Hati Yang Terluka (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 15 December 2018

Ketika akan pulang, Sherin lupa jika tadi ia meninggalkan buku paketnya di atas meja. Ia memutuskan untuk kembali masuk ke sekolah. Tapi, langkah Sherin terhenti melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Kenneth memeluk Karin sambil mengusap rambutnya.
“Lo maafin gue kan, Ken?” Ucap Karin di sela tangisnya.
“Gue maafin lo, Rin.” Jawab Kenneth. Mata Kenneth menangkap Sherin yang sedang berdiri tidak jauh darinya.
“Gue tau kalau lo Cuma jadiin Sherin pacar bo’ongan lo doang. Lo masih cinta kan sama gue, Ken?” Tanya Karin.
Sherin berlari meninggalkan Kenneth dan Karin.

Setelah sampai di rumah, Sherin langsung menuju kamarnya.
“Aku udah gagal, aku kalah, Semua usaha yang aku lakukan semuanya sia-sia. Kenapa? Kenapa Cuma aku yang tersakiti?, Kenapa semua orang yang aku sayang nggak pernah menyayangiku. Mama, papa, dan sekarang Kenneth. Kenapa? Aku juga mau bahagia, aku pengen rasain gimana rasanya mencintai dan dicintai.” Sherin menangis sambil memeluk lututnya di belakang pintu kamarnya.
“Kenapa nggak ada yang peduli sama aku. Kenapa takdir begitu kejam kepadaku. Tak adakah bahagia untukku?” Sherin menenggelamkan wajahnya di antara lekukan lututnya.

Hari ini, Sherin tidak berangkat ke sekolah dengan alasan sakit. Mata Sherin bengkak karena ia terus menangis semalaman. Dan juga, ia masih belum bisa melihat Kenneth dan juga Karin.

Sherin mendengar suara ketukan pintu. Sherin kemudian pergi membuka pintu rumahnya.
“Olin?” Ternyata orang yang mengetuk pintu rumahnya adalah Olin.
“Lo sakit apa, Rin?” Olin berjalan mengikuti Sherin ke kamarnya.
“Gue sakit hati, Lin.” Jawab Sherin.
“Kenapa? Kenneth?” Sherin menggangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Olin.
“Ada apa? Bukannya lo sama Kenneth itu makin dekat, ya.” Ucap Olin.
“Kenneth balikan lagi sama Karin.” Ucap Sherin lirih.
“Kenneth kok bisa nerima Karin lagi, jelas-jelaskan Karin udah ngehianatin dia.” Sherin memang sempat menyeritakan tentang alasan putusnya Kenneth dan Karin kepada Olin.
“Gue nggak punya harapan lagi, Lin. Semua perjuangan gue buat dapetin Kenneth sia-sia.” Olin memberikan pelukannya kepada Sherin.
“Sabar, Rin. Gue yakin lo bisa dapetin yang lebih dari Kenneth.” Olin berusaha untuk memberi semangat kepada Sherin.
“Thanks, Lin.” Olin hanya mengangguk.

Keesokan harinya, Sherin sudah berangkat ke sekolah. Sherin berjalan di koridor menuju kelasnya, tapi di tengah jalan ia berpapasan dengan Kenneth dan Karin, pandangan Sherin langsung mengarah ke tangan Kenneth dan Karin yang saling bertautan. Sherin tersenyum miris.
“Hai, Sherin.” Sapa Karin. Sedangkan Kenneth hanya diam.
“Hai.” Ucap Sherin.
“Duluan, ya.” Karin dan Kenneth berjalan melewati Sherin.
“Lo harus kuat Sherin, ikhlasin Kenneth.” Sherin menyemangati dirinya.

Pelajaran hari ini tidak ada yang masuk di otak Sherin, dari tadi ia hanya melamun, matanya memang melihat ke arah papan tulis, tapi pikirannya sedang memikirkan Kenneth. Sherin bahkan tidak sadar jika guru yang mengajar sudah keluar dari kelas.

“Rin, gue laper nih, kita ke kantin, yuk.” Ajak Olin yang di balas anggukan oleh Sherin.
Di dalam kantin, Sherin melihat Kenneth sedang tertawa bersama Karin.
“Kapan lo bisa tertawa seperti itu sama gue, Ken.” Batin Sherin.
“nggak usah diliatin mulu, ntar lo maskin sakit hati.” Ucap Olin. Sherin hanya tersenyum berusaha menunjukkan bahwa dia baik-baik saja.

Setelah berbelanja di supermarket, Kenneth berjalan ke arah motornya. Kenneth mencari kunci motornya di saku celananya. Namun, kunci itu terjatuh, Kenneth menunduk untuk mengambil kunci tersebut. Tapi, sebelum mengambil kuncinya, tiba-tiba ada yang mendorong tubuh Kenneth. Kenneth terlempar cukup jauh. Ia kemudian bangun sambil membersihkan debu yang menempel di bajunya.

Kenneth kemudian mencari orang yang mendorongnya tadi. Tapi yang ia lihat di depannya adalah orang-orang yang berkerumun. Kenneth maju untuk melihat kerumunan tersebut. Kenneth melihat seseorang yang sudah berlumuran darah. Setelah melihatnya lebih dekat ternyata orang itu adalah Sherin.
“Sherin, Sherin, Sherin.” Panggil Kenneth.
“Telepon ambulan.” Teriak Kenneth kepada orang-orang yang mengerumuni Sherin.
Tak lama kemudian, Ambulan datang membawa Sherin ke rumah sakit. Kenneth mengikutinya dari belakang.

Di rumah sakit, Kenneth duduk dengan gelisah. Setelah cukup lama Kenneth menunggu, akhirnya seorang dokter keluar dari kamar Sherin.
“Dok, bagaimana keadaan Sherin?” Tanya Kenneth.
“Apa ada wali dari pasien?” Dokter itu balik bertanya kepada Kenneth. Yang Kenneth tahu adalah orangtua Sherin sudah bercerai, ia juga tidak tau harus menghubungi siapa.
“Saya temannya Sherin, Dok.” Ucap Kenneth.
“Pasien mengalami pendarahan di kepalanya, dia membutuhkan donor darah. Tetapi stok darah di rumah sakit ini sudah habis. Mungkin anda bisa menghubungi orangtuanya ke sini.” Jelas dokter tersebut. Kenneth terdiam, ia tidak tahu bagaimana caranya untuk membawa orangtua Sherin ke sini.
“Apa golongan darah Sherin.” Tanya Kenneth.
“Golongan darah pasien adalah O.” Jawab dokter tersebut.
“Saya mau cek darah saya.” Kenneth mengikuti suster untuk mengecek darahnya.

Ternyata, golongan darah Kenneth sama dengan golongan darah Sherin. Setelah mendonorkan darahnya, Kenneth pergi menunggu di depan kamar Sherin.
“Keadaan pasien sudah membaik, anda sudah boleh masuk melihatnya.” Ucap suster yang keluar dari kamar Sherin. Kenneth kemudian masuk ke dalam kamar Sherin. Kenneth duduk di samping Sherin. Sherin masih tidak sadar karena masih di bawah pengaruh obat bius.

“Kenapa lo lakuin ini buat gue. Seharusnya gue yang berbaring di sini, bukan lo, Rin.” Ucap Kenneth sambil memegang tangan Sherin. Kenneth bermalam di rumah sakit menemani Sherin.

Setelah pulang sekolah, Kenneth kembali ke rumah sakit. Ia melihat ada orang yang berdiri di depan kamar Sherin.
“Apakah kalian orangtua Sherin?” Tanya Kenneth kepada orang tersebut.
“Ya, kami orangtua Sherin.” Jawab Doni yang merupakan Papa Sherin.
“Bisa bicara sebentar.” Kenneth mengajak orangtua Sherin ke kantin rumah sakit.
“Sherin sangat merindukan kalian. Selama ini, dia sangat kesepian, dia masih membutuhkan perhatian dari kalian. Di saat Sherin membutuhkan kalian, kalian tidak datang. Sherin pernah bilang kepada saya, kalau dia itu Cuma mau makan bersama bareng orangtuanya. Tapi, menjenguknya saja kalian tidak pernah melakukannya.” Jelas Kenneth.
“Ini adalah salahku, aku terlalu fokus mengurus bisnisku sampai lupa kepada Sherin.” Ucap Doni.
“Ini juga kesalahannku, aku hanya mempedulikan keluargaku, sampai tidak sadar anakku sendiri aku telantarkan.” Sarah ibu Sherin mulai terisak.
“Saya harap, sekarang kalian bisa lebih memperhatikan Sherin.” Pinta Kenneth.

Kenneth mengajak Orangtua Sherin kembali ke kamar Sherin dirawat. Sherin masih belum sadar. Kenneth memandang Sherin yang masih belum membuka matanya.
“Sherin.” Sarah melihat mata Sherin yang mulai terbuka.
“Mama Papa.” Sherin melihat Sarah dan Doni yang berdiri di samping ranjangnya. Kemudian, Sherin mengarahkan pandangannya ke arah Kenneth yang berdiri di dekat pintu.
“Bagaimana keadaanmu sekarang?” Tanya Sarah.
“Aku baik-baik saja.” Jawab Sherin.
“Mama sama papa kenapa bisa ada di sini?” Tanya Sherin dengan suara yang masih terdengar lemah.
“Teman kamu, Kenneth. Dia yang menghubungi kami kalau kamu sedang sakit.” Ucap Doni.
“Maafkan kami sayang. Kami tidak becus menjadi orangtua yang baik untuk kamu.” Sarah menggenggam tangan Sherin sambil menangis.
Kenneth meninggalkan kamar Sherin. Kenneth ingin memberikan waktu kepada mereka untuk saling melepaskan rindu.

Setelah orangtua Sherin pulang, Kenneth kembali masuk ke kamar Sherin sambil membawa buah-buahan.
“Lo jangan pegang kepala lo dulu, nanti tambah sakit.” Kenneth memegang tangan Sherin yang ingin menyentuh perban di kepalanya.
“Lo mau makan buah?” Tawar Kenneth kepada Sherin.
“Lo nggak usah merasa bersalah sama gue. Gue tau kalau lo udah donorin darah lo ke gue.” Ucap Sherin. Ketika Kenneth ingin berbicara, Sherin terlebih dahulu mengeluarkan suaranya.
“Lo pulang aja, Ken. Gue mau tidur.” Sherin menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya. Melihat hal itu Kenneth akhirnya mengalah dan keluar dari kamar Sherin.

Selama tiga hari ini, Kenneth selalu datang untuk menjenguk Sherin. Tapi, setiap Kenneth datang, Sherin selalu membuat alasan supaya Kenneth segera pergi.

Hari ini, Sherin sudah dibolehkan pulang oleh dokter. Sherin pulang bersama kedua orangtuanya.
“Sayang, kita makan dulu, yuk.” Sarah menghampiri Sherin di kamarnya untuk mengajaknya makan malam. Sesampainya di meja makan Sherin melihat Doni yang juga sudah duduk di meja makan.
“Ini, mama buatkan tumis kangkung kesukaan kamu.” Sarah mengambilkan tumis kangkung ke dalam piring Sherin.
“Kamu harus makan banyak, supaya kamu bisa lebih cepat sembuhnya.” Ucap Doni.
“Ma, pa. Makasih sudah mau datang jengukin Sherin. Sherin seneng banget.” Ucap Sherin setelah menghabiskan makanannya.
“Iya, sayang. Kami janji akan sering-sering datang jengukin kamu.” Ucap Doni yang dibalas anggukan oleh Sarah.

Keesokan harinya, Sherin kembali bersekolah.
“Rin, sorry, gue nggak sempet pergi jengukin lo.” Ucap Olin dengan nada menyesal.
“nggak papa kok, Lin.” Jawab Sherin sambil duduk di bangkunya.

Kenneth muncul dari pintu kelas Sherin dan berjalan ke arah bangku Sherin.
“Mama gue nyuruh gue kasi lo makanan ini.” Kenneth meletakkan kotak makanannya di atas meja Sherin.
“Dimakan.” Tambah Kenneth. Sherin hanya tersenyum kecil.
Kenneth tersenyum kepada Sherin sebelum meninggalkan kelas Sherin.
“Kayaknya Kenneth mulai perhatian sama lo deh.” Ucap Olin.

Sherin berjalan ke arah ruang guru, ia ingin mengantarkan tugas-tugas yang tidak sempat ia kerjakan selama berada di rumah sakit. Tapi, di tengah jalan. Seseorang mengambil buku yang ada di tangan Sherin.
“Biar gue bantu.” Kenneth melanjutkan langkahnya sementara Sherin masih berada di tempatnya.
“Bukannya lo mau ke ruang guru.” Kenneth berbalik melihat Sherin yang masih terdiam. Sherin kemudian maju dan mengambil buku-bukunya kembali dari tangan Kenneth.
“Gue bisa sendiri.” Ucap Sherin dingin.
“Lo kok jadi berubah gini, Rin.” Kenneth tidak tahan melihat sifat Sherin yang terlihat dingin kepadanya.
“Kalau lo ngelakuin ini semua karena lo merasa bersalah sama gue, sebaiknya lo berhenti aja, Ken.” Ucap Sherin.
“Gue ngelakuin ini semua, karena gue udah mulai suka sama lo.” Kenneth memandang mata Sherin.
“Apalagi sih, Ken. Gue sudah cukup terluka karena lo. Dan sekarang, lo mau mainin perasaan gue. Lo kok tega banget sama gue. Gue udah lelah, sekarang biarin gue jalanin hidup gue sendiri, dan lo bisa bahagia sama Karin.” Sherin akhirnya pergi meninggalkan Kenneth, ia tidak ingin Kenneth melihat dia menangis. Sementara Kenneth masih bingung dengan ucapan Sherin yang terakhir.
“Bahagia sama Karin, maksud Sherin apa.” Ipikir Kenneth.
Selama ini yang memberikan bantuan kepada Kenneth untuk mendekati Sherin ialah Karin. Waktu di lapangan basket, Karin memang meminta Kenneth untuk kembali kepadanya. Namun, Kenneth menolaknya, ia mengatakan jika hatinya sudah di isi oleh seseorang dan orang itu adalah Sherin. Awalnya Karin kecewa mendengar Kenneth mengatakan hal tersebut. Namun, Karin kemudian memutuskan untuk membantu Kenneth mendapatkan cintanya. Karin ingin menebus semua kesalahannya di masa lalu, dengan membantu Kenneth mendapatkan Sherin.
“jangan-jangan Sherin salah paham lagi.” Kenneth sudah menceritakan hal yang terjadi dengannya dan Sherin kepada Karin.
“Maksudnya?” Tanya Kenneth.
“Mungkin Sherin mengira kita pacaran.” Ucap Karin.
Sepulang sekolah Karin memutuskan untuk pergi ke rumah Sherin untuk menghilangkan kesalahpahaman antara dia dan juga Kenneth.
“Rin gue ke sini Cuma mau ngomong kalau gue sama Kenneth itu Cuma teman aja, nggak lebih.” Ucap Karin.
“Waktu di lapangan basket, bukannya lo sama Kenneth jadian.” Sherin masih terkesan dingin kepada Karin.
“Gue emang ngajak Kenneth balikan, tapi dia nolak gue dengan alasan dia sudah punya seseorang di hatinya. Dan orang itu adalah lo, Rin. Kenneth suka sama lo.” Sherin masih setengah percaya dengan omongan Karin barusan.
“Gue Cuma mau ngomongin ini. Terserah lo mau percaya atau tidak sama ucapan gue.” Karin beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan rumah Sherin.

Sherin sibuk mengerjakan tugas yang di berikan oleh pak Raka, berhubung pak Raka sedang melakukan rapat, jadi dia hanya memberikan tugas di kelas Sherin. Kemudian Karin datang ke kelasnya dan menyeret Sherin untuk ke lapangan basket.
“Lo mau bawa gue ke mana sih, Rin. Gue lagi ngerjain tugas.” Karin tidak menanggapi ucapan Sherin, hal itu membuat Sherin mendengus kesal.

Setelah sampai di lapangan basket, Karin meninggalkan Sherin di lapangan basket sendirian. Merasa di permainkan oleh Karin, Sherin memutuskan untuk kembali ke kelasnya. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar suara Kenneth.

Dan kau hadir mengubah segalanya
Menjadi lebih indah
Kau bawa cintanku setinggi angkasa
Membuatku merasa sempurna
Dan membuatku utuh tuk menjalani hidup
Berdua denganmu selama-lamanya
Kaulah yang terbaik untukku
(Adera-lebih indah)

Kenneth bernyanyi sambil memainkan gitar yang dibawanya.

“Gue mau minta maaf karena selama ini gue jahat sama lo. Dan juga gue mau ngucapin makasih sama lo, terimakasih sudah datang di kehidupan gue dan mengajarkan kembali arti cinta yang sempat hilang dalam hidup gue.” Sherin membekap mulutnya sendiri.
“Gue Kenneth Albrian meminta Sherin Inggira untuk menjadi pacarnya. Will you be my girlfriend?” Sherin hanya menganggukan kepalanya. Ia sudah tidak bisa berkata-kata lagi, semua suaranya seakan tertahan di tenggorokannya. Kenneth kemudian maju untuk memeluk Sherin yang masih terisak.
Setetes air mata keluar dari kelopak mata Karin.

“Gue harap, Sherin bisa memberikan sesuatu yang nggak pernah gue berikan dulu ke lo.” Batin Karin.

Cerpen Karangan: Widia Astuti
Blog / Facebook: Widia Astuti

Cerpen Hati Yang Terluka (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Play Boy vs Play Girl

Oleh:
Semua pasang mata menatap satu laki-laki yang dikenal player itu. Laki-laki yang sedang menggandeng, lebih tepatnya merangkul seorang wanita berparas wajah yang cantik. Andrew Putra Senaryo. Yap, itu nama

Sahabat Yang Mengkhianati

Oleh:
Tesa duduk di bangku sekolah SMP yang tak jauh dari rumahnya. Tesa juga memiliki sahabat yang baik dan bisa dibilang sahabat karib, ke mana-mana selalu bersama. Sahabatnya bernama Sari.

Friendzone

Oleh:
Nama gue Nadila Salshabila yang akrab disapa Nadil. Disini gue mau cerita tentang kisah cinta gue yang amat sangat rumit dengan seseorang panggil saja Dav. Kita ketemu di sekolah

Perjuanganku Terbalas (Part 2)

Oleh:
“Fan mau nyanyiin lagu apa?” Tanyaku menatap refan. “Terserah kamu aja” “Jamrud judulnya pelangi di matamu, gimana?” Tanyaku lagi. “Boleh, kebetulan aku juga hafal kunci gitarnya” balasnya balik menatapku.

Gagal Move On

Oleh:
Kring! Kring! Kring! Alarm di kamarku sudah berbunyi, itu tandanya aku harus segera bangun dan bersiap-siap untuk sekolah. Aku langsung ngambil handuk dan langsung pergi ke kamar mandi setelah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Hati Yang Terluka (Part 3)”

  1. HF says:

    Ceritanya menarik. Lanjutkan dengan kisah yang lain nya ya. MANTUL MANTAP BETUL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *