya di depan dadanya.
“Lo nggak ikhlas?”
“nggak gitu juga, Ken.”
“Ya udah. Cepetan naik, mau hujan nih.” Langit memang terlihat mendung menandakan akan segera turun hujan.
Dengan semangat 45, Sherin naik ke motor Kenneth.

Hujan mulai turun ketika mereka sudah sampai di rumah Sherin.
“Ken, lo masuk dulu. Pulangnya nanti aja, pas hujannya reda.” Hujan saat itu memang cukup deras.
“nggak papa, bentar juga gue sampai di rumah.” Ucap Kenneth sambil meraih helmnya untuk kembali di pakai. Tapi, tangan Sherin malah menarik helm itu dari Kenneth.
“Nanti lo sakit, Ken. Tungguin bentar kenapa, sih.” Sherin menarik tangan Kenneth masuk ke rumahnya. Kenneth hanya mengekori Sherin dari belakang.
“Lo duduk di sini aja.” Sherin meninggalkan Kenneth di ruang tamu.

Setelah mengganti pakaian seragamnya dengan pakaian rumahan, Sherin keluar sambil membawa secangkir teh hangat di tangannya.
“Nih minum, supaya badan lo lebih hangat.” Kenneth langsung meminum teh yang diberikan Sherin. Kenneth mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah Sherin. Ia bingung karena tidak ada siapapun di rumah Sherin.
“Orangtua gue nggak ada.” Ucap Sherin yang menyadari gerak-gerak Kenneth.
“Kemana?” Tanya Kenneth.
“Orangtua gue udah pisah, mama gue udah nikah lagi dan ikut suaminya ke Palembang, sedangkan Papa gue ngurusin bisnisnya di Jerman.” Ucap Sherin sambil tersenyum miris.
“Sorry, gue nggak tau kalau orangtua lo udah pisah.” Ucap Kenneth dengan nada menyesal. Keduanya pun terdiam, sampai akhirnya Sherin membuka suaranya.
“Ken, gue kangen banget sama mama papa gue.”
“Waktu mereka cerai, gue Cuma bisa diam karena gue pikir, mungkin itu yang terbaik untuk mereka. Dan waktu mama papa gue ninggaklin rumah ini, gue juga diam. Gue selalu berusaha untuk ngertiin mereka. Tapi, apakah mereka pernah ngertiin perasaan gue? nggak, mereka bahkan nggak pernah jengukin gue. Gue nggak minta mereka untuk selalu ada buat gue, gue Cuma minta mereka sesekali datang ke sini untuk makan bersama sama gue.” Air mata Sherin sudah tumpah, sedangkan Kenneth hanya diam mendengar cerita Sherin.
“Gue kadang iri sama teman-teman gue. Gue juga pengen rasain gimana rasanya dikhawatirin kalau gue nggak ada dirumah. Gue juga pengen dipeluk mama kalau gue lagi sedih. Gue, gue kangen sama mereka, Ken.” Sherin menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tidak ada yang Kenneth lakukan, ia hanya diam tanpa berniat mengeluarkan suara.
“Argghh, kenapa gue jadi cengeng gini, sih.” Sherin menghapus air matanya.
“Hujannya sudah reda, Ken.” Kenneth baru menyadari jika sedari tadi hujan sudah berhenti.
“Ya udah, gue balik dulu.”
“Hati-hati.” Ucap Sherin sembari tersenyum.

Menurut informasi dari Olin, setiap hari minggu, Kenneth akan menghabiskan waktu paginya dengan naik sepeda. Hari ini, Sherin bersiap-siap ke rumah Kenneth untuk mengajaknya bersepeda bersama.

“Tante, Kennethnya ada.” Ucap Sherin kepada Ratna yang sedang menyiram bunga.
“Itu dia.” Ratna menunjuk ke arah Kenneth yang sedang mendorong sepedanya keluar dari garasi.
“Hai, Ken. Lo mau naik sepeda juga?” Tanya Sherin.
“Menurut lo.”
“Kita bareng-bareng aja, ya. Naik sepedanya.”
“Serah lo.” Kenneth mengayuh sepedanya meninggalkan Sherin yang masih berdiam diri.
“Tante, Sherin pergi dulu, ya.” Pamit Sherin pada Ratna.
“Hati-hati, Sherin.” Ucap Ratna.

Sherin segera menyusul Kenneth yang masih belum terlalu jauh, Kenneth memang sengaja memelankan laju sepedanya.
“Siapa yang sampai duluan di sana, dapat traktiran.” Tunjuk Sherin pada penjual ice cream yang ada di pertigaan.
Sherin dengan cepat mengayuh sepedanya, sementara Kenneth yang belum siap tertinggal jauh dari Sherin. Dengan sekuat tenaga Kenneth mengejar Sherin. Sherin yang masih fokus mengayuh sepedanya, tidak menyadari jika Kenneth sudah ada sampingnya. Melihat hal itu, Sherin menambah kecepatan laju sepedanya. Tapi, tenaga Kenneth jauh lebih besar di bandingkan dengan Sherin. Dengan mudah Kenneth mendahului Sherin sambil tersenyum miring. Sampai akhirnya Kenneth mencapai penjual ice cream itu duluan.

“Yah kalah deh.” Ucap Sherin yang baru sampai.
“Lo curang, Ken.” Sherin menatap Kenneth kesal.
“Kok lo bilang gue curang, sih?” Ucap Kenneth tidak terima.
“Iyalah, tenaga lo itu lebih besar daripada tenaga gue.” Ucap Sherin.
“Pokoknya lo harus traktir gue.” Tambah Sherin.
“Gue kan yang menang, kenapa gue yang jadi traktir lo?” Ucap Kenneth bingung.
“Lo itu tadi curang, jadi sekarang lo harus traktir gue.”
“Jadi mau beli atau nggak nih?” Tanya penjual tersebut.
“Ya udah Pak, pesen ice cream rasa coklatnya dua.” Kenneth akhirnya mengalah. Sedangkan Sherin tersenyum melihat ekspresi wajah kesal Kenneth.
“Eh, mereka kenapa?” Kenneth mengikuti arah telunjuk Sherin.
“nggak ada apa-apa.” Sherin menyodorkan ice cream ke pipi Kenneth. Ketika Kenneth menoleh ke Sherin, ice cream tersebut mengenai wajah Kenneth. Kenneth ingin marah, karena Sherin sudah mengotori wajahnya, namun saat Sherin tertawa, Kenneth mendadak terdiam, ia seakan terhipnotis oleh senyum Sherin.
“Haha hahaa haaa” Sherin tertawa melihat Kenneth. Setelah selesai tertawa, Sherin meminta tissue kepada penjual ice cream tersebut.
“Sini, biar gue bersihin.” Sherin mengulurkan tangannya untuk membersihkan ice cream yang ada di pipi Kenneth. Pandangan Sherin bertemu dengan mata Kenneth. Kenneth akhirnya tersadar, dan merebut tissue yang dipegang Sherin. Kenneth lalu membersihkan wajahnya sendiri.

Setelah menghabiskan ice creamnya, mereka kembali bersepeda. Kali ini, tidak ada balap-balapan seperti tadi. Mereka bersepeda beriringan. Sherin yang sibuk mencuri-curi pandang ke arah Kenneth, tidak menyadari jika di depannya ada batu. Sherin pun terjatuh.
“Arrgghh.” Sherin meringis memegang lututnya yang tergores karena terbentur di aspal. Kenneth lalu memapah Sherin ke sebuah bangku taman.
“Gue beliin salep dulu.” Ucap Kenneth.
“nggak usah, Ken. Nanti di rumah aja.” Kenneth lalu kembali duduk di samping Sherin.

Pandangan Sherin mengarah pada sebuah keluarga yang sedang melakukan piknik di taman tersebut. Kenneth juga ikut memperhatikan keluarga itu.
“Seandainya keluargaku juga seperti itu.” Batin Sherin.
“Oh, ya Ken. Gue mau nanya. Kata Olin, lo itu dulunya ramah, tapi kenapa lo mendadak jadi orang cuek?” Tanya Sherin.
“Sifat manusiakan bisa berubah.” Jawab Kenneth.
“Gue kira lo jadi cuek gara-gara pernah di sakitin sama pacar lo.” Ucap Kenneth.
“Lo tau darimana soal itu?” Kenneth yakin, ia tidak pernah menceritakan masa lalunya kepada siapapun.
“Sorry, gue nggak sengaja dengar pembicaraan lo sama Karin di belakang sekolah.”
“Lain kali, jangan nguping pembicaraan orang.” Ucap Kenneth.
“Oh ya Ken. Lo tau kan kalau gue itu suka sama lo. Waktu gue ngeliat lo pertama kali, yang ada di otak gue itu, gimana caranya gue bisa deket sama lo.” Ucap Sherin.
“Kesannya gue itu kayak cewek murahan ya, ngejer-ngejer lo. Cewek yang nggak tau malu nyatain perasaannya di depan orang banyak.” Lanjut Sherin.
“Lo juga sering kayak gitu di sekolah lama lo?” Tanya Kenneth.
“nggak, ini yang pertama buat gue. Bahkan boleh di bilang lo itu cinta pertama gue.”
“Nih cewek jujur amat jadi orang.” Pikir Kenneth.
“Bisa nggak ya, gue milikin hati lo.” Gumam Sherin.
“Lo bisa dapetin cowok yang lebih dari gue.” Ucap Kenneth.
“Tapi hati gue milih lo, Ken.”
Kenneth terdiam mendengar ucapan Sherin. Setelah duduk cukup lama Kenneth memutuskan untuk mengantar Sherin pulang. Sherin begitu senang mendengar Kenneth sendiri yang mau mengantarnya pulang ke rumahnya.

Sherin berjalan bersisian dengan Olin menuju kantin.
“Kayaknya lo nikmatin banget jadi pacar bo’ongannya Kenneth.” Ucap Olin kepada Sherin.
“Gue seneng banget, setidaknya dengan alasan itu, gue bisa deketin Kenneth.” Ucap Sherin. Tanpa mereka sadari Karin ada di belakang mereka dan mendengar seluruh ucapan mereka.

Cerpen Karangan: Widia Astuti
Blog / Facebook: Widia Astuti

Cerpen Hati Yang Terluka (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penyambut Pagi Cerahku

Oleh:
Alma menutup kitab suci Al-Qur’an, pertanda ia sudah selesai membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang indah. Itu adalah kegiatan rutin pagi hari setelah Shalat Shubuh. Almarhum Abinya-lah yang telah mengajarkan kebiasaan

I Love You Lily

Oleh:
Kau eratkan genggamanmu di tanganku. Detak jantungmu kudengar beradu dengan nafasmu. Kutatap dalam wajahmu, air mata menggenang dalam kedua matamu. Cemas. “Semua akan baik-baik saja, Bram” ucapmu setenang mungkin,

Azam dan Hari Sial

Oleh:
Mataku masih setengah terbuka, aku segara melihat ke arah jam di samping tempat tidur ku, disana menunjukan pukul 05.26 hari ini hari rabu meskipun masih terlalu pagi aku harus

Bayangan Yang Hilang

Oleh:
Cahaya gelap kebiruan menembus kaca jendela kamarku. Kelopak mata yang masih melekat erat, aku paksa untuk membuka. Perlahan aku mencoba membuka kedua kelopak mataku, tatapan mataku tertuju ke arah

Kelas Penuh Kejahilan

Oleh:
Kami adalah murid kelas 8 Jahil. Itulah sebutan untuk kelas kami yang penuh kejahilan. Namaku Eldo dan tak hanya aku saja yang jahil di sini. Banyak kawanku, laki-laki atau

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *